Sihir Kata


catatan bulu angsa


:/ana mustamin

tulislah catatan baru agar ku lepas rinduku padamu
lingkarkanlah kalammu bagi setiap lentik bulu mataku
aku selalu rindu seperti juga kau tulis di nafasmu
yang memburu ke palung jauh
sesekali memutarlah kala kau cium aku dengan segelas taring
agar tak berdarah, “aku memang takut merah”
kan ku pasrahkan segumpal daging seperti kesukaanmu
cabiklah dengan senyuman, teteskanlah dengan tatapan
agar aku kian rindu […]


tamu di 401, hotel radisson


1.
kukira aku tak perlu tidur sedini ini
secarik memo di sudut bantal tak menyampaikan pesan mimpi
langit petang justru mengirimkan aroma losari
dan nafasmu menguar di sekitarnya
: sungguh engkau kembali di sini, abang?


pentas luka


sejarah telah lama dikemas ketika waktu menyelundupkan kesaksian yang luka
seekor kelelawar memandangnya dengan termangu dari jendela masa silam
di langit-langit, usia mewariskan jubah kelabu
panggung menjelma belukar pintalan laba-laba
sekelompok kecoak telah selesai mendirikan rumah terakhir


breakfast meeting (3)


dia yang bertungkai ramping masih menyambutku di pintu ruang rapat
dengan leretan senyum dan secangkir cappuccino
(bukankah kita selalu memulai pagi dengan memintanya menyeduh?)
tapi dia menambah kudapan berbeda hari ini: dua keping bara
dan tumpukan dokumen transaksi derivatif yang gagal
(ah, terkutuklah mereka yang menyebabkan krisis global!)


GA 227, solo - jakarta


GA 227, Solo - Jakarta (1)
mungkin ibu lupa pada adonan tart-nya
hingga kembang gula krim meluber menyegala arah
tapi siapa yang menumpahkan kopi,
hingga dapur di balik jendela meruah jelaga?


baca puisi di montreal


BEBERAPA hari menjelang peringatan 17 Agustus, Mas Yo (Yonathan Rahardjo) - penulis novel “Lanang”, mengabari saya via YM! kalau akan ada pembacaan puisi dalam rangka peringatan 17 Agustus. Dia nanya saya ikut apa nggak. Saya jawab, saya udah ditanggap untuk baca puisi.
“Di mana?”
“Coba tebak!” kata saya.
“Di TIM!”
“Salah.”
“Di Pasar Malam!” (Paguyuban Sastra Rabu Malam).
“Bukan.”
“Di TV.”
“Bukan.”
“Di salah […]


sepanjang losari


(Surat untuk Kurnia Effendi)

 
APA kabar, Mas? Lama kita gak saling menyapa. Meski demikian, kurasa, kita gak pernah sungguh-sungguh menjauh. Buktinya, menjelang 30 Juli lalu, aku tetap ingat bahwa ada sebuah hari yang pernah kita beri tanda - yang rasanya akan tetap kukenang jejaknya sampai kapanpun. Sebuah ‘monumen’ yang menandai hubungan kita: persahabatan yang indah, tulus, […]


pertahankan merek tetap seksi


oleh : Noerma Komalasari
(Dikutip dari Bisnis Indonesia Minggu, 6 Juli 2008)
http://web.bisnis.com/sosok/2id1338.html


anak-anaklah yang mengajari kita


(menyambut hari anak nasional, 23 juli)

aku tidak berani mengukur jarak antara kita
sejak kulihat engkau menelan matahari
jiwa yang menggetas dalam gulita
memisahkan cuaca dari lingkaran musim


Dongeng Kancil dan Buaya


kita tidak berencana mengekalkan kenangan
dengan menjadi kancil dan buaya dalam dongeng si upik
karena kancil kini tak lagi cerdik
buaya-buaya memangsanya di mall, di kafe, di hotel, di mana saja

Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa. Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it!

 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]