Oleh Ana Mustamin *)
(Sekadar dokumentasi. Dimuat pada “Insurance Digest - Majalah InfoBank”, edisi khusus Insurance Day 2008, terbit Oktober 2008).
SELASA, 8 Juli kemaren, saya kembali masuk ke sebuah studio radio. Kali ini saya jadi narasumber di acara “Iptek Voice” RRI Programa 2, 105 FM. Acara hanya berlangsung setengah jam, dari 08.30-09.00, disiarkan dari studio mini RRI yang ada di Lt.8 gedung BPPT, Jl. MH Thamrin, Jakarta.
oleh : Noerma Komalasari
(Dikutip dari Bisnis Indonesia Minggu, 6 Juli 2008)
http://web.bisnis.com/sosok/2id1338.html
(Dikutip dari Harian INDO POS edisi 4 Juli 2008, halaman 24 - rubrik “Wanita Jakarta”)
KEHIDUPAN Ana Mustamin semakin penuh warna. Terutama ketika Jagad Shasika Pradnasakti, anak semata wayangnya yang kini berusia 2.5 tahun, lahir. Karir yang selama ini menjadi fokus kehidupannya tak lagi nomor satu. Bagi wanita kelahiran Bone (Sulawesi Selatan), 4 Juli 1968, anak […]
Saya Belum Melihat Urgensi Asuransi Jiwa
Alasan paling sederhana karena dalam hidup Anda dihadapkan pada 2 risiko:
(Sumber: Majalah InfoBank No. 351 - Juni 2008, halaman 79, rubrik Insurance Digest “Who’s Talking”)
LATAR belakang historis, usianya yang hampir seabad, dan konsep mutualnya, menjadi nilai jual tersendiri bagi Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 (AJB). Perusahaan asuransi jiwa ini pun menjadi salah satu dari segelintir perusahaan tua yang mampu bertahan hingga kini. Bahkan, di tengah […]
Memperingati Seabad Kebangkitan Nasional, mungkin ia tidak banyak dikenang. Tapi pada setiap 12 Februari, karyawan AJB Bumiputera 1912 di seluruh Indonesia mengheningkan cipta mengenang jasanya.
BEKERJA untuk kepentingan sebuah perusahaan konsultan PR di Jakarta sebetulnya sudah saya lakukan sejak tahun 1991-1992. Tapi baru tahun 1997 saya putuskan untuk benar-benar menetap di Jakarta. Saya bekerja di bidang yang sangat bertolak belakang dengan pengalaman dan latar akademis saya: di Bumiputera - sebuah perusahaan asuransi.
TAK terhitung seringnya saya mengunjungi Bali. Dalam beberapa tahun terakhir, saya bisa 2-3 kali hadir di Pulau Dewata itu dalam setahun. Entah karena kunjungan dinas atau berlibur bersama keluarga. Bali tidak banyak berubah. Tetap eksotis, tetap magis. Meski bom pernah meluluh-lantakkan sejumlah tempat.
WAKTU memiliki banyak wajah. Kadang-kadang saya merasa, waktu seperti kura-kura yang merangkak pelan, mengusung jemu. Di waktu lain, ia seperti derap kaki pasukan kuda yang dilecut punggungnya. Membuat terengah dan panik. Atau menyulap kita jadi robot. Tanpa mampu berkelit.

