RAMADHAN telah usai. Musim liburan juga telah selesai. Kini masyarakat kembali menjemput rutinitas. Selain harapan tentang ketaqwaan yang meningkat seusai menjalani puasa sebulan penuh, adakah hal lain yang tersisa?
(kolom saya di majalah INFOBANK, edisi khusus “Top 100 Banking & Financial Products”, 2009)
Karena ini edisi khusus produk keuangan, saya ingin menulis cerita-cerita ringan yang tergolong lucu atau mengenaskan, seputar pengalaman mengonsumsi produk keuangan.
(Kolom saya di Majalah INFOBANK edisi 362 - Mei 2009)
PASCA tragedi Situ Gintung – dan tragedi lainnya di Indonesia, perhatian ke industri asuransi selalu saja mengalami peningkatan secara signifikan. Memang tidak sontak membuat semua orang sadar asuransi dan lantas membeli polis. Tapi paling tidak tragedi-tragedi tersebut mendorong keinginan orang untuk mengenal dan memahami apa itu […]
DI EDISI lalu, sudah saya singgung, bukan konsumen saja yang tidak menyukai klaim bermasalah. Perusahaan asuransi juga, karena menunda klaim justru lebih merugikan ketimbang jika dibayar tepat waktu.
PADA sebuah sharing session di kelas di mana saya memberi kuliah, saya pernah melempar tanya: apa yang Anda ingat jika mendengar asuransi? Dan dengan sigap, seorang mahasiswa menjawab, “Klaimnya susah!”
Miris? Pasti. Sebagai pelaku industri asuransi, jawaban ini mengingatkan, perjuangan memasyarakatkan asuransi masih demikian terjal dan panjang.
(Sekadar dokumentasi. Disunting dari suratkabar “Investor Daily” edisi Sabtu, 20 September 2008, dalam rubrik Perencanaan Keuangan).
oleh : Noerma Komalasari
(Dikutip dari Bisnis Indonesia Minggu, 6 Juli 2008)
http://web.bisnis.com/sosok/2id1338.html
(Dikutip dari Harian INDO POS edisi 4 Juli 2008, halaman 24 - rubrik “Wanita Jakarta”)
KEHIDUPAN Ana Mustamin semakin penuh warna. Terutama ketika Jagad Shasika Pradnasakti, anak semata wayangnya yang kini berusia 2.5 tahun, lahir. Karir yang selama ini menjadi fokus kehidupannya tak lagi nomor satu. Bagi wanita kelahiran Bone (Sulawesi Selatan), 4 Juli 1968, anak […]
WAKTU memiliki banyak wajah. Kadang-kadang saya merasa, waktu seperti kura-kura yang merangkak pelan, mengusung jemu. Di waktu lain, ia seperti derap kaki pasukan kuda yang dilecut punggungnya. Membuat terengah dan panik. Atau menyulap kita jadi robot. Tanpa mampu berkelit.

