<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Ryana Mustamin, Saya Menulis Karena Saya Ada</title>
	<atom:link href="http://www.ryanamustamin.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ryanamustamin.com</link>
	<description>Saya Menulis Karena Saya Ada</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 08:13:06 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>mengapa uang saya hangus?</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2009/01/mengapa-uang-saya-hangus/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2009/01/mengapa-uang-saya-hangus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 08:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[What's On]]></category>

		<category><![CDATA[asuransi penerbangan]]></category>

		<category><![CDATA[carry poetiray]]></category>

		<category><![CDATA[insurance goes to campus]]></category>

		<category><![CDATA[investasi]]></category>

		<category><![CDATA[kerugian finansial]]></category>

		<category><![CDATA[ketidakpastian]]></category>

		<category><![CDATA[manajemen risiko]]></category>

		<category><![CDATA[partikular]]></category>

		<category><![CDATA[porter]]></category>

		<category><![CDATA[risiko murni]]></category>

		<category><![CDATA[stigma]]></category>

		<category><![CDATA[tabungan]]></category>

		<category><![CDATA[tukang parkir]]></category>

		<category><![CDATA[UNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Setengah tersendat, gadis belia itu bertutur, &#8220;Orangtua saya sepertinya trauma. Setelah berpuluh tahun teratur menabung dan berharap bisa menikmati tabungan itu, ternyata sia-sia. Ia tidak mendapatkan se-sen pun. Kata bapak saya, uangnya hangus percuma, dan itu membuat dia bersumpah untuk tidak akan pernah lagi berurusan dengan asuransi &#8230;.&#8221;
KISAH ini menjadi salah-satu ‘oleh-oleh&#8217; yang saya bawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Setengah tersendat, gadis belia itu bertutur, &#8220;Orangtua saya sepertinya trauma. Setelah berpuluh tahun teratur menabung dan berharap bisa menikmati tabungan itu, ternyata sia-sia. Ia tidak mendapatkan se-sen pun. Kata bapak saya, uangnya hangus percuma, dan itu membuat dia bersumpah untuk tidak akan pernah lagi berurusan dengan asuransi &#8230;.&#8221;</em></p>
<p>KISAH ini menjadi salah-satu ‘oleh-oleh&#8217; yang saya bawa pulang dari kegiatan &#8220;Insurance Goes to Campus&#8221; yang berlangsung di Universitas Sebelas Maret Surakarta, 4 November lalu. Kebetulan, saya bertindak menjadi salah-satu narasumber. Kisah yang dituturkan salah seorang mahasiswa peserta seminar itu, bukan sekali-duakali mampir di telinga saya. Namun tak urung, membuat saya tercekat juga. Membayangkan diri dalam posisi orangtua si gadis, tentu tidak sulit untuk sekadar berempati.</p>
<p>Uang asuransi hangus? Jangan-jangan Anda juga pernah mengalaminya. Dan lantas berjanji untuk menjatuhkan ‘talak tiga&#8217; pada perusahaan asuransi.</p>
<p>Baik. Sebelum itu sungguh-sungguh terjadi, saya ingin berbagi cerita.</p>
<p><span id="more-224"></span>Pulang dari Solo, saya menumpang pesawat yang sama dengan rekan sesama pembicara seminar, Carry G. Poetiray. Cuaca di luar bandara sangat buruk. Hujan tumpah ruah. Gemuruh guruh melenting riuh. Kilat berloncatan, mengirim bunga api. Rasa gigil mendaki hingga ulu hati.</p>
<p>Tapi bukan lantaran itu, lalu kami mampir membeli premi asuransi penerbangan. Cuaca baik atau buruk, tidak selalu memiliki relevansi dengan kecelakaan pesawat dan ajal. Anda bisa saja menghembuskan nafas terakhir di tempat tidur, dalam keadaan sehat walafiat, tenang, dengan leretan senyum di bibir.</p>
<p>Kami berdua hanya menyadari bahwa kita hidup berendengan dengan risiko, bahkan kadang-kadang bercanda dengan risiko. Dan kami ingin risiko itu terkelola, agar tidak menyusahkan di kemudian hari - termasuk pada orang-orang di sekitar kami. Jika kami bernasib naas, bisa saja kami mengalami kecelakaan atau hanya kembali membawa nama. Dan orang-orang terdekat kami akan kesulitan dengan biaya rumah sakit, dan biaya-biaya lainnya. Karena itu, kami memilih mentransfer risiko. Menitipkan nilai ekonomi kami (bukan nyawa!) selama kurang lebih satu jam dalam perjalanan Solo-Jakarta, pada pengelola asuransi penerbangan. Agar jika risiko itu terjadi, ada yang menanggung semua urusan. Meski untuk sesuatu yang belum tentu terjadi itu, kami harus rela mengeluarkan sejumlah rupiah.</p>
<p>Soal titip-menitip ini, sebenarnya tidak melulu urusan perusahaan asuransi. Carry bercerita, sebelum terbang ke Solo, ia menitipkan mobilnya di parkir bandara Soekarno-Hatta. &#8220;Daripada pulangnya, saya susah-susah lagi cari taksi!&#8221; ujarnya. Saya tidak begitu memperhatikan jenis dan merek mobil Carry - meski kami sering bersama karena satu kantor. Tapi, kurasa, pastilah nilainya tidak di bawah seratus juta rupiah! Berapa biaya yang dia keluarkan untuk jasa parkir selama waktu perjalanan kami yang berlangsung dua hari? Tentu, sangat tidak signifikan dibandingkan dengan nilai mobilnya. Tapi Carry percaya pada jasa parkir - tidak sedikit pun tampak kekhawatiran mobilnya akan raib digondol maling.</p>
<p>Sebelum Carry, saya juga sempat menggunakan jasa untuk mentransfer risiko. Daripada berisiko pergelangan tangan atau bahu saya nyeri, saya memutuskan menggunakan jasa porter untuk mengangkut travel bag saya ketika memasuki lobby bandara. Di luar kemungkinan mengalami cidera, saya juga mentransfer risiko lain. Tas dan isinya yang bernilai jutaan, dengan enteng saya serahkan nasibnya ke porter hanya dengan membayar 20 ribuan.</p>
<p>Jasa asuransi, sebetulnya analog dengan jasa titipan parkir, atau porter di bandara. Meski tidak persis sama. Anda menyerahkan nasib mobil Anda yang bernilai ratusan juta rupiah hanya dengan membayar uang yang jumlahnya tidak signifikan dibandingkan dengan nilai mobil Anda. Jika mobil Anda aman hingga Anda mengambilnya kembali, bisa jadi Anda berpikir, betapa sia-sia Anda mengeluarkan uang parkir. Tapi jika sesuatu menimpa mobil Anda, Anda tentu akan bersyukur menyadari bahwa Anda memiliki sejumlah alasan untuk menuntut tanggung jawab pengelola parkir.</p>
<p>Risiko merupakan ketidakpastian - selalu terdapat kecenderungan berbeda antara hasil sebenarnya dengan hasil yang diperkirakan. Namun risiko selalu membuka kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak menguntungkan dan/atau tidak dikehendaki. Ketidakpastian mengimplikasikan keraguan mengenai masa yang akan datang, dan keraguan itu didasari pada kekurangan dan ketidaksempurnaan pengetahuan kita. Bukankah kita senantiasa memandang segala sesuatu dengan suatu cara cacat? Jika kita mengetahui apa yang akan terjadi, maka kita tidak akan pernah mengalami risiko.</p>
<p>Sepanjang hari kita bercanda dengan risiko. Bangun tidur, Anda bisa saja terpeleset di kamar mandi. Kondisi jalan raya setiap Anda berangkat bekerja seperti rahang ular yang menganga, siap mematok kapan saja Anda lengah. Di kantor, Anda tidak akan abadi menempati kursi jabatan Anda - setiap saat ada saja alasan untuk melengserkan Anda. Dengan atau tanpa sebab yang masuk akal, Anda bisa saja tiba-tiba terserang penyakit dan harus mondok di rumah sakit. Siapa yang akan menjamin bahwa rumah yang Anda tinggalkan bakal aman-sentosa bebas dari kemungkinan kemalingan, kebanjiran atau kebakaran? Dan yang terpenting, apakah Anda bisa memastikan seberapa lama Anda akan melewatkan waktu di dunia fana ini?</p>
<p>Jasa asuransi adalah salah satu sarana yang bisa Anda manfaatkan untuk mengelola dan mengendalikan risiko Anda. Tentu, tidak semua jenis risiko. Fokus utama asuransi hanyalah terbatas pada peristiwa yang frekuensinya rendah, namun jika terjadi dampak kerugiannya bisa sangat tinggi atau fatal. Risiko itu pun hanya sebatas kerugian finansial, merupakan risiko murni (bukan spekulatif), dan bersifat partikular - penyebab kerugian masih dalam batas kemampuan manusia untuk mengendalikannya dan akibat kerusakannya masih dapat dikendalikan. Tidak ada perusahaan asuransi yang bisa menjamin nyawa seseorang - sebagaimana yang kerap keliru dipersepsikan seolah-olah asuransi bisa mengganti jiwa seseorang. Asuransi hanya menanggung nilai ekonomi dari jiwa Anda. Bisa saja Anda tiba-tiba lumpuh sehingga tidak mungkin lagi bekerja, atau Anda mati muda sehingga anak dan istri Anda kehilangan pencari nafkah.</p>
<p>Tapi untuk mempergunakan sarana itu, Anda tentu harus mengeluarkan biaya. Seperti Anda membayar jasa parkir, atau porter. Jadi, ada semacam jaminan, bahwa Anda mengalihkan ketidakpastian anggaran Anda untuk menghadapi risiko, menjadi kepastian bahwa jika terjadi kerugian, asuransi akan menanggung risiko sebagaimana yang disepakati. Selama Anda memindahkan risiko itu ke perusahaan asuransi, Anda tentu boleh tidur nyenyak tanpa perlu dihantui rasa was-was sesuatu akan menimpa diri Anda atau harta-benda Anda.</p>
<p>&#8220;Mengapa uang premi asuransi bapak saya hangus?&#8221; pertanyaan mahasiswa UNS itu terus mengiang.</p>
<p>Entah, siapa yang keliru menjelaskan atau memahami - petugas asuransi atau sang bapak. Yang jelas, Anda memang sebaiknya membayar jasa parkir jika memasuki pelataran parkir. Dan apa jadinya sang tukang parkir, jika saat Anda meninggalkan tempat parkir, Anda kembali meminta uang yang telah Anda bayarkan sebelumnya?</p>
<p>Asuransi pada dasarnya memang bukan tabungan. Meski ada program asuransi yang dirancang dengan menambahkan unsur tabungan bahkan investasi. Karena itu, ada baiknya Anda memeriksa kembali apakah polis Anda murni sebagai alat proteksi - hanya untuk mentransfer risiko, atau ada elemen pengumpulan dana di dalamnya. Ketelitian Anda akan menghindarkan Anda menjatuhkan stigma kepada pengelola asuransi seolah-olah asuransi adalah lembaga yang gemar ‘menghanguskan&#8217; hak-hak Anda.***</p>
<p> <br />
<strong>(Dimuat pada Majalah Infobank, edisi 358, Januari 2009)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2009/01/mengapa-uang-saya-hangus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>breakfast meeting</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/breakfast-meeting/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/breakfast-meeting/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 02:29:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[contigency plan]]></category>

		<category><![CDATA[deposito]]></category>

		<category><![CDATA[dior]]></category>

		<category><![CDATA[maple]]></category>

		<category><![CDATA[oak]]></category>

		<category><![CDATA[obligasi]]></category>

		<category><![CDATA[ORI]]></category>

		<category><![CDATA[palacio de carlos]]></category>

		<category><![CDATA[prada]]></category>

		<category><![CDATA[saham]]></category>

		<category><![CDATA[summer]]></category>

		<category><![CDATA[winter]]></category>

		<category><![CDATA[YSL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[BREAKFAST MEETING (1)
sarapan kita masih itu juga
deposito yang return-nya negatif
obligasi triple A yang terus didiskon
ORI dengan yield yang tipis
padahal aku ingat
bibirmu lebih kenyal dan hangat
karena kukunyah di palacio de carlos
di balik rimbunan oak dan maple
pada subuh yang sepia
: astaga, mengapa saham itu rontok juga?
des 2008
 
BREAKFAST MEETING (2)
sepagi ini engkau sudah meracau
tentang kepastian likuiditas
kepemimpinan politik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BREAKFAST MEETING (1)</strong></p>
<p>sarapan kita masih itu juga<br />
deposito yang return-nya negatif<br />
obligasi triple A yang terus didiskon<br />
ORI dengan yield yang tipis</p>
<p><span id="more-223"></span>padahal aku ingat<br />
bibirmu lebih kenyal dan hangat<br />
karena kukunyah di palacio de carlos<br />
di balik rimbunan oak dan maple<br />
pada subuh yang sepia</p>
<p>: astaga, mengapa saham itu rontok juga?</p>
<p>des 2008</p>
<p> </p>
<p><strong>BREAKFAST MEETING (2)</strong></p>
<p>sepagi ini engkau sudah meracau<br />
tentang kepastian likuiditas<br />
kepemimpinan politik yang berwibawa<br />
kebijakan moneter yang jelas<br />
kerangka hukum<br />
contingency plan<br />
dan semua yang mempengaruhi saham</p>
<p>di sebalik kaca sebuah plaza<br />
ia sibuk memandangi bag bar yang panjang<br />
sembari membayangkan pundakmu yang liat<br />
menjadi ikonik pada prada, YSL atau dior<br />
yang meringkuk di sofa<br />
&#8220;tapi ah, ini masih koleksi musim dingin!&#8221;</p>
<p>bagimu, adakah bedanya:<br />
winter dengan summer?<br />
saham dengan ranjang?</p>
<p>des 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/breakfast-meeting/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>calo</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/calo/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/calo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 10:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spirit of Life]]></category>

		<category><![CDATA[What's On]]></category>

		<category><![CDATA[calon presiden]]></category>

		<category><![CDATA[essay]]></category>

		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang menghadap meja persis di sebelah saya, meluruskan tungkai kaki sekenanya - menghalangi satu-satunya akses saya keluar dari tempat duduk. Setumpuk berkas juga seenaknya mereka letakkan di ujung meja saya, tanpa permisi. Mereka kemudian ngobrol, sesekali berdebat - sangat serius, seolah tidak ada orang lain di tempat itu. Suaranya berisik seperti kumpulan tawon. Dengan ekor mata, saya memperhatikan mereka. Yang ceking tengah membuka-buka setumpuk berkas. Sementara yang gempal sibuk menyulut rokok (meski di ruangan itu terpampang jelas tulisan &#8220;no smoking!&#8221;). Sesaat kemudian, dia mulai memencet telepon seluler. &#8220;Tolong, jangan diganggu dulu!&#8221; katanya setengah berteriak, berupaya meredam suara teman-temannya. &#8220;Saya tengah tersambung ke pak X!&#8221;</p>
<p><span id="more-222"></span>Saya dan suami berpandangan, tersenyum kecil. Seketika, kami eneg - kehilangan selera makan. Saya masih sempat mendengar suara mereka, sebelum memutuskan meninggalkan tempat itu, &#8220;Kalau mereka tidak mengikuti kesepakatan kita, pertemuan itu batal. Saya sudah meminta ijin ke Pak X,&#8221; kata si gempal menyebut salah seorang kandidat calon presiden. Saya menarik nafas.</p>
<p>Hampir sebulan setelahnya, saya kembali bertemu dengan seorang calo dari kubu yang lain. Udara masih bersih di atas Palembang, ketika suaranya mengoyak keheningan pagi. &#8220;Kamu harus bisa mengamankan semuanya! Ini pesan Bapak!&#8221; tandasnya di telepon. Suaranya yang nge-bass segera mencuri perhatian penghuni hotel yang tengah sarapan. Apalagi, tidak banyak kepala yang mengisi meja restoran. &#8220;Hanya yang mendukung Ibu Y yang akan dibantu!&#8221; Sambungnya, menyebut salah seorang calon presiden. &#8220;Tidak ada kompromi! Dan &#8230; hup! Telepon dimatikan dengan gerakan kasar. &#8220;Ada-ada saja &#8230;,&#8221; gumamnya sambil menyeka rambutnya yang cekak, mirip model perwira. Dituntaskannya suapan terakhir, dan ia kemudian menyeret langkah menuju lobby.</p>
<p>Seperti lampu petromaks, kandidat presiden dan wakil presiden di hari-hari terakhir ini ramai dirubung kunang-kunang. Sesuatu yang lumrah, kata suami saya. Kehadiran titik cahaya senantiasa mengundang, menawarkan harapan dan kesempatan, kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, fenomena seperti ini tidak hanya terjadi menjelang pemilu, tapi di setiap kesempatan di mana ada peluang menjadi calo dimungkinkan. Saat ini banyak orang berupaya mendekat ke capres/cawapres, ke ‘sumber cahaya&#8217;, mencari jalan agar semakin dekat. Dan bagi mereka yang memiliki akses ke sumber cahaya, ini adalah kesempatan berharga. Mereka akan menawarkan akses itu, memanfaatkannya dengan menjual jasa mendekatkan pencari cahaya itu ke sumber cahaya. Bukankah fenomena ini juga terdapat di balik dinding-dinding kantor?</p>
<p>Saya ingat cerita teman saya. Di perusahaannya, katakanlah perusahaan XYZ, seorang sekretaris direktur utama kerap sekali bertindak sebagai calo. Dari sekadar menghubungkan sang bos dengan karyawan dari luar kantor pusat, hingga calo bagi karyawan-karyawati yang ingin mendapatkan promosi. &#8220;Eh, tapi bukankah salah satu tugas sekretaris memang menghubungkan bosnya dengan orang-orang di sekitarnya?&#8221; tukas saya. &#8220;Sepanjang tidak dengan imbalan apa-apa, tentu saja ya!&#8221; Sahut teman saya. Tapi tidak dengan sekretaris yang satu ini. Jangan berharap urusan akan lancar, jika tidak menyelipkan ‘upeti&#8217; di bawah mejanya. Sebegitu saktinya sang sekretaris, konon, sampai-sampai ia bisa menentukan hitam-putihnya nasib karyawan - terus dipekerjakan atau diberhentikan. &#8220;Seperti siterklas atau algojo!&#8221; cerita teman saya, tertawa. Diam-diam saya berpikir, apakah perusahaannya mirip kerajaan yang nasib rakyatnya ditentukan secara penuh oleh orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan?</p>
<p>Tapi tidak semua calo itu buruk. Dalam hal-hal tertentu, kita bahkan sangat membutuhkan jasa calo. Terutama jika ingin terlibat dalam bidang-bidang yang sama sekali tidak kita pahami atau kuasai. Sebut saja jika ingin menjadi investor di pasar modal dan pasar uang. Atau akan menggunakan jasa asuransi yang bersifat kolektif. Kita butuh calo, atau pialang, atau dealer, atau broker, atau apalah namanya - yang bertindak sebagai konsultan. Mungkin, Anda sendiri juga pernah memanfaatkan jasa calo saat akan menjual rumah atau tanah. Semata-mata, karena tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencari dan bernegosiasi dengan calon pembeli. Ya, calo - dalam aturan main yang jelas - berkembang menjadi sebuah profesi tersendiri. Beberapa di antaranya bahkan sangat membanggakan dengan tuntutan kompetensi yang demikian tinggi.</p>
<p>Bagaimana jika hanya mengaku-aku sebagai calo? Dulu, kisah ibu saya, ketika kakek saya masih memegang sebuah jabatan tertentu, kami memiliki banyak sekali ‘sanak-famili&#8217;. Semua mengaku memiliki ‘akses tol&#8217; ke kakek. Tidak mengherankan, udara di seputar rumah keluarga besar kami beraroma umbaran janji. Tamu-tamu sering sekali datang tanpa sepengetahuan kakek. Dan ibu - berikut saudara-saudaranya, terpaksa dengan sungkan menolak tamu dan menyatakan bahwa kakek sebenarnya tidak tahu-menahu dan tidak pernah menjanjikan apa-apa.</p>
<p>Menjadi key person, memang tidak selalu menyenangkan. Sebagai sumber cahaya, sinar yang dipancarkan tidak selalu menerangi gulita. Kerap malah menyilaukan, hingga menyesatkan orang-orang tertentu. Karena itu, jika suatu ketika Anda dipercaya untuk menerima amanah - menjadi presiden, direktur, manajer, atau apapun yang memungkinkan Anda menjadi ‘sumber cahaya&#8217;, Anda dituntut untuk memiliki kearifan tersendiri. Terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang mengaku berada di lingkar cahaya Anda. Ujian terberat justru hadir pada awal-awal ketika kita menerima amanah tersebut, karena begitu banyak orang yang tiba-tiba merasa menjadi bagian dari diri kita. Hanya dengan matahati yang terbuka, yang memungkinkan Anda untuk mundur sejenak, memasang jarak, mencermati secara sungguh-sungguh, untuk kemudian memilah siapa sejatinya orang-orang yang menopang kesuksesan Anda, yang membantu dengan tulus, yang menjadi teman suka dan duka; dan memilah siapa yang tengah bertindak sebagai calo, atau bahkan mencuri kesempatan dengan menjadi ‘calo-caloan&#8217; &#8230;. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/calo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>hari ini ayah ulang tahun</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/hari-ini-ayah-ulang-tahun/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/hari-ini-ayah-ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 00:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jagad]]></category>

		<category><![CDATA[bambang prasadhi]]></category>

		<category><![CDATA[jagad shasika]]></category>

		<category><![CDATA[sakti]]></category>

		<category><![CDATA[ulang tahun ayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[AYAH makin gede dong? Padahal, sekarang aja, ayah jauuuhhh lebih gede dibanding saya. Tinggi badan saya belum mencapai pinggang ayah.Bulan lalu, saya ulang tahun, dan ibu berkali-kali bilang, &#8220;Jagoan ibu udah gede!&#8221; Dan sekarang ayah juga ulang tahun: berarti ayah lebih gede lagi dong? Jadi, kapan saya bisa segede ayah?
&#8220;Kalau Mas Sakti mau segede ayah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AYAH makin gede dong? Padahal, sekarang aja, ayah jauuuhhh lebih gede dibanding saya. Tinggi badan saya belum mencapai pinggang ayah.Bulan lalu, saya ulang tahun, dan ibu berkali-kali bilang, &#8220;Jagoan ibu udah gede!&#8221; Dan sekarang ayah juga ulang tahun: berarti ayah lebih gede lagi dong? Jadi, kapan saya bisa segede ayah?</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-221" title="ayah-ibu-sakti" src="http://www.ryanamustamin.com/wp-content/uploads/2008/12/ayah-ibu-sakti.jpg" alt="" width="298" height="448" />&#8220;Kalau Mas Sakti mau segede ayah, harus makan banyak!&#8221; begitu biasanya ibu menasihati (padahal ayah makannya lebih banyak lagi! hiks).</p>
<p><span id="more-220"></span>Oya, saya mau cerita tentang ayah yang ulang tahun hari ini. Tahu gak sih, saya ama ibu suka bingung mau ngasih kado apa buat ayah. Kalau buat saya ‘kan, ayah selalu tahu apa yang saya inginkan. Mau apa aja, pasti dikasih ama ayah. Ayah itu orang paling baik se dunia. Gak pernah marah. Sabar nungguin saya bermain seharian, atau muterin toko mainan, pilih sana pilih sini, pencet sana pencet sini. Ayah juga gak ngomel kalo saya rewel, meski saya minta gendong seharian. Secapek apapun ayah.</p>
<p><!--more-->Ayah juga gak pernah marah tuh sama ibu. Sikap ayah ke ibu sama dengan sikap ayah ke saya. Ibu juga suka ngalem sama ayah. Kalau ibu belanja ke mall, biasanya ‘kan lama tuh. Muter-muter gak juntrung. Boro-boro ayah ngomel. Ayah biasanya malah ngajak saya main. Biar ibu bebas belanja sepuasnya. Ayah juga sabar ngantarin ibu ke mana-mana - karena ibu suka sakit perut, ibu gak boleh nyupir dan sekarang gak punya supir. Pokoknya, ayah pengertian banget. Paling top deh.</p>
<p>Tapi, ngomong-ngomong, ngasih kado apa ya ke ayah? Kalau sesuatu yang dibeli, ayah kayaknya gak butuh apa-apa deh. Lagian, kalau butuh, ayah pasti udah beli jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi saya dan ibu ‘kan mau ngasih sesuatu yang istimewa buat ayah. Ngasih doa dan ciuman? Akh, tiap hari saya mencium dan berdoa buat ayah. Masak sesuatu yang istimewa? Ah, masakan ibu gak enak (ayah ‘kan lebih jago masak dibanding ibu, ibu payah nih &#8230;!).</p>
<p>Terus apa dong? Pokoknya, sampai ayah membaca catatan ini, saya dan ibu masih aja bingung mau ngasih kado apa di ulang tahun ayah hari ini.</p>
<p>Ayah, Sakti ama ibu gak kreatif nih. Tapi ayah harus tahu bahwa kami sayaannngggg sekali sama ayah. Bangggaaaa sekali sama ayah. Kami senantiasa berdoa agar ayah sehat dan panjang umur. Kelak masih bisa menyaksikan Sakti tumbuh segede ayah, setinggi ayah. Selamat ulang tahun, ayah! We love u, ayah. Semoga Allah selalu menjaga ayah, di mana pun, kapan pun. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/hari-ini-ayah-ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>catatan perjalanan (1): the yogya heritage</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/catatan-perjalanan-1-the-yogya-heritage/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/catatan-perjalanan-1-the-yogya-heritage/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 04:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<category><![CDATA[adi ekopriyono]]></category>

		<category><![CDATA[andri mangkuntoro]]></category>

		<category><![CDATA[anhar gonggong]]></category>

		<category><![CDATA[anies baswedan]]></category>

		<category><![CDATA[bambang eryudhawan]]></category>

		<category><![CDATA[dwidjosewojo]]></category>

		<category><![CDATA[kebangkitan nasional]]></category>

		<category><![CDATA[larasati suliantoro]]></category>

		<category><![CDATA[mayasari sekarlaranti]]></category>

		<category><![CDATA[mustokoweni heritage hotel]]></category>

		<category><![CDATA[nita kenzo]]></category>

		<category><![CDATA[satrio budi pramono]]></category>

		<category><![CDATA[sma 11 yogyakarta]]></category>

		<category><![CDATA[sulaeman - boedi oetomo]]></category>

		<category><![CDATA[UGM]]></category>

		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[INI bulan-bulan menyenangkan sebetulnya, meski cukup melelahkan. Terbang dari satu kota ke kota yang lain, dan bertemu dengan banyak orang. Banyak hal menarik yang bisa ditulis. Sayangnya, saya bukan seseorang yang memiliki time management yang baik - saya selalu gagal mencuri waktu untuk menulis. Walhasil, pengalaman-pengalaman menyenangkan itu tertimbun di labirin waktu.
Tulisan ini sekadar catatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>INI bulan-bulan menyenangkan sebetulnya, meski cukup melelahkan. Terbang dari satu kota ke kota yang lain, dan bertemu dengan banyak orang. Banyak hal menarik yang bisa ditulis. Sayangnya, saya bukan seseorang yang memiliki time management yang baik - saya selalu gagal mencuri waktu untuk menulis. Walhasil, pengalaman-pengalaman menyenangkan itu tertimbun di labirin waktu.</p>
<p>Tulisan ini sekadar catatan peristiwa, barangkali suatu saat ada gunanya. Seperti ketika Mbak Nita Kenzo berseru setengah guyon, &#8220;Ayo foto, ayo foto! Satu abad lagi foto ini bersejarah!&#8221;</p>
<p>Oya, saya memulai kisah dari Mbak Nita - nama lengkapnya Mayasari Sekarlaranti (gak ada hubungannya dengan nama panggilan, ya? Hehe). Mbak Nita ini cucu dari Pak Sulaeman, salah seorang deklarator Boedi Oetomo. Melalui perbincangan yang hangat tentang organisasi pergerakan itu, Mbak Nita mengundang saya ke Yogya. Di sana akan ada sejumlah kegiatan yang terkait dengan peringatan 100 tahun Kongres I Boedi Oetomo. Dan Mbak Nita meminta saya menjadi salah seorang narasumber. Kebetulan, saya memang banyak mengubek-ngubek sejarah menjelang Seabad Kebangkitan Nasional Mei lalu, secara Pak Dwidjosewojo - pendiri perusahaan tempat saya bekerja, adalah Sekretaris I Pengurus Besar Boedi Oetomo (baca tulisan saya yang lain di kanal Nine to Six, &#8220;Boedi Oetomo, Boemi Poetra, dan Rekam-Jejak Dwidjosewojo&#8221;).</p>
<p>Singkat kata, saya memang akhirnya didatangi ketua pengarah kegiatan itu, Pak Satrio Budi Pramono. Mas Yoyok - begitu sapaan akrabnya, mantan aktivis mahasiswa tahun 70-an di Yogya, yang begitu energik, berhasil mengusik-ngusik keingintahuan saya lebih jauh tentang anak-cucu keturunan aktivis Boedi Oetomo. Saya manut ke Yogya - termasuk menerima tawaran untuk tidur di sekretariat panitia yang merangkap hotel (harusnya saya tulis: hotel yang digunakan sebagai kantor sekretariat): Mustokoweni The Heritage Hotel, di Jl. AM Sangaji 72 Yogyakarta. Padahal, saya bisa saja memilih hotel lain - secara saya jalan dinas dari kantor.</p>
<p>Dalam hajatan ini, sebetulnya ada 3 kegiatan: Pameran Jejak Perjuangan Boedi Oetomo pada 5-30 Oktober 2008; Renungan dan Orasi Kebangsaan pada Minggu 5 Oktober 2008, dan Sarasehan Menuju Indonesia Mulia pada 22 Oktober 2008. Saya bicara di event ke-3 ini, berbarengan dengan Ir. Bambang Eryudhawan - penulis buku Boedi Oetomo, Drs, Adi Ekopriyono, MSi, dan Anies BAswedan, Ph.D, - rektor Universitas Paramadina. Pada sesi sebelumnya, sejarahwan Dr. Anhar Gonggong juga tampil sebagai pembicara - meski amat singkat. Tapi saya sempat berbincang lama dengan Pak Anhar tentang pelbagai fenomena bangsa ini, karena kebetulan kami duduk bersebelahan di pesawat dalam perjalanan Jakarta-Yogya.</p>
<p>Yogya, bagi saya, selalu menarik untuk segala hal. Selain karena ini tanah tumpah darah suami saya, setiap jengkal tanah di Yogya seolah menyimpan aroma sejarah. Seperti sarasehan itu. Kegiatan dilaksankan di aula SMA Negeri 11 Yogyakarta - aula yang satu abad lalu digunakan sebagai tempat Kongres I Boedi Oetomo. Menurut salah seorang kakak Mbak Nita, tempat ini nyaris tidak mengalami perubahan berarti sejak moment bersejarah itu ditoreh di sini. Bukan main.</p>
<p>Lalu, Mustokoweni. Hm, hotel milik Ibu Larasati Suliantoro Sulaeman ini benar-benar merepresentasikan Yogya masa silam. Dari bentuk bangunan yang khas peninggalan Belanda, interior - termasuk meubelair dan ornamen dinding, hingga menu makan siang yang menyajikan gudeg. Pokoknya, kalau jalan dinas, pasti gak menemukan pengalaman batin seperti ini, karena teman-teman di cabang pasti memesankan hotel terbaik di kota mereka.<br />
Dan, yang paling berkesan, tentu, adalah perlakuan para panitia yang umumnya berasal dari anak keturunan deklarator Boedi Oetomo dan dosen-dosen sejarah UGM. Mereka sangat hangat dan low-profile. Mas Yoyok bahkan super-duper perhatian - hingga kadang-kadang membuat gak enak hati. Ia organisatoris yang baik dan memahami bagaimana cara membuat sesuatu dan seseorang merasa bernilai.</p>
<p>Satu lagi yang mengesankan di Yogya - perhatian sahabat saya Andri Mankuntoro beserta keluarganya - Mbak Ning berikut Akid dan Raihan - 2 jagoannya. Kebaikan keluarga ini selalu meluluhkan hati. Saya menghabiskan setengah hari terakhir - sampai di ruang tunggu bandara - dengan mereka. Saya rasa, di benak saya, Yogya lebih identik dengan mereka. Bukan dengan teman-teman di Bumiputera, atau keluarga besar suami saya di sana. Makasih ya, Mas Andri dan Mbak Ning!</p>
<p>Berikutnya, catatan perjalanan akan saya teruskan ke kerajaan tetangga Yogya: Surakarta. Di tempat ini saya hadir sebagai pembicara di kuliah umum FE - Universitas 11 Maret Surakarta pada minggu berikutnya, dalam rangkaian &#8220;Insurance Goes to Campus&#8221;. Seperti apa ceritanya? Tunggu saja.***</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/12/catatan-perjalanan-1-the-yogya-heritage/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>hari ini</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/hari-ini/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/hari-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 09:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spirit of Life]]></category>

		<category><![CDATA[What's On]]></category>

		<category><![CDATA[akhir tahun]]></category>

		<category><![CDATA[esai]]></category>

		<category><![CDATA[filosofi waktu]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[jalan sudirman]]></category>

		<category><![CDATA[rumah singgah]]></category>

		<category><![CDATA[wisma bumiputera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut pelan, tampak seperti kawanan siput. Di pembatas jalan, dedaunan dan pejalan kaki masih bersitahan melawan cuaca, bergetar kuyup.</p>
<p>Saya termangu menyaksikan tempias air - serupa lelehan tangis - yang menempel di kaca jendela, dengan rasa gamang yang menggores tajam. Ini hari-hari terakhir menjelang tutup tahun. Di ruang kerja yang selantai dengan saya, sebagian teman-teman sudah mengambil cuti. Sebagian rekan yang masih bertahan, seperti sepakat untuk tidak terlalu mengumbar aktivitas. Dering telepon satu-satu. Suara tuts komputer tertangkap lirih. Percakapan pun dilakukan dengan suara rendah.</p>
<p><span id="more-218"></span>&#8220;Tanpa terasa, November sudah mau habis. Sebentar lagi Desember. Tutup tahun. Waktu cepat sekali, ya!&#8221; Seorang rekan kerja memecah udara. Saya mengedikkan bahu, seraya memandang langit di luar jendela. Seperti apa sih waktu itu? Kadang-kadang saya merasa, waktu seperti kura-kura yang merangkak pelan, mengusung jemu. Di waktu lain, ia seperti derap kaki pasukan kuda yang dilecut punggungnya. Membuat terengah dan panik.</p>
<p>Pada koran sore yang baru diantar loper, saya menemukan sejumlah tulisan yang mulai mengevaluasi kinerja ekonomi tahun ini. Lalu ada ulasan prospek perekonomian tahun depan di halaman lain. Iklan-iklan dagang pun ramai, menawarkan great sale akhir tahun - mengirimkan sihir bujukan seolah tidak ada lagi waktu di hari esok. Sejumlah perusahaan pun memaparkan rencana kerja dan anggaran tahun 2009. Tapi saya masih juga terusik: seperti apakah waktu itu? Mengapa pada akhir tahun serasa ada yang akan pergi? Mengapa kita seperti harus memilah-milah waktu?</p>
<p>Jangan-jangan waktu hanya ada dalam ilusi kita. Saat membuat rencana dan dikejar deadline, kita merasa waktu bergerak linier. Dari titik nol hingga sekian. Dari pagi hingga malam. Dari pukul 00.00 hingga 24.00. Dari Januari hingga Desember. Dari kelahiran hingga kematian. Seperti inikah kita menamai dan memaknai waktu?</p>
<p>Ataukah waktu bergerak berputar? Seperti trend mode yang kembali mengusung gaya busana ibu saya di usia belia? Seperti matahari yang tenggelam dan kemudian terbit kembali? Bukankah kita akan menyongsong Januari lagi? Bukankah ritual pesta tahun baru akan tiba kembali tahun depan? Bukankah kita membuat rencana, merealisirnya, dan merencanakan kembali? Tidakkah bumi dan galaksi yang suatu ketika hancur lebur akan mewujud kembali? Seperti kelahiran setelah kematian? Seperti kemunculan pucuk daun setelah layu dan membusuk? Tidakkah hitungan akan berulang? Dari nol ke nol lagi? Dari seribu kembali ke seribu?</p>
<p>Atau waktu justru sesuatu yang statis? Adakah sesuatu yang sungguh-sungguh berbeda dari hari lampau dibanding hari ini? Bukankah kita akan kembali menyusuri jalan-jalan yang sama, ruang yang sama, bahkan mungkin dengan pekerjaan dan rekan-rekan yang sama?</p>
<p>Di luar jendela, saya menyaksikan Jakarta yang masih diguyur hujan. Jika titik air itu tidak menjulur, sesaat lagi saya akan melihat matahari tergelincir di balik gedung jangkung di seberang jalan, mengatup siang (atau membuka malam?). Ah, alangkah rumitnya berpikir tentang waktu. Saya tiba-tiba teringat seorang anak jalanan yang pernah saya temui di sebuah rumah singgah - seseorang yang justru tidak pernah berpikir tentang waktu. Baginya, hidup adalah hari ini. Ia mengamen untuk makan hari ini. Ia tidak pernah berpikir apa yang terjadi hari kemarin dan apa yang akan menyongsongnya esok.</p>
<p>Mungkin akan lebih baik seperti itu. Lakukan yang terbaik hari ini, saat ini. Kita tidak perlu memikirkan dan menyesali yang lampau. Kita tidak pernah bisa mengubah apa yang sudah terjadi kemarin, tidak bisa meralat apa yang sudah kita lontarkan sebelumnya. Kesedihan dan kegembiraan yang terjadi kemarin, tidak mungkin dicecap kembali. Karena itu, mungkin sebaiknya kita relakan masa lalu melindap.</p>
<p>Seperti pengamen itu, kita juga tidak perlu mengkhawatirkan hari esok. Hingga fajar menyingsing esok hari, kita tidak pernah memahami apa yang akan terjadi. Kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar akan kita lakukan esok.</p>
<p>Saya meninggalkan ruang kerja dengan mengatup pintu perlahan. Kali ini tidak dengan perasaan gamang. Pintu masa lalu telah tertutup. Pintu masa depan belum lagi terbuka. Mumpung hari belum benar-benar lewat, saya ingin mendedikasikan diri sepenuhnya hanya untuk hari ini. Sungguh-sungguh hari ini. Memberikan yang terbaik. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/hari-ini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>sakti bobok di hari ulang tahun</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/sakti-bobok-di-hari-ulang-tahun/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/sakti-bobok-di-hari-ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 10:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jagad]]></category>

		<category><![CDATA[bob the builder]]></category>

		<category><![CDATA[handy manny]]></category>

		<category><![CDATA[jagad shasika pradnasakti]]></category>

		<category><![CDATA[little einsteins]]></category>

		<category><![CDATA[mickey mouse]]></category>

		<category><![CDATA[noody]]></category>

		<category><![CDATA[sakti]]></category>

		<category><![CDATA[thomas]]></category>

		<category><![CDATA[tiger and pooh]]></category>

		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[SATU November lalu, umur saya genap 3 tahun. Kata ibu, jagoan ibu udah gede. Ntar lagi bisa sekolah. Sekolah buat apa? &#8220;Biar bisa baca!&#8221; kata saya ke ibu. &#8220;Biar bisa nulis (selama ini ‘kan dibantuin ibu untuk nulis catatan di blog ini), biar bisa nyanyi, biar bisa gambar, dan &#8230; biar bisa nangis juga!&#8221;
Kalau buat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SATU November lalu, umur saya genap 3 tahun. Kata ibu, jagoan ibu udah gede. Ntar lagi bisa sekolah. Sekolah buat apa? &#8220;Biar bisa baca!&#8221; kata saya ke ibu. &#8220;Biar bisa nulis (selama ini ‘kan dibantuin ibu untuk nulis catatan di blog ini), biar bisa nyanyi, biar bisa gambar, dan &#8230; biar bisa nangis juga!&#8221;</p>
<p><span id="more-214"></span><a href="http://www.ryanamustamin.com/wp-content/uploads/2008/11/sakti-3-tahun-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-215" title="sakti-3-tahun-2" src="http://www.ryanamustamin.com/wp-content/uploads/2008/11/sakti-3-tahun-2.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a>Kalau buat nangis mah, kata ibu, gak perlu sekolah. &#8220;Mas Sakti sekarang aja udah cengeng!&#8221; tukas ibu. Saya cuma cengengesan. Entah benar, entah tidak. Tapi kata Eyang, waktu bayi, saya memang jarang nangis. Sampai-sampai tetangga suka gak percaya ada bayi di rumah ibu.</p>
<p>Oya, saya mau cerita tentang ulang tahun saya, meski udah lewat (habis, ibu sibuk bener, sampai gak sempat bantuin saya bikin catatan).</p>
<p>Seminggu sebelum ulang tahun, ibu sudah ngabari kalau saya sebentar lagi ulang tahun. &#8220;Sakti mau tiup lilin!&#8221; kata saya ke ibu, memohon. &#8220;Seperti Mas Janu!&#8221; Beberapa waktu lalu, sepupu saya memang ulang tahun.</p>
<p>Ibu, seperti biasanya, jarang menolak permintaan saya. Kebetulan, ulang tahun saya jatuh pada Sabtu - hari libur.</p>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-216" title="sakti-3-tahun-4" src="http://www.ryanamustamin.com/wp-content/uploads/2008/11/sakti-3-tahun-4.jpg" alt="" width="300" height="224" />Karena itu, pagi-pagi, mbak dan tante Ayu udah keliatan sibuk di dapur. Ibu juga beres-beres rumah. Hari ini, keluarga besar kami pasti ngumpul: Eyang Kung, Eyang Ti, Pakde, Bude, Oom, Tante, Kakak-kakak sepupu dan adik-adik. Saya juga pagi-pagi udah rapi.</p>
<p>Agak siangan dikit, ada oom-oom datang naik motor. Ternyata bawa kue ulang tahun. Begitu dibuka, wawww&#8230; keren juga. Kue tart-nya bergambar Micky Mouse. Belakangan ini, saya memang gandrung nonton Mickey (akh, ibu tau aja kesukaan saya). Saya juga suka Bob the Builder, Little Einsteins, Tiger &amp; Pooh, Handy Manny, dan Noody. Tapi udah agak bosan nonton Thomas.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-217" title="sakti-22" src="http://www.ryanamustamin.com/wp-content/uploads/2008/11/sakti-gagal-kirim.jpg" alt="" width="336" height="448" />&#8220;Ibu, lilinnya dinyalain!&#8221; Rengek saya ke ibu.</p>
<p>&#8220;Tunggu Yang-Kung dan Yang-Ti dulu!&#8221; tukas ibu.</p>
<p>Saya akhirnya main dinosaurus. Meski udah pengen banget niup lilin ulang tahun. Tapi Eyang kok lama banget sih datangnya?</p>
<p>Tengah asyik main, Eyang datang. Wah, senang banget. Berarti udah bisa niup lilin dong.</p>
<p>&#8220;Ibu, lilinnya dinyalain ya!&#8221; kata saya, antusias.</p>
<p>&#8220;Adek Lala dan Caca belum datang. Tunggu sebentar lagi ya!&#8221;</p>
<p>Waduh! Rasanya gondok banget. Ibu gimana sih? Saya kan capek nunggunya. Saya juga udah gak sabaran pengen tiup lilin.</p>
<p>Saya udah mulai gerah dan ngantuk. Juga gak habis ngerti kenapa harus menunggu semua datang. Saya perhatiin, Ibu dan Ayah sibuk ngobrol dengan Eyang, kayak gak ngerti perasaan saya (hiks!).</p>
<p>Menjelang jam duabelasan, Oom Valent baru datang. Saya udah gak semangat waktu ngeliat Adek Lala dan Caca turun dari mobil.</p>
<p>&#8220;Ayo, acaranya kita mulai!&#8221; kata ibu.</p>
<p>Lilin dinyalain ibu. Ayah memimpin acara. Eyang memimpin doa. Lalu semua pada nyanyi. &#8220;Ayo, lilinnya ditiup!&#8221; kata Eyang-Ti.</p>
<p>&#8220;Gak mau! Gak mau!&#8221; Saya teriak-teriak. Berontak dan nangis. Saya gak mau niup lilin, gak mau dengar semuanya nyanyi.</p>
<p>Ayah lalu menggendong saya.</p>
<p>&#8220;Ayo sayang, lilinnya ditiup!&#8221; bujuk ibu.</p>
<p>&#8220;Gak mau! Gak mau! Sakti mau bobok!!!&#8221; Saya teriak sekencang-kencangnya sambil nangis.</p>
<p>Anehnya, yang lain pada ketawa.</p>
<p>&#8220;Ayah, naik!&#8221; Saya ngajak Ayah ke kamar. &#8220;Naik! Sakti mau bobok!&#8221;</p>
<p>Ayah dan ibu akhirnya mengganti saya niup lilin. Meski saya meronta-ronta.</p>
<p>Di ujung tangga, saya masih denger Eyang, Oom dan Tante, pada ketawa.</p>
<p>Ih, kok pada gak ngerti sih perasaan saya?***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/sakti-bobok-di-hari-ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GA 227, solo - jakarta</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/ga-227-solo-jakarta/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/ga-227-solo-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 09:34:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[GA 227]]></category>

		<category><![CDATA[garuda indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[kabin]]></category>

		<category><![CDATA[pesawat]]></category>

		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<category><![CDATA[solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[GA 227, Solo - Jakarta (1)
mungkin ibu lupa pada adonan tart-nya
hingga kembang gula krim meluber menyegala arah
tapi siapa yang menumpahkan kopi,
hingga dapur di balik jendela meruah jelaga?
GA 227, Solo - Jakarta (2)
gemuruh guruh
melenting riuh
tak jelas benar
di dalam atau di luar
atau justru di bilik dada
GA 227, Solo - Jakarta (3)
suaramu masih kusimpan
sesaat sebelum pintu terkatup
kerap kubayangkan
andai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>GA 227, Solo - Jakarta (1)</strong></p>
<p>mungkin ibu lupa pada adonan tart-nya<br />
hingga kembang gula krim meluber menyegala arah<br />
tapi siapa yang menumpahkan kopi,<br />
hingga dapur di balik jendela meruah jelaga?</p>
<p><strong><span id="more-212"></span>GA 227, Solo - Jakarta (2)</strong></p>
<p>gemuruh guruh<br />
melenting riuh<br />
tak jelas benar<br />
di dalam atau di luar<br />
atau justru di bilik dada</p>
<p><strong>GA 227, Solo - Jakarta (3)</strong></p>
<p>suaramu masih kusimpan<br />
sesaat sebelum pintu terkatup<br />
kerap kubayangkan<br />
andai suara itu bersemayam di kabin<br />
<!--more--><br />
<strong>GA 227, Solo - Jakarta (4)</strong></p>
<p>&#8220;ibu, sakti takut kilat dan petir,&#8221; kata anakku<br />
&#8220;mari berhitung, sayang!&#8221; ajakku</p>
<p>alangkah jauh jarak keduanya<br />
karena hitungan sakti mencapai tujuh</p>
<p>tapi di sini<br />
kami bahkan tak sempat berhitung</p>
<p><strong>GA 227, Solo - Jakarta (5)</strong></p>
<p>mengapa tiba-tiba kurindukan cahaya<br />
ketika kabin diharuskan gulita<br />
gulung gemawan terlampau terjal<br />
hingga pendakian tak ingin usai</p>
<p>: di seberang pandangan, lelaki itu terus saja melafaz doa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/11/ga-227-solo-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>saya nge-blog karena saya ada</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/10/saya-nge-blog-karena-saya-ada/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/10/saya-nge-blog-karena-saya-ada/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 09:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[What's On]]></category>

		<category><![CDATA[hari blogger nasional]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Rene Descartes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

&#8220;SAYA menulis karena saya ada.&#8221;
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), &#8220;saya berpikir karena saya ada&#8221;. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)</em></strong></p>
<p><strong><em></em></strong></p>
<p>&#8220;SAYA menulis karena saya ada.&#8221;</p>
<p>Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), &#8220;saya berpikir karena saya ada&#8221;. Sederhana namun dalam.</p>
<p>Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya ingin terus menulis. Karena dengan menulis, saya meng-ada. Bahkan ketika raga dan pikiran saya sudah tak mampu menulis, suatu saat.</p>
<p>Mungkin Anda menampik: menulis bisa di mana saja, dan kapan saja. Mengapa harus blog? Karena, hemat saya, ini yang terbaik saat ini. Entah nanti - jika hadir medium atau teknologi yang lebih memadai.</p>
<p><span id="more-210"></span>Saya merasa mulai bisa merangkai kalimat dengan baik saat duduk di kelas 4 SD. Ketika itu, tulisan saya dimuat di rubrik anak Harian Mimbar Karya - sebuah koran yang terbit di Makassar. Sejak itu, hampir setiap hari saya menulis, di mana saja. Tentang apa saja.</p>
<p>Di bangku SMP, rasa percaya diri saya menguat, saat artikel saya muncul di majalah Hai. Menginjak SMA dan Perguruan Tinggi, tulisan saya sudah muncul di hampir semua majalah remaja yang terbit di Jakarta.</p>
<p>Sejujurnya, saya tidak terlalu peduli dengan penerbitan itu. Teman kelas saya belum tentu tahu saya penulis. Bagi saya, proses menulis itu sendiri, jauh lebih mengasyikkan. Dengan menulis, saya menciptakan ‘dunia&#8217; sendiri, dunia yang ‘otonom&#8217;, dunia di mana saya bebas menjadi ‘penguasa&#8217;. Tokoh-tokoh cerita jelmaan saya seperti bidak catur, yang nasibnya tergantung saya.</p>
<p>Tapi menulis ternyata juga ‘menggelisahkan&#8217;. Semakin kerap saya menulis, otak saya semakin peka terhadap stimuli - dan karenanya semakin cepat penuh. Harus ditumpahkan sebagian. Sayang, tempat dan waktu tidak selalu bisa berkompromi. Semakin dewasa, semakin kerap saya ‘berseberangan&#8217; dengan pengelola media - sesuatu yang tidak pernah terjadi pada otak kanak-kanak saya.</p>
<p>Pengelola media kerap melontarkan kalimat yang tidak terlalu saya sukai, &#8220;Judul tulisannya saya ubah, ya?&#8221; Atau, &#8220;Ada beberapa kalimat yang saya edit&#8221;. Sepele. Tapi mengganggu. Ada ‘penguasa&#8217; lain, tampaknya! Dan itu mengusik keasyikan saya. Tulisan, sejak awal, saya perlakukan sebagai sesuatu yang personal, dan karenanya sulit diperdebatkan.</p>
<p>Entah siapa yang lebih dulu tiba: kata atau kalimat kehilangan sihir, atau rutinitas menjebak saya. Atau justru berbarengan. Menjadi orang kantoran yang sibuk membuat saya kehilangan ‘dunia&#8217; yang dulu, kehilangan katarsis. Padahal, kapasitas otak saya nggak nambah. Dan stimuli tidak berkurang. Jadi saya harus tetap menulis, namun dengan cara yang saya inginkan.</p>
<p>Sampai saya berkenalan dengan blog.</p>
<p>Hai, bukankah blog memungkinkan saya tetap bisa menjadi ‘penguasa&#8217; atas tulisan saya? Bukankah medium ini yang bisa membuat saya menulis tanpa ‘campur tangan&#8217; siapa pun? Lebih penting dari itu, bukankah blog yang memungkinkan saya tetap ada karena saya menulis?</p>
<p>Sejumlah peristiwa fisik dan batin saya alami. Puluhan, bahkan mungkin ratusan tulisan pernah merekamnya. Tapi kini hanya sebagian yang bisa saya lacak jejaknya. Media konvensional punya keterbatasan, terutama dalam hal penyimpanan. Dengan blog, saya bisa meninggalkan jejak. Tanpa khawatir arsip saya dilalap rayap. Tulisan pun bisa saya panggil atau baca. Kapan pun, di mana pun. Bahkan oleh orang lain.</p>
<p>Karena itu: mengapa nge-blog? Karena saya menulis. Mengapa menulis? Karena saya ada. Just a simple!</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/10/saya-nge-blog-karena-saya-ada/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>pemuda harus bawa perubahan: kemiskinan-kebodohan, problem serius</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2008/10/pemuda-harus-bawa-perubahan-kemiskinan-kebodohan-problem-serius/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2008/10/pemuda-harus-bawa-perubahan-kemiskinan-kebodohan-problem-serius/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 06:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[What's On]]></category>

		<category><![CDATA[adi ekopriyono]]></category>

		<category><![CDATA[anies baswedan]]></category>

		<category><![CDATA[bambang eryudhawan]]></category>

		<category><![CDATA[boedi oetomo]]></category>

		<category><![CDATA[kebangkitan nasional]]></category>

		<category><![CDATA[kedaulatan rakyat]]></category>

		<category><![CDATA[kongres]]></category>

		<category><![CDATA[menuju indonesia mulia]]></category>

		<category><![CDATA[SMAN 11 Yogya]]></category>

		<category><![CDATA[universitas paramadina]]></category>

		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[(Sekadar dokumentasi. Disunting dari Harian Kedaulatan Rakyat - Yogyakarta, edisi 23 Oktober 2008)
 
YOGYA (KR) - Terbatasnya pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan secara tidak langsung menyebabkan generasi muda kian jauh dari perjuangan founding fathers. Pengaruh budaya Barat telah merasuk dalam jiwa generasi muda. Hal tersebut tidak hanya membawa dampak positif seperti kemajuan dalam bidang teknologi, tapi juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>(Sekadar dokumentasi. Disunting dari Harian Kedaulatan Rakyat - Yogyakarta, edisi 23 Oktober 2008)</em></strong></p>
<p> </p>
<p>YOGYA (KR) - Terbatasnya pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan secara tidak langsung menyebabkan generasi muda kian jauh dari perjuangan founding fathers. Pengaruh budaya Barat telah merasuk dalam jiwa generasi muda. Hal tersebut tidak hanya membawa dampak positif seperti kemajuan dalam bidang teknologi, tapi juga nilai-nilai kapitalistik yang bisa mengikis kearifan lokal. Karena itu, sudah saatnya pendidikan terhadap anak didik mulai diarahkan pada penanaman nilai-nilai luhur dan kecintaan terhadap bangsa dan negara.</p>
<p>Demikian antara lain yang mengemuka dalam acara sarasehan &#8216;Menuju Indonesia Mulia&#8217; yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun kongres pertama Boedi Oetomo di Aula SMAN 11 Yogya, Rabu (22/10) tadi malam.</p>
<p>Seminar dihadiri para sejarawan, tokoh-tokoh masyarakat, pelajar dan mahasiswa. Sebagai narasumber Ir Bambang Eryudhawan IAI (penulis buku Jejak Tokoh dan Peristiwa Boedi Oetomo), <strong>Ana Mustamin</strong> (Kepala Dep Komunikasi Bumiputera 1912), Drs Adi Ekopriyono MSi (penulis buku) dan Anies Baswedan PhD (Rektor Universitas Paramadina Jakarta).</p>
<p>Anies Baswedan mengatakan, tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia di era globalisasi tidak jauh berbeda dengan ancaman 100 tahun lalu. Pasalnya, selain infiltrasi nilai-nilai budaya Barat, kemiskinan dan kebodohan sampai saat ini masih menjadi problem serius. Untuk itu generasi muda sebagai kader penerus harus bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Tentunya semua itu akan bisa terwujud jika dilandasi dengan kerja keras, keyakinan dan optimisme untuk menuju ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Ana Mustamin menambahkan, 100 tahun kebangkitan nasional adalah momentum yang tepat bagi generasi mudah untuk berbenah diri dan memperjuangkan cita-cita para pendahulu. Sebab pesimisme dalam menyikapi krisis multidimensi tidak akan bisa menyelesaikan persoalan. Karena itu selain melestarikan kearifan lokal dan meneladani perjuangan para pendiri Boedi Oetomo, generasi muda juga perlu memperkaya sejarah.</p>
<p>Komentar serupa juga diungkapkan Bambang Eryudhawan. Menurutnya, adanya perbedaan persepsi tentang pendiri Boedi Oetomo tidak perlu disikapi secara berlebihan. Sebab saat ini yang terpenting dan perlu segera dilakukan adalah meneruskan cita-cita dan perjuangan mereka supaya bisa menjadi kenyataan.(R-5)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2008/10/pemuda-harus-bawa-perubahan-kemiskinan-kebodohan-problem-serius/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
