<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Ryana Mustamin, Saya Menulis Karena Saya Ada</title>
	<atom:link href="http://www.ryanamustamin.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ryanamustamin.com</link>
	<description>Saya Menulis Karena Saya Ada</description>
	<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 07:21:15 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>mengintip pusat pentadbiran malaysia</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/04/mengintip-pusat-pentadbiran-malaysia/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/04/mengintip-pusat-pentadbiran-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 10:08:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Jendela]]></category>

		<category><![CDATA[abdul rahman putra]]></category>

		<category><![CDATA[mahathir muhammad]]></category>

		<category><![CDATA[monumen millenium]]></category>

		<category><![CDATA[perdana putra]]></category>

		<category><![CDATA[putrajaya]]></category>

		<category><![CDATA[putrajaya convention center]]></category>

		<category><![CDATA[selangor]]></category>

		<category><![CDATA[superiority syndrome]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH sering saya berkunjung ke Malaysia. Tapi kunjungan pada akhir Februari 2010 lalu, adalah lawatan perdana saya ke Putrajaya. Kota ini relatif masih belia. Konstruksi awalnya baru dipancang pada Agustus 1995, dan baru akan rampung pada 2015.
“Putrajaya adalah pusat pentadbiran pemerintah Malaysia,” terang Norma, penduduk asli Kuala Lumpur (KL) yang menyertai saya.
Melihat dahi saya berkerut, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAH sering saya berkunjung ke Malaysia. Tapi kunjungan pada akhir Februari 2010 lalu, adalah lawatan perdana saya ke Putrajaya. Kota ini relatif masih belia. Konstruksi awalnya baru dipancang pada Agustus 1995, dan baru akan rampung pada 2015.</p>
<p><span id="more-268"></span>“Putrajaya adalah pusat pentadbiran pemerintah Malaysia,” terang Norma, penduduk asli Kuala Lumpur (KL) yang menyertai saya.</p>
<p>Melihat dahi saya berkerut, ia buru-buru menjelaskan. “Pentadbiran. The meaning is administration!”</p>
<p>Oh! Saya mengangguk-angguk. “Kalau di Indonesia, kami menyebutnya pusat administrasi pemerintahan!”</p>
<p>Lalu saya mendengar tawanya. “Bahasa Indonesia itu lucu,” katanya dalam aksen Malaysia yang kental. “Suka mengambil Bahasa Inggris begitu saja!” sambungnya.</p>
<p>Dan, saya melongo. Ingin mendebat, tapi batin saya mengingatkan: saat ini saya tengah menjadi tamu di negaranya. Lagipula, sejak awal ketemu di bandara, saya sudah merasa sosok di depan saya itu mengidap superiority syndrome berhadapan dengan warga Indonesia. Sepanjang perjalanan, ia selalu mengaitkan kata Indonesia dengan pembantu rumah tangganya!</p>
<p>Dari KL, Putrajaya hanya berjarak tempuh 25 kilometer ke arah utara (atau ke arah selatan jika anda bertolak dari Kuala Lumpur International Airport di Sepang). Semula,kota yang digagas Mahathir Muhammad ini masuk dalam wilayah Prang Besar - bagian dari Kerajaan Selangor. Tapi sekarang, tentu mandiri, karena statusnya menjadi wilayah federal – seperti halnya KL dan Pulau Labuan.</p>
<p>Menurut Norma, kehadiran Putrajaya bukan dimaksudkan menggantikan posisi KL – meski sebagian perannya direduksi. Tapi lebih kepada upaya memecah kepadatan. KL kini diposisikan sebagai kota bisnis – wilayah komersial, sementara Putrajaya dikonsentrasikan sebagai pusat pemerintahan. Nama Putrajaya sendiri bermuasal dari nama Perdana Menteri Malaysia pertama, Tuanku Abdul Rahman Putra Al-Haj. Penambahan kata ‘Jaya’ merupakan ikhtiar dan harapan agar daerah ini bisa berkembang pesat.”Putrajaya nanti menjadi tanda kecemerlangan bangsa kami,” kata Norma, tak berusaha menyembunyikan kebanggaan.</p>
<p>Dia – tentu – layak bangga. Kota yang dipamerkannya ke saya itu ditata dengan perencanaan yang matang, berakar pada filosofi: keselasaran antara manasia dengan penciptanya, manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Karena itu, hampir 40% dari luas lahan yang tersedia digunakan untuk membangun tasik (danau) dan taman tropis. Kota ini juga dilengkapi dengan sarana peribadatan yang sangat memadai: masjid Putra – yang tingginya setara dengan bangunan berlantai 21 dan menampung 15 ribu jamah. Pemerintah Malaysia berharap kota ini dapat mengakomodasi kebutuhan sebuah kota modern yang tidak mengabaikan ekosistem dan unsur religiusitas. Dengan demikian, penduduknya diharapkan tidak gampang stress atau mengalami alienasi yang tidak perlu sebagaimana yang jamak dialami penduduk di berbagai kota modern di dunia.</p>
<p>Selain Masjid Putra, ada beberapa bangunan menarik lainnya. Yang paling mencolok, Monumen Millenium. Menurut Norma, bentuknya diilhami bunga kembang sepatu – bunga nasional negeri ini. Millenium terdiri dari tiga bagian yang mencerminkan tiga era Malaysia, yakni masa lalu, sekarang, dan masa depan – sesudah 2020. Monumen ini dibangun di atas taman seluas 25 hektar, dan dibuat dengan konstruksi metal. “Ini bangunan yang unik, karena di dalamnya ada beberapa kapsul waktu yang ditanam. Di antaranya milik Datuk Mahathir Mohammad. Kapsul itu berisi pesan dan baru boleh dibuka di tahun 2020 yang akan datang,” Norma bercerita panjang lebar. Sayang, karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa melihatnya dari jendela kendaraan.</p>
<p>Bangunan lain yang menarik, tentu, gedung perkantoran. Terutama kantor Perdana Menteri Malaysia.Gedung itu dinamai “Perdana Putra”. Letaknya di bukit utama. Hampir semua gedung di Putrajaya memiliki arsitektur unik – perkawinan antara gaya Melayu, Islam, dan Neoklasik Eropa.</p>
<p>Ciri Putrajaya lainnya adalah hadirnya banyak jembatan. Kalau gak salah, Norma bilang 7 (atau 9?). Yang jelas, bentuknya tidak ada yang sama. Yang paling cantik adalah jembatan Seri Perdana, melintasi tasik dengan 8 balkon. Panjangnya mungkin lebih dari 300 meter. Jembatan ini juga dilengkapi tempat pemberhentian, agar pengunjung bisa menikmati pemandangan kota.</p>
<p>Dari ketinggian bukit di halaman Putrajaya Convention Center, saya melebarkan horizon pandangan. Kota yang diprediksi akan dihuni 64.000 rumah dan menampung sekitar 320.000 penduduk ini memang tampak jelas masih terus berdandan. Norma bercerita, pembangunan Putrajaya menghabiskan biaya sekitar 5,9 bilion dolar Amerika. Tentu, tidak lepas dari kritik masyarakat Malaysia – terutama di awal-awal pembangunan. Tapi, pada akhirnya mereka bangga. “The city is our joy, our tears …,” ujar Norma, sepenuh kesungguhan.</p>
<p>Diam-diam, ingatan saya melayang ke Jakarta. Dulu, pernah ada gagasan untuk memindahkan wilayah pusat pemerintahan Indonesia ke daerah Jonggol, agar Jakarta tidak semakin macet. Mungkin, jika gagasan itu diteruskan sekarang, akan menuai umpatan karena sebagian rakyat kita hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi mungkinkah generasi berikutnya justru akan menyambutnya dengan kebanggaan seperti yang ditunjukkan Norma? Atau, seperti apa solusi untuk memecah kepadatan Jakarta? Apakah harus menunggu sampai Jakarta tenggelam karena beban yang demikian sarat? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/04/mengintip-pusat-pentadbiran-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Senja Terakhir</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/senja-terakhir/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/senja-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 04:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Valent Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[bandara soekarno-hatta]]></category>

		<category><![CDATA[grand palace bangkok]]></category>

		<category><![CDATA[majalah kartini]]></category>

		<category><![CDATA[mega kuningan jakarta]]></category>

		<category><![CDATA[orchard road singapura]]></category>

		<category><![CDATA[saraf lakrimaris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Ryana Mustamin
Bandara Cengkareng - Jakarta, 22 tahun silam&#8230;
Pagi masih serupa pusara waktu. Kedap, dingin, dan ngelangut. Hanya sedikit denyut di depan ruang tunggu keberangkatan: beberapa orang portir yang belum sepenuhnya menghimpun semangat, seorang backpacker yang lelap di bangku panjang, dan sejumlah mobil yang gigil dilindas gerimis.
Masih terlalu dini, memang. Pesawat yang akan membawanyanya, baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Ryana Mustamin</p>
<p><strong>Bandara Cengkareng - Jakarta, 22 tahun silam&#8230;</strong></p>
<p>Pagi masih serupa pusara waktu. Kedap, dingin, dan ngelangut. Hanya sedikit denyut di depan ruang tunggu keberangkatan: beberapa orang portir yang belum sepenuhnya menghimpun semangat, seorang backpacker yang lelap di bangku panjang, dan sejumlah mobil yang gigil dilindas gerimis.</p>
<p><span id="more-261"></span>Masih terlalu dini, memang. Pesawat yang akan membawanyanya, baru akan terbang dua jam ke depan. Tapi ia butuh waktu menyendiri - lepas dari tatapan ayah, ibu dan adiknya. Ia tahu, perjalanan kali ini bukan sesuatu yang mudah. Meski ia seorang traveler sejati sejak di bangku sekolah menengah.</p>
<p><!--more-->Ia ingat, ini kali pertama ibunya menangis saat melepas keberangkatannya. Tangis - yang ia rasa, sudah mengeram di pelupuk mata lembut itu sejak paruh malam. Sepekan terakhir, rupa yang selalu dikenangnya cantik itu kini tampak demikian rapuh, dan itu membuatnya berkali-kali harus berpaling. Ia tidak boleh ikut cengeng!</p>
<p>&#8220;Menangis kadang-kadang dibutuhkan sebagai mekanisme pertahanan mental&#8230;,&#8221; ia mengenang lamat-lamat nasehat ibunya. &#8220;Karena itu, jika merasa ingin menangis, menangislah!&#8221;</p>
<p>Tapi ia sudah sampai pada batas sakit. Hatinya kini mengeras, dan itu memicu saraf lakrimalis yang bertugas memproduksi airmatanya tidak bekerja dengan baik.</p>
<p>Lagi pula, apa untungnya menangis terus-menerus? Jika di awal prahara ia masih memelihara isak, itu karena hatinya tidak berwujud batu. Sesuatu yang manusiawi.Tapi tangis tidak akan mengembalikan lelaki yang dicintainya. Fakta itu demikian gamblang: pertunangan mereka batal, lelaki itu jatuh cinta pada perempuan lain. Sosok yang setia merendengi langkahnya dalam empat tahun terakhir ini, telah melukainya sedemikian rupa. Tapi rasanya ia punya pilihan: terus terluka atau membuat pisau yang melukainya itu tumpul. Dan ia memilih yang kedua.</p>
<p>Dan di sinilah ia sekarang. Di pagi bandara yang gemetar dalam gerimis.</p>
<p>Sebulan lalu, sebuah bank di Bangkok mengiriminya tiket untuk menetap di negeri gajah putih itu. Berbekal ijazah perbankan, training international arbitrage di Tat Lee Bank dan Development Bank Singapore, sejumlah pendidikan singkat Treasury Risk Management, dan pengalaman sebagai dealer di sebuah bank sawasta di Jakarta; ia melayangkan lamaran kerja enam bulan lalu dan kini diterima di divisi treasury bank tersebut.</p>
<p>&#8220;Ini bukan pelarian ‘kan?&#8221; Adik semata wayangnya menatapinya penuh-penuh.</p>
<p>Kalau pun ya, toh ia tidak sedang menyusun rencana menjadi bagian dari pecandu narkoba.</p>
<p>Saat itu usianya baru 27.</p>
<p><strong>Grand Palace - Bangkok, 18 tahun silam&#8230;</strong></p>
<p>Hari masih belia. Tapi matahari sudah menyala terang. Dalam sepekan, suhu udara rata-rata bertengger di 38-39 derajat celcius. Meski terik serasa menembus ubun-ubun, ia tetap nekad melintasi gerbang istana raja Thailand, Bhumibol Adulyadej alias Rama IX. Mengikuti arus ribuan pelancong.</p>
<p>Istana raja Thailand atau yang dikenal dengan nama The Grand Palace adalah sebuah komplek istana yang terdiri atas 8 elemen bangunan utama, masing-masing The Royal Monastery of the Emerald Buddha, The Upper Terrace, Subsidiary Buildings, The Galleries, The Prha Maha Monthian Group, The Chakri Group, The Dusit Group dan terakhir The Borom Phinam Mansion. Di bangunan yang disebut terakhir inilah yang menjadi kediaman raja. Area ini tertutup untuk publik. Hanya bisa dilihat dari kejauhan melalui pintu pagar.</p>
<p>Ini pertama kali ia memasuki kawasan istana, tepatnya di lokasi Emeral Buddha, persis ketika masyarakat setempat merayakan hari raya Songkran. Thai New Year ini jatuh pada 13 April setiap tahunnya, namun kantor-kantor libur dari tanggal 12 hingga 14. Pada tahun pertama menetap di Thailand, ia memilih mengubur waktu dengan membaca novel sepanjang hari di pantai Pattaya - 165 kilometer arah timur-tenggara Bangkok. Tapi di tahun kedua; ia terbang jauh ke Athena dan mengikuti walking tour di Acropolis.</p>
<p>&#8220;Kapan libur ke Jakarta, kak?&#8221; Dari jarak ribuan mil ia mendengar suara adiknya begitu mengharap.</p>
<p>Jakarta? Ia berusaha tidak terlalu memikirkannya. Ia bahkan sibuk membangun labirin - batas antara masa lalu dan kini, dengan semakin rajin mengasah intuisinya di pasar uang dan saham.</p>
<p>Sepekan ini benaknya berisik bukan main. Rally yang terjadi di pasar saham, memberikan sentimen positif bagi perkembangan mata uang bath, dan menjadi salah satu fokus perhatiannya. Dan meskipun faktor-faktor fundamental ekonomi menstimuli, ia tetap lebih mempercayai sejumlah atribut - bahwa penguatan bath karena hasil intervensi pemerintah, bukan akibat mekanisme pasar berjalan benar.</p>
<p>&#8220;Kakak masih terluka?&#8221; adiknya masih penasaran.</p>
<p>Ia tak mengalihkan perhatian, meski gagang telepon tetap dibiarkan menempel ke telinganya. Bukankah sejauh ini, pasar menanggapi dingin perkembangan positif yang dicapai ekonomi Thailand? Bath masih diperdagangkan dalam kisaran yang sempit&#8230;.</p>
<p>&#8220;Halo, halo&#8230; kakak masih mendengar&#8230;?&#8221;</p>
<p>Ya, apa katanya tadi? Lelaki yang dulu senantiasa membuat dadanya berdenyar itu kini sudah menimang bayi? Tanpa dikehendakinya, bulir embun mencelat di sudut matanya setelah hampir empat tahun mengering. Ah, terkutuklah transaksi derivatif hari itu&#8230;</p>
<p>Dirapatkannya topinya. Sementara pengunjung makin memadati Grand Palace. Sebagian ternyata turis lokal. Dalam rangka tahun baru, mereka akan bersembahyang di depan Emerald Buddha yang berada di dalam kompleks istana. Ia pun menurutkan kata hati, menggiring kakinya ke tempat patung Budha. Tapi duh, kenapa justru wajah ibu dan adiknya yang membayang?</p>
<p>&#8220;Adikmu sudah nelpon, kan? Ia sudah bicara?&#8221; suara wanita yang melahirkannya itu terdengar begitu hati-hati di ujung telepon.</p>
<p>Tak urung ia tetap tercekat. Dicarinya sesuatu di langit-langit kamarnya. Hanya ada sebuah tanda panah berwarna hijau pucat, menunjukkan arah kiblat.</p>
<p>&#8220;Jika kamu mengijinkan adikmu, ibu berharap kamu pulang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya ijinkan, saya akan pulang&#8230;,&#8221; sambarnya cepat.</p>
<p>Adiknya akan menikah! Tidak ada alasan untuk tidak hadir. Rasanya, empat tahun waktu yang cukup untuk kembali menemui Jakarta dengan gagah.</p>
<p>Dikerjapkannya mata. Lantas, ia menekur. &#8220;Ya Allah, ya Muhammad junjunganku, dengan segenap ketulusan, aku berdoa untuk kebahagiaan adikku &#8230;&#8221;</p>
<p>Melalui pintu, dilihatnya air menggenang di langit yang terang.</p>
<p><strong>Orchard Road - Singapura, 7 tahun silam&#8230;</strong></p>
<p>Berapa kali kakinya melintasi jalan dengan pusat belanja tersibuk di Sangapura itu? Tak terhitung. Ia bukan shopaholic sebenarnya, meski beberapa tahun terakhir ini ia menetap di Hong Kong - pusat belanja nomor wahid di Asia. Tapi setiap kali meeting di kota lain, ia menyempatkan diri berbelanja kebutuhan fashion. Jika tidak, ia baru bisa menambah koleksi busana, sepatu, dan tas pada libur akhir tahun, saat bursa saham di seluruh dunia tutup.</p>
<p>Tapi, ah ya, mengapa Orchard Road kali ini rasanya begitu membingungkan?</p>
<p>&#8220;Kita sudah tiga kali keluar-masuk Takashimaya. Kupikir mau ngantri di depan butik LV - seperti orang kaya Jakarta lainnya. Ternyata nggak juga,&#8221; sahabatnya yang bermukin di Singapura sejak lulus kuliah mulai menyindir-nyindir. &#8220;Sebenarnya kamu mau beli apa sih?&#8221;</p>
<p>Ia gamang oleh dua sebab. Pertama, mulai besok, ia akan kembali menjadi warga Jakarta - jujur ia merasa asing. Setelah menetap di Bangkok dan Hong Kong, seorang pemilik bank nasional berhasil membujuknya pulang dengan meminangnya menempati salah satu formasi direktur di perusahaan tersebut. Ia tahu agenda pertemuan bisnisnya makin padat - ia memerlukan berbagai busana di sejumlah kesempatan. Tapi ia ragu apakah di Jakarta nanti masih sempat keluar-masuk butik.</p>
<p>Kegamangan kedua, lebih karena telepon adiknya. &#8220;Jingga sudah sepuluh tahun,&#8221; adiknya selalu bersemangat melaporkan proses tumbuh-kembang putrinya, meski ia lebih banyak mendengarnya dengan separuh kuping - karena kuping lainnya terbetot ke pekerjaan. &#8220;Lusa dia ulang tahun. Jangan lupa beli kado &#8230;.&#8221;</p>
<p>Dan ia tergeragap. Ia bahkan tidak paham kebutuhan anak usia pra-remaja dan di mana toko yang menjual perlengkapan dimaksud.</p>
<p>&#8220;Aku akan menambah koleksi Barbie-nya, akan kutanyakan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Waduh, jangan! Apa gak ada yang lain?&#8221; Adiknya menukas cepat. &#8220;Jingga sudah malu bermain Barbie&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Atau buku-buku cerita? Di sini lumayan banyak. Tapi semuanya berbahasa Inggris&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kakak pikir Jingga hanya paham bahasa Bugis?&#8221; Yang terakhir itu adalah bahasa leluhur mereka.</p>
<p>Ia meringis. Dulu, ia mulai belajar bahasa asing saat duduk di bangku SMP.</p>
<p>Karena benaknya buntu, ia akhirnya memilih duduk di sebuah resto cepat saji yang mejanya ditata di ruang terbuka. Ia memilih kursi yang menghadap langsung ke jalan. Di trotoar di sampingnya, berkali-kali serombongan anak-anak remaja melintas. Penampilan mereka serupa: berjalan sambil menikmati musik melalui earphone yang menempel di sepasang telinganya. Apakah Jingga juga akan seperti itu?</p>
<p>&#8220;Kapan kamu punya anak?&#8221; Sahabatnya, seperti biasa, mengajukan pertanyaan basi. &#8220;Benar-benar berniat melajang seumur hidup?&#8221;</p>
<p>Ia tersenyum. &#8220;Kenapa memangnya?&#8221;suaranya seringan kapas. Bertahun-tahun ia membiasakan diri mendengar pertanyaan itu. Awalnya menjengkelkan, lama-lama dia nikmati. Melajang terbukti menyenangkan ‘kan? Tak terbayang repotnya berpindah dari negara satu ke negara lain dengan membawa rombongan keluarga. Apalagi kalau kemudian suaminya juga memiliki karir yang sama gemilangnya.</p>
<p>&#8220;Masak sih kamu gak pernah jatuh cinta lagi?&#8221;</p>
<p>Kali ini matanya tersenyum sempurna. Ia ingat seseorang, ingat lekuk rupa laki-laki yang pernah mengisi mimpinya. Seorang anak muda bermata runcing dengan rahang yang mengeras jika mengajaknya berdebat. Si mata pisau itu pernah mengusik-ngusik benaknya untuk mencoba mempersetankan logika. Tapi gagal. Tahun demi tahun gugur, tak tercipta romansa di antara mereka, meski ia jatuh hati setengah mati. Ia perempuan rasional. Ia sulit menepis kenyataan: lelaki itu berusia delapan tahun di bawahnya, dan ditakdirkan menjadi stafnya di kantor&#8230;.</p>
<p>&#8220;Aku tidak percaya gak ada cowok yang mau sama kamu!&#8221; Perempuan cantik di depannya menatap gemas.</p>
<p>Tapi faktanya, ia sulit menemukan pasangan. Bukan sekadar karena usianya kini kepala empat; tapi karena harinya yang bergerak dari meeting ke meeting, dari kota sibuk ke kota sibuk lainnya.</p>
<p><strong>Mega Kuningan - Jakarta, petang ini&#8230;</strong></p>
<p>Jakarta mendadak terasa ngungun. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Casablanca, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 21, ia hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut pelan, tampak seperti kawanan siput. Di pembatas jalan, dedaunan dan pejalan kaki masih bersitahan melawan cuaca, bergetar kuyup.</p>
<p>Ia termangu menyaksikan tempias air - serupa lelehan tangis - yang menempel di kaca jendela. Entah kenapa, lelehan itu mengirim rasa gamang. Mungkin karena ini hari terakhir ia bekerja?</p>
<p>Tidak pada tempatnya ia murung, sebetulnya. Karena ia mengakhiri karir di puncak, sebagai presiden direktur, dengan kinerja yang mengagumkan. Nyaris tanpa cacat. Dalam rapat pemegang saham dua minggu lalu, ia sebetulnya terpilih kembali untuk memimpin perusahaannya. Namun ditolaknya dengan sukacita. Sudah saatnya beristirahat, menikmati jerih payah bertahun-tahun.</p>
<p>Tapi mengapa ia gamang?</p>
<p>Padahal, tak ada yang berbeda hari ini dibanding kemarin. Telepon genggamnya tetap menjerit tak henti-henti. Ia masih rakus menyantap berita ekonomi pagi tadi - menguping kebijakan bank sentral atau memantau pergerakan indeks saham gabungan. Sekretarisnya juga tetap keluar-masuk membawa tumpukan berkas - surat-surat yang akan ditandatanganinya terakhir kali.</p>
<p>Seharian ini, ruangannya bahkan semarak. Nyaris sepanjang waktu ia menerima tamu. Semua ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan salam perpisahan - dari sesama kolega direksi hingga office boy. Mereka tersenyum, bercanda, dan sebagian membaur tawa dengan tangis haru. &#8220;Ibu jangan melupakan kami, ya?&#8221; Karyawan perempuan mencium pipi dan memeluknya. Ia tahu, ia dicintai staf dan karyawannya.</p>
<p>Kini, suara dan wajah mereka mengendap di dinding kaca. Berbaur dengan suara dan wajah masa lalu. Memanggil-manggil, mengulik-ngulik, membangkitkan apa yang pernah terlelap di sanubarinya.</p>
<p>Rasanya baru kemarin ia memulai karir di dunia perbankan saat patah hati, lalu melarikan diri ke Bangkok, hijrah ke Hong Kong, terbang ke Singapura dan New York - ke kota-kota dengan pasar saham teraktif di dunia; berlari dari satu meeting ke meeting yang lain, jatuh-bangun menghadapi krisis moneter, berkelahi dengan waktu - menghitung dengan cermat detik ke menit, ke jam, ke hari, ke minggu, ke bulan, dan ke tahun&#8230;.</p>
<p>Dan petang ini, persis di puncak, ia mengakhiri semuanya&#8230;.</p>
<p>&#8220;Pencapaian yang sempurna&#8230;,&#8221; kata koleganya.</p>
<p>Tapi kenapa seperti ada yang kurang? Kenapa seperti ada yang tidak utuh?</p>
<p>Diingatnya, dari balik pintu, karyawan terakhir - sekretarisnya, baru saja berpamitan pulang. Gadis belia itu meninggalkan sebuah undangan pernikahan berwarna daun di atas meja kerjanya. &#8220;Saya pasti sangat kecewa jika ibu tidak datang,&#8221; pesannya.</p>
<p>Dan ia tersenyum lunak. Ia pasti datang.</p>
<p>Tapi kenapa hatinya tercekat?</p>
<p>Di langit, sore makin menua. Cahaya terus melinsir, menyisakan lembayung pucat di ujung hari.</p>
<p>Di jendela, ia masih mematung, menyaksikan gedung-gedung jangkung yang tetap berdiri angkuh.</p>
<p>Senja meluruh dalam bisu. Hari tersibuk dalam hidupnya berakhir. Tapi di dadanya, pertempuran kesunyian baru saja dimulai.***</p>
<p><em><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>(dimuat di Majalah KARTINI edisi 2265, Maret 2010)</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/senja-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>belanja online? aaarrrggghhhh&#8230;</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/belanja-online-aaarrrggghhhh/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/belanja-online-aaarrrggghhhh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 09:59:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Montreal]]></category>

		<category><![CDATA[butik online]]></category>

		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<category><![CDATA[sms]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[KALI ini saya ingin menulis yang ringan-ringan. Tentang pengalaman berbelanja di sebuah butik online (di fesbuk). Tertarik dengan promosi yang gencar – ia bisa sampai 5 kali posting untuk berpromosi dalam sehari, plus model yang simple dan harga murah, saya iseng-iseng ngorder. Lumayan buat dipake’ sehari-hari di rumah. Dalam benak saya, kalau pun barangnya gak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>KALI ini saya ingin menulis yang ringan-ringan. Tentang pengalaman berbelanja di sebuah butik online (di fesbuk). Tertarik dengan promosi yang gencar – ia bisa sampai 5 kali posting untuk berpromosi dalam sehari, plus model yang simple dan harga murah, saya iseng-iseng ngorder. Lumayan buat dipake’ sehari-hari di rumah. Dalam benak saya, kalau pun barangnya gak berkualitas, ya sudah, bajunya dipake’ buat tidur aja (sebanding dengan harga ‘kan?).</em><strong>5 Maret 2010</strong></p>
<p>Inilah percakapan saya dengan pihak butik melalui “inbox” fesbuk.</p>
<p> </p>
<p>Saya:<br />
mbak yang punya butik, masih ada stock utk 165 A (kuning) dan B (pink), gak? kalau ada, saya pesan dong. ukuran M. kemana harus ditransfer dananya? alamat saya (saya sertakan alamat). tks dan salam.</p>
<p>Butik:<br />
warna pink da ga ada mba tgl kgn. n abu aja. klo oke trfr ttl 107.500 + ongkir ke BCA (dia menuliskan no rekening). telp aku 0858 147 xx xxx. kbr2in aja ya mba. tengkiyu</p>
<p>Saya:<br />
ok. boleh. kuning ama abu. ntar aku sms, kalo udah transfer. thx ya&#8230;</p>
<p><strong>8 Maret 2010</strong></p>
<p><em>Saya melakukan transfer ke no rekening yang dituliskan pihak butik. Lalu mengabari transferan tersebut berikut alamat pengiriman melalui sms ke no hp butik tersebut. Saat itu pihak butik mengkonfirmasi kalau dana saya sudah masuk.</em></p>
<p><strong>12 Maret 2010</strong></p>
<p>Saya:<br />
mbak, order saya sudah dipenuhi belum ya? kok blum nyampe rumah barangnya? tks.</p>
<p>Butik:<br />
mba mhn maaf waktu itu orderannya atas nama? kodenya apa? biar kit kroscrk lg soalnya setau saya ga ada nama mba,.</p>
<p>Saya:<br />
ya ampun, gimana sih, mbak? saya sampai order 2 kali. melalui inbox dan melalui sms. saya juga udah transfer duitnya tgl 8 maret, dari BII ke BCA an. xxx. alamat rumah saya juga 2 kali saya kirim, melalui inbox dan melalui sms. saya yg di kota wisata - cibubur. kayaknya ini order saya yg terakhir deh. amburadul begini adminsitrasinya?</p>
<p>Butik:<br />
oiya itu saya inget mba..nama mba ga msk di inbox soalnya..yg kmrn dah kedelete..brg sdh d krm mba&#8230;mmg nya blm sampe,,? klo mo order yg terakhir jg gpp mba..terimaksih</p>
<p>Saya:<br />
masa&#8217; gak masuk ke inbox, wong waktu itu kita balas-balasan kok. niatnya pesan online, biar simpel , kok malah jadi ribet. ok, saya tunggu barangnya. dikirim kapan?</p>
<p>Butik:<br />
mskd aku inboxnya ke delete mba..bukan ga ada..terimakasih</p>
<p>Saya:<br />
barangnya dikirim kapan? brp hari baru nyampe ke cibubur?</p>
<p>Butik:<br />
mba aku lg cr resinya ya..ntar aku inbox lg..aku krm rabu kmrn..biasanya 2-3 hr kerja krn yg reguler service</p>
<p>Butik:<br />
mba ini no resi TIKI 02 008 892 6324 ya..brarti mba ada brg yg kita krm..tlg kbrin mba jika sdh sampe ato blm nya..terimakasih</p>
<p>Saya:<br />
ok. thx.</p>
<p><strong>15 Maret 2010</strong></p>
<p>Butik:<br />
mba maaf apa brgnya sdh sampe..?</p>
<p>Saya:<br />
Udah nyampe. Tp ternyata cuman 1. Gak dibilangin sebelumnya kalo pesanan sy udah habis. Skrg masih bingung milih barang pengganti.</p>
<p>Butik:<br />
itu bagian gdg mba yg krm saya cm terima orderan..jd itu dah ada tggjwb msg2nya..ini aja saya yg ty kan brgnya dah sampe ato blm ke mba..</p>
<p><strong>17 Maret 2010</strong></p>
<p>Saya:<br />
tolong utk pengganti pesanan saya yg sebelumnya, dikirim 181 A (kuning). tks.</p>
<p>Butik:<br />
baik mba aku cek dulu..bsk aku kbrin ya mba..terimakasih</p>
<p><strong>24 Maret 2010</strong></p>
<p>Saya:<br />
sampai hari ini pengganti barang pesanan saya belum nyampe. ngecek dan pengiriman butuh berapa hari?</p>
<p>Butik:<br />
mba mhn maaf saya org pengganti utk jaga hr ini..aku ty dulu sm yg punya ya mba.,.terimakasih</p>
<p><em>Sampai hari ini, 26 Maret 2010, barang belum saya terima. Dan butik juga tidak memberikan kabar apa-apa.</em></p>
<p>Butik kayak gini sebaiknya diapain, ya? Gak dipikirin, menganggu. Dipikirin, kok gak sebanding ama energi yang saya keluarkan dengan benefit yang saya terima?***</p>
<p><em></em></p>
<p>Tanggapan di facebook:</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/ana.mustamin?v=app_2347471856&amp;ref=profile#!/note.php?note_id=404616300008">http://www.facebook.com/ana.mustamin?v=app_2347471856&amp;ref=profile#!/note.php?note_id=404616300008</a></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/belanja-online-aaarrrggghhhh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>sastra untuk siapa?</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/sastra-untuk-siapa/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/sastra-untuk-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 09:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[What's On]]></category>

		<category><![CDATA[agnes a. majestika]]></category>

		<category><![CDATA[agus noor]]></category>

		<category><![CDATA[cerpen dahaga]]></category>

		<category><![CDATA[diskusi sastra]]></category>

		<category><![CDATA[edy effendy]]></category>

		<category><![CDATA[hb jassin]]></category>

		<category><![CDATA[kurnia effendi]]></category>

		<category><![CDATA[kurniawan junaedhie]]></category>

		<category><![CDATA[pusat dokumentasi]]></category>

		<category><![CDATA[ryana mustamin]]></category>

		<category><![CDATA[seno gumira adjidarma]]></category>

		<category><![CDATA[SGA]]></category>

		<category><![CDATA[taman ismail marzuki]]></category>

		<category><![CDATA[tukang bunga &amp; burung gagak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[(sebuah catatan dari diskusi buku kumpulan cerpen &#8221;Tukang Bunga &#38; Burung Gagak&#8221;)
MANAKAH yang lebih penting, dunia yang dicerminkan cerpen, atau cerpen sebagai cermin itu sendiri?
Pertanyaan itu dilontarkan Seno Gumira Adjidarma (SGA) yang bertindak sebagai narasumber dalam diskusi buku kumpulan cerpen “Tukang Bunga &#38; Burung Gagak (TBBG)” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>(sebuah catatan dari diskusi buku kumpulan cerpen &#8221;Tukang Bunga &amp; Burung Gagak&#8221;)</em></strong></p>
<p>MANAKAH yang lebih penting, dunia yang dicerminkan cerpen, atau cerpen sebagai cermin itu sendiri?</p>
<p>Pertanyaan itu dilontarkan Seno Gumira Adjidarma (SGA) yang bertindak sebagai narasumber dalam diskusi buku kumpulan cerpen “Tukang Bunga &amp; Burung Gagak (TBBG)” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu 13 Maret 2010.</p>
<p>Sayang, pertanyaan menarik itu hanya menguar di udara. Pengunjung diskusi tampaknya tidak terlalu tertarik menyoal hal itu. Mereka lebih tertarik pada hal-hal yang masih bersifat elementer: bagaimana proses kreatif seorang penulis fiksi, apa yang ingin dicapai penulis melalui karya-karyanya, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan normatif, yang tentu saja akan memperoleh jawaban-jawaban yang normatif pula.</p>
<p><span id="more-266"></span>Tapi sebagai bagian dari penulis TBBG, tentu saja apa yang dipertanyakan SGA tidak menguap begitu saja di benak saya. Pertanyaan itu bahkan terus mendengung hingga saya pulang dan berkubang di kamar. Jika cerpen boleh diandaikan sebagai cermin, setelah membaca kumpulan cerpen TBBG, dunia macam apakah kira-kira yang telah dicerminkannya?</p>
<p>Bukan pertanyaan mudah, tentu. Terutama ketika kembali menoleh pada histori lahirnya kumcer ini. TBBG semula hanya omong-omong iseng saya melalui blackberry dengan mas KJ (Kurniawan Junaedhie). Saya curhat soal keteledoran saya untuk tidak mengarsip dengan baik karya-karya fiksi saya di sejumlah media. Saya menulis fiksi ketika masih berusia belasan tahun, tapi saya nyaris tidak menyimpan rekam-jejak itu.</p>
<p>Dari omong-omong itu, saya dan mas KJ akhirnya sepakat ‘mengabadikan’ karya yang bisa ‘terselamatkan’dalam sebuah kumpulan cerpen. Dan agar buku ini sekaligus menjadi ‘reuni’ sejumlah sahabat, saya mengontak Mas Didi (Kurnia Effendi) dan Mbak Agnes Majestika. Setidaknya, “Menyimpan buku lebih mudah dibandingkan menyimpan majalah dan (apalagi) suratkabar,” kata Mas KJ.</p>
<p>Hasilnya? Bisa ditebak. Buku ini tidak tematis. Juga tidak melalui proses kurasi yang mendalam. Tapi, saya ingin menggarisbawahi, bahwa hal itu tidak berarti kualitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimana pun, kami berempat adalah penulis yang sangat peduli dengan kualitas karya ketimbang kuantitas (paling tidak dibuktikan dengan sejumlah hasil lomba menulis fiksi). Dan cerpen-cerpen itu adalah cerpen-cerpen yang sebagian besar sudah dimuat oleh media massa (dan karenanya melewati proses seleksi yang cukup ketat dari redaktur media masing-masing).</p>
<p><strong>Sastra Pop dan Bukan Pop</strong></p>
<p>Kendati demikian, tetap saja menyisakan pertanyaan-pertanyaan gugatan. Terutama jika dikaitkan dengan apa yang disepakati oleh sejumlah orang tertentu sebagai “karya sastra”.</p>
<p>“Boleh setuju atau tidak setuju, Tapi saya ingin menyatakan bahwa ini masih tergolong apa yang kita sebut sebagai ‘sastra pop’,” kata seorang peserta diskusi yang kemudian saya tahu bernama Edy Effendi. Ia lalu merujuk pada karya-karya semacam ”Laskar Pelangi” atau ”Ayat-ayat Cinta” yang dinilainya selamanya tidak akan pernah dikategorikan ’karya sastra’.</p>
<p>Agus Noor bahkan menegaskan bahwa sebuah karya sastra biasanya menarik perhatian jika ia menyalahi konvensi yang ada. “Ada bentuk-bentuk baru yang ditawarkan,” katanya. (meski ia mengaku baru membaca 1 cerpen TBBG di facebook mas KJ).</p>
<p>Anda pun boleh setuju atau tidak pada apa yang dilontarkan keduanya. Tapi, sebagai penulis, terus-terang, pernyataan dua orang inilah yang paling menarik buat saya (di samping telaahan SGA, tentu saja) sepanjang diskusi.</p>
<p>Perdebatan tentang apa itu ‘sastra pop’ dan ‘sastra bukan pop’ (sastra serius? sastra yang benar-benar sastra?) sudah saya dengar sejak pertama kali terjun dalam ranah penulisan fiksi – lebih dari 2 dekade silam. Saya pernah mengemukakan hal yang sama ke salah seorang wartawan senior yang banyak membaca karya saya saat itu. “Apa yang salah pada tulisan-tulisan popular? Mengapa sastra pop seolah derajatnya lebih rendah dibandingkan dengan ‘sastra bukan pop’? Apakah itu berarti bahwa ‘sastra pop’ dibuat lebih mudah dan enteng, dan sebaliknya ‘sastra serius’ lebih sulit dan berat?” Padahal, seperti yang ditulis mas Kurnia Effendi (Kef) di buku TBBG, “Tak ada niat untuk sembarangan. Menulis bagi saya, adalah sebuah dedikasi penuh cinta dan rasa hormat.”</p>
<p>Menjawab pertanyaan saya, wartawan itu hanya menjawab singkat. “Teruslah menulis, dan jangan pernah pusing dan terpengaruh dengan dikotomi-dikotomi itu. Apakah pembaca pernah memusingkan ini karya ‘sastra pop’ dan ini ‘sastra bukan pop’? Mereka hanya peduli apa yang kamu tulis itu memiliki nilai atau tidak bagi mereka.”</p>
<p>Sejak itu, saya menyudahi kegamangan saya. Saya memutuskan menulis saja apa yang mendesak ingin ditetaskan dari benak saya. Menulis dengan sungguh-sungguh, memberikan yang terbaik yang saya punyai saat itu. Menulis tanpa pretensi berlebihan, kecuali sebuah bentuk dedikasi kepada kehidupan. Menjauh dari sekadar keinginan ’gagah-gagahan’ – agar bisa menyandang gelar ’sastrawan’. Dalam batin saya, tugas saya hanya menulis. Selebihnya, biarlah publik yang menilai.</p>
<p>Kendati demikian, hal itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk memahami sastra secara lebih dalam, membaca karya-karya sastra terbaik, dan – terutama – membaca ulasan dari mereka yang menyebut diri sebagai kritikus sastra.</p>
<p>Tapi sastra untuk siapa? Di republik ini, saya hanya sering merasa kritikus semakin pintar untuk memilah-milah mana karya sastra dan mana yang bukan – berdasarkan parameter-parameter yang tidak selalu rigid. Kadang-kadang saya memergoki seseorang ditasbihkan menjadi ‘sastrawan’ hanya lantaran ia menetas di tengah-tengah komunitas yang menyebut dirinya ‘pelaku dan pemerhati sastra’ – meski jika ditelisik, karyanya tidak ada bedanya dengan apa yang sering digolongkan ‘sastra pop’. Atau sebaliknya, karena sibuk menyodorkan bentuk-bentuk baru – sebagaimana yang diinginkan Agus Noor – guna mendapatkan tiket gelar ‘sastrawan’, lalu menjadi lupa atau bahkan gagal merumuskan isi (content). Sastra di Indonesia, dalam hemat saya, tidak melulu tentang kualitas karya itu sendiri, tapi juga menyangkut hegemoni antar pelaku (atau kadang-kadang dengan bukan pelaku).</p>
<p>Sastra untuk siapa? Masyarakat awam tidak paham. Yang mereka paham, karya itu memiliki nilai bagi mereka atau tidak, mewakili pikiran dan perasaan mereka atau tidak. Para kritikus dan (sebagian yang menyebut diri mereka sastrawan) pandai memilah dan melekatkan label ‘ini karya sastra dan bukan sastra’, tapi lupa mendidik masyarakat untuk memahami parameter, konvensi, atau dalil sebagaimana yang mereka yakini sebagai karya sastra – sebagaimana yang mungkin tertuang dalam literatur-literatur sastra. Akibatnya, sebagian besar sastrawan kita tetap berumah di atas angin, teralienasi dari lingkungannya. Ekslusif di kantong-kantong komunitas tertentu, dan nyaris tak tersentuh dengan dunia di luar komunitas sastra karena secara sadar mereka membatasi diri untuk itu.Dalam kondisi demikian, apakah dunia sastra dalam pemahaman itu lantas memiliki arti penting bagi peningkatan kualitas kemanusiaan? Kapan sastrawan dan karya mereka bisa dinikmati dan didiskusikan masyarakat awam di kedai-kedai kopi sebagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia mengecap dan menghidu karya para maestro sastra?</p>
<p><strong>Tafsir atau Pembermaknaan</strong></p>
<p>Atas semua itu, tentu mengesankan bagi saya ketika SGA akhirnya hadir tidak dalam bingkai pembahasan tentang dikotomi ’sastra pop’ dan ’sastra bukan pop’, ’sastra konvensional’ dan ’sastra non konvensional’. Ia mengusung isu yang menurut saya lebih substansial. Karena menggunakan pendekatan pembacaan intertekstual dan multidisipliner. Menurut SGA, pembaca berhak sepenuhnya mengolah pembermaknaannya masing-masing, membebaskan cerpen atau apa saja dari kriteria “sastra”.</p>
<p>Salah satu bukti atas pembebasan itu (dan tentu mengesankan saya secara pribadi) adalah ketika SGA secara positif dan spontan membandingkan gaya kepenulisan saya dengan Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu saat menyoal isu perempuan mutakhir dalam cerpen bertajuk ”Dahaga”.</p>
<p>Mengapa perbandingan itu harus dengan Ayu dan Djenar – dua nama yang disebut-sebut sebagai sastrawan perempuan fenomenal? Mengapa tidak diperbandingkan dengan penulis perempuan yang berada dalam ranah sastra pop – jika cerpen saya dianggap sebagai bagian dari ’sastra pop’? Apakah karena SGA jarang mengonsumsi sastra pop hingga ia tidak tahu harus merujuk kepada siapa?</p>
<p>Apapun dalihnya, itu tidak penting. Yang terlihat, secara faktual, apa yang dianggap oleh sebagian orang sebagai ’sastra pop’ toh bisa bicara sama substantifnya dengan ’sastra bukan pop’.</p>
<p>”&#8230; tidak dapat saya ingkari bahwa “Dahaga” menempatkan dirinya dalam posisi penting, dalam hubungannya dengan perbincangan mitos tentang perempuan,” tutur SGA.</p>
<p>Menurutnya, konflik batin yang dapat diikuti dalam cerpen saya ini, tidak menutupi kehancuran mitos baru yang telah dibangun tokohnya di atas mitos lama: dengan pernyataan perempuan tidak wajib menikah dan tidak wajib punya anak, tokoh ”aku” telah menghancurkan mitos lama perempuan sebagai alat reproduksi; tetapi mitos baru bahwa perempuan mandiri mampu melepaskan diri dari ketergantungan kepada lelaki, dihancurkannya sendiri untuk kembali kepada mitos yang paling purba, bahwa desakan tubuh mengatasi penalaran dan mendapat pembenaran.</p>
<p>Cerpen ini, tulis SGA dalam catatan pengantarnya, berakhir dengan konflik batin, jadi pembaca dapat mengetahui betapa tiada makna yang dapat sungguh-sungguh menetap. Tergantung dari sudut mana memandangnya, pembaca dapat mengolah pembermaknaannya sendiri, apakah tokoh perempuan dalam cerpen “Dahaga” ini “kalah” karena mengorbankan prinsip, atau “menang” karena akhirnya mampu untuk menjadi tidak lagi munafik — dan dalam hal ini pula pembermaknaan pembaca yang dapat dipertanggungjawabkan tidak perlu ada yang “benar” maupun yang “salah”.</p>
<p>Nah, mendengar dan membaca catatan SGA ini, apakah yang disebut ”sastra” lantas tidak memiliki urgensi sama sekali? Tentu tidak demikian.</p>
<p>”Betapapun yang dibaca adalah tulisan, dan melalui tulisan itulah segala sesuatu ditafsirkan dalam pembermaknaan,” kata SGA. Jadi, bukan semata bentuk atau cara penyampaian. Tapi tidak kalah pentingnya, adalah substansi isi dari cerpen itu sendiri – bagaimana pembaca melakukan pembedaan antara “dunia yang dicerminkan cerpen” dan “cerpen sebagai cermin itu sendiri”, sebuah pembedaan konseptual yang dapat berlaku untuk tulisan yang sama — yang pertama berurusan dengan mitos, yang kedua berurusan dengan teks; dalam keduanya sudah terbangun tradisi pembermaknaannya masing-masing.</p>
<p>Dalam bahasa awam, kata SGA, membaca cerpen itu tidak perlu terikat kepada kriteria apapun — tidak ada benar dan salah, tidak ada indah dan tak-indah (atau dalam kesimpulan saya – bukan soal ’sastra pop’ atau ’sastra bukan pop’). Tetapi bagi pembaca pastilah ada suka dan tidak suka, karena wacana pembacalah yang menentukan makna, sedangkan wacana setiap pembaca itu tak mungkin persis sama.</p>
<p>Nah, apakah Anda bersepakat dengan SGA? ***</p>
<p> </p>
<p>Tanggapan dan diskusi di facebook, kunjungi:</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/ana.mustamin?v=app_2347471856&amp;ref=profile#!/note.php?note_id=399390080008">http://www.facebook.com/ana.mustamin?v=app_2347471856&amp;ref=profile#!/note.php?note_id=399390080008</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/03/sastra-untuk-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>opera musim dingin (bag 4 - tamat)</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-4-tamat/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-4-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 09:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[hong kong]]></category>

		<category><![CDATA[majalah story]]></category>

		<category><![CDATA[new town plaza]]></category>

		<category><![CDATA[valentine's day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin
Dan pagi tadi, Zaza masih menangis di kamar mandi. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan hatinya serawan ini. Seperti diiris-iris. Di bath tup, ia membiarkan shower terus memuncratkan air, membasuh wajahnya. Meluruhkan bulir-bulir air matanya. Berkali-kali ia menyusutnya, dan berkali-kali pula ia mengintipnya di cermin. Apakah matanya sembab? Apakah Lala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin</strong></p>
<p>Dan pagi tadi, Zaza masih menangis di kamar mandi. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan hatinya serawan ini. Seperti diiris-iris. Di bath tup, ia membiarkan shower terus memuncratkan air, membasuh wajahnya. Meluruhkan bulir-bulir air matanya. Berkali-kali ia menyusutnya, dan berkali-kali pula ia mengintipnya di cermin. Apakah matanya sembab? Apakah Lala akan curiga?</p>
<p><span id="more-265"></span>Keluar dari kamar mandi, ia mendapati tempat tidur kosong. Lala tidak ada. Zaza celingukan, lalu mendapati pesan di secarik kertas yang diletakkan persis di tengah-tengah tempat tidur.</p>
<p>Aku di kamar depan, bantu packing. Nyusul, ya. Semalam memang Lala bilang, sebagian barangnya akan dititip di tas Sakti.</p>
<p>Zaza mengintip sebentar ke kamar Sakti yang pintunya terbuka lebar-lebar. Tapi ia gak menyusul. Kali ini ia memilih bermalas-malasan. Daripada kembali menyaksikan kemesraan mereka? Tapi mau ngapain? Masih terlalu pagi ke The Peak. Tiba-tiba ia ingat sahabat-sahabatnya di Jakarta. Kangen juga sama keceriwisan mereka. Nge-tweet, ah! Mungkin dengan cara begitu, ia terhibur. Diraihnya blackberry-nya.</p>
<p><em>Hai tweeps @dibymanizt @wulanimoet @jihanjaim pada ngapain?</em> Tulisnya.</p>
<p>Lama ia menunggu. Gak ada respon. Jiaahhh, twitter sepi. Payah deh, ah. Semua off.</p>
<p>Diletakkannya kembali BB-nya di samping bantal. Zaza kini berbaring terlentang. Matanya menatap lurus ke langit-langit. Saat ini, rasanya kesepian makin menghantu. Dan Lala … lama banget sih? Ya iyalah, secara dia lagi berduaan dengan Sakti….</p>
<p>Mereka ngapain, ya? Dada Zaza berdegup kencang memikirkannya. Sambil menyusun barang-barang di tas, Sakti tentu memandangi wajah kekasihnya sampai puas. Mungkin acara packing-packingan udah selesai. Mungkin malah mereka sekarang lagi saling menggenggam tangan, mengeja perasaan masing-masing…. Mungkin mereka …. Hati Zaza rasanya makin berdarah-darah…</p>
<p>Angin yang berhembus dari AC membuat Zaza kian menggigil. Aha, bukan dari AC. Tapi dari pintu kereta yang terbuka. Zaza gelagapan. My God, sekarang ia di mana? Setengah panik Zaza melongok keluar jendela. Tai Wai. Tulisan itu tertera jelas di dinding stasiun. Ia menghembuskan nafas kuat- kuat. Melamun sih, batinnya menyumpah. Untung Sha Tin belum lewat.</p>
<p>Zaza lalu memindahkan rangselnya ke bahu. Ia berkemas. Hanya dalam bilangan menit kereta yang ditumpanginya akan tiba di stasiun tujuan.</p>
<p>***</p>
<p>“Alhamdulillah, akhirnya tiba juga,” Zaza menggumam. Rasanya paru-parunya kini mengembang, begitu lapang, siap diisi oksigen sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Bersama dengan ratusan penumpang, ia bergegas keluar dari stasiun, lalu menaiki eskalator. Kini, ia hanya perlu melintasi atrium New Town Plaza, naik ke lantai dua, lalu menyusuri selasar yang di kiri-kanannya penuh dengan gerai, dan kemudian akan tiba di lorong yang menghubungkan pusat perbelanjaan itu dengan hotelnya.</p>
<p>Beberapa menit lagi, Zaza akan tiba di kamarnya. Mungkin ia akan langsung berendam di air hangat, menggosok setiap inci bagian tubuhnya, membubuhinya wangi lavender. Meluruhkan seluruh letih hari ini. Juga resah dan dukanya ….</p>
<p>Ah, lupakan impianmu Zaza, ia membatin patah. Valentine sebentar lagi berlalu. Tak ada sesuatu yang istimewa terjadi. Dan kini, ia bahkan harus menemukan cara bagaimana merekat kembali hatinya yang terlanjur retak.</p>
<p>Memikirkan semua itu, tanpa sanggup ia cegah, wajah sahabat-sahabatnya mendadak membayang. Mana hari-hari merah jambu di momen valentine yang sering mereka ributkan? Pikirnya sedih. Ternyata, ia tak seberuntung Diby, Wulan, dan Jihan. Ternyata aku justru harus patah hati di hari valentine, kesahnya nyeri. Rasanya ia kini ingin membujuk tirai malam agar menculiknya dari rumah luka, membawanya berdiam selamanya di balik labirin yang tak teraih oleh siapapun.</p>
<p>Zaza terus melangkah. Sampai ia menyadari sesuatu ….</p>
<p>Hei, ke mana orang-orang yang tadi menumpang kereta dan naik eskalator bersamanya? Mengapa ia kini sendirian di tengah atrium plaza? Zaza terkesiap, sebelum akhirnya kesadarannya mengumpul. Penumpang lain tentu memilih arah berbeda.</p>
<p>Ya, ini menjelang tengah malam. Tentu saja, New Town Plaza sudah tutup. Sebagian lampu-lampu sudah dipadamkan, kecuali yang di atrium dan di lorong-lorong. Tak terdengar lagi percakapan antara penjual dan pembeli. Tak ada senyum, tawa, dan celotehan. Tak ada lagi balon dan ornamen berbentuk hati berwarna pink. Tak ada lagi ribuan orang yang lalu-lalang. Gerai-gerai sudah sepi. Pengunjung sudah menghilang &#8230;.</p>
<p>Yang tersisa adalah suasana ngelangut – lantai yang menggigil, gerai yang membisu, pilar-pilar yang tak bergeming, lampu-lampu yang berpendar pucat, lanskap sepi yang memanjang, kesunyian yang tak bertepi ….</p>
<p>Dan dia …, dia berjalan sendirian di antara itu semua ….</p>
<p>O, my God. Nafasnya serasa berhenti. Mengapa ia baru menyadarinya? Mengapa tak terpikir sebelumnya? Adakah jalan lain menuju hotel tanpa harus melewati plaza ini?</p>
<p>Terlambat untuk menyadarinya. Kalau ia turun kembali ke <em>ground floor</em>, belum tentu di <em>lobby</em> masih tersisa orang. Kalau pun ada – dan Zaza mendapatkan petunjuk untuk menempuh rute lain, apakah lebih aman dibandingkan arah yang ditempuhnya sekarang?</p>
<p>Zaza merasa kerongkongannya dilindas kemarau. Dadanya sesak, seperti dihimpit beban berton-ton. Tak ada cara lain, aku harus terus berjalan, batinnya. Bukan berjalan, melainkan berlari. Ya, berlari secepatnya, sekuatnya. Ayo Za, jangan sampai ada orang lain melihatmu di sini. Seseorang yang tiba-tiba saja berpikir buruk begitu menyadari kamu sendirian. Bagaimana pun, kamu seorang cewek ….</p>
<p>Mata Zaza memanas. “Ya Allah, lindungi hamba!” bisiknya berulang-ulang.</p>
<p>Zaza terus berlari, sampai menyadari ada bayangan yang menguntitnya – seseorang yang kemudian berdiam dan berlindung di balik tiang ketika ia berhenti dan menoleh. Seseorang yang membuatnya jantungnya seperti berhenti berdetak.</p>
<p>“<em>Hi, can you hear me</em>?” Ia mengulang pertanyaannya pada jarak lima meter. Kali ini lebih pelan, setengah berbisik.</p>
<p>Zaza menunggu. Satu detik … dua detik …</p>
<p>Tiba-tiba bayangan itu bergerak, keluar dari persembunyiannya. Zaza nyaris terpekik.</p>
<p>“Sssstttt ….,” sosok itu memberi isyarat dengan meletakkan telunjuk di mulutnya. Ia kemudian mendekat, meraih tubuhnya, memeluknya. “Maaf, kalau aku membuatmu takut ….”</p>
<p>Entah yang mana duluan: airmata Zaza yang menghablur atau hembusan nafasnya yang melega.<br />
“Kakak menguntitku?” Suaranya lemah, nyaris tertelan.</p>
<p>Jemari cowok itu membelai rambutnya. “Ya,” suaranya parau. “Sejak sore tadi. Sejak kamu bilang akan ke The Peak dan tidak ingin ditemani. Aku terus mengikutimu. Aku mengkawatirkanmu pergi sendirian sesore itu. Aku sudah menduga, kamu pasti akan kemalaman. Karena itu, aku menelpon Lala dan mengabarinya kalau aku akan menguntitmu.”</p>
<p>Zaza sesunggukan. Ia tidak tahu harus ngomong apa. Ia memang bodoh, ia memang nekad .…</p>
<p>“Maafin Zaza, Kak. Membuatmu khawatir dan kerepotan ….”</p>
<p>“Ke depan, aku mungkin akan selalu sport jantung memikirkanmu ….”</p>
<p>Zaza mendongak, tak paham. Jemari cowok itu mengangkat dagunya. Lantas menatap matanya dalam-dalam.</p>
<p>“Ya, aku begitu mencintaimu, hingga aku khawatir mungkin aku akan menjadi sangat posesif menghadapi keberanianmu …</p>
<p>Zaza ternganga. Spontan, ia melepaskan pelukan. “Kakak ngomong apa sih? Mbak Lala bisa ngamuk ke aku ….”</p>
<p>Cowok itu menggeleng. “Kurasa Lala malah akan senang sekali. Ia tahu, aku sudah lama menyukai adiknya. Tapi dia sangsi apakah adiknya juga suka padaku ….”</p>
<p>“Jadi …,” Zaza merasa mendadak seperti orang bodoh.</p>
<p>“Aku dan Lala sepakat bersandiwara, seolah-olah kami pacaran. Lala mau saja. Toh dulu aku membantu dia mendapatkan Mas Janu – kakak sepupuku. Dan ternyata, aku tak bertepuk sebelah tangan. Gadisku cemburu bukan main ….”</p>
<p>“Kak Saktiiii!!!!” Zaza menggebuk tubuh jangkung di depannya sekuat tenaga. Wajahnya menghangat, mungkin seperti kepiting rebus.</p>
<p>Cowok kriwil itu tertawa-tawa. Lalu, di luar dugaan Zaza, kedua lengan Sakti menyambar tubuhnya dan membawanya berlari dalam gendongan.</p>
<p>Zaza berteriak-teriak tertahan. Ia meronta. Lalu menangis sesunggukan. Lalu tersenyum dan tertawa. Lalu menangis lagi.</p>
<p>Sakti tak peduli. Ia terus berlari.</p>
<p>Di pergelangan tangan Zaza, jam menunjukkan pukul nol-nol lewat duapuluh tujuh menit. Ah, valentine sudah lewat.***</p>
<p><strong>Untuk Sakti, Yngwie, Lala, Zaza, Diby, Wulan, Jihan dan Janu</strong></p>
<p>Catatan:<br />
MTR = Mass Transit Railway<br />
KCR = Kowloon – Canton Railway</p>
<p> </p>
<p><strong>(Dimuat di Majalah STORY edisi 7 - Januari 2010)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-4-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>opera musim dingin (bag 3)</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-3/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 09:08:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[andy lau]]></category>

		<category><![CDATA[beauty and the beast]]></category>

		<category><![CDATA[bruce lee]]></category>

		<category><![CDATA[chater garden]]></category>

		<category><![CDATA[cinderella]]></category>

		<category><![CDATA[donald duck]]></category>

		<category><![CDATA[hong kong disneyland]]></category>

		<category><![CDATA[hung hom]]></category>

		<category><![CDATA[jet li]]></category>

		<category><![CDATA[KCR]]></category>

		<category><![CDATA[kowloon tong]]></category>

		<category><![CDATA[majalah story]]></category>

		<category><![CDATA[mickey]]></category>

		<category><![CDATA[mong kok]]></category>

		<category><![CDATA[MTR]]></category>

		<category><![CDATA[octopus smart card]]></category>

		<category><![CDATA[sha tin]]></category>

		<category><![CDATA[shenzhen]]></category>

		<category><![CDATA[snow white]]></category>

		<category><![CDATA[sunny bay]]></category>

		<category><![CDATA[tai wai]]></category>

		<category><![CDATA[the avenue of stars]]></category>

		<category><![CDATA[the madame tussauds]]></category>

		<category><![CDATA[the peak galleria]]></category>

		<category><![CDATA[tsim sha tsui]]></category>

		<category><![CDATA[Tsing Yi]]></category>

		<category><![CDATA[tung chung]]></category>

		<category><![CDATA[valentine's day]]></category>

		<category><![CDATA[victoria harbour]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin
Dengan perasaan rawan ia terus menekuri dan menuruni anak tangga. Melalui jendela kaca ia menyaksikan halaman The Peak Galleria sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih membunuh waktu dengan duduk di bangku-bangku yang tersedia di halaman galeri. Rasanya ia baru saja bertandang di sekitar tempat itu, sebelum mendaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin</strong></p>
<p>Dengan perasaan rawan ia terus menekuri dan menuruni anak tangga. Melalui jendela kaca ia menyaksikan halaman The Peak Galleria sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih membunuh waktu dengan duduk di bangku-bangku yang tersedia di halaman galeri. Rasanya ia baru saja bertandang di sekitar tempat itu, sebelum mendaki balkon. Memperhatikan gerai yang menawarkan perlengkapan fashion dengan label-label internasional yang sudah kesohor. Membeli oleh-oleh untuk Diby, Wulan dan Jihan, souvenir khas setempat – gantungan kunci dan kaos bergambar kereta, atau membeli cokelat dengan kemasan bertulis The Peak. Juga, masih hangat di benaknya ketika ia menelusuri lebih dari seratus patung lilin para pesohor Hong Kong – dari artis, politisi, kaum jetset, hingga atlet – yang tergabung di The Madame Tussauds, meminta tolong turis lain agar bersedia memotretnya …</p>
<p><span id="more-264"></span>Dan sekarang pukul 22.00 lewat. Zaza sudah tiba di lantai dasar. Masih dengan nafas tersengal, ia mengantri. Tak terlalu lama. Karena tiket terusan dari Lower Peak Tram Station ke The Peak Tower dan sebaliknya sudah di tangannya. Hanya kurang dari lima menit, ia sudah ada di dalam tram yang membawanya kembali. Dan berbeda saat ia menuju ke The Peak Tower, kereta kayu legendaris khas The Peak itu kini merayap mundur menuruni lereng gunung. Rasanya sensasional banget menyusuri rel dengan kemiringan 45 derajat. Di samping kiri, gedung-gedung jangkung dan pepohonan tampak berdiri oleng dan berkejaran, sebagaimana yang ia lihat ketika mendaki sore tadi.</p>
<p>Keluar dari stasiun, Zaza menarik nafas panjang. Kini ia tinggal menyusuri Garden Road menuju Central Station mengejar MTR terakhir. Mungkin harus setengah berlari. Dan beruntung, karena jalannya kini menurun, tak seperti ketika ia datang.</p>
<p>Meski demikian, ada rasa gentar juga menelusup di hati Zaza. Ini pengalaman pertamanya menyusuri jalan sendirian di Hong Kong, sekaligus destinasi terjauh yang pernah dilakukannya tanpa disertai papa, mama, atau teman seperjalanan. Menjelang tengah malam pula. Kalau sampai ia dihadang seseorang ….</p>
<p>Digelengkannya kepala untuk mengusir pikiran liar yang membuatnya sedikit ciut. Diam-diam ia merutuk dirinya sendiri. Inilah akibatnya kalau perjalanan dilakukan setengah nekad. Nekad? Hmm … mungkin lebih tepat kalau Zaza mengakuinya sebagai pelarian. Dia kabur. Dan bukankah kalau berani kabur, harus berani menanggung risiko?</p>
<p>Dia ingat, ini hari keempat mereka di Hong Kong. Selama itu pula ia menyaksikan kemesraan antara Lala dan Sakti. Bahkan sejak mereka masih di bandara Soekarno-Hatta. Kedua sejoli itu tidak berhenti saling bercanda dan meledek. Lala dan Sakti bahkan tidak segan berangkulan di depannya, seperti ketika mereka menyaksikan parade karakter tokoh Walt Disney di jalan utama Hong Kong Disneyland . Beberapa kali ia menyaksikan Sakti memencet gemas hidung kakaknya dan memujinya secantik Snow White.</p>
<p>“Tuh lihat! Nah, kamu tuh secantik itu!” Sakti menunjuk Putri Salju yang melambaikan tangan dari atas kereta. “Tapi hati-hati, kena panas dikit kamu meleleh!”</p>
<p>“Sialan! Ngaco, ah!” kata Lala ketawa-ketawa. Pipinya memerah.</p>
<p>Melihat peristiwa itu, Zaza dengan cepat melengos. Dia membuang pandang ke seberang jalan, ke serombongan anak Indonesia seusianya yang juga sibuk memotret dan berteriak-teriak dengan cuek dalam bahasa ibu mereka saat tokoh-tokoh kartun klasik melintas di depannya: Snow White and the Seven Dwarfs, Cinderella, Beauty and the Beast, Donald Duck, Mickey and Minnie Mouse, Goofy, Pluto ….</p>
<p>“Hai Za, aku potret dengan latar parade, ya? Kok kamu kayak gak antusias sih!” tanpa menunggu jawabannya Sakti sudah menjepret-jepretkan kameranya.</p>
<p>Zaza berusaha untuk tampak tidak terlalu terkejut. Ia menukas, “Itu ‘kan idolanya Lala,” … karena ia secantik princess, sambungnya di hati. “Aku mau tokoh-tokoh yang sekarang: Monster Inc, Finding Nemo, Little Mermaid … ada gak, ya?” Ia tersenyum miring.</p>
<p>Jauh di dalam hati, Zaza merasakan ada yang diam-diam memarut hatinya ….</p>
<p>***</p>
<p>Zaza kini sudah jauh meninggalkan The Peak. Ia sudah tiba di pertigaan – simpul pertemuan Garden Road, Queen’s Road, dan Jackson Road. Melihat Bank of China Tower, Citibank Plaza dan St. John’s Cathedral yang menjulang hening di seputarnya, perasaannya makin terpencil. Sambil menunggu lampu penyebrangan berwarna hijau, ia sempat kepikiran untuk menelpon Lala.</p>
<p>Apakah Lala cemas karena menjelang tengah malam ia belum juga tiba di hotel? Ah, tapi Lala selama ini tak pernah memusingkan ia ada di mana saat traveling bersama teman-temannya. Lala hanya rajin menelponnya saat-saat awal dulu ketika ia mulai gandrung bepergian. Itu pun paling-paling menanyakan kabar dan titip oleh-oleh. Mungkin karena Lalu percaya padanya. Bukankah papa selalu bangga memamerkan anak bontotnya yang begitu berani dan mandiri? Kalau ia menelpon sekarang, mungkin sebaliknya: Lala yang tadinya gak kepikiran apa-apa malah berubah cemas.</p>
<p>Zaza mengurungkan niat. Ia akhirnya menyeberang jalan setelah lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Setengah berlari kecil, ia melintasi Chater Garden. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa langkahnya begitu pendek, kakinya terlalu mungil. Ia ingin langkahnya lebih lebar, agar bisa menjejak pintu J2 secepat mungkin. Ya Allah, please, jangan sampai aku ketinggalan kereta, gumamnya.</p>
<p>Memasuki stasiun Central, lengang menyambutnya. Tak ada satu kepala pun yang ditemuinya. Zaza merasa kerongkongannya mendadak kering. Dengan rupa kecut, ia melirik jam tangannya. Hampir pukul sebelas. Bukankah kereta terakhir pukul duabelas?</p>
<p>Ia terus melangkah, tanpa menoleh. Setengah berlari. Di depan mesin Octopus Smart Card – mesin penjualan tiket elektronik, ia dengan gegas memencet tombol bertuliskan Sha Tin di peta rute perjalanan kereta, lalu memasukkan selembar dolar Hong Kong ke mesin pintar itu. Terdengar bunyi gemerisik disertai denting logam. Ia mengambil tiket dan receh kembalian, tanpa benar-benar memperhatikan berapa jumlahnya.</p>
<p>Zaza kemudian kembali melangkah. Kali ini benar-benar berlari. Pada saat yang sama ia mendengar suara detak sepatu di belakangnya, ikut berlari. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Setengah bersorak, Zaza menoleh. Setidaknya, ia masih punya teman.</p>
<p>Namun, alangkah kecewanya ketika matanya tidak menangkap satu sosok pun. Aneh, pikirnya. Apakah dia ngumpet? Padahal, rasanya tadi ia mendengar suara detak sepatu yang demikian jelas. Jangan-jangan dia penjahat, preman, ata sebangsanya. Atau … sejenis hantu? Hiiii … Please dong, ah! Kamu kok jadi penakut sih, Za?</p>
<p>Zaza kembali memperhatikan ke belakang, ke sepanjang lorong dengan sejumlah petunjuk di dinding dan langit-langit. Kali ini dengan lebih seksama. Kepalanya celingukan ke kiri dan ke kanan. Tapi sosok yang dicarinya tetap tak muncul. Halusinasi?</p>
<p>Dengan gemas, ia memasukkan tiket kereta pada Octopus Reader, melintasi MTR ticket gate, menuruni eskalator sembari berlari, dan baru bernafas lega ketika menemukan banyak kepala tengah menunggu gerbong kereta berhenti dan membuka pintu.</p>
<p>“Ya Allah, terima kasih!” bisik Zaza lirih. Dihembuskannya nafas kuat-kuat.</p>
<p>Kini ia dalam gerbong. Penuh sesak. Lebih penuh dibandingkan saat ia berangkat. Mungkin karena ini kereta akhir, meski mungkin bukan yang benar-benar terakhir. Tentu, tak ada yang berharap ketinggalan kereta.</p>
<p>Zaza berdiri hanya selangkah dari pintu. Ia tidak kebagian tempat duduk. Kendati demikian, ia tetap merasa nyaman. Sesesak-sesaknya kereta di Hong Kong, kondisinya tidak sama dengan kereta Jakarta-Bogor. Masih ada celah yang memungkinkan seseorang berpindah tempat. Zaza bahkan masih bisa berdiri sambil menyilangkan kaki. Di depannya, anak-anak brondong masih asik bermain game watch. Sebagian sambil mendengarkan musik melalui earphone. Seorang cewek yang ditaksirnya berusia sepantaran Lala bahkan asyik menyimak novel.</p>
<p>Memperhatikan penumpang kereta malam itu, Zaza malu sendiri. Ngapain tadi sampai mikirin hantu segala? Di peron dan gerbong kereta, jam sebelas malam suasananya tak ada bedanya dengan jam sebelas siang. Tetap banyak anak remaja seusianya yang bepergian. Tetap ramai. Di MTR dan KCR, Hong Kong memang tampak selalu sibuk dan siaga, orang-orang bergegas masuk dan keluar kereta, seperti ada yang dikejar dan mengejar.</p>
<p>Empat hari di Hong Kong, Zaza belajar banyak. Orang Hong Kong gak ada yang nyantai. Semua terburu-buru. Di eskalator pun, mereka tetap berjalan tergesa, bahkan tak segan mengomel dan memaki jika ada yang mematung di tengah-tengah tangga menghalangi langkah mereka. Tidak seperti orang Jakarta – yang saat menaiki tangga jalan, berdiam di tempat sembari cuci mata atau ngobrol dengan teman seiring.</p>
<p>Melalui pengumuman dan petunjuk rute di dinding kereta, Zaza mengetahui kalau mereka sudah melewati stasiun Admiralty dan sesaat lagi akan tiba di Tsim Sha Tsui. Ia bersiap-siap turun dan berganti kereta dari MTR ke KCR. Setelah itu menyusur lagi ke utara. Di etape kedua ini, ada empat stasiun yang akan dilaluinya: Hung Hom, Mong Kok, Kowloon Tong, Tai Wai, sebelum akhirnya turun di Sha Tin.</p>
<p>Di KCR menuju stasiun tujuannya ini, Zaza bisa tersenyum lega. Ia mendapat tempat duduk persis di dekat pintu. Tubuhnya bisa diluruskan, terutama punggungnya, karena kini rangselnya berpindah dari bahu ke pangkuan.</p>
<p>Kini, dengan kelelahan tersisa, Zaza menghabiskan waktu di kereta dengan mengingat-ingat kejadian selama empat hari di Hong Kong. Tidak persis empat hari sebetulnya. Karena pada hari kedua mereka sempat ke kota di sebelah utara yang berbatasan dengan Hong Kong, Shenzhen. Di kota yang terkenal dengan segala macam barang tiruan atau palsu, Lala berbelanja banyak, membeli oleh-oleh – terutama tas kuliah – untuk teman-teman kampusnya. Zaza sendiri membeli beberapa jam tangan palsu dari merek-merek terkenal, dan Sakti memilih memborong iPod.</p>
<p>Di hari pertama, Zaza hanya berjalan mengitari Sha Tin, terutama gerai yang tersedia di New Town Plaza. Karena pagi di hari pertama itu, Lala dan Sakti menemui Om Valent – sahabat papa – di bursa saham Hong Kong. Lalu di sore hingga malam harinya mereka mengunjungi The Avenue of Stars di kawasan Tsim Sha Tsui. Di tempat yang persis berada di depan Victoria Harbour itu, ada jalan yang mengabadikan jejak telapak tangan para selebritis Hong Kong, seperi Bruce Lee, Jet Li, hingga Andy Lau.</p>
<p>Hari ketiga mungkin menjadi hari yang tak terlupakan bagi Zaza. Sesuai rencana, ia, Lala dan Sakti, menghabiskan waktu di Disneyland. Taman hiburan yang terkenal di se antero jagad ini terletak di Teluk Penny, Pulau Lantau. Dari Sha Tin, mereka menumpang MTR Tung Chung Line, lalu interchange di stasiun Sunny Bay – antara stasiun Tsing Yi dan Tung Chung. Terus nyambung dengan kereta Disneyland Resort Line. Jalur kereta Disney hanya sekitar 3,5 kilometer. Begitu keluar stasiun, di sisi kiri mereka langsung ketemu jalan menuju gerbang Disneyland Resort.</p>
<p>Mula-mula Zaza, Lala, dan Sakti hanya menyaksikan parade tokoh kartun di main street. Setelah itu, Zaza memilih berpisah. Ia ingin bermain dengan beragam wahana yang tersedia di tempat itu. Sementara Lala tidak bisa menikmatinya, karena kakaknya itu gampang pusing di tempat-tempat ramai. Sakti sempat berkeras akan menemaninya, karena toh Lala hanya berjalan-jalan dan shopping di seputar Disney Store yang berderet di kanan-kiri jalan utama. Tapi Lala menolak. Hatinya terlanjur terluka. Ia tidak bisa membohongi diri –hatinya cabik – ketika hampir sepanjang menyaksikan parade, Sakti dan Lala terus bermesraan di depannya.</p>
<p>“Aku mau jalan sendiri aja!” tukasnya dengan suara didatar-datarkan. “Kakak nemenin Mbak Lala aja,” ujarnya pada Sakti. Lagipula, pacaran kok pisah-pisah, sambungnya di hati. “Kalo ada apa-apa, gimana?” Ia tahu persis fisik Lala gak sekuat dirinya.</p>
<p>“Tapi…,” Sakti tampak gak terima.</p>
<p>“Kalo Mbak Lala jatuh pingsan, gimana?” sambarnya cepat.</p>
<p>“Wah, gak adil dong, Za!” Lala ikut angkat bicara. “Masa’ gara-gara aku gak bisa menikmati permainan, terus Sakti ikut-ikutan gak main. Udah jauh-jauh datang ke sini….”</p>
<p>“Kalo gitu, sendiri-sendiri aja!” Zaza berkeras. “Belum tentu mainan yang aku sukai disukai juga Kak Sakti.”</p>
<p>“Bisa kompromi ‘kan?” Sakti mengedipkan mata.</p>
<p>“Gak!” suara Zaza mulai meninggi. “Kalau ada apa-apa dengan Mbak Lala, Papa pasti lebih nyalahin Kak Sakti, secara Kakak itu cowok yang harusnya melindungi ….”</p>
<p>“Ya, kamu juga bisa kenapa-kenapa ‘kan?” Sakti gak mau kalah.</p>
<p>“Aku bisa jaga diri. Aku udah biasa jalan ke mana-mana kok….”</p>
<p>“Tapi, Za!”</p>
<p>Tak ada tapi-tapian. Zaza sudah berlari mendahului keduanya. Dan sebentar saja ia sudah berada jauh di depan, menyelip-nyelip di antara pengunjung lain.</p>
<p>Sambil berlari, air mata Zaza terburai, padahal ia sudah berusaha sekuat hati menahannya. Bodoh kamu, Za. Jatuh cinta pada orang yang salah. Kini, rasanya, harapannya benar-benar habis. Ini hari ketiga. Besok hari terakhir, bertepatan 14 Februari – hari Valentine. Tak ada keajaiban sebagaimana yang sempat terlintas di pikirannya saat akan berangkat dari Jakarta. Valentine akan tiba dan kemudian berlalu. Setelah itu, mereka akan kembali ke Jakarta dengan pesawat pagi. Tak ada tanda-tanda sesuatu yang luar biasa akan terjadi, sesuatu yang akan mengubah kehidupannya. Sakti tak bergeming. Ia kelihatannya tetap bersikukuh dengan pilihannya: melabuhkan cinta pada kakaknya.</p>
<p>(bersambung)</p>
<p><strong>(Dimuat di Majalah STORY edisi 7 - Januari 2010)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>opera musim dingin (bag 2)</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-2/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 09:01:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[hong kong]]></category>

		<category><![CDATA[majalah story]]></category>

		<category><![CDATA[peak tower]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin
Kendati demikian, diam-diam ada penyesalan bersemayam di dada Zaza. Toh, semalam Lala sebetulnya sudah menawarkan jasa agar si Kriwil itu mengantarnya saat dia mengutarakan niat akan berkunjung ke The Peak. Ya, kalau saja ia tak menolak ditemani, kalau saja cowok itu ikut bersamanya di sini – berduaan di pucuk Peak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin</strong></p>
<p>Kendati demikian, diam-diam ada penyesalan bersemayam di dada Zaza. Toh, semalam Lala sebetulnya sudah menawarkan jasa agar si Kriwil itu mengantarnya saat dia mengutarakan niat akan berkunjung ke The Peak. Ya, kalau saja ia tak menolak ditemani, kalau saja cowok itu ikut bersamanya di sini – berduaan di pucuk Peak Tower di tengah suhu udara yang demikian rendah, apa yang akan terjadi? Mula-mula mereka mungkin hanya akan bercakap, sebatas ngobrol ngalur-ngidul, tapi kemudian … saat giginya gemeretak, tidakkah cowok itu akan tergerak untuk menyodorinya kehangatan – merangkulnya, misalnya?</p>
<p><span id="more-263"></span>Astaga! Zaza memaki dirinya sendiri. Apa banget deh! Jangan lebay, Zaza. Kok bisa sih dia membayangkan seperti itu? Mengapa ia tidak bisa berhenti untuk memikirkan cowok itu? Cowok yang mungkin lebih dari separuh waktunya di luar rumah dihabiskan bersama Lala. Lagipula, apa mungkin cowok itu tertarik padanya, sementara Zaza tahu Lala jauh lebih cantik dibanding ia?</p>
<p>Arghhh! Sesaat ia kesal sendiri. Sejak kapan sih mereka dekat?</p>
<p>Menyesal ia tidak terlalu mengikuti hari-hari Lala. Sejak Lala duduk di bangku kuliah, hubungan mereka memang tidak lagi sedekat dulu. Mula-mula karena mereka sibuk dengan dunia baru masing-masing. Lala masuk perguruan tinggi, tepatnya di Fakultas Ekonomi – ingin mengikuti jejak papa yang jadi bankir. Sementara dia baru masuk ke kelas 10 di SMU. Suasana baru, teman-teman baru, membuat mereka memiliki dunia sendiri-sendiri.</p>
<p>Lambat laun, Zaza merasa dunianya makin gak nyambung dengan kakaknya. Meski kini ia sudah mulai kuliah juga di Fakultas Komunikasi. Lala tumbuh dengan memadukan kelebihan kedua orangtuanya - cantik dan anggun seperti mama, dengan otak yang cemerlang serupa papa. Rambutnya tergerai panjang , berkulit kuning persis mama, dengan mata yang senantiasa berpendar cerdas. Berbeda dengan dia … dia menjadi siswa yang biasa-biasa saja di sekolah, tidak bodoh namun juga tidak terlalu menonjol. Secara fisik ia hampir mewarisi seluruh yang ada pada papa: mata kecil bulat, alis rapi, bibir mungil, rambut cepak dan kulit cokelat bening. Sayangnya, ia sama sekali tidak menunjukkan minat yang sama dengan papa. Ia penyuka sastra – pembaca buku yang rakus. Ia hobi bertualang – menjadi backpacker, menjelajah kota-kota cantik dan tempat-tempat eksotis di Indonesia dan negera tetangga seperti Singapuradan Malaysia. Ia bercita-cita jadi reporter teve, meliput dari satu tempat ke tempat yang lain – pekerjaan yang tentu saja ada unsur jalan-jalannya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ekonomi Internasional, ilmu yang menjadi keahlian papa.</p>
<p>Karena itu wajar jika ia tidak terlalu mengikuti perkembangan Lala. Ia jarang di rumah. Apalagi saat libur semester tiba, Zaza lebih sering traveling dengan teman-temannya. Lagipula Lala lebih nyambung dengan papa. Mereka bisa berjam-jam berdiskusi hanya karena rupiah hari ini anjlok terhadap dolar – topik yang sama sekali gak dipahaminya. Bagi Zaza, satu-satunya yang menarik tentang dunia papa – seorang direktur yang mengurusi investasi di sebuah bank, karena papa tampaknya tidak terlalu mempersoalkan seberapa rupiah yang ia habiskan untuk hobi jalan-jalannya. Toh, Zaza tahu diri. Ia tidak pernah meminta lebih. Ia menikmati peran sebagai <em>backpacker</em> – berlibur dengan tidur di hotel melati atau bahkan di alam terbuka, ketimbang menghabiskan waktu di hotel-hotel berbintang.</p>
<p>Tapi sejak empat bulan lalu, ia tiba-tiba merasa dunia papa dan Lala begitu menarik. Itu disadarinya pada sebuah petang, ketika si Kriwil itu mendadak muncul di teras rumahnya.</p>
<p>“Kenalin, ini adikku!” Lala memperkenalkannya.</p>
<p>“Hai, saya Sakti! Teman kuliah Lala,” cowok itu mendahuluinya bicara, senyumnya mengembang.</p>
<p>“Zaza.”</p>
<p>Cowok itu berkulit cokelat seperti dirinya. Matanya berpendar hangat – meski suaranya agak hemat. Dengan rambut yang kriwil, ia sangat mirip Giring Ganesha – vokalis Nidji. Hanya, ukuran tubuhnya sungguh jangkung. Tipikal yang disukainya, sekaligus yang tidak pernah masuk hitungan sahabat-sahabatnya. Entah kenapa, Diby, Jihan dan Wulan justru memiliki selera yang sama: mereka sama-sama menyukai cowok berkulit putih terang. Kulit, yang menurut Zaza, kelihatan kurang macho.</p>
<p>Sejak kedatangan Sakti yang pertama, hatinya sudah tercuri. Setiap kali ia menampak sosok jangkung itu, atau bersirobok pandang, dadanya berdenyar. Apalagi, Sakti makin sering berkunjung ke rumahnya. Tepatnya, mengunjungi Lala. Mula-mula ia mengenalnya sebagai teman satu kelompok belajar Lala. Bukan dengan Sakti aja sebetulnya. Mereka bertiga - ada Yngwie juga, cowok putih manis dengan hidung bangir. Yang terakhir ini hobinya main gitar di sela waktu belajar mereka. Mungkin dia memang titisan Yngwie Malmsteen – gitaris legendaris idola papa, gitaris yang konon digelari shredder terbaik sepanjang masa.</p>
<p>Dalam pengamatan Zaza; Lala, Sakti dan Yngwie tekun banget belajarnya. Mereka menempa diri nyaris di setiap jeda waktu kuliah. Seperti tak pernah lelah mencoret-coret whiteboard dan memencet-mencet keyboard notebook yang ada di perpustakaan keluarga. Kata mama, Lala dan temannya lagi persiapan ikut lomba simulasi saham antar mahasiswa Ekonomi Perguruan Tinggi se Indonesia. Simulasi saham? Binatang apaan tuh?</p>
<p>Karena gak ngerti, Zaza enggan bergabung. Takut gak nyambung. Diajak ngomongin Pramudya Ananta Toer, oke aja. Atau ngomongin novel Gabriel Garcia Marques hingga Ayat-ayat Cinta yang digandrungi teman-temannya. Atau bahkan novel-novel teenlit, siapa takut? Tapi disuruh bicara saham … alamak! Bisa mati berdiri dia. Baginya, gedung bursa saham yang selalu dilihatnya setiap kali melintasi Sudirman, ibarat negeri antah-berantah. Gak terpetakan. Rasanya sampai kiamat pun dia gak mudeng. Meski papa sering banget ngomongin itu di layar televisi dan sesekali menyinggungnya di meja makan.</p>
<p>Zaza enggan bergabung ke perpustakaan, meski ia tahu itu tidak akan mengganggu konsentrasi kakak dan teman-temannya jika dilakukan sesekali. Toh ia sering mendengar Yngwie bermain gitar sembari bernyanyi. Atau mendengar Sakti terbahak-bahak. Ia sedapat mungkin menghindar, karena dia gak pengen keliatan bego-bego amat di depan teman-teman kakaknya. Apalagi di depan si Sakti itu.</p>
<p>Karena itu, Zaza hanya berani mengintip sekilas setiap kali ia melintas di mulut perpustakaan. Atau mengambil posisi duduk di sofa ruang tengah seolah tenggelam dengan bacaannya. Atau pura-pura memutar DVD dan menonton film kesayangannya. Padahal, diam-diam ekor matanya memperhatikan Sakti melalui pintu perpustakaan yang terbuka.</p>
<p>Sampai akhirnya sayup-sayup ia mendengar kabar itu: Lala and the gang merajai kompetisi simulasi saham.</p>
<p>Dan puncaknya, papa memberi kejutan, “Sebagai hadiah atas kemenangan kalian, Lala, Sakti dan Yngwie boleh jalan-jalan ke Hong Kong!”</p>
<p>“Benar, Pa?” Lala terlonjak senang. Sementara dua temannya tampak terkesima.</p>
<p>“Ya, di bursa saham Hong Kong, ada Oom Valent – sahabat seperguruan Papa. Siapa tahu kalian boleh melongok kesibukan bursa saham di sana.”</p>
<p>Tak terperi kegembiraan Lala dan Sakti. Tapi tidak demikian dengan Yngwie. Dua hari sebelum keberangkatan mereka, Yngwie urung ikut. Ia ada masalah keluarga yang tidak mungkin ditinggalkan. Semula, Lala ingin mengundurkan rencana jalan-jalan itu, menunggu sampai Yngwie siap. Tapi travel biro tidak mau membatalkan tiket mereka, karena permintaan itu begitu mendadak. Kalau pun batal, mereka akan dikenakan denda.</p>
<p>Walhasil, Papa kemudian menunjuk Zaza untuk mendampingi kakaknya. Kata Mama, Lala gak mungkin dilepas berduaan dengan Sakti ke luar negeri. Meski ini bukan kunjungan Lala yang pertama ke Hong Kong. Dua tahun silam, saat libur akhir tahun, Zaza, Lala, Mama dan Papa sempat mengunjungi Beijing dan Hong Kong selama sepekan.</p>
<p>***</p>
<p>Tapi kini aku sendirian kedinginan di sini, Papa. Gumam Zaza sentimentil. Sementara Lala dan Sakti … hmm, sekarang mereka ngapain di Sha Tin sana?</p>
<p>Membayangkan kakaknya berangkulan dengan Sakti sepanjang jalan, mendadak ia merasa ada gigil merambati sekujur tubuhnya. Gigil yang bikin giris. Membuatnya ngilu, melumpuhkan persendiannya – dari mata kaki mendaki ke atas: ke betis, paha, perut, dada … dan berhenti di situ, menghunjam dalam. Ya ampun, Papa, apa yang terjadi dengan putri bontotmu? Mengapa hatinya mendadak melepuh? Dan hai, coba lihat, pada sepasang matanya yang mengerjap … ada bulir air menempel …</p>
<p>“<em>I don’t feel well</em> …,” bule di sebelahnya berucap dengan bibir bergetar kedinginan.</p>
<p>Zaza tidak menoleh, tapi ia mendengar sepasang turis itu sepakat meninggalkan balkon.</p>
<p>Akankah ia tetap bertahan di situ?</p>
<p>Seperti tersengat, Zaza meneliti jarum jam di pergelangan tangannya. Hampir pukul 22.00! Astaga, kalau ia sampai ketinggalan kereta, dengan cara apa ia mencapai Sha Tin?</p>
<p>Seperti kesetanan, ia menuruni anak tangga. Lift dan eskalator sudah dimatikan pihak pengelola Peak Tower. Ayo cepat Za, hardik hatinya. Rasanya ia tidak pernah seceroboh ini sebelumnya. Melamun dengan perasaan melankolis yang amat sangat. Sejak kapan ia jadi cengeng? Ia traveler sejati. Ia sudah terbiasa bepergian dengan teman-temannya. Mereka biasanya riang-gembira, berjiwa kembara. Mereka menyusun rencana perjalanan secermat mungkin. Dan meski mereka sesekali bercanda dengan risiko, tapi risikonya terukur.</p>
<p>Bukan seperti sekarang. Membiarkan diri dilanda kesedihan, merelakan duka bersemayam yang ia tidak ketahui persis kapan tibanya dan dengan cara apa diakhiri. Kesedihan yang rasanya membuatnya limbung, kehilangan arah. Membuatnya kesulitan mengkalkulasi waktu. Dan semua karena satu hal: ia jatuh cinta diam-diam. Jatuh cinta pada orang yang salah. Dan, celakanya, di antara intuisi dan rasionya, ia berharap sesuatu yang absurd: sebuah keajaiban akan muncul pas di hari keempat mereka di Hong Kong, di hari valentine. Keajaiban yang akan mengubah semuanya …</p>
<p>Akankah ia berharap Sakti akan membalas perasaannya? Akankah ia berharap Lala datang kepadanya yang dengan tulus dan senyum ikhlas merelakan Sakti berpindah ke pelukannya?</p>
<p>Taik, ah! Apa banget deh kamu, Za. Sakti itu pacar kakakmu. Bagaimana kamu sampai hati merebutnya? Lagi pula, bagaimana mungkin kamu bisa bersaing dengan Lala? Lala jauh lebih cantik dan cerdas dibanding kamu. Apa Sakti mau? Udah gila, apa?</p>
<p>Tapi bagaimana meredam perasaannya? Bagaimana ia harus menjaganya agar tak terbaca Sakti, dan terutama … Lala? Bagaimana ia menanggung semuanya? Kepada siapa ia menyerahkan sekeranjang luka dan resahnya?</p>
<p>(bersambung)</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><strong>(Dimuat di Majalah STORY edisi 7 - Januari 2010)</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>opera musim dingin (bag 1)</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-1/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 08:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[hong kong]]></category>

		<category><![CDATA[majalah story]]></category>

		<category><![CDATA[new territories]]></category>

		<category><![CDATA[new town plaza]]></category>

		<category><![CDATA[pak hong street]]></category>

		<category><![CDATA[peak tower]]></category>

		<category><![CDATA[royal park hotel]]></category>

		<category><![CDATA[sha tin]]></category>

		<category><![CDATA[snoopy's world]]></category>

		<category><![CDATA[the peak]]></category>

		<category><![CDATA[tsim sha tsui]]></category>

		<category><![CDATA[valentine's day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin

“WHO is there?” Zaza berteriak tertahan.
Tak ada jawaban. Kecuali sisa gema teriakannya yang mendengung. Tak terlalu panjang, namun serupa lolongan, yang kemudian berujung dalam bisu pada detik ke sekian.
Kini kelengangan memerangkapnya. Serupa bayangan raksasa tinggi besar yang merunduk mengembangkan kedua lengannya yang kenyal dan dingin. Lalu merangkulnya kuat-kuat. Membuatnya tersengal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>(Novelet Remaja) - </strong><strong>Oleh Ryana Mustamin<br />
</strong></p>
<p><strong></strong>“<em>WHO is there</em>?” Zaza berteriak tertahan.</p>
<p>Tak ada jawaban. Kecuali sisa gema teriakannya yang mendengung. Tak terlalu panjang, namun serupa lolongan, yang kemudian berujung dalam bisu pada detik ke sekian.</p>
<p><span id="more-262"></span>Kini kelengangan memerangkapnya. Serupa bayangan raksasa tinggi besar yang merunduk mengembangkan kedua lengannya yang kenyal dan dingin. Lalu merangkulnya kuat-kuat. Membuatnya tersengal, tercekat, sekaligus menggigil.</p>
<p>Dari mana ia berasal? Mungkinkah ia merayap dari ujung selasar yang senyap, atau turun dari langit-langit, dari pintu-pintu gerai yang seluruhnya sudah terkatup rapat, atau jangan-jangan terbangun dari sebuah dunia lain di balik <em>basement</em>, dari tanah yang merekah…</p>
<p>Hampir pukul nol-nol waktu setempat. Pantas aja, Zaza menggumam sekaligus menyalahkan dirinya sendiri. Hari sudah sangat larut. Saatnya makhluk bernama manusia tertidur, dan makhluk lain terjaga. Tempat ini kini menjadi demikian sepi dan sunyi. Serupa makam. Mengapa ia luput memikirkan hal itu sebelumnya?</p>
<p>Dengan rupa kecut Zaza mengedarkan pandang sekali lagi. Lalu dengan sisa tenaga, ia mengayunkan kakinya. Kembali berlari. Ayo Za, lebih cepat dan lebih kencang!</p>
<p>Tapi, suara itu …. Ya, suara detak sepatu di belakangnya yang ikut berlari. Seseorang tengah menguntitnya? Siapa? Seseorang yang berniat jahat kepadanya? Seseorang yang akan melukainya? Atau … memerkosanya? Bulu kuduk Zaza meremang. Matanya memanas.</p>
<p>“Ya Allah, lindungi hamba!” kesahnya lirih.</p>
<p>Zaza kembali berlari. Nafasnya kian memburu. Namun semakin ia merasa berlari kencang, suara detak sepatu di belakangnya juga semakin menderas. Mungkinkah itu gema?</p>
<p>Refleks, Zaza menghentikan larinya.</p>
<p>Tidak. Sama sekali bukan gema. Ritmenya berbeda. Dan sepatu itu terlambat berhenti beberapa detak sesudah kakinya diam sempurna.</p>
<p>“<em>Who is that</em>?” Zaza mengulang pertanyaannya. “<em>Can you hear me</em>?”</p>
<p>Namun tetap tak ada jawaban.</p>
<p>Zaza menunggu dengan tegang. Matanya nyalang. Namun sejauh mata memandang ke belakang, hanya lengang dan lengang. Kesunyian yang menghantu. Saking sunyinya, Zaza rasanya sampai mendengar detak jarum jam tangan dan degup jantungnya.</p>
<p>Dirapatkannya jaketnya untuk melindungi tubuhnya yang kian menggigil. Setelah itu ia menoleh kembali. Kali ini dengan sorot mata yang lebih awas. Dan, Zaza terkesiap! Sekitar seratus meter di depannya, matanya menampak sesosok bayangan tertimpa sinar lampu yang remang. Berlindung di balik tiang.<br />
Tubuh Zaza bergetar. Dadanya gemuruh. Siapa dia? Mau apa dia?</p>
<p>“Ya Allah, <em>please</em>, lindungi hamba!” pekik Zaza di hati.</p>
<p>Ia menarik nafas panjang. Sambil mengucap bismillah, Zaza mengumpulkan keberanian. Detik berikutnya, ia sudah bersijingkat ke arah bayangan itu. Begitu perlahan, berharap gerakannya tak menimbulkan suara dan memancing perhatian. Di dahinya, keringat dingin mulai menetes. Sementara lantai tempat ia berpijak serasa berubah jadi padang salju. Tapi Zaza terus melangkah. Mendadak ia teringat wajah Papa. Ayo Za, jangan mau kalah dengan ketakutanmu. Ini anak Papa yang paling berani …</p>
<p>Hati Zaza menguat lagi. Meski di bagian lain hatinya somplak. Kalau saja ia tak nekad berangkat sendirian ke The Peak. Kalau saja ia tak melamun dan bersedih sehingga lupa waktu. Kalau saja Lala … astaga, apakah ini hukuman karena diam-diam ia berharap Sakti mengkhianati Lala?</p>
<p>***</p>
<p>Gerimis tak singgah di Peak Tower. Ini Februari, musim dingin. Tak ada hujan. Tapi dingin yang menyungkup tak mampu teredam oleh gumpalan woll yang membungkus tubuhnya. Dalam empat hari terakhir, suhu udara Hong Kong selalu di bawah 15 derajat celcius. Membekukan. Ah ya, tak hanya membekukan tubuhnya, tapi juga hatinya. Betapa ia sendirian di sini, di tengah sejumlah turis asing – yang mungkin saja tak berselera mengajaknya sekadar bercakap. Mereka sibuk dengan teleskop masing-masing. Tentu, bentangan lazuardi di depan lensa, lebih menarik ketimbang menghabiskan waktu ngobrol dengan gadis kecil sepertinya.</p>
<p>Tapi Zaza betah berlama-lama di sini, di <em>sky terrace</em>. Menghikmati kesendirian. Meski sore telah meleleh. Meski giginya gemerutuk. Dan angin yang bertiup kencang sekali. Ia bersikukuh bertahan di balkon – entah sudah berapa jam, memperhatikan angin yang menghalau awan ke utara, membentuk koloni. Apakah harapannya juga ikut terhalau seperti awan?</p>
<p>Dikatupkannya bibir lebih rapat. Sambil menyembunyikan kepalan di saku, matanya beralih dari lensa teleskop. Konfigurasi unik di seberang pandangan sudah mulai memburam. Tapi masih hangat di benaknya. Kota yang cantik – dengan ratusan gedung jangkung tumbuh dari tekstur tanah yang berbukit acak. Nun di kejauhan, tampak pelabuhan dengan air kebiruan – lengkap dengan kapal-kapal yang tengah berlabuh dan bongkar-muat, dengan latar perbukitan berwarna lumut. Perpaduan yang sungguh tak lazim.</p>
<p>Kini, dengan mata telanjang, ia memperhatikan langit yang meremang, lalu gedung-gedung, pepohon dan pegunungan yang perlahan membentuk siluet. Bersamaan dengan itu, geriap lampu berhamburan. Seperti ribuan butiran kristal swarovski yang ditebar di atas kain bludru hitam. Meriap berpendar. Saling silau.</p>
<p>Zaza mendecak kagum. Meski kemudian ia merasakan dingin makin mengiris sekujur tubuhnya. Sepasang turis separuh baya di sebelahnya dari tadi bahkan sudah berangkulan rapat. Membuatnya iri. Ah, kalau saja dia ada di sini, dan memperlakukannya seperti itu …</p>
<p>Astaga, Za! Apa yang kamu pikirkan? Mendadak ia jengah sendiri. Tapi bukankah sejak sore tadi ia lebih banyak melamun ketimbang memperhatikan pemandangan yang disodorkan The Peak? Bahkan kalau mau jujur, sejak semalam ia sudah berulangkali memergoki dirinya terperangkap dalam lamunan. Semalam ia ingat, besok atau tepatnya hari ini, 14 Februari. <em>Valentine’s day</em>. Dan entah mengapa, sejak awal ia berharap sesuatu yang istimewa akan terjadi pada dirinya. Sesuatu yang – barangkali – akan mengubah hari-harinya. Sesuatu yang …</p>
<p>Valentine? Aha, sejak kapan ia memikirkan valentine? Empat hari lalu? Atau empat bulan lalu?</p>
<p>Mungkin ini yang namanya senjata makan tuan. Karena dulu, Zaza paling sering meledek sahabat-sahabatnya saat mereka kasak-kusuk menyambut valentine’s day.</p>
<p>“Gak ada hari laen, apa? Emang kalo gak 14 Februari, lo gak cinta ama gebetan lo itu? Gue sih tiap saat punya milyaran cinta untuk semua. Gak harus nunggu sampai Februari. Ambil neh … mmuaahhh … muaaahhh…,” suara mirip kecupan menghambur dari bibir mungilnya.</p>
<p>Lalu, seperti biasa, sahabatnya – Diby, Jihan, dan Wulan – hanya mendelik gemas. Hanya sesaat. Setelah itu mereka ribut lagi membahas mau ngasih kado apa ke cowok masing-masing di hari valentine nanti. Mereka berbincang seolah ia tak ada di antara mereka.</p>
<p>Dicuekin begitu, Zaza gak merasa terabai. Toh sejak awal ia tidak tertarik terlibat dengan hal-hal berbau valentine. Pertama, mungkin karena ia memang belum punya cowok. Tidak seperti ketiga sahabatnya itu – Wulan bahkan sudah bertunangan. Dan kedua, sejarah tentang valentine yang didengarnya simpang siur. Gak melulu positif. Lagipula, bukankah setiap saat seharusnya adalah hari kasih sayang?</p>
<p>Tapi kali ini berbeda. Dan yang membuatnya tergugu, karena ia kini sendirian – jauh dari sahabatnya – namun dengan benak yang dipenuhi pikiran tentang valentine.</p>
<p>Menyadari itu, ada perih yang meleleh dan merambat hingga ke ulu hatinya. Perih yang tak ia ketahui wujudnya. Ia kini semakin yakin, ia tengah jatuh cinta. Dan yang membuatnya ngilu, karena ia merasa jatuh cinta pada orang yang salah. Kenapa harus pada si rambut kriwil itu? Seseorang yang ia tahu begitu istimewa bagi Lala – kakaknya. Apakah ia jatuh cinta hanya sekadar untuk menyemai rasa sakit, kecewa, dan luka?</p>
<p>“Hai Za, mau ke mana?” Di selasar yang menghubungkan Royal Park Hotel dan New Town Plaza, cowok itu menghadangnya sore tadi.</p>
<p>“Saya …,” sosok itu berdiri tepat di depan hidungnya. Membuatnya tergeragap. Ia hampir saja menabraknya.</p>
<p>“Jalan kok melamun!” Mulut dan mata di depannya sama tersenyum.</p>
<p>Zaza gelagapan, separuh jengah. Mendadak, batinnya ribut. Dan ia merutuk dirinya sendiri. Ah, kenapa sih gak bisa bersikap normal di depan dia? Biasa-biasa aja ‘kali Za, gumamnya di hati. Toh, ia bukan sesiapa bagi dirimu.</p>
<p>“Ke mana?” Cowok itu kembali memecah lamunannya.</p>
<p>Dihelanya nafas. “Mau ke The Peak!”</p>
<p>“Sendirian? Sore begini?” Ada kekhawatiran mengalir dalam suara itu.</p>
<p>Zaza mengedikkan bahu. “The Peak justru cantik di waktu malam!” Katanya sok tahu. “Sori Kak, buru-buru nih. Kutinggal, ya!” Diseretnya langkahnya.</p>
<p>“Hei, aku boleh ikut?” Cowok itu merendengi langkahnya.</p>
<p>Mulut Zaza ternganga. Sedetik ia ragu, tapi kemudian ia menggeleng. Ia sedang kecewa. Lagipula, ia ingat, Lala sendirian di kamar hotel. Semalam kakinya terkilir. Dan pagi tadi, setelah semalaman cowok itu membantu mengurutnya, Lala mulai bisa menggerakkan kakinya tanpa harus meringis. Rencananya, sore ini Lala akan mencoba jalan-jalan ke Hong Kong Heritage Museum. Di sana ada kafe dan toko souvenir yang beroperasi dari pukul 10.00 pagi hingga 19.00 malam. Atau, kalau gak, dia bilang akan mengunjungi Snoopy’s World yang ada di lantai 3 New Town Plaza, atau mungkin belanja di Ikea yang hanya selemparan batu dari kamar hotelnya. Lala tentu butuh teman, betapapun dekat tujuannya. Lala tidak biasa berjalan sendirian ke mana-mana, sebagaimana dirinya. Lagipula, masak ia jalan dengan pacar kakaknya, sementara Lala sendirian?</p>
<p>“Maaf, Kak. Kali ini aku mau sendiri aja. Lagi pula, kita udah janji ‘kan, hari keempat, hari bebas! Aku gak percaya kakak gak punya agenda hari ini….”</p>
<p>“Tapi The Peak cukup jauh lho, Za!”</p>
<p>Ah ya, tentu. Ia sudah memelototi peta saat di kamar tadi. Guntingan peta bahkan sudah bertengger di sakunya. Hotel mereka terletak di wilayah Sha Tin, tepatnya di Pak Hok Ting Street. Ia harus menumpang KCR dari stasiun kereta yang ada di basement New Town Plaza, menyeberangi pulau dari New Territories hingga ke pulau Hong Kong, melewati 8 stasiun – termasuk stasiun keberangkatan dan kedatangan, dengan sekali <em>interchange</em> di stasiun Tsim Sha Tsui. Ia nanti harus turun di stasiun Central, dan exit di pintu J2.</p>
<p>“Kata papa, naik kereta api di Hong Kong aman kok. Bahkan sampai kereta terakhir, jam duabelas malam!” ujar Zaza.</p>
<p>“Yakin?”</p>
<p>Zaza mengangguk.</p>
<p>Dan si Kriwil itu akhirnya hanya angkat bahu sembari menggaruk kepalanya.</p>
<p>***</p>
<p>(bersambung)</p>
<p> </p>
<p><strong>(Dimuat di Majalah STORY edisi 7 - Januari 2010)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2010/02/opera-musim-dingin-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>klaim kepada dua pihak?</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2009/11/klaim-kepada-dua-pihak/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2009/11/klaim-kepada-dua-pihak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 01:40:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nine to Six]]></category>

		<category><![CDATA[asuransi]]></category>

		<category><![CDATA[indemnitas]]></category>

		<category><![CDATA[indemnity]]></category>

		<category><![CDATA[subrogasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[RAMADHAN telah usai. Musim liburan juga telah selesai. Kini masyarakat kembali menjemput rutinitas. Selain harapan tentang ketaqwaan yang meningkat seusai menjalani puasa sebulan penuh, adakah hal lain yang tersisa?
 

Tentu. Salah satunya, terkait dengan mudik. Mudik ternyata tidak selalu menjadi ajang melepas kangen, bermaaf-maafan. Mudik juga tidak melulu cerita tentang kegembiraan berjumpa sanak famili. Tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">RAMADHAN telah usai. Musim liburan juga telah selesai. Kini masyarakat kembali menjemput rutinitas. Selain harapan tentang ketaqwaan yang meningkat seusai menjalani puasa sebulan penuh, adakah hal lain yang tersisa?</span></span><span id="more-258"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Tentu. Salah satunya, terkait dengan mudik. Mudik ternyata tidak selalu menjadi ajang melepas kangen, bermaaf-maafan. Mudik juga tidak melulu cerita tentang kegembiraan berjumpa sanak famili. Tidak sedikit mengalami sebaliknya: justru menjelma tragedi . </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Mobil saya mengalami kecelakaan di jalur Pantura,” kisah seorang teman. “Untung kami sekeluarga selamat.<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Hanya mobil saya aja yang ringsek,” sambungnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"><!--more-->Tapi itu cukup menjadi persoalan serius. Syahdan, teman saya sempat bersitegang dengan pengendara mobil yang menabraknya. Tidak hanya adu mulut, tapi nyaris adu fisik – kalau saja tidak ada petugas dan pengendara lain yang melerai. Seolah aktivitas di bulan suci tidak menyisakan jejak di batin. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Masalahnya, orang yang mau menabrak saya itu tidak mau bertanggung jawab!” cerita teman saya sengit. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Lho, kenapa harus repot-repot memintai pertanggungjawabannya? Bukankah mobilmu diasuransikan?” timpal saya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Ya, tapi ‘kan lumayan kalau saya bisa mendapatkan ganti rugi dari dua pihak: dari perusahaan asuransi dan yang menabrak saya…”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Sayangnya, prinsip asuransi tidak memungkinkan itu terjadi. Asuransi tidak mengajari seseorang menjadi licik dan jahat. Apalagi serakah. Dalam perjanjian asuransi ada sejumlah doktrin yang tidak bisa dilanggar. Salah satunya, prinsip “indemnitas”. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Dalam indemnitas atau prinsip perjanjian penggantian kerugian, perusahaan asuransi sepakat hanya akan membayar kerugian sesungguhnya yang diderita oleh tertanggung (pihak yang diasuransikan). Tujuan perjanjian ini adalah menentukan kisaran beban risiko perusahaan asuransi terhadap tertanggung. Setinggi-tingginya jumlah ganti rugi yang dibayarkan perusahaan asuransi, tidak akan melampaui batas tertinggi kewajibannya untuk memulihkan tertanggung kepada posisi ekonomi yang sama sebelum terjadinya kerugian. “Jadi, nggak mungkinlah perusahaan asuransi membayar jika kamu sudah memperoleh ganti rugi itu dari pemilik mobil yang menabrak kamu. Kalau itu terjadi, pasti akan banyak penjahat asuransi – pemilik mobil akan sengaja menabrakkan mobilnya agar bisa memperoleh penggantian dua kali lipat,” terang saya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Lho, perusahaan asuransi ‘kan tidak harus tahu kalau saya sudah mendapatkan penggantian kerugian dari pihak lain?” tukasnya ngeyel. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Dalam pikiranmu, apakah perusahaan asuransi akan percaya begitu saja pada laporanmu, dan tidak akan melakukan penyelidikan terkait dengan muasal kecelakaan dan siapa pihak-pihak yang terlibat?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Digaruknya kepalanya yang kuduga tidak sedang berketombe. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="IN">Sebetulnya, ada cara yang lebih mudah tanpa harus bersitegang. Selain indemnitas, perjanjian asuransi<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>dilengkapi prinsip </span><span style="font-family: ">“</span><span style="font-family: " lang="IN">subrogasi</span><span style="font-family: ">”</span><span style="font-family: " lang="IN">. Subrogasi memberi dan mengalihkan hak tertanggung kepada perusahaan asuransi untuk berurusan dengan pihak ketiga yang terkait dengan peristiwa penyebab kerugian, jika asuransi telah membayarkan ganti rugi. Dalam peristiwa kebakaran misalnya, jika itu terjadi akibat kelalaian tetangga, maka sebagai pemilik rumah yang ikut menjadi korban, Anda berhak menuntut ganti rugi pada tetangga dimaksud. Tapi jika rumah Anda diasuransikan, maka perusahaan asuransi akan membayar ganti rugi, dan selanjutnya memperoleh hak untuk berurusan dengan tetangga Anda itu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Jadi, mestinya kamu gak perlu sampai berantem mulut begitu. Cukup laporkan kecelakaan itu ke petugas kepolisian terdekat dengan TKP. Lalu kamu meminta identitas pengendara dan/atau pemilik mobil yang menabrakmu. Selanjutnya, serahkan pada petugas asuransi,” saran saya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Mata teman saya mengerjap antusias. “Kok nggak kepikiran, ya?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: left;" align="left"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Pertama, karena ia pasti luput membaca polis secara cermat. Kedua, karena mungkin memang ia terbiasa mendahulukan otot ketimbang otak. Mas, mas …<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>cakep-cakep kok bawaannya berantem, ya?***</span></span></p>
<p>(dimuat di Majalah INFOBANK edisi 367, Oktober 2009, hal. 86)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2009/11/klaim-kepada-dua-pihak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>gerimis malam</title>
		<link>http://www.ryanamustamin.com/2009/11/gerimis-malam/</link>
		<comments>http://www.ryanamustamin.com/2009/11/gerimis-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 01:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ryana Mustamin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sihir Kata]]></category>

		<category><![CDATA[anita]]></category>

		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[rumpa'na bone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ryanamustamin.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Ryana Mustamin
 
 
 
BETAPA manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku?
 
Langit kelabu malam ini. Ranting delima di samping kamar bergetar dipermainkan angin gelisah. Mega berarak, menabiri bulan yang pucat. Rinai hujan mengetuk-ngetuk jendela kaca. Ujung Pandang yang basah, udara dingin yang menusuk, tak mampu membuat mataku terkatup.
 
Oh, Lolo. Betapa waktu cepat berlari. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Cerpen Ryana Mustamin</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: "><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: "><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: "><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">BETAPA manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"><span id="more-257"></span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Langit kelabu malam ini. Ranting delima di samping kamar bergetar dipermainkan angin gelisah. Mega berarak, menabiri bulan yang pucat. Rinai hujan mengetuk-ngetuk jendela kaca. Ujung Pandang yang basah, udara dingin yang menusuk, tak mampu membuat mataku terkatup.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Oh, Lolo. Betapa waktu cepat berlari. Betapa banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada dirimu. Dan aku belum siap menerimanya…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Aku tak ingin memakai pita-pita ini!” katamu beberapa waktu lalu sambil merengut. “Aku pun bosan dengan rambut yang dikucir terus-menerus!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Lo…,” aku menatapmu tak senang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Tidak!” Kau memotong, keras kepala. Tanganmu secara serabutan membuka jalinan rambutmu yang baru saja kujalin dengan rapi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Lolo!” Suaraku mirip pekikan. Kasar, dan membuatmu mundur selangkah. Matamu menyipit. Kau mirip kucing kecil yang kebingungan dan ketakutan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Aku… aku tak ingin jadi bahan ledekan teman-teman,” suaramu terbata. “Kata mereka, aku seperti murid SD. Aku ingin tampil lebih dewasa, Kak Tenri!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku terbeliak. Mendadak sebuah ketakutan membelengguku. Kau ingin tampil lebih dewasa! Oh, betapa aku tidak ingin melihatmu demikian, Lolo!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Izinkan aku mengubah model rambutku, Kak!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Jangan!” Aku menggeleng tegas. Tubuhku tiba-tiba menggigil. “Kupinta, jangan! Itu kalau kau masih sayang pada Kakak!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Aku nggak ngerti…!” Kau mengeluh.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku menggigit bibir. Hatiku pedih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kak…,” matamu yang bulat kecil mengawasiku, penuh tuntutan. Jangan menyiksaku, Lolo!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Rambutmu indah, Adikku!” Aku meraih kepalamu yang mungil, lalu menenggelamkannya di dadaku. Aku tak ingin kau menemukan ketidakjujuran di mataku. “Kau mewarisi rambut Mama almarhumah,” kataku kemudian. “Melihatmu, kakak seperti melihat Mama kembali..,” ada yang hangat di pipiku. Aku tidak tahu apakah aku menangis karena mengenang Mama, ataukah menangisi ketidakjujuran yang kubuat padamu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kak Tenri!” Wajahmu menengadah. Pias sekali. Sementara bibirmu bergetar. “Maafkan aku, Kak!” Matamu berkaca.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kutekan kuat-kuat keharuan yang menyesak. Rambutmu yang panjang kuacak dengan perasaan kasih yang sarat. Oh, Lolo, kau tak boleh mengerti…! Jangan nodai hari-harimu dengan sebuah kemelut. Duniamu adalah dunia yang tak terjamah oleh persoalan….</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Betapa manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Bentangan cakrawala teramat kelam. Pucuk akasia bergoyang di bawah siraman hujam. Mendung menggumpal, membunuh kerlip bintang di kejauhan. Gerimis berpesta pada genteng rumah. Ujung Pandang yang basah, suasana sunyi yang mencekam, menerbangkan aku pada hari-hari kemarin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Oh, Lolo. Kekhawatiran demi kekhawatiran telah kau sempurnakan menjadi sebuah ketakutan. Aku ngeri menghadapinya…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Lolo!” Suaraku memekik sebelum tiba pada pada anak tangga paling bawah. Kau tak pernah tahu, betapa aku geram menyaksikan mobil merah hati yang baru saja meninggalkan halaman.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kakak memanggilku!” Kau tersenyum lembut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku membuang muka. Ada yang sakit di hatiku. Suaraku yang keras, masih belum tertangkap sempurna oleh indera pendengarmu. Tentu saja, kau terlalu sibuk dengan kebahagiaan yang tengah berdansa di hatimu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Siapa lelaki itu?” Aku menyambar liar matamu yang penuh gemintang. Kucoba memutarbalikkan semua kebahagiaan yang tengah kau miliki.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kakak lupa? Kak Tenri kan pernah …”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Aku butuh namanya, Lolo!” Aku memotong, tak ingin kompromi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Yan…,” suaramu ragu-ragu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Pacarmu?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kakak tak menyukainya?” Kau balik bertanya, hati-hati. Gurat-gurat pada matamu menegang. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Oh, aku tak bermaksud membuat jurang di antara kita, Adikku! Meski usiaku terpaut enam tahun darimu. Namun di puncak ketakutanku, adakah sikap lain yang bisa menjadi pilihan?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kak Tenri!” Kau menyentuh lenganku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Usiamu masih terlalu belia, Lolo!” Aku mencoba bersikap lunak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Aku sudah kelas dua SMA!” Kau membantah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Dan kau merasa sudah cukup dewasa?” Aku menatapmu dengan tatapan tajam menusuk.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kau menggigit bibir dengan kecut. “Aku tidak bisa memahami Kakak!” Kau lagi-lagi mengeluh. Manik matamu mulai tersaput jelaga, memadamkan gemintang yang berkilauan di situ. “Aku yakin itu bukan alasan utama mengapa Kakak selalu melarangku berteman akrab dengan seorang lelaki.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku tersedak. Mata kecilmu yang dihiasi bulu mata lentik kutatap dengan gelisah. Lolo, gadis kecilku…. Rasanya baru kemarin aku membantu Mama mengganti popokmu, kini tiba-tiba kau berubah menjadi sosok yang asing bagiku. Kau bukan lagi adik kecil yang kumanja, yang tiap hari kujalin rambutnya. Kau adalah sosok yang berangkat dewasa, sosok yang mampu meraba hatiku. Oh Mama, kau lihatkah? Aku tidak menginginkan masa remaja begitu cepat datang untuk adikku, aku tidak ingin Lolo mengenyam dunia itu di saat tiang keluarga tengah melewati hari-hari buram…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Mengapa Kak tenri diam?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Lolo,” aku membasahi bibirku yang terasa kering. “Kakak tidak ingin melihat seorang lelaki pun di rumah ini!” Kataku akhirnya, berusaha terus-terang. Kau ternyata bukan lagi gadis kecil yang bisa dininabobokkan dengan dongeng.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kakak membenci lelaki?” Kau menatapku khawatir.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Ya,” aku mengangguk pasrah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Karena Papa?” suaramu parau.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Lagi-lagi aku mengangguk. Kutatap wajahmu yang sendu. Dan kuputuskan untuk menyingkap tabir yang selama ini menutup rapat hatiku….</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Malam-malam hening selalu terlewatkan dengan berbagai cerita Papa. Aku memulai, “Kakak sudah kelas enam SD waktu itu, sementara kau masih sibuk bermain panda.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Sering Papa mengajakku ke pantai. Kami berlarian di pasir putih, menyaksikan nelayan di kejauhan, dan Papa akan bercerita tentang Pinisi…”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Pinisi?” Matamu membulat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Aku yakin kau baru mengenalnya sekarang, setelah perahu tangguh nelayan Bugis itu mengharumkan nama Indonesia!” Aku mengukir seulas senyum.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kau mengangguk membenarkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Papa juga rajin bercerita tentang daerah leluhurnya. Papa bangga lahir sebagai putra keturunan raja dari Kerajaan Bone dahulu. Meskipun katanya Kerajaan Bone telah dihancurkan pada tahun 1905 – dikenal dengan peristiwa Rumpa’na Bone, namun semua orang tetap mengenang kejayaan kerajaan yang terkenal di Indonesia Timur itu,” mataku menerawang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kau tak mengusik. Dengan cara begitu kau seakan membiarkan aku menganyam kembali kenangan dengan Papa. Betapapun selama ini aku berusaha mengubur hari-hari manis itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="IN">“Kau pun mesti bangga sebagai putri Papa, </span><span style="font-family: ">T</span><span style="font-family: " lang="IN">enri!” kata Papa waktu itu. Matanya penuh kemila</span><span style="font-family: ">u</span><span style="font-family: " lang="IN">, menyimpan semangat yang tak pernah padam, dan membuatku menjadikan Papa sebagai panutan yang tak ada duanya. “Kau mengerti mengapa Papa memberimu nama Tenri, dan adikmu Lolo?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku menggeleng.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Itu nama khas Bugis Bone. Besok Papa akan menjelaskan artinya. Sekarang tidurlah!” Papa menatap lunak, lalu mengecup dahiku sekilas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="IN">Air mataku jatuh. Penjelasan esok hari itu ternyata tak pernah dat</span><span style="font-family: ">a</span><span style="font-family: " lang="IN">ng. Aku hanya tahu namaku – Andi Tenri Pada, dan adikku Andi Lolo Gading – tanpa sekalipun mengerti maknanya. Papa tak pernah lagi hadir di kamarku untuk bercerita. Semua malam-malam kenangan itu menguap, terenggut oleh kehadiran seorang Tante Tia. Dan, puncaknya, kemelut yang dihadirkan Papa menggerogoti jiwa Mama secara perlahan, hingga Tuhan datang menjemputnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kak Tenri…,” tanganmu yang dingin menyentuhku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku mengerjapkan mata, menghalau duka di hatiku dan di matamu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kau masih ingin mendengarnya, Lo?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kau menggeleng kuat-kuat. Bola-bola bening berjatuhan dari sudut matamu. “Aku tidak bermaksud mengingatkan Kakak pada sebuah luka!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku menggeleng, mencoba tersenyum. Kau bijak, Adikku! Kau memang belum mengerti dan merasakan semua untaian hari-hari kelam itu, hingga kau tak merasakan kesedihan yang sama denganku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Betapa manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Angkasa hitam sekali. Helai-helai rerumputan di halaman rebah ditimpa hujan. Awan hitam menggantung, menghalangi sinar bulan dan bintang. Titik air membasahi daun, ranting, dan dahan. Ujung Pandang yang basah, lampu kamar yang temaram, memaksaku mengais kenangan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Lolo, Adikku! Kalau hanya penyelewengan Papa, barangkali itu masih sebuah kesalahan yang bisa dimaafkan. Tapi, Papa ternyata menghadirkan kita ke dunia hanya untuk menjadi putri seorang koruptor. Putri koruptor, Lolo!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Anton, Papa … Papa ditahan!” Tangisku meledak. Kau tahu Anton itu siapa, Lolo? Ia satu-satunya tempatku mengadu setelah Papa menjadi milik Tante Tia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Ada keterkejutan di matanya, Adikku. Keterkejutan yang lambat laun menjadi sebuah kekecewaan. Mendadak ia begitu asing bagiku. Tatapannya, senyumnya, teramat jauh untuk kugapai kembali. Oh, mengapa ia justru menjauh pada saat aku membutuhkan perlindungannya?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku menggigit bibir kuat-kuat. Jarak-jarak yang melebar dan lengang membentang di pelupuk mataku. Betapa aku goyah. Aku tidak siap dengan kesendirian yang panjang. Haruskah malam-malam pekat kulewatkan dengan belajar membunuh kenangan yang pernah kurajut bersamanya?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="IN">Tapi itulah yang mesti kulakukan, Adikku! Suka atau tidak suka. Wajah yang pernah menjadi tempat membagi sepiku terdalam, pernah memagut resah dan kemelutku saat Mama berpulang, ternyata kemudian menor</span><span style="font-family: ">e</span><span style="font-family: " lang="IN">h luka yang sama seperti yang ditorehkan Papa…</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Tenri, kurasa hubungan kita tak mungkin berlanjut!” katanya kemudian sambil menatap lukisan di dinding.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Ton,” lidahku kelu. Mataku mendadak perih. “Aku tidak mengerti…,” suaraku kering.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Orangtuaku tak menyetujui hubungan kita.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Duh Mama, karena Papa koruptor? Karena Papa kini tak lebih dari seorang narapidana? Karena aku bukan lagi Tenri yang membawa Civic ke sekolah?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Maafkan aku,” katanya pelan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">O, lelaki! Apakah mereka ditakdirkan untuk memutarbalikkan semua kebahagianku? Apakah mereka dihadirkan untuk membunuh semangat hidupku? Apakah mereka dilahirkan hanya untuk membuat duniaku gelap-gulita?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Trauma itu begitu membekas, Lolo! Menghidupkan dendam yang tak pernah padam pada setiap lelaki. Dan aku tidak ingin kau mengikuti jejakku. Terlalu pahit, Adikku! Dan itulah yang membuatku takut melihat masa remaja yang datang untukmu. Itulah yang mebuatku melarangmu berteman akrab dengan seorang lelaki.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Menjenguk Papa?” Mataku terbeliak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kau mengangguk dengan mata memelas. “Tiga tahun Papa mendekam dalam penjara. Apakah waktu yang sekian lama belum membunuh dendam Kakak?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Tidak!” Aku menggeleng tegas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Kak Tenri…,” matamu kembali berkaca.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Oh, aku tak pernah ingin membuatmu berduka. Kau adalah milikku satu-satunya di dunia ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kau termangu, menatap bingkai jendela dengan tatapan kosong. “Kakak membenci semua lelaki, padahal tidak semua lelaki demikian…,” desismu kering.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku tersentak. “Lolo…!” Batinku mendadak panik. “Kau mengambil kesimpulan dari mana?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Yan memberiku keyakinan demikian!” suaramu mantap.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Yan? Ia tahu tentang Papa?” Urat syarafku meregang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Kau mengangguk. “Ia telah berulang kali mengajakku untuk membezuk Papa.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Aku terperangah. Seluruh persendian tubuhku mendadak kelu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: " lang="IN">“Ya!” Kau menguatkan. “Kalau Yan mau menerima keadaan Papa, mengapa Kakak ta</span><span style="font-family: ">k</span><span style="font-family: " lang="IN"> mau memaafkannya?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">“Lolo…,” desisku parau. Ada yang berkilauan jatuh dari sudut mataku. Oh, kau telah mengoyak keangkuhanku, Adikku!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Betapa manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku? Bermimpi tentang bidadari cantik yang turun dari kayangan? Bermimpi tentang Yan? Atau bermimpi tentang Papa?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;">Tidurlah! Besok pagi, usiamu sudah tujubelas tahun. Sambutlah dunia remaja dengan sekuntum senyum. Dan sebagai hadiah ulang tahunmu, kita – aku, kau, dan Yan – akan menjenguk Papa, meniupkan semangat kehidupan padanya, agar Papa tabah menjalani hari-hari buram di balik jeruji besi, hingga kembali menjadi milik kita dan meninggalkan dinding kusam berlumut itu….***</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-size: small;"><em><span style="color: #000000;">(Cerita Utama Majalah ANITA CEMERLANG edisi 223, 19 Februari - 1 Maret 1987)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; line-height: normal;"><span style="font-family: " lang="IN"><span style="font-size: small;"> </span></span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ryanamustamin.com/2009/11/gerimis-malam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
