Cerpen Ryana Mustamin
Bandara Cengkareng - Jakarta, 22 tahun silam…
Pagi masih serupa pusara waktu. Kedap, dingin, dan ngelangut. Hanya sedikit denyut di depan ruang tunggu keberangkatan: beberapa orang portir yang belum sepenuhnya menghimpun semangat, seorang backpacker yang lelap di bangku panjang, dan sejumlah mobil yang gigil dilindas gerimis.
(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin
Dan pagi tadi, Zaza masih menangis di kamar mandi. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan hatinya serawan ini. Seperti diiris-iris. Di bath tup, ia membiarkan shower terus memuncratkan air, membasuh wajahnya. Meluruhkan bulir-bulir air matanya. Berkali-kali ia menyusutnya, dan berkali-kali pula ia mengintipnya di cermin. Apakah matanya sembab? Apakah Lala […]
(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin
Dengan perasaan rawan ia terus menekuri dan menuruni anak tangga. Melalui jendela kaca ia menyaksikan halaman The Peak Galleria sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih membunuh waktu dengan duduk di bangku-bangku yang tersedia di halaman galeri. Rasanya ia baru saja bertandang di sekitar tempat itu, sebelum mendaki […]
(Novelet Remaja) - Oleh Ryana Mustamin
Kendati demikian, diam-diam ada penyesalan bersemayam di dada Zaza. Toh, semalam Lala sebetulnya sudah menawarkan jasa agar si Kriwil itu mengantarnya saat dia mengutarakan niat akan berkunjung ke The Peak. Ya, kalau saja ia tak menolak ditemani, kalau saja cowok itu ikut bersamanya di sini – berduaan di pucuk Peak […]

