Jendela

mengintip pusat pentadbiran malaysia

April 16th, 2010


SUDAH sering saya berkunjung ke Malaysia. Tapi kunjungan pada akhir Februari 2010 lalu, adalah lawatan perdana saya ke Putrajaya. Kota ini relatif masih belia. Konstruksi awalnya baru dipancang pada Agustus 1995, dan baru akan rampung pada 2015.

“Putrajaya adalah pusat pentadbiran pemerintah Malaysia,” terang Norma, penduduk asli Kuala Lumpur (KL) yang menyertai saya.

Melihat dahi saya berkerut, ia buru-buru menjelaskan. “Pentadbiran. The meaning is administration!”

Oh! Saya mengangguk-angguk. “Kalau di Indonesia, kami menyebutnya pusat administrasi pemerintahan!”

Lalu saya mendengar tawanya. “Bahasa Indonesia itu lucu,” katanya dalam aksen Malaysia yang kental. “Suka mengambil Bahasa Inggris begitu saja!” sambungnya.

Dan, saya melongo. Ingin mendebat, tapi batin saya mengingatkan: saat ini saya tengah menjadi tamu di negaranya. Lagipula, sejak awal ketemu di bandara, saya sudah merasa sosok di depan saya itu mengidap superiority syndrome berhadapan dengan warga Indonesia. Sepanjang perjalanan, ia selalu mengaitkan kata Indonesia dengan pembantu rumah tangganya!

Dari KL, Putrajaya hanya berjarak tempuh 25 kilometer ke arah utara (atau ke arah selatan jika anda bertolak dari Kuala Lumpur International Airport di Sepang). Semula,kota yang digagas Mahathir Muhammad ini masuk dalam wilayah Prang Besar - bagian dari Kerajaan Selangor. Tapi sekarang, tentu mandiri, karena statusnya menjadi wilayah federal – seperti halnya KL dan Pulau Labuan.

Menurut Norma, kehadiran Putrajaya bukan dimaksudkan menggantikan posisi KL – meski sebagian perannya direduksi. Tapi lebih kepada upaya memecah kepadatan. KL kini diposisikan sebagai kota bisnis – wilayah komersial, sementara Putrajaya dikonsentrasikan sebagai pusat pemerintahan. Nama Putrajaya sendiri bermuasal dari nama Perdana Menteri Malaysia pertama, Tuanku Abdul Rahman Putra Al-Haj. Penambahan kata ‘Jaya’ merupakan ikhtiar dan harapan agar daerah ini bisa berkembang pesat.”Putrajaya nanti menjadi tanda kecemerlangan bangsa kami,” kata Norma, tak berusaha menyembunyikan kebanggaan.

Dia – tentu – layak bangga. Kota yang dipamerkannya ke saya itu ditata dengan perencanaan yang matang, berakar pada filosofi: keselasaran antara manasia dengan penciptanya, manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Karena itu, hampir 40% dari luas lahan yang tersedia digunakan untuk membangun tasik (danau) dan taman tropis. Kota ini juga dilengkapi dengan sarana peribadatan yang sangat memadai: masjid Putra – yang tingginya setara dengan bangunan berlantai 21 dan menampung 15 ribu jamah. Pemerintah Malaysia berharap kota ini dapat mengakomodasi kebutuhan sebuah kota modern yang tidak mengabaikan ekosistem dan unsur religiusitas. Dengan demikian, penduduknya diharapkan tidak gampang stress atau mengalami alienasi yang tidak perlu sebagaimana yang jamak dialami penduduk di berbagai kota modern di dunia.

Selain Masjid Putra, ada beberapa bangunan menarik lainnya. Yang paling mencolok, Monumen Millenium. Menurut Norma, bentuknya diilhami bunga kembang sepatu – bunga nasional negeri ini. Millenium terdiri dari tiga bagian yang mencerminkan tiga era Malaysia, yakni masa lalu, sekarang, dan masa depan – sesudah 2020. Monumen ini dibangun di atas taman seluas 25 hektar, dan dibuat dengan konstruksi metal. “Ini bangunan yang unik, karena di dalamnya ada beberapa kapsul waktu yang ditanam. Di antaranya milik Datuk Mahathir Mohammad. Kapsul itu berisi pesan dan baru boleh dibuka di tahun 2020 yang akan datang,” Norma bercerita panjang lebar. Sayang, karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa melihatnya dari jendela kendaraan.

Bangunan lain yang menarik, tentu, gedung perkantoran. Terutama kantor Perdana Menteri Malaysia.Gedung itu dinamai “Perdana Putra”. Letaknya di bukit utama. Hampir semua gedung di Putrajaya memiliki arsitektur unik – perkawinan antara gaya Melayu, Islam, dan Neoklasik Eropa.

Ciri Putrajaya lainnya adalah hadirnya banyak jembatan. Kalau gak salah, Norma bilang 7 (atau 9?). Yang jelas, bentuknya tidak ada yang sama. Yang paling cantik adalah jembatan Seri Perdana, melintasi tasik dengan 8 balkon. Panjangnya mungkin lebih dari 300 meter. Jembatan ini juga dilengkapi tempat pemberhentian, agar pengunjung bisa menikmati pemandangan kota.

Dari ketinggian bukit di halaman Putrajaya Convention Center, saya melebarkan horizon pandangan. Kota yang diprediksi akan dihuni 64.000 rumah dan menampung sekitar 320.000 penduduk ini memang tampak jelas masih terus berdandan. Norma bercerita, pembangunan Putrajaya menghabiskan biaya sekitar 5,9 bilion dolar Amerika. Tentu, tidak lepas dari kritik masyarakat Malaysia – terutama di awal-awal pembangunan. Tapi, pada akhirnya mereka bangga. “The city is our joy, our tears …,” ujar Norma, sepenuh kesungguhan.

Diam-diam, ingatan saya melayang ke Jakarta. Dulu, pernah ada gagasan untuk memindahkan wilayah pusat pemerintahan Indonesia ke daerah Jonggol, agar Jakarta tidak semakin macet. Mungkin, jika gagasan itu diteruskan sekarang, akan menuai umpatan karena sebagian rakyat kita hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi mungkinkah generasi berikutnya justru akan menyambutnya dengan kebanggaan seperti yang ditunjukkan Norma? Atau, seperti apa solusi untuk memecah kepadatan Jakarta? Apakah harus menunggu sampai Jakarta tenggelam karena beban yang demikian sarat? ***

Discussion

No comments for “mengintip pusat pentadbiran malaysia”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]