What's On

sastra untuk siapa?

March 17th, 2010


(sebuah catatan dari diskusi buku kumpulan cerpen ”Tukang Bunga & Burung Gagak”)

MANAKAH yang lebih penting, dunia yang dicerminkan cerpen, atau cerpen sebagai cermin itu sendiri?

Pertanyaan itu dilontarkan Seno Gumira Adjidarma (SGA) yang bertindak sebagai narasumber dalam diskusi buku kumpulan cerpen “Tukang Bunga & Burung Gagak (TBBG)” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu 13 Maret 2010.

Sayang, pertanyaan menarik itu hanya menguar di udara. Pengunjung diskusi tampaknya tidak terlalu tertarik menyoal hal itu. Mereka lebih tertarik pada hal-hal yang masih bersifat elementer: bagaimana proses kreatif seorang penulis fiksi, apa yang ingin dicapai penulis melalui karya-karyanya, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan normatif, yang tentu saja akan memperoleh jawaban-jawaban yang normatif pula.

Tapi sebagai bagian dari penulis TBBG, tentu saja apa yang dipertanyakan SGA tidak menguap begitu saja di benak saya. Pertanyaan itu bahkan terus mendengung hingga saya pulang dan berkubang di kamar. Jika cerpen boleh diandaikan sebagai cermin, setelah membaca kumpulan cerpen TBBG, dunia macam apakah kira-kira yang telah dicerminkannya?

Bukan pertanyaan mudah, tentu. Terutama ketika kembali menoleh pada histori lahirnya kumcer ini. TBBG semula hanya omong-omong iseng saya melalui blackberry dengan mas KJ (Kurniawan Junaedhie). Saya curhat soal keteledoran saya untuk tidak mengarsip dengan baik karya-karya fiksi saya di sejumlah media. Saya menulis fiksi ketika masih berusia belasan tahun, tapi saya nyaris tidak menyimpan rekam-jejak itu.

Dari omong-omong itu, saya dan mas KJ akhirnya sepakat ‘mengabadikan’ karya yang bisa ‘terselamatkan’dalam sebuah kumpulan cerpen. Dan agar buku ini sekaligus menjadi ‘reuni’ sejumlah sahabat, saya mengontak Mas Didi (Kurnia Effendi) dan Mbak Agnes Majestika. Setidaknya, “Menyimpan buku lebih mudah dibandingkan menyimpan majalah dan (apalagi) suratkabar,” kata Mas KJ.

Hasilnya? Bisa ditebak. Buku ini tidak tematis. Juga tidak melalui proses kurasi yang mendalam. Tapi, saya ingin menggarisbawahi, bahwa hal itu tidak berarti kualitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimana pun, kami berempat adalah penulis yang sangat peduli dengan kualitas karya ketimbang kuantitas (paling tidak dibuktikan dengan sejumlah hasil lomba menulis fiksi). Dan cerpen-cerpen itu adalah cerpen-cerpen yang sebagian besar sudah dimuat oleh media massa (dan karenanya melewati proses seleksi yang cukup ketat dari redaktur media masing-masing).

Sastra Pop dan Bukan Pop

Kendati demikian, tetap saja menyisakan pertanyaan-pertanyaan gugatan. Terutama jika dikaitkan dengan apa yang disepakati oleh sejumlah orang tertentu sebagai “karya sastra”.

“Boleh setuju atau tidak setuju, Tapi saya ingin menyatakan bahwa ini masih tergolong apa yang kita sebut sebagai ‘sastra pop’,” kata seorang peserta diskusi yang kemudian saya tahu bernama Edy Effendi. Ia lalu merujuk pada karya-karya semacam ”Laskar Pelangi” atau ”Ayat-ayat Cinta” yang dinilainya selamanya tidak akan pernah dikategorikan ’karya sastra’.

Agus Noor bahkan menegaskan bahwa sebuah karya sastra biasanya menarik perhatian jika ia menyalahi konvensi yang ada. “Ada bentuk-bentuk baru yang ditawarkan,” katanya. (meski ia mengaku baru membaca 1 cerpen TBBG di facebook mas KJ).

Anda pun boleh setuju atau tidak pada apa yang dilontarkan keduanya. Tapi, sebagai penulis, terus-terang, pernyataan dua orang inilah yang paling menarik buat saya (di samping telaahan SGA, tentu saja) sepanjang diskusi.

Perdebatan tentang apa itu ‘sastra pop’ dan ‘sastra bukan pop’ (sastra serius? sastra yang benar-benar sastra?) sudah saya dengar sejak pertama kali terjun dalam ranah penulisan fiksi – lebih dari 2 dekade silam. Saya pernah mengemukakan hal yang sama ke salah seorang wartawan senior yang banyak membaca karya saya saat itu. “Apa yang salah pada tulisan-tulisan popular? Mengapa sastra pop seolah derajatnya lebih rendah dibandingkan dengan ‘sastra bukan pop’? Apakah itu berarti bahwa ‘sastra pop’ dibuat lebih mudah dan enteng, dan sebaliknya ‘sastra serius’ lebih sulit dan berat?” Padahal, seperti yang ditulis mas Kurnia Effendi (Kef) di buku TBBG, “Tak ada niat untuk sembarangan. Menulis bagi saya, adalah sebuah dedikasi penuh cinta dan rasa hormat.”

Menjawab pertanyaan saya, wartawan itu hanya menjawab singkat. “Teruslah menulis, dan jangan pernah pusing dan terpengaruh dengan dikotomi-dikotomi itu. Apakah pembaca pernah memusingkan ini karya ‘sastra pop’ dan ini ‘sastra bukan pop’? Mereka hanya peduli apa yang kamu tulis itu memiliki nilai atau tidak bagi mereka.”

Sejak itu, saya menyudahi kegamangan saya. Saya memutuskan menulis saja apa yang mendesak ingin ditetaskan dari benak saya. Menulis dengan sungguh-sungguh, memberikan yang terbaik yang saya punyai saat itu. Menulis tanpa pretensi berlebihan, kecuali sebuah bentuk dedikasi kepada kehidupan. Menjauh dari sekadar keinginan ’gagah-gagahan’ – agar bisa menyandang gelar ’sastrawan’. Dalam batin saya, tugas saya hanya menulis. Selebihnya, biarlah publik yang menilai.

Kendati demikian, hal itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk memahami sastra secara lebih dalam, membaca karya-karya sastra terbaik, dan – terutama – membaca ulasan dari mereka yang menyebut diri sebagai kritikus sastra.

Tapi sastra untuk siapa? Di republik ini, saya hanya sering merasa kritikus semakin pintar untuk memilah-milah mana karya sastra dan mana yang bukan – berdasarkan parameter-parameter yang tidak selalu rigid. Kadang-kadang saya memergoki seseorang ditasbihkan menjadi ‘sastrawan’ hanya lantaran ia menetas di tengah-tengah komunitas yang menyebut dirinya ‘pelaku dan pemerhati sastra’ – meski jika ditelisik, karyanya tidak ada bedanya dengan apa yang sering digolongkan ‘sastra pop’. Atau sebaliknya, karena sibuk menyodorkan bentuk-bentuk baru – sebagaimana yang diinginkan Agus Noor – guna mendapatkan tiket gelar ‘sastrawan’, lalu menjadi lupa atau bahkan gagal merumuskan isi (content). Sastra di Indonesia, dalam hemat saya, tidak melulu tentang kualitas karya itu sendiri, tapi juga menyangkut hegemoni antar pelaku (atau kadang-kadang dengan bukan pelaku).

Sastra untuk siapa? Masyarakat awam tidak paham. Yang mereka paham, karya itu memiliki nilai bagi mereka atau tidak, mewakili pikiran dan perasaan mereka atau tidak. Para kritikus dan (sebagian yang menyebut diri mereka sastrawan) pandai memilah dan melekatkan label ‘ini karya sastra dan bukan sastra’, tapi lupa mendidik masyarakat untuk memahami parameter, konvensi, atau dalil sebagaimana yang mereka yakini sebagai karya sastra – sebagaimana yang mungkin tertuang dalam literatur-literatur sastra. Akibatnya, sebagian besar sastrawan kita tetap berumah di atas angin, teralienasi dari lingkungannya. Ekslusif di kantong-kantong komunitas tertentu, dan nyaris tak tersentuh dengan dunia di luar komunitas sastra karena secara sadar mereka membatasi diri untuk itu.Dalam kondisi demikian, apakah dunia sastra dalam pemahaman itu lantas memiliki arti penting bagi peningkatan kualitas kemanusiaan? Kapan sastrawan dan karya mereka bisa dinikmati dan didiskusikan masyarakat awam di kedai-kedai kopi sebagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia mengecap dan menghidu karya para maestro sastra?

Tafsir atau Pembermaknaan

Atas semua itu, tentu mengesankan bagi saya ketika SGA akhirnya hadir tidak dalam bingkai pembahasan tentang dikotomi ’sastra pop’ dan ’sastra bukan pop’, ’sastra konvensional’ dan ’sastra non konvensional’. Ia mengusung isu yang menurut saya lebih substansial. Karena menggunakan pendekatan pembacaan intertekstual dan multidisipliner. Menurut SGA, pembaca berhak sepenuhnya mengolah pembermaknaannya masing-masing, membebaskan cerpen atau apa saja dari kriteria “sastra”.

Salah satu bukti atas pembebasan itu (dan tentu mengesankan saya secara pribadi) adalah ketika SGA secara positif dan spontan membandingkan gaya kepenulisan saya dengan Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu saat menyoal isu perempuan mutakhir dalam cerpen bertajuk ”Dahaga”.

Mengapa perbandingan itu harus dengan Ayu dan Djenar – dua nama yang disebut-sebut sebagai sastrawan perempuan fenomenal? Mengapa tidak diperbandingkan dengan penulis perempuan yang berada dalam ranah sastra pop – jika cerpen saya dianggap sebagai bagian dari ’sastra pop’? Apakah karena SGA jarang mengonsumsi sastra pop hingga ia tidak tahu harus merujuk kepada siapa?

Apapun dalihnya, itu tidak penting. Yang terlihat, secara faktual, apa yang dianggap oleh sebagian orang sebagai ’sastra pop’ toh bisa bicara sama substantifnya dengan ’sastra bukan pop’.

”… tidak dapat saya ingkari bahwa “Dahaga” menempatkan dirinya dalam posisi penting, dalam hubungannya dengan perbincangan mitos tentang perempuan,” tutur SGA.

Menurutnya, konflik batin yang dapat diikuti dalam cerpen saya ini, tidak menutupi kehancuran mitos baru yang telah dibangun tokohnya di atas mitos lama: dengan pernyataan perempuan tidak wajib menikah dan tidak wajib punya anak, tokoh ”aku” telah menghancurkan mitos lama perempuan sebagai alat reproduksi; tetapi mitos baru bahwa perempuan mandiri mampu melepaskan diri dari ketergantungan kepada lelaki, dihancurkannya sendiri untuk kembali kepada mitos yang paling purba, bahwa desakan tubuh mengatasi penalaran dan mendapat pembenaran.

Cerpen ini, tulis SGA dalam catatan pengantarnya, berakhir dengan konflik batin, jadi pembaca dapat mengetahui betapa tiada makna yang dapat sungguh-sungguh menetap. Tergantung dari sudut mana memandangnya, pembaca dapat mengolah pembermaknaannya sendiri, apakah tokoh perempuan dalam cerpen “Dahaga” ini “kalah” karena mengorbankan prinsip, atau “menang” karena akhirnya mampu untuk menjadi tidak lagi munafik — dan dalam hal ini pula pembermaknaan pembaca yang dapat dipertanggungjawabkan tidak perlu ada yang “benar” maupun yang “salah”.

Nah, mendengar dan membaca catatan SGA ini, apakah yang disebut ”sastra” lantas tidak memiliki urgensi sama sekali? Tentu tidak demikian.

”Betapapun yang dibaca adalah tulisan, dan melalui tulisan itulah segala sesuatu ditafsirkan dalam pembermaknaan,” kata SGA. Jadi, bukan semata bentuk atau cara penyampaian. Tapi tidak kalah pentingnya, adalah substansi isi dari cerpen itu sendiri – bagaimana pembaca melakukan pembedaan antara “dunia yang dicerminkan cerpen” dan “cerpen sebagai cermin itu sendiri”, sebuah pembedaan konseptual yang dapat berlaku untuk tulisan yang sama — yang pertama berurusan dengan mitos, yang kedua berurusan dengan teks; dalam keduanya sudah terbangun tradisi pembermaknaannya masing-masing.

Dalam bahasa awam, kata SGA, membaca cerpen itu tidak perlu terikat kepada kriteria apapun — tidak ada benar dan salah, tidak ada indah dan tak-indah (atau dalam kesimpulan saya – bukan soal ’sastra pop’ atau ’sastra bukan pop’). Tetapi bagi pembaca pastilah ada suka dan tidak suka, karena wacana pembacalah yang menentukan makna, sedangkan wacana setiap pembaca itu tak mungkin persis sama.

Nah, apakah Anda bersepakat dengan SGA? ***

 

Tanggapan dan diskusi di facebook, kunjungi:

http://www.facebook.com/ana.mustamin?v=app_2347471856&ref=profile#!/note.php?note_id=399390080008

Discussion

No comments for “sastra untuk siapa?”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]