Sihir Kata

gerimis malam

November 4th, 2009


Cerpen Ryana Mustamin

 

 

 

BETAPA manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku?

 

Langit kelabu malam ini. Ranting delima di samping kamar bergetar dipermainkan angin gelisah. Mega berarak, menabiri bulan yang pucat. Rinai hujan mengetuk-ngetuk jendela kaca. Ujung Pandang yang basah, udara dingin yang menusuk, tak mampu membuat mataku terkatup.

 

Oh, Lolo. Betapa waktu cepat berlari. Betapa banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada dirimu. Dan aku belum siap menerimanya…

 

“Aku tak ingin memakai pita-pita ini!” katamu beberapa waktu lalu sambil merengut. “Aku pun bosan dengan rambut yang dikucir terus-menerus!”

 

“Lo…,” aku menatapmu tak senang.

 

“Tidak!” Kau memotong, keras kepala. Tanganmu secara serabutan membuka jalinan rambutmu yang baru saja kujalin dengan rapi.

 

“Lolo!” Suaraku mirip pekikan. Kasar, dan membuatmu mundur selangkah. Matamu menyipit. Kau mirip kucing kecil yang kebingungan dan ketakutan.

 

“Aku… aku tak ingin jadi bahan ledekan teman-teman,” suaramu terbata. “Kata mereka, aku seperti murid SD. Aku ingin tampil lebih dewasa, Kak Tenri!”

 

Aku terbeliak. Mendadak sebuah ketakutan membelengguku. Kau ingin tampil lebih dewasa! Oh, betapa aku tidak ingin melihatmu demikian, Lolo!

 

“Izinkan aku mengubah model rambutku, Kak!”

 

“Jangan!” Aku menggeleng tegas. Tubuhku tiba-tiba menggigil. “Kupinta, jangan! Itu kalau kau masih sayang pada Kakak!”

 

“Aku nggak ngerti…!” Kau mengeluh.

 

Aku menggigit bibir. Hatiku pedih.

 

“Kak…,” matamu yang bulat kecil mengawasiku, penuh tuntutan. Jangan menyiksaku, Lolo!

 

“Rambutmu indah, Adikku!” Aku meraih kepalamu yang mungil, lalu menenggelamkannya di dadaku. Aku tak ingin kau menemukan ketidakjujuran di mataku. “Kau mewarisi rambut Mama almarhumah,” kataku kemudian. “Melihatmu, kakak seperti melihat Mama kembali..,” ada yang hangat di pipiku. Aku tidak tahu apakah aku menangis karena mengenang Mama, ataukah menangisi ketidakjujuran yang kubuat padamu.

 

“Kak Tenri!” Wajahmu menengadah. Pias sekali. Sementara bibirmu bergetar. “Maafkan aku, Kak!” Matamu berkaca.

 

Kutekan kuat-kuat keharuan yang menyesak. Rambutmu yang panjang kuacak dengan perasaan kasih yang sarat. Oh, Lolo, kau tak boleh mengerti…! Jangan nodai hari-harimu dengan sebuah kemelut. Duniamu adalah dunia yang tak terjamah oleh persoalan….

 

***

 

 

Betapa manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku?

 

Bentangan cakrawala teramat kelam. Pucuk akasia bergoyang di bawah siraman hujam. Mendung menggumpal, membunuh kerlip bintang di kejauhan. Gerimis berpesta pada genteng rumah. Ujung Pandang yang basah, suasana sunyi yang mencekam, menerbangkan aku pada hari-hari kemarin.

 

Oh, Lolo. Kekhawatiran demi kekhawatiran telah kau sempurnakan menjadi sebuah ketakutan. Aku ngeri menghadapinya…

 

“Lolo!” Suaraku memekik sebelum tiba pada pada anak tangga paling bawah. Kau tak pernah tahu, betapa aku geram menyaksikan mobil merah hati yang baru saja meninggalkan halaman.

 

“Kakak memanggilku!” Kau tersenyum lembut.

 

Aku membuang muka. Ada yang sakit di hatiku. Suaraku yang keras, masih belum tertangkap sempurna oleh indera pendengarmu. Tentu saja, kau terlalu sibuk dengan kebahagiaan yang tengah berdansa di hatimu.

 

“Siapa lelaki itu?” Aku menyambar liar matamu yang penuh gemintang. Kucoba memutarbalikkan semua kebahagiaan yang tengah kau miliki.

 

“Kakak lupa? Kak Tenri kan pernah …”

 

“Aku butuh namanya, Lolo!” Aku memotong, tak ingin kompromi.

 

“Yan…,” suaramu ragu-ragu.

 

“Pacarmu?”

 

“Kakak tak menyukainya?” Kau balik bertanya, hati-hati. Gurat-gurat pada matamu menegang.

Oh, aku tak bermaksud membuat jurang di antara kita, Adikku! Meski usiaku terpaut enam tahun darimu. Namun di puncak ketakutanku, adakah sikap lain yang bisa menjadi pilihan?

 

“Kak Tenri!” Kau menyentuh lenganku.

 

“Usiamu masih terlalu belia, Lolo!” Aku mencoba bersikap lunak.

 

“Aku sudah kelas dua SMA!” Kau membantah.

 

“Dan kau merasa sudah cukup dewasa?” Aku menatapmu dengan tatapan tajam menusuk.

 

Kau menggigit bibir dengan kecut. “Aku tidak bisa memahami Kakak!” Kau lagi-lagi mengeluh. Manik matamu mulai tersaput jelaga, memadamkan gemintang yang berkilauan di situ. “Aku yakin itu bukan alasan utama mengapa Kakak selalu melarangku berteman akrab dengan seorang lelaki.”

 

Aku tersedak. Mata kecilmu yang dihiasi bulu mata lentik kutatap dengan gelisah. Lolo, gadis kecilku…. Rasanya baru kemarin aku membantu Mama mengganti popokmu, kini tiba-tiba kau berubah menjadi sosok yang asing bagiku. Kau bukan lagi adik kecil yang kumanja, yang tiap hari kujalin rambutnya. Kau adalah sosok yang berangkat dewasa, sosok yang mampu meraba hatiku. Oh Mama, kau lihatkah? Aku tidak menginginkan masa remaja begitu cepat datang untuk adikku, aku tidak ingin Lolo mengenyam dunia itu di saat tiang keluarga tengah melewati hari-hari buram…

 

“Mengapa Kak tenri diam?”

 

“Lolo,” aku membasahi bibirku yang terasa kering. “Kakak tidak ingin melihat seorang lelaki pun di rumah ini!” Kataku akhirnya, berusaha terus-terang. Kau ternyata bukan lagi gadis kecil yang bisa dininabobokkan dengan dongeng.

 

“Kakak membenci lelaki?” Kau menatapku khawatir.

 

“Ya,” aku mengangguk pasrah.

 

“Karena Papa?” suaramu parau.

 

Lagi-lagi aku mengangguk. Kutatap wajahmu yang sendu. Dan kuputuskan untuk menyingkap tabir yang selama ini menutup rapat hatiku….

 

***

 

Malam-malam hening selalu terlewatkan dengan berbagai cerita Papa. Aku memulai, “Kakak sudah kelas enam SD waktu itu, sementara kau masih sibuk bermain panda.”

 

 

“Sering Papa mengajakku ke pantai. Kami berlarian di pasir putih, menyaksikan nelayan di kejauhan, dan Papa akan bercerita tentang Pinisi…”

 

“Pinisi?” Matamu membulat.

 

“Aku yakin kau baru mengenalnya sekarang, setelah perahu tangguh nelayan Bugis itu mengharumkan nama Indonesia!” Aku mengukir seulas senyum.

 

Kau mengangguk membenarkan.

 

“Papa juga rajin bercerita tentang daerah leluhurnya. Papa bangga lahir sebagai putra keturunan raja dari Kerajaan Bone dahulu. Meskipun katanya Kerajaan Bone telah dihancurkan pada tahun 1905 – dikenal dengan peristiwa Rumpa’na Bone, namun semua orang tetap mengenang kejayaan kerajaan yang terkenal di Indonesia Timur itu,” mataku menerawang.

 

Kau tak mengusik. Dengan cara begitu kau seakan membiarkan aku menganyam kembali kenangan dengan Papa. Betapapun selama ini aku berusaha mengubur hari-hari manis itu.

 

“Kau pun mesti bangga sebagai putri Papa, Tenri!” kata Papa waktu itu. Matanya penuh kemilau, menyimpan semangat yang tak pernah padam, dan membuatku menjadikan Papa sebagai panutan yang tak ada duanya. “Kau mengerti mengapa Papa memberimu nama Tenri, dan adikmu Lolo?”

 

Aku menggeleng.

 

“Itu nama khas Bugis Bone. Besok Papa akan menjelaskan artinya. Sekarang tidurlah!” Papa menatap lunak, lalu mengecup dahiku sekilas.

 

Air mataku jatuh. Penjelasan esok hari itu ternyata tak pernah datang. Aku hanya tahu namaku – Andi Tenri Pada, dan adikku Andi Lolo Gading – tanpa sekalipun mengerti maknanya. Papa tak pernah lagi hadir di kamarku untuk bercerita. Semua malam-malam kenangan itu menguap, terenggut oleh kehadiran seorang Tante Tia. Dan, puncaknya, kemelut yang dihadirkan Papa menggerogoti jiwa Mama secara perlahan, hingga Tuhan datang menjemputnya.

 

“Kak Tenri…,” tanganmu yang dingin menyentuhku.

 

Aku mengerjapkan mata, menghalau duka di hatiku dan di matamu.

 

“Kau masih ingin mendengarnya, Lo?”

 

Kau menggeleng kuat-kuat. Bola-bola bening berjatuhan dari sudut matamu. “Aku tidak bermaksud mengingatkan Kakak pada sebuah luka!”

 

Aku menggeleng, mencoba tersenyum. Kau bijak, Adikku! Kau memang belum mengerti dan merasakan semua untaian hari-hari kelam itu, hingga kau tak merasakan kesedihan yang sama denganku.

 

***

 

Betapa manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku?

 

Angkasa hitam sekali. Helai-helai rerumputan di halaman rebah ditimpa hujan. Awan hitam menggantung, menghalangi sinar bulan dan bintang. Titik air membasahi daun, ranting, dan dahan. Ujung Pandang yang basah, lampu kamar yang temaram, memaksaku mengais kenangan.

 

Lolo, Adikku! Kalau hanya penyelewengan Papa, barangkali itu masih sebuah kesalahan yang bisa dimaafkan. Tapi, Papa ternyata menghadirkan kita ke dunia hanya untuk menjadi putri seorang koruptor. Putri koruptor, Lolo!

 

“Anton, Papa … Papa ditahan!” Tangisku meledak. Kau tahu Anton itu siapa, Lolo? Ia satu-satunya tempatku mengadu setelah Papa menjadi milik Tante Tia.

 

Ada keterkejutan di matanya, Adikku. Keterkejutan yang lambat laun menjadi sebuah kekecewaan. Mendadak ia begitu asing bagiku. Tatapannya, senyumnya, teramat jauh untuk kugapai kembali. Oh, mengapa ia justru menjauh pada saat aku membutuhkan perlindungannya?

 

Aku menggigit bibir kuat-kuat. Jarak-jarak yang melebar dan lengang membentang di pelupuk mataku. Betapa aku goyah. Aku tidak siap dengan kesendirian yang panjang. Haruskah malam-malam pekat kulewatkan dengan belajar membunuh kenangan yang pernah kurajut bersamanya?

 

Tapi itulah yang mesti kulakukan, Adikku! Suka atau tidak suka. Wajah yang pernah menjadi tempat membagi sepiku terdalam, pernah memagut resah dan kemelutku saat Mama berpulang, ternyata kemudian menoreh luka yang sama seperti yang ditorehkan Papa…

 

“Tenri, kurasa hubungan kita tak mungkin berlanjut!” katanya kemudian sambil menatap lukisan di dinding.

 

“Ton,” lidahku kelu. Mataku mendadak perih. “Aku tidak mengerti…,” suaraku kering.

 

“Orangtuaku tak menyetujui hubungan kita.”

 

Duh Mama, karena Papa koruptor? Karena Papa kini tak lebih dari seorang narapidana? Karena aku bukan lagi Tenri yang membawa Civic ke sekolah?

 

“Maafkan aku,” katanya pelan.

 

O, lelaki! Apakah mereka ditakdirkan untuk memutarbalikkan semua kebahagianku? Apakah mereka dihadirkan untuk membunuh semangat hidupku? Apakah mereka dilahirkan hanya untuk membuat duniaku gelap-gulita?

 

Trauma itu begitu membekas, Lolo! Menghidupkan dendam yang tak pernah padam pada setiap lelaki. Dan aku tidak ingin kau mengikuti jejakku. Terlalu pahit, Adikku! Dan itulah yang membuatku takut melihat masa remaja yang datang untukmu. Itulah yang mebuatku melarangmu berteman akrab dengan seorang lelaki.

 

***

 

“Menjenguk Papa?” Mataku terbeliak.

 

Kau mengangguk dengan mata memelas. “Tiga tahun Papa mendekam dalam penjara. Apakah waktu yang sekian lama belum membunuh dendam Kakak?”

 

“Tidak!” Aku menggeleng tegas.

 

“Kak Tenri…,” matamu kembali berkaca.

 

Oh, aku tak pernah ingin membuatmu berduka. Kau adalah milikku satu-satunya di dunia ini.

 

Kau termangu, menatap bingkai jendela dengan tatapan kosong. “Kakak membenci semua lelaki, padahal tidak semua lelaki demikian…,” desismu kering.

 

Aku tersentak. “Lolo…!” Batinku mendadak panik. “Kau mengambil kesimpulan dari mana?”

 

“Yan memberiku keyakinan demikian!” suaramu mantap.

 

“Yan? Ia tahu tentang Papa?” Urat syarafku meregang.

 

Kau mengangguk. “Ia telah berulang kali mengajakku untuk membezuk Papa.”

 

Aku terperangah. Seluruh persendian tubuhku mendadak kelu.

 

“Ya!” Kau menguatkan. “Kalau Yan mau menerima keadaan Papa, mengapa Kakak tak mau memaafkannya?”

 

“Lolo…,” desisku parau. Ada yang berkilauan jatuh dari sudut mataku. Oh, kau telah mengoyak keangkuhanku, Adikku!

 

***

 

Betapa manis senyummu, Lolo. Betapa pulas tidurmu. Kau sedang bermimpi apa, Adikku? Bermimpi tentang bidadari cantik yang turun dari kayangan? Bermimpi tentang Yan? Atau bermimpi tentang Papa?

 

Tidurlah! Besok pagi, usiamu sudah tujubelas tahun. Sambutlah dunia remaja dengan sekuntum senyum. Dan sebagai hadiah ulang tahunmu, kita – aku, kau, dan Yan – akan menjenguk Papa, meniupkan semangat kehidupan padanya, agar Papa tabah menjalani hari-hari buram di balik jeruji besi, hingga kembali menjadi milik kita dan meninggalkan dinding kusam berlumut itu….***

 

 

 

(Cerita Utama Majalah ANITA CEMERLANG edisi 223, 19 Februari - 1 Maret 1987)

 

 

 

Discussion

3 comments for “gerimis malam”

  1. jalinan kata yang sangat indah, tenang dan menghanyutkan….
    I like it….

    Posted by Ria Melasari | February 8, 2010, 7:32 am
  2. setiap butiran katanya sangat indah, jg cara penyampaianya. saya suka cerpen ini.

    Posted by venny | February 10, 2010, 2:24 am
  3. @ria & venny: terima kasih sudah membaca cerpen ini…

    Posted by Ryana Mustamin | March 31, 2010, 12:33 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]