(Cerita Utama Majalah STORY edisi 2, 25 agustus - 24 september 2009)
Cerpen Ryana Mustamin
TAK pernah ia dibelit masalah sepelik ini. Rasanya Om Saut – teman papa yang produser itu – pun gak pernah mengalami hal serupa.
Waktu Agnes yang jadi bintang utama di sinetron garapan Om Saut mendadak sakit, kru film langsung mencari pemain pengganti. Padahal Agnes sakit persis saat cerita lagi seru-serunya. Memang sedikit memerlukan upaya ekstra sih – dan mungkin reschedule pengambilan gambar. Tapi sinetron itu tetap tayang tepat waktu. Ratingnya pun gak turun meski terjadi penggantian pemain.
Tapi aku ‘kan bukan produser atau sutradara film, ia membatin gundah. Aku hanya penulis teenlit. Novelku sudah aku kebut berbulan-bulan. Oom Joen yang mau nerbitin sudah bolak-balik nagih. Kalau di bab-bab akhir mendadak tokoh utama ceritaku ngambek dan minta berhenti di tengah jalan, gila abisss tuh namanya. Ceritaku pasti bubar. Gak mungkinlah aku menggantinya dengan tokoh atau karakter lain.
“Tapi aku tetep mau brenti! Titik.” Oi – demikian ia menamai tokohnya – tetap ngotot, suaranya tak terbantah.
Gadis novelis itu, Ai, menghela nafas. “Kamu kenapa sih?” dicobanya menyabar-nyabarkan diri. Dalam sekian bab di depan, Oi tokoh yang sangat manis. Gak pernah bermasalah, apalagi protes. Seumpama musim, Oi seperti musim semi – yang menyembunyikan hangat matahari di balik kabut tipis senyumnya, yang suara dan tawa lunaknya seperti pagutan angin semilir. Dia sungguh bukan musim gugur yang kering, bukan pula musim dingin yang membekukan hasrat, apalagi musim panas yang melelehkan ubun-ubun…
“Aku capek!” kali ini suara Oi benar-benar lelah.
Ai ingin tertawa. Oi belum pernah sih berperan sebagai tokoh dalam sinetron Indonesia! Cerita bersambung terus – bahkan sekuel, dengan ending yang hanya Tuhan yang tahu kapan berakhirnya….
“Apa bedanya aku dengan bintang sinetron itu?” Oi membaca pikirannya. Suaranya sengit.
Ai termangu. Kali ini mulai merasa sedikit tersudut.
“Dulu, aku hanya ada dalam sebuah cerpen. Di ending cerita itu, aku bahkan udah mati! Mati! Tapi kamu menghidupkannya…,” suara Oi agak tercekat. “Sialnya lagi, di ceritamu ini, peranku gak berubah….”
Lalu, apa yang salah? Ai membatin bingung. Apa aku gak boleh menghidupkan lagi tokoh cerita yang sudah terlanjur mati? Di tanganku tokh nasib Oi lebih baik. Dulu, ia tokoh tanpa nama. Sekarang aku malah memberinya nama yang mirip namaku, Oi. Dulu, ia dicintai seorang cowok yang tak pernah punya keberanian menyampaikan perasaannya hingga ia meninggal. Kini aku malah mempertemukannya kembali. Mestinya Oi bahagia…
“Bertahanlah! Dikit lagi. Mungkin aku akan menulis satu-dua bab lagi …,” bujuk Ai.
“Kamu benar-benar egois!” suara Oi berang. Sesaat kemudian dia mulai sesunggukan.
Ai terkesiap. Tubuhnya mendadak lemas. “Sorry …,” rasanya ingin diraihnya kepala Oi yang mungil, ingin didekapnya sepenuh jiwa. Seperti sikap mama saat melerai tangisnya. Entah kenapa, perasaan Ai mendadak ikut-ikutan lungkrah.
“Tapi bilang dong, mengapa semua ini harus diakhiri!” Ai berusaha berempati, suaranya serak.
“Ia …,” bibir Oi bergetar, tak mampu menyembunyikan luka. “Ia mulai lupa sama aku. Ia bahkan mungkin sudah menyangkali semua cerita yang kamu tulis …,” isaknya pecah. “Ngapain aku bertahan? Ia…ia sudah gak mencintai aku lagi. Ia sekarang punya pacar….”
Ai terhenyak. Di keyboard laptopnya, mendadak ia temukan air menggenang ….
***
Oi rupanya gak main-main dengan ucapannya, ia benar-benar susah diajak kompromi. Sudah hampir sejam Ai di depan laptop, tak ada satu kata pun yang muncul. Oi tetap membisu.
Di tengah kebingungannya, blackberry Ai bolak-balik bergetar. “Hei, udah sampai bab berapa? Bulan depan bisa launching dong…,” seperti biasa Om Joen tak bosan-bosan mengirim pesan.
Ia harus menjawab apa? Oi ngambek? O-o, baru kemaren ia menggebu-gebu melaporkan, paling lambat minggu kedua bulan depan, novelnya rampung. Kok sekarang mendadak mandek begini? Belum pernah terjadi sebelumnya…
Setengah putus asa, dihelanya nafas. Lantas, dengan mata melamun, Ai memandangi laptopnya. Kursor di monitor masih kedap-kedip, tapi garis tegak mungil itu gak pindah-pindah. Ah, kalau saja aku gak menulis tentang Oi…., pikirnya ngilu.
Ai masih mengenang dengan baik peristiwa dari mana kekusutan itu bermula. Sore itu, Mas Gara – abangnya, menjemputnya seusai private piano. Duduk di sebelahnya, Adek – sahabat Mas Gara yang selama ini sudah dianggapnya seperti kakak. Bertiga, mereka meluncur ke Gramedia Matraman – menghadiri launching buku Kurnia Effendi, seorang cerpenis terkenal. Tanpa sengaja, Ai memergoki Oi – waktu itu Oi belum bernama – di jok belakang mobil. Tergeletak bisu di antara timbunan majalah yang sudah lamur dimakan waktu.
Lalu, entah dari mana datangnya, mendadak Ai merasa ada dorongan kuat untuk menyimak Oi. Ia lantas membaca majalah itu. Tapi mengapa dadanya berdenyar? Padahal ia tidak sedang membuka dokumen rahasia. Lagipula, bukan sekali-duakali ia membaca tulisan Adek. Sejak mereka akrab, Adek selalu memberikan kesempatan paling awal pada Ai untuk membaca tulisannya sebelum dikirim ke media.
Tapi kisah Oi… mendadak jiwanya tercengkam. Seperti ada sesuatu yang menghelanya masuk ke pusaran cerita. Ai bahkan tidak mendengar Adek ngobrol apa dengan Mas Gara. Yang berkecamuk di batin: mengapa ia seperti menemukan jiwanya dalam tokoh cerita Adek? Seolah-olah Oi adalah jiwa masa silam yang menghilang jutaan tahun dari raganya.
Setiba di beranda samping rumahnya, saat mereka tinggal berdua, Ai tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya perihal tokoh cerita yang oleh Adek hanya disebut “kamu” itu.
“Endingnya mengenaskan. Kok aku gak pernah baca, ya?” Suaranya setengah protes.
Adek acuh tak acuh.
“Tokoh ceweknya meninggal….”
“Aku matikan dia!” tukas Adek cepat. Suaranya datar – tepatnya didatar-datarkan.
Tapi kenapa justru terdengar getas di kuping Ai? Seperti ada gemuruh yang disembunyikan….
“Kurasa, dia lebih baik tidak pernah tahu perasaanku…”
“Kenapa sih, Kak?” Diperhatikannya wajah Adek sungguh-sungguh.
Di kolam ikan di samping mereka, ada daun jatuh. Mata Adek ikut melayang.
“Tapi ini hanya sebuah cerita ‘kan?” Ai mulai merasa aneh.
Kali ini Adek menyimak dengan baik. Ia berbalik dan kini bahkan menatapi Ai dalam-dalam. Seolah ingin menelan penuh-penuh tubuh mungilnya.
“Cerpen itu sudah lama, Ai. Empat tahun silam. Khusus cerpen ini aku memang gak ngasih baca ke kamu. Tapi waktu dimuat di majalah, aku menelponmu, meminta kamu membacanya. Tapi kamu cuek aja….”
Sekembali di kamar, Ai termangu-mangu. Separuh hatinya guncang. Mungkinkah cerita itu ditulis Adek untuknya? Jika ya, alangkah malangnya.
Sejak mula, ia selalu berusaha membiasakan diri melihat Adek tidak lebih sebagai sahabat kakaknya. Adek sudah tujuh tahun bersahabat dengan Mas Gara – sejak di bangku SMA hingga keduanya kini sama-sama menyusun skripsi. Hampir semua tentang Adek, ia pahami dengan baik – sebaik ia memahami Mas Gara. Adek bebas keluar masuk rumahnya, tidur sesukanya di kamar Mas Gara – seolah-olah papa dan mama punya tiga orang anak. Bahkan ketika Adek dengan seenaknya menyuruhnya menyeduh kopi atau memasakkan mie instant saat bibi pembantu sudah istirahat, gak ada yang protes. Tidak Ai, apalagi mama. Tak sulit bagi Adek menjadi kakak kedua baginya. Dalam banyak hal, ia dan Adek sering bersekutu – mereka memiliki hobi serupa: sama-sama menggilai buku dan sama-sama hobi menulis cerita fiksi.
Tapi sore itu… Mendadak Ai ingin menangis sekencang-kencangnya. Kalau saja Adek tahu apa yang diperamnya di lubuk hati terdalam. Kalau saja Adek memahami betapa wajah teduh itu selalu dibawanya dalam sepi…
Tak sedikit pun ia memiliki keberanian untuk menunjukkan perasaanya. Waktu kelas 2 SMP, ia ingat, ia pernah menunjukkan surat cinta dari kakak kelasnya ke Adek. Dan cowok itu terbahak. Sampai air matanya keluar. “Kecil-kecil kok udah mau pacaran!”
Saat itu, wajah Ai bagai kepiting rebus. Ia meninju bahu Adek sekeras yang ia mampu. Tapi cowok itu malah mengacak-ngacak rambutnya.
Memasuki SMA, Adek makin sering menjemputnya ke sekolah. Tapi selalu didahului sms. “Mama menyuruhku menjemputmu!” Adek juga pernah menghajar sekumpulan anak jalanan yang suka menggodanya di pengkolan jalan, tigaratus meter dari sekolahnya. Sampai berandalan itu kocar-kacir. Di komunitas Apresiasi Sastra, tempat mereka biasa ngumpul dengan sesama penulis dan pecinta buku, jauh sebelum Ai sendiri beken sebagai penulis novel teenlit, Adek selalu mengenalkannya pada penulis yang jauh lebih senior. “Ini adik gua….”
Aku memang cuma seorang adik …, batinnya ngilu. Tidak lebih. Karena itu segala rahasia hati hanya dimaknainya sebagai luka - kesedihan diam-diam yang tak pernah berhenti dibentuk. Terlebih ketika kemudian ia memergoki kenyataan: Adek jatuh cinta pada Wibi - teman kuliah Adek dan Mas Gara.
“Dia pacar Kakak, kan?” ia bertanya suatu ketika, ingin memastikan. Sudah beberapa kali Wibi hadir di antara ia, Adek dan Mas Gara.
Ditanya begitu, Adek hanya ketawa-ketawa. “Wibi cantik, kan?” Suaranya menggoda.
“Cantik sekali!” katanya jujur. Tapi, ia menyakiti aku! Sambungnya di hati.
Kalau dihitung-hitung, sudah lima tahun Ai memeram dukanya. Dari kelas 2 SMP hingga kini ia duduk di kelas terakhir SMA. Dasar hatinya kini berlumut. Digarami waktu. Sampai dia menemukan cerita lawas itu…
Apakah dulu Adek juga mencintainya diam-diam? Mengapa ia seperti menyimpan sakit yang amat sangat hanya lantaran tokoh ceritanya meninggal? Kalau Adek mau, ia tokh bisa menghidupkannya kembali….
Menyadari itu, Ai bangkit dari tempat tidur. Seperti seorang peri yang membawa tongkat ajaib, ia menarik kursi dan kemudian duduk menghadap meja belajar. Dinyalakannya laptop. Ada segurat cahaya melintas di monitor, juga di benaknya. Dan huppp! Hanya beberapa detik berpendar, kursor di layar berkejaran. Oi – tokoh cerita Adek – ia hidupkan kembali.
Oi tak pernah mati, gumamnya. Tak boleh mati. Kamu boleh mencintai banyak nama sesudahnya. Tapi tidak denganku. Oi akan tetap memelihara cinta itu. Meski dalam tahun-tahun temaram….
***
Tapi nyatanya, Oi tak sanggup menanggung duka yang dibebankan padanya. Sudah berhari-hari Ai membujuknya. Dan berkali-kali pula Oi menolak melanjutkan perannya.
“Aku gak mau jadi Oi lagi,” keluhnya berulang-ulang. “Aku capek! Percuma. Kamu bilang ia mencintai aku. Tapi sekarang ia malah terus-terusan nyakitin aku.”
“Itu ‘kan perasaan kamu aja!” Ai kembali membujuk Oi. “Aku yakin kok, ia sangat mencintai kamu. Ia hanya gak bisa mengungkapkannya. Ia perlu waktu untuk meyakinkan diri sendiri. Ia takut, kamu gak membalas cintanya. Kalau itu sampai terjadi, tebusannya kelewat mahal. Ia gak cuman kehilangan kamu. Ia kehilangan seluruh keluargamu.”
“Kenapa kamu menghibur aku?” suara Oi menangis. “Aku gak percaya kamu gak ngeliat apa yang terjadi….”
Aku melihatnya! Keluh Ai. Bahkan nyaris setiap malam. Sejak ia memergoki tulisan Adek di jok mobil itu, ia tak henti mencari tahu segala sesuatu tentang Adek. Adek kini semakin jarang tidur di kamar Mas Gara – tak cukup alasan untuk itu. Mereka sudah gak belajar bersama. Ujian skripsi sudah lewat, keduanya sudah yudisium dengan hasil memuaskan. Tinggal menunggu wisuda. Kini Adek lebih banyak beredar di komunitas sastra. Termasuk yang di internet. Saban pekan ia memposting catatan di facebook – dari sekadar cerpennya yang sudah dimuat di media cetak, hingga aktivitasnya di komunitas sastra. Dan sepanjang itu, seorang gadis bernama Tina hampir selalu menjadi bagian dari catatannya – entah foto bareng atau hanya sekadar di-tag di urutan paling atas.
“Mbak Wibi ke mana?” Pernah suatu ketika ia mencoba memancing. Padahal, dari Mas Gara ia sudah mendengar kalau Wibi sebetulnya bertepuk sebelah tangan. Adek tak pernah menganggapnya lebih dari seorang sahabat.
“Pulang ke Denpasar! Lagipula, ia bukan siapa-siapa ‘kan?” Adek tersenyum ringan.
Ai hanya tergugu. Ia percaya nasib Tina tidak serupa Wibi! Lihatlah, hampir setiap saat gadis itu bergayut di lengan Adek. Hingga kadang-kadang Ai muak melihatnya. Terlalu demonstratif. Cewek itu sok manja banget, sok imut. Bukan sekali-duakali mereka ketemu di kegiatan berbau buku. Seperti di World Book Day tempo hari, atau Book Fair yang digelar di Senayan. Dan gadis itu selalu nempel kayak blackberry. Huahhh, ia benar-benar membuatku cemburu, keluh Ai muram.
“Kurasa ia serius dengan cewek itu!” suara Oi getas.
Ai mendesah. Hatinya kian berlumut. Tentu saja. Mata Adek gemerlap setiap menyebut nama Tina. Cowok itu juga sudah jarang memperhatikan Ai. Padahal dulu, Adek menelponnya paling sedikit tiga kali sehari – seperti jadwal minum obat. Cinta Adek untuknya mungkin memang sudah lama padam. Ai terlambat menyadarinya. Mungkin Adek lelah menunggu, atau mungkin ia memang sungguh-sungguh sudah menemukan pelabuhan hatinya. Atau kombinasi keduanya. Bagi Adek, barangkali Ai kini tak lebih dari bagian masa lalu.
Menyadari itu, mata Ai menghangat. Lalu dengan murung, dipandanginya Oi.
“Mestinya kamu memang gak perlu aku hidupkan kembali…”
Oi mengangguk setuju. Tampak sekali kalau ia juga lelah. “Aku akan kembali mati saja.”
“Tak ada tokoh cerita yang mati duakali,” tukas Ai.
“Tak ada juga yang hidup dua kali ‘kan?” Oi mencoba bercanda.
Ai tertawa getir.
“Kalau begitu, matikan dia!” suara Oi tegas.
Sesaat Ai terperangah. Rasanya seluruh persendiannya tiba-tiba lumpuh.
“Cerita ‘kan tidak harus selalu berakhir sama dengan apa yang kita rencanakan sebelumnya!” Mata Oi mengurungnya.
Ia membenarkan. Demikian juga cinta, kesahnya. Cinta kadang-kadang seperti musim: sulit ditebak. Datang dan pergi, berangkat dan pulang.
Ya, mungkin aku akan menangisi ‘kematiannya’, sambungnya di hati. Aku pasti terluka. Tapi, waktu akan menyembuhkannya.
“Kurasa, setelah ini, kamu malah bisa menciptakan sejuta tokoh baru, tokoh yang lain! Aku bisa memainkan peran yang berbeda…,” Oi menatapnya, yakin.
Ai mengangguk. Ia ingat, papanya pernah menasihati: kita mungkin gak sanggup mengubah arah angin. Tapi kita bisa mengubah arah perahu kita untuk mencapai tujuan. Meski untuk itu dibutuhkan upaya dan kerja keras yang berlipat….
Dihelanya nafas. Di luar kamar, malam sudah menjelma kuburan waktu. Sudah tidak terdengar suara apapun. Sebentar lagi musim akan mengirimkan udara beku dinihari. Ai menulis paragraf terakhir, sebelum akhirnya menekan power off di laptopnya.
Besok pagi ia akan mengirim pesan ke Om Joen lewat blackberry messanger. “Om, bulan depan, novel Ai launching, ya! Tapi Om jangan ngetawain Ai. Ini novel tentang patah hati.” ***
(untuk gadis kecilku yang mulai Abege: Ismaya Dian Poetry)


yah, saya sudah membacanya di story.ceritanya memang sangat bagus…
Saya pengen beli majalah Story, tapi kok di Batam nggak ada yah Mbak ?