SEMUA orang mengenal kata sakit. Tapi apakah semua orang pernah merasa sakit dan bisa berempati terhadap rasa sakit?
Perasaan itulah yang sulit saya rumuskan petang itu. Saya tengah berada di pelataran Balai Sarbini Plaza Semanggi – bersama-sama para pekerja kantoran yang memilih membaringkan penat dengan menonton pertunjukan teater selepas kerja, ketika suami saya menyodorkan dua tiket pemutaran perdana film “Bunga dan Tembok” di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Sejenak saya bimbang. Tidakkah pementasan “Lovers and Liars” lebih menggoda? Posternya yang terang menempel di hampir setiap sudut kota. Preview-nya diulas berbagai media. Terlebih lagi, Balai Sarbini – gedung pertunjukan yang konon memenuhi standar internasional – digunakan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari sebelumnya diresmikan presiden. Tidakkah memancing penasaran?
Tapi toh saya memutuskan meninggalkan tempat yang juga dihadiri banyak tubuh wangi selebriti itu. Semata karena alasan: tiket suami saya itu hanya berlaku saat ini. Dan, di sinilah kami malam itu. Di sebuah tempat yang ‘asing’ dan perih. Apa yang terbersit di hatimu ketika menatap gambar buram kesaksian dan luka para korban peristiwa 1965 – peristiwa pembunuhan massal yang tidak menjadi ingatan sosial; kecuali bahwa ia telah merenggut nyawa tujuh perwira militer di Lubang Buaya – sebagaimana yang ditulis dalam buku-buku sejarah sebelum engkau lahir? Dengan cara apa engkau berempati kepada rasa sakit korban – yang pada sebuah masa pernah berdiri berseberangan sebagai ‘musuh’ – hanya karena engkau demikian terpesona pada sebuah film bertajuk “Pengkhianatan G30S/PKI”?
Alangkah absurd. Seperti gelap warna yang samar pada cahaya keremangan. Membuat terasing. Mungkin juga bagi Anda, yang setiap hari duduk di balik etalase megah gedung-gedung bertingkat. Yang senantiasa memerangkap diri dalam transaksi dan kalkulasi untung-rugi. Yang bergegas di bawah kecemasan hanya karena merasa waktu tidak pernah berhenti sejenak – sekadar untuk menunggu Anda menyelaraskan langkah. Yang berpikir keras 24 jam terus-menerus untuk menentukan langkah ekspansi yang paling menguntungkan usaha Anda. Yang menghabiskan waktu-waktu istirah di corner sebuah lounge atau di tengah lapangan golf.
Bagaimana membangun jembatan empati antara sisi gelap sejarah tersebut dengan dunia wangi Anda yang terang-benderang? “Mungkin dengan cara mendengarkan, dengan hadir di antara mereka,” kata suami saya. Ia ingin mengatakan bahwa kami bisa berupaya memahami rasa sakit dan luka dari orang-orang yang pernah dibungkam dan dilenyapkan itu, dengan menonton kesaksian mereka. Empati mungkin tidak cukup ditumbuhkan dalam semalam seperti ketika Bandung Bondowoso menyelesaikan seribu candi bagi Loro Jongrang. Tapi setidaknya, saya pulang dengan ingatan – yang meski buram tapi berbayang. Sebuah ingatan untuk terus mencoba menumbuhkan keinginan menyimak sejarah guna menguak lebih gamblang tragedi kemanusiaan di masa lalu itu.
Saat ini, empati memang telah menjadi barang yang sangat langka di negeri ini. Ketika Rehat ini saya tulis, saya baru saja mengunjungi seorang rekan kantor yang terbaring di rumah sakit akibat penyakit yang hari-hari ini tengah mewabah: demam berdarah dengue (DBD). Meski pucat dan lemah, ia masih melempar senyum cerah. Bahkan bercanda. “Gini-gini, saya ikut andil lho membuat presiden terkejut!”
Saya tersenyum mendengarnya, sekaligus merasa miris. Saya ingin menyatakan bahwa banyak petinggi di negeri ini – termasuk petinggi-petinggi perusahaan, yang bahkan untuk terkejut pun sulit. Ratusan korban DBD berjatuhan, dan kita belum banyak mendengar adanya penggalangan solidaritas sosial dari dunia usaha yang bertujuan untuk membantu meringankan beban penderita. Meski yang terbaring di lorong-lorong rumah sakit itu – yang barangkali diintip oleh maut, sebagian adalah karyawan atau keluarga karyawan mereka sendiri.
Ya, semua orang mengenal kata sakit. Tapi apakah semua orang pernah merasa sakit dan bisa berempati terhadap rasa sakit? Belum tentu. Jika yang terpampang di depan mata saja – yang nyaris tiap hari menjadi sarapan pagi kita – sulit menumbuhkan empati, apalagi yang sekadar terbaca di buku sejarah – sesuatu yang asing – manuskrip bisu yang tersimpan dalam laci?
Lagipula, bukankah tidak semua orang dan usahawan berpendapat bahwa empati dan solidaritas sosial memiliki korelasi langsung dengan kinerja bisnis perusahaan? Jangan-jangan, saya yang terlalu berlebihan…. ***
(dimuat di kolom saya “Rehat” Majalah MEDIA ASURANSI - d/h. Proteksi, 2004)
Komentar di Facebook: http://www.facebook.com/ana.mustamin?v=app_2347471856&ref=name#/note.php?note_id=171975555008


Discussion
No comments for “empati”
Post a comment