(sebuah catatan lepas)
LAYAKNYA pena, Agustus menorehkan banyak catatan. Di bulan itu, Hitler membuka era baru sejarah kediktatoran Jerman. Sepuluh tahun sesudahnya, tepatnya Agustus 1944, Anne Frank – gadis kecil Yahudi yang belum genap 12 tahun – ditangkap beserta keluarganya. Ia mewariskan kesaksian yang menghenyakkan dunia – sebuah catatan harian yang memuat inci demi inci kezaliman dan kekejaman Nazi di luar batas kemanusiaan. Masih di Jerman, 17 tahun sesudahnya, sebuah tembok raksasa berdiri angkuh membelah Berlin Barat dan Timur. Jauh sebelumnya, 1945, sekutu juga melukai Agustus dengan menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki. Lalu di tahun 1974, Richard Nixon mengundurkan diri dari jabatan Presiden Amerika Serikat akibat skandal Watergate. Malaysia pun menyongsong Agustus dengan sukacita, karena di bulan itulah, 1957, mereka mulai mengguratkan proses pembebasan dari cengkeraman Inggris.
Tapi saya masih kerap lupa dengan aneka torehan tinta Agustus tanpa membuka-buka sejarah. Kecuali untuk satu kata: merdeka!
Di saat bocah, saya mencintainya seperti saya mencintai hujan. Mencemaskan, sekaligus memberi pengharapan dan kegembiraan. Dulu, untuk menandai hari merdeka, saya menangis karena kertas krep di sepeda hias saya luntur oleh rinai hujan, mengacaukan warna merah dan putih. Tapi kemudian tergelak ketika menyaksikan hampir semua peserta karnaval mengalami hal yang sama. Saya pun menyimpan harapan besar di hari merdeka, karena pada masa di mana seluruh pelosok negeri bersolek merah-putih itu, aneka hadiah melambai dari pucuk batang pinang – bahkan ketika semua sudut kampung kuyup diguyur hujan.
Tapi itu dulu. Beranjak dewasa, perlahan-lahan, saya mulai kerap memahami arti kata merdeka dengan jiwa yang tercekat. Alangkah sulit (ternyata) menjadi orang yang merdeka, apalagi menjadi jiwa yang merdeka. Meskipun setiap orang dengan mudah memproklamirkan kemerdekaannya.
Proklamasi kemerdekaan sejatinya adalah sebuah paradoksal. Ketika kita mengumumkan kemerdekaan, pada saat yang sama kita mengumumkan keterikatan pada sebuah identitas. Ketika kita memproklamirkan diri sebagai Indonesia Merdeka, maka kita kehilangan kemerdekaan untuk menyatakan diri bagian dari bangsa lain. Tidak pernah ada kemerdekaan sejati.
Padahal dulu, betapa kerap saya membayangkan diri menjadi makhluk yang bebas-merdeka. Menjadi pemilik atau pemimpin perusahaan, misalnya. Saya akan menjadi makhluk yang tidak perlu dibebani segenap tetek-bengek pekerjaan-pekerjaan fisik yang biasa dikerjakan oleh pegawai rendahan. Saya memiliki sejumlah staf dan karyawan yang siap melakukan apa saja yang saya instruksikan. Saya tinggal duduk di kursi empuk di sebuah ruangan sejuk, membaca-baca laporan, memberikan disposisi, atau membubuhkan tanda tangan. Selepas itu, saya akan pulang ke rumah, atau ke pusat perbelanjaan – memborong sesukanya, dengan (tentu saja) menumpang kendaraan mewah.
Tapi, tidak. Seorang teman saya yang ditakdirkan menjadi direktur perusahaan bahkan berkali-kali mengeluh. Ia kini tidak lagi sekadar menjadi makhluk yang kesepian, tapi juga kehilangan kebebasan. Ia berhasil membebaskan diri dari segenap atribut dan kewajiban sebagai karyawan biasa, tapi pada saat yang sama membelitkan diri pada atribut baru sebagai seorang eksekutif. Kemana-mana, ia kini harus tampil, berbicara, dan mencitrakan diri sebagai seorang eksekutif. Sehingga kadang-kadang saya berpikir, ia tidak beda dengan butik berjalan. Atau seorang lulusan tanggung sebuah sekolah kepribadian. Ia kini bahkan lebih fasih menyebut sejumlah nama aneh, dari Michael E. Porter, Gary Hamel dan C.K. Prahalad yang katanya dewa strategi manajemen; hingga dewa mode seperti Dior, Louis Vitton, dan George Armani. Ya, ia kini juga begitu santun, taat table manner, sehingga Anda tidak mungkin lagi mengajaknya berjalan di trotoar, bersenggolan dengan ojek, dan kemudian duduk terbahak-bahak di tenda kaki lima menyantap pecel lele.
Ia kehilangan kebebasan, tepat ketika ia menjemput kemapanan. Ia menjadi terbelenggu justru ketika ia memerdekakan diri dari kemiskinan.
Tiba-tiba saya cemas, jangan-jangan teman saya tidak sendirian. Jangan-jangan hari ini pun saya tidak sedang merdeka?! ***
Komentar di facebook:


Discussion
No comments for “merdeka”
Post a comment