KURNIA EFFENDI – atau yang biasa saya sapa Mas Didi, seorang sahabat yang istimewa buat saya. Bukan sekadar karena persahabatan kami yang begitu awet – hampir 3 dekade. Tapi karena di tahun-tahun persahabatan yang demikian panjang itu, ada karya ‘monumental’ yang menandai hubungan kami.
Saya mengenal Mas Didi melalui karya pertama kali ketika saya masih duduk di bangku SMP. Waktu itu saya sudah mulai rajin menulis di media lokal dan mulai menembus majalah HAI. Tapi untuk ANITA – di mana cerpen Mas Didi berhamburan, saya baru sebatas pembaca. Di kelas 3 SMP atau mungkin kelas 1 SMA, saya meminta alamat Mas Didi ke redaksi Anita – tadinya saya pikir dia cewek karena menggunakan nama “Nia Effendi”. Dan entah kapan persisnya surat-surat kami akhirnya mengalir tak terbendung.
Tahun 1988 seharusnya menjadi pertemuan pertama dengan Mas Didi. Kami janji ketemu di Bandung – saya sudah menyusun banyak rencana dan Mas Didi sudah mengangankan akan membawa saya menyusuri Jalan Braga. Tapi kemudian pertemuan itu batal. Kecewa? Tentu. Tapi Mas Didi selalu bisa mensublimasinya dalam karya. Maka lahirlah karya ‘monumental’ pertama: cerpen “Sepanjang Braga” – cerpen ini memenangkan Sayembara Menulis Cerpen GADIS tahun 1988. Saya sendiri membaca Braga 8 tahun sesudahnya (sudah sangat terlambat!), meski ketika muncul di GADIS, Mas Didi mengabari. Karena merasa bersalah, saya akhirnya menulis cerpen balasan dengan judul yang sama, “Sepanjang Braga” – dimuat di Majalah FEMINA tahun 1999. Sejak itu, entah berapa cerpen – enam, tujuh? – berjudul sama lahir dari tangan Mas Didi. Pernah bahkan terbetik rencana akan menulis novel bareng berjudul “Sepanjang Braga”.
Karya ‘monumental’ kedua adalah “Seribu Puisi”. Seribu? Tidak persis sebetulnya. Jumlahnya ‘hanya’ 995 puisi. Tapi saya tetap menganggapnya 1000. “Apalah arti bilangan 1 sampai 1000?” tulis saya di salah satu surat. Seribu puisi hadir ketika saya dan Mas Didi akhirnya benar-benar ketemu – setelah lebih 10 tahun hanya bersurat-suratan (hiks…jaman dulu belum ada email atau fesbuk). Pertemuan itu terjadi bertepatan tanggal HARI INI, 30 Juli, 13 tahun lampau, di kota saya – Ujungpandang (sekarang Makassar). Mas Didi waktu itu bilang, ini tahun yang salah. Dan saya menuntutnya untuk ‘menebusnya’. Akhirnya lahirlah ikrar: ia akan menulis 1000 puisi hingga akhir tahun nanti.
Hingga hari ini, saya masih merasa proses kreatif Mas Didi ajaib sekali. Bayangkan, 1000 puisi dalam tenggat waktu 5 bulan! Itu artinya, dalam sehari Mas Didi harus melahirkan minimal 7 puisi. Seorang sahabat saya yang mengetahui proses kreatif itu sampai geleng-geleng kepala. Ia bilang, itu ‘pekerjaan gila’. Dan saya bahkan diledeknya ‘orang terkejam’ di dunia. Padahal tidak persis begitu. Mas Didi sudah lama bercita-cita menulis 1000 puisi. Tapi tidak ada yang memicunya. Tidak ada yang membuatnya merasa ‘bersalah’ hingga harus menebusnya.
Mengenang 13 tahun Seribu Puisi hari ini, saya ingin menampilkan beberapa puisi Mas Didi selama di Makassar. Puisi-puisi yang merekam suasana dan perasaanya ketika memulai ‘proyek’ ini, puisi-puisi yang sekaligus memicu tekadnya untuk menulis 1000 puisi. Di kesempatan lain, saya akan memposting (jika diijinkan empunya) bagian lain dari 1000 puisi – yang sesungguhnya sangat kaya dengan ragam tema dan perenungan.
PRATAMA PERMAI S-5 *)
Ketika tiba di muka rumah
Akulah makhluk masa silam bagimu
Meski telegramku telah kaubaca kemarin
Mungkin namaku telah terhapus dari
arsip sejarahmu. Mungkin aku telah
menghapus janji kunjunganku
(entah berapa abad lalu)
Akhirnya percakapan antara kita terjadi
Tidak dalam lembaran aksara seperti biasa
Dengan rasa bersalah, tahun yang tua ini
mempertemukan kita
Di ruang tamu yang bersahaja
Berhamburan kata-kata penuh nuansa
Mungkinkah itu yang kita tunggu, setelah
sekian lama tidak menorehkan kisah?
Akan kutulis 1000 puisi hingga akhir
tahun nanti…
*) alamat rumah saya di Makassar
WISMA TIATIRA (1)
Kubiarkan satu tempat tidur tetap kosong
Sebab sesuatu yang mengaku inspirasi
Terbaring dengan mata terbuka. Tanpa
mengusutkan selimut
Aku menonton bagian terakhir
film Sean Penn tentang Mafioso-mafioso licik
Seraya sesekali menoleh ke samping
Siapa tahu dia menulis hal-hal di luar
keinginanku
Karena kamar ini serba cokelat
Kupilih sebagai tempat istirah
Dalam tidurku yang meradang, kubiarkan
tempat tidur kosong itu meronta
DATUMUSENG
Sebuah bangunan kayu arsitektur Bugis
Lampu-lampu yang bulat temaram bagai bulan
Meja yang terletak diagonal di lantai balkon
Ahai , mengapa mata kita berbinar hanya
karena kemerdekaan mengutarakan imajinasi?
Tentu, setelah tahun yang melumpuhkan itu
Bangkit adalah ucapan terbaik untukmu
Seperti yang kausepakati: tigapuluh purnama
hanya untuk kesia-siaan – harus sanggup
digantikan
Pada suapan terakhir makan malam, sudah
seharusnya pecahan batin direkat kembali
SOMBA OPU
Menyusuri jalan jalan panjang ini, melawan arah
Terasa perih sukmaku
Tinggal trotoar sepi dan kenangan yang terluka
Kita bisa saja meletakkan cinta agar terpelihara
lukisan masa lalu. Tapi, buat apa?
Kita dengar suara tertawa sebagai relief keheningan
Mana topi bambu lebar pojok Somba Opu
Ah, cerita itu …
Bahkan kita rela menjadi pejalan kaki abadi
Untuk mendapatkan keindahan-keindahan kecil
Yang lebih megah dari isi dunia
Menyusuri jalan panjang ini, kita sembunyikan
rasa letih. Barangkali masih bisa bahagia
Menyimpan warna sejati Somba Opu dalam
sebuah kartu pos
DI PANTAI LOSARI (2)
Semakin dekat aku pada perpisahan itu
Terasa bagai kapal yang hendak melaut
Jangkar-jangkar amat berat ditarik
Dan langit yang kelam, mempersempit
Keinginan pergi
Beribu-ribu bercak sinar terdiam di tempatnya
Tapi waktu tidak berhenti. Ada saja
Upaya mempersiapkan matahari untuk
terbit lebih pagi
Semakin dekat aku pada perpisahan itu
Tiba-tiba aku lupa cara mengucapkan salam
Di tengah laut lepas, sebentar lagi
Bayangmu menjauh
DI PANTAI LOSARI (4)
Di tanggul beton tak bernama
Mungkin kita menulis nama-nama
Dari sebuah dunia yang orang lain tak punya
Angin malam membusur panah kerinduan
Dan laut yang tenang membangkitkan harapan
Untuk menghemat waktu yang berlalu dengan pedih
Di tanggul beton tak bernama
Mungkin kita melukis raut muka
Dari sebuah potret yang orang lain tak punya
Makassar-Jakarta, 1996 & 2009
Ryana Mustamin
Komentar di facebook:
http://www.facebook.com/editaccount.php?networks#/note.php?note_id=139495850008


aksara yang indah mengenang sejuta makna