Spirit of Life

kado ulang tahun buat ibu

July 10th, 2009


“WAKTU ngelahirin saya, susah gak sih, Mie?” itu pertanyaan favorit yang sering saya lontarkan ke ibu saat leyeh-leyeh di masa kecil dulu. Ibu, yang saya sapa Mamie itu, biasanya lantas bercerita antusias tentang proses kelahiran saya. Tentu, komplet dengan kisah proses persalinan kakak dan adik saya.

 

Dibandingkan saudara saya yang lain, kabarnya, kelahiran saya yang termudah. Dua kakak saya semua lahir di rumah sakit – di bawah pengawasan dokter kebidanan. Saya sendiri lahir di rumah. Dengan proses yang begitu cepat, tanpa bantuan paramedis, dan tanpa membuat ibu saya menanggung rasa sakit yang luar biasa – sebagaimana laiknya proses persalinan.

Saya lahir saat matahari masih sepenggalah, jam 09.00 pagi. Saat itu, seperti dikisahkan ibu saya, belum ada tanda-tanda kalau saya sudah akan nongol ke dunia. Karena itu belum cukup alasan untuk menghubungi dokter atau bidan. Ibu hanya merasa perutnya mulas-mulas dikit. Lalu, salah seorang kerabat yang masih terhitung nenek saya, meminta ibu berbaring saja di ranjang. Ibu lalu diberi minum air putih. Tapi hanya selang beberapa menit kemudian, perut Ibu langsung bergolak. “Papie baru dalam perjalanan mau menghubungi bidan, saat kamu lahir,” kisah ibu.

Kendati demikian, proses persalinan yang mudah itu sempat membuat ibu dicengkam kekhawatiran amat sangat. Pasalnya, saya nongol ke dunia tanpa disertai tangis kencang – sebagaimana bayi umumnya. Tangis saya yang terbekap, ternyata karena lilitan tali plasenta. Begitu dilepas, seketika tangis nyaring membelah pagi.

Tentu, tidak semua ibu memiliki pengalaman persalinan semudah kisah di atas. Saya sendiri, saat melahirkan Sakti, memiliki cerita berbeda. Saya mulai diserang mulas perut selewat paruh malam, dan mulai mengeluarkan bercak darah saat jam masih menunjukkan pukul 04.00 dinihari. Kata orang-orang, itu gejala bukaan 1. Karena itu, ibu menyarankan untuk segera ke rumah sakit.

Sepanjang hari, bukaan pintu rahim tidak menunjukkan perkembangan. Sehingga bidan memutuskan (ah, mungkin hasil konsultasi dengan dokter) melakukan injeksi. Sakitnya? Jangan ditanya. Tak terperi. Lewat tengah hari, saya kemudian didera keinginan untuk selalu buang air kecil. Belakangan, setelah kondisi saya mulai melemah dan perut agak mengempis, baru disadari: bukan air mani yang keluar dari tubuh saya, tapi air ketuban! Bidan yang menunggui saya kemudian menghubungi dokter, dan melalui telepon dokter meminta ijin ke suami saya untuk melakukan tindakan operasi - saat itu jarum jam menunjukkan pukul 19.00. Enampuluh menit berikutnya, tangis Sakti pecah. Jagoan mungil yang saya namai Jagad Shasika Pradnasakti itu untuk pertama kali menghirup udara di luar dinding rahim.

Pagi di 4 Juli kemaren, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya di tanggal yang sama, ibu menciumi dan memeluk saya erat-erat. Dengan suara bergetar, beliau melafazkan doa: semoga saya panjang umur. Entah sejak kapan, jauh di dasar hati, saat berulang tahun saya justru selalu mengirim habluran doa untuk ibu saya, agar beliau senantiasa sehat. Saya meyakini, ulang tahun sebetulnya adalah momen yang juga penting bagi setiap ibu: saat-saat mengenang perjuangan mereka di meja persalinan. Kegembiraan ibu ketika menyadari pertambahan usia pada putra-putrinya sangat berokorelasi dengan rasa syukur ketika menyadari bahwa perjuangannya di antara hidup dan mati tidak sia-sia.

Saat ini – setelah menjadi ibu, saya semakin yakin tidak ada persalinan yang benar-benar mudah – sebagaimana cerita ibu ke saya di masa bocah, apalagi melahirkan tanpa rasa sakit! Setiap ibu meregang nyawa saat mengeluarkan janin dari rahimnya.

Ulang tahun, momen yang sering dimanfaatkan untuk menyampaikan rasa syukur dan introspeksi. Tidak jarang, rasa syukur itu disampaikan dengan cara berlebihan. Saya rasa, semua sah-sah saja. Karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk mencecap kenikmatan dunia dalam waktu relatif panjang. Hanya saja, mungkin sebaiknya juga kita menyadari, bahwa ulang tahun bukan monopoli kita semata – si pemilik jarig. Momen ini terutama milik ibu kita – sebuah momen yang sangat tepat untuk mengenang jasa ibu, perjuangannya. Dengan cara ini, kita punya alasan untuk menjaga kualitas hidup kita – agar bayi yang dilahirkan dan dibesarkannya dengan kasih-sayang tidak menjadi sampah peradaban. Saya rasa, ini kado terindah bagi ibu.

Oya, sampai tahun lalu, dunia medis mencatat angka kematian ibu saat melahirkan mencapai kisaran 307 per 100.000 jiwa. Angka yang mengenaskan jika dibandingkan dengan negara lain. Kalau saja… ya, kalau saja dana kita bergembira untuk merayakan ulang tahun, dapat sedikit kita sisihkan untuk ibu-ibu hamil bergizi buruk, barangkali angka itu bisa kita tekan. Tapi, ini ‘kan hanya pengandaian saya aja. Mungkin Anda punya gagasan yang lebih baik…***

CATATAN:

Tulisan ini juga saya dedikasikan untuk semua teman dan sahabat yang telah mengirimkan ucapan selamat dan doa atas ulang tahun saya pada 4 Juli kemarin. Terima kasih yang tak berbanding saya sampaikan kepada Bapak/Ibu/Mas/Mbak/Kakak /Adik dan semua yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Semoga Allah membalas doa-doa itu dengan memberikan amal yang setimpal. Titip salam takzim buat ibu masing-masing….

 

Komentar di Facebook:

http://www.facebook.com/album.php?aid=4145&id=1839551974&ref=nf#/note.php?note_id=129728485008

Discussion

3 comments for “kado ulang tahun buat ibu”

  1. menarik tulisannya…

    Posted by tarsihekaputrat | August 10, 2009, 6:55 am
  2. terima kasih tulisannya ya bu ana.
    ditunggu tulisan2 selanjutnya

    Posted by pandu | August 11, 2009, 8:45 am
  3. @tarsih dan pandu: makasih ya, udah mampir ke sini….

    Posted by Ryana Mustamin | August 19, 2009, 8:54 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]