Nine to Six

tabungan atau asuransi pendidikan?

June 10th, 2009


INI masa-masa orangtua di Indonesia kembali dibetot perhatiannya pada masalah pendidikan. Anak-anak sekolah sebagian tengah menjalani tes kenaikan kelas. Sekolah-sekolah mulai membuka pendaftaran untuk murid baru. Sekolah swasta, bahkan lebih jauh sebelumnya.

 

Lalu, seperti biasa, pertanyaan seputar asuransi pendidikan dan tabungan pendidikan kembali mengemuka. “Lebih bagus mana sih?” teman saya yang baru menimang anak bertanya penuh perhatian. Dan Anda tentu bisa menebak jawaban saya. Ya iyalah, secara saya pelaku industri asuransi, tidak mungkinlah saya bilang tabungan pendidikan lebih baik.

 

Tapi, Anda juga tentu konsumen yang kritis. Tidak serta-merta menelan informasi yang saya sodorkan. Maka, baiklah, saya akan bercerita sedikit tentang ‘binatang apa’ asuransi pendidikan ini.

 

Asuransi pendidikan sebetulnya hanya salah satu varian asuransi jiwa. Awalnya, asuransi pendidikan diturunkan dari bentuk dasar asuransi dwiguna (endowment insurance) - perlindungan berjangka  dengan benefit yang sama besarnya ketika tertanggung hidup atau meninggal. Lambat laun, asuransi pendidikan pun mengalami modifikasi dan kodifikasi. Anda tentu kini tidak sulit menemukan asuransi pendidikan berbasis syariah atau bahkan dikemas sebagai varian produk investment-link.

 

Apapun ragam dan labelnya, asuransi pendidikan pada prinsipnya diciptakan untuk memastikan jaminan dana pendidikan anak – baik pada saat orangtua sebagai tertanggung hidup atau meninggal.  Karena itu, jika Anda menanyakan apa bedanya dibandingkan tabungan pendidikan, maka diferensiasi ini sangat gamblang. Asuransi tetaplah asuransi. Substansinya adalah proteksi - alat untuk mentransfer risiko. Dalam kondisi orangtua masih ada, asuransi dan tabungan pendidikan mungkin akan memiliki fungsi sama. Namun tidak demikian jika terjadi risiko. Karena itu, asuransi sejatinya juga memiliki fungsi sosial. Asuransi menjamin tidak ada anak yatim yang terlantar.

 

Keunggulan kedua, dengan asuransi,  para orangtua akan ‘dipaksa’ disiplin menabung (membayar premi) – menyisihkan sebagian pendapatan mereka secara teratur. Asuransi juga akan ‘mengerem’ godaan pemilik polis untuk menarik tabungan (nilai tunai polis) dan menggunakannya untuk kebutuhan lain. Asuransi pendidikan dirancang sedemikian rupa, sehingga sungguh-sungguh hanya untuk keperluan pendidikanlah, dana tersebut dapat ditarik dan dimanfaatkan.

 

“Tapi saya sering bingung, berapa seharusnya nilai pertanggungan asuransi pendidikan anak saya? Saya ‘kan gak tahu berapa biaya pendidikan 5-10 tahun yang akan datang,” tukas teman saya.

 

Asal Anda tahu, orang asuransi pun tidak bisa menjawab pertanyaan di atas dengan akurat. Tapi opsi berikut mungkin membantu:

 

Opsi 1: Perkirakan total kebutuhan dana pendidikan anak ketika memasuki Perguruan Tinggi (PT). Dalam perkiraan ini, pertimbangkan tingkat inflasi agregasi dalam 10 tahun terakhir. Angka prakiraan total dana yang dibutuhkan tersebut jadikan dasar penetapan besaran Uang Pertanggungan (UP). Jika UP sudah ditetapkan, maka petugas asuransi tinggal menghitung jumlah premi yang harus dibayar setiap tahun dengan memperhitungkan faktor usia orangtua dan anak.

 

Opsi 2: Hitung kesanggupan Anda membayar premi setiap tahun. Berdasarkan kesanggupan tersebut, perusahaan asuransi akan menetapkan besar Uang Pertanggungan yang akan diterima. Kelemahan alternatif 2 ini, jumlah UP mungkin tidak sesuai kebutuhan dana ketika anak memasuki PT. Tapi setidaknya, Anda telah berupaya menyisihkan sebagian penghasilan untuk mengantisipasi biaya pendidikan putra-putri Anda. Jika dana tersebut belum mencukupi, tinggal mengupayakan kekurangannya di kemudian hari.

 

Nah, terakhir, jika Anda telah menjadi salah seorang pemegang polis asuransi pendidikan, bayarlah premi tepat waktu. Ini akan menjamin bahwa kontrak asuransi Anda akan tetap berjalan (inforce) dan benefit asuransi pada setiap fase pendidikan anak dapat diterima dan dimanfaatkan sesuai yang  dicita-citakan. Gampang ‘kan?***

 

Discussion

No comments for “tabungan atau asuransi pendidikan?”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]