Spirit of Life

ternyata bukan yang terakhir (2)

May 2nd, 2009


ADENOMIOSIS UTERUS. Ini kosa kata baru dalam kehidupan saya. Sebelumnya saya akrab dengan kata tumor mammae, endometriosis, dan mioma uteri. Dibandingkan istilah umum kanker jinak, saya lebih ‘menyukai’ terminologi “endometriosis” dan “adenomiosis” yang digunakan langsung dunia kedokteran ini. Selain spesifik dan memicu keingintahuan, istilah itu juga tidak terdengar ‘menyeramkan’ seperti ketika mendengar  kata ‘kanker’. 

Di tulisan saya sebelumnya, “Cukup, ini yang terakhir!” (http://www.ryanamustamin.com/2008/03/cukup-ini-yang-terakhir/, saya mengupas khusus tentang apa itu endometrisois. Ternyata, adenomisis sebetulnya endometriosis juga. Bedanya, jika endometriosis terdapat di luar rahim/uterus (miometrium) – sehingga disebut endometriosis eksterna atau endometriosis sejati; maka adenomiosis menyerang bagian dalam rahim – sehingga disebut endometriosis interna.

Di luar dua istilah itu, dunia kedokteran mengenal pula istilah “kista endometriosis”  yakni tumor dengan permukaan licin yang pada dinding dalamnya terdapat suatu lapisan sel-sel endometrium dan cairan coklat yang terdiri dari sel-sel endometriosis, eritrosit, hemosiderin, serta sel-sel makrofag berisi hemosiderin (istilah-istilah terakhir yang kedengarannya ribet ini, kalau gak ngerti, tanya ama professor google aja, ya!).

Endometriosis pada dasarnya mirip dengan miom. Yang membedakannya, endometriosis tidak memiliki massa dan batas-batas kasat yang bisa diidentifikasi sebagaimana pada miom. Endometriosis berupa jaringan liar yang terdiri atas kelenjar-kelanjar stroma (saya suka menganalogikannya seperti lumut yang menempel di dinding).

Kabarnya, endometriosis (sejati) sangat jarang berkembang menjadi kanker ganas. Kalau gak salah, saya pernah baca probabilitasnya kurang dari 3% dari populasi penderita. Meski jinak, namun jika tidak ditangani sejak dini, endometriosis bisa menyerang organ-organ lain di luar endometrium (dalam kasus saya dulu menyerang sampai ke usus).

Nah, bagaimana dengan adenomiosis? Apakah sejinak endometriosis sejati? Saya belum berani bertanya secara eksplisit ke dokter. Tapi, satu hal yang secara pasti dijawab dokter saya: solusi terbaik adenomiosis adalah histerektomi alias pengangkatan rahim!

(Sabtu, 25 April kemaren, saat melakukan kontrol, dokter Soegih menyerahkan copy hasil laboratorium patologi anatomik saya. Diagnosis terhadap rahim yang sudah dicopot dari tempatnya itu gak usah saya ceritain secara detil, ya. Soalnya, saya juga hanya tertarik pada kalimat terakhir dari diagnosis mikroskopik. Bunyinya begini: “TIDAK TAMPAK TANDA GANAS”! Ya Allah, bener-bener karunia tak berbanding! Kebayang gak sih, bagaimana senangnya perasaan saya?).

 

***

 

Sekarang, saya mau cerita soal lain: tujuh kali terbaring di meja bedah, bagaimana rasanya? Apakah dengan perasaan dan pengalaman yang sama? Pasti nggak.

Secara mental, operasi terakhir yang terberat buat saya. Tapi secara fisik justru rasanya yang paling fit dibandingkan lima lainnya (satu operasi lagi adalah operasi tumor yang tergolong super ringan, sehingga saya ‘kabur’ dari rumah sakit beberapa jam pasca operasi).

Begitu memasuki ruangan persiapan operasi Sabtu 18 April kemaren, pertanyaan pertama yang dilontarkan suster, “Ibu takut, gak?”

“Nggak!” jawab saya. (“Allah beserta saya,” sambung saya di hati).

“Iya, ibu gak tanda-tanda mau dioperasi. Senyum terus,” kata suster itu ikut tersenyum. “Badan ibu  juga gak dingin!”

Dan seperti yang saya ceritakan di bagian pertama tulisan ini, saya bahkan sempat bercanda dengan dokter Bambang Siswitono – dokter anastesi yang menangani, saat masih di pintu ruang bedah. Hingga saya meringkuk, hingga dokter Bambang menancapkan jarum suntik bius di punggung saya (karena operasi kali ini pembiusan lokal), saya masih ngobrol terus dengan dokter dan paramedik.

“Udah pengalaman sih!” kata dokter Bambang ketika melihat saya begitu kooperatif di meja bedah.

Saya menukas, “Operasi mah gak usah pake pengalaman ‘kali, dok!”

Dan lagi-lagi ruangan semarak oleh tawa.

Begitulah…! (bersambung) ***

Discussion

No comments for “ternyata bukan yang terakhir (2)”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

merdeka

August 14th, 2009

(sebuah catatan lepas)
LAYAKNYA pena, Agustus menorehkan banyak catatan. Di bulan itu, Hitler membuka era baru sejarah kediktatoran Jerman. Sepuluh tahun sesudahnya, tepatnya Agustus 1944, Anne Frank – gadis kecil Yahudi yang belum genap 12 tahun – ditangkap beserta keluarganya. Ia mewariskan kesaksian yang menghenyakkan dunia – sebuah catatan harian yang memuat inci demi inci kezaliman […]

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]