SEBETULNYA, saya gak pernah berharap akan menuliskan kisah ini. Karena pada catatan sebelumnya, saya sudah berdoa dan berharap, “Cukup, ini yang terakhir!” (http://www.ryanamustamin.com/2008/03/cukup-ini-yang-terakhir/). Tapi Tuhan ternyata berkehendak lain. Saking cintanya pada saya, Allah kembali menguji saya. Ya, Sabtu 18 April 2009 lalu, saya menjalani tindakan medis operatif untuk ke-4 kalinya di Rumah Sakit YPK Menteng, Jakarta Pusat – yang berarti operasi ke-7 dalam hidup saya (ah, Jaya Suprana kok tega bener gak mencatatkan rekor ini di MURI. Hehe).
Kalau kemudian saya akhirnya menuliskan juga catatan ini, sedikitnya karena 2 alasan: pertama, untuk dokumentasi pribadi; dan kedua, untuk sharing.
Khusus alasan kedua, saya makin bersemangat menuliskan pengalaman saya, ketika menyadari begitu banyak perempuan yang memiliki nasib seperti saya namun tidak memiliki keberanian untuk menerima kenyataan dan menjalani terapi serupa. Catatan saya sebelumnya, ditanggapi banyak pembaca blog saya, dan ada yang bahkan berkembang manjadi duskusi di jalur privat. Saya akhirnya sangat bersyukur, di balik perjuangan panjang, saya bisa menginspirasi dan membagi kekuatan kepada sejumlah teman dan sahabat untuk mau menerima kondisi mereka sekaligus memiliki keinginan dan ikhtiar melakukan upaya-upaya penyembuhan – dari yang semula ketakutan menghadapi meja bedah, hingga akhirnya mengabarkan bahwa pembedahan berjalan lancar dan kini tengah menjalani kehamilan.
Kok Kaget Sih?
Dugaan akan menjalani tindakan operatif kali ini sebetulnya sudah lama mengeram dalam benak saya. Paling tidak dalam setengah tahun terakhir ini (padahal, saya menjalani tindakan operatif laparaskopi belum juga setahun). Dalam periode itu, saya kembali merasakan keram dan nyeri hebat di perut saat-saat menjelang, sedang, dan sesudah mengalami menstruasi. Dalam dua bulan terakhir, rasa sakit itu bahkan meningkat durasi dan frekuensinya. Juga sebaran rasa sakitnya. Kalau dulu sebatas perut, sekarang menjalar hingga ke tulang ekor – hingga duduk pun saya kesakitan.
Di kantor, untuk mengelabui para staf bahwa saya baik-baik aja, saya sering menutup pintu ruangan (biasanya saya buka lebar-lebar agar para staf saya bebas keluar-masuk kapan saja mereka perlu), dan lantas mengaduh atau menangis sendiri di dalam. Jika nyeri itu memuncak dan tak tertahankan, saya memutuskan jeda bekerja dan membuka facebook untuk mengalihkan perhatian dari rasa nyeri. Jarang sekali saya bolos karena alasan sakit. Sebetulnya, bukan sok jadi karyawan teladan sih (wong dalam prakteknya saya gak kerja ), tapi lebih untuk mensugesti diri sendiri agar tidak gampang menyerah dan cengeng.
Kalau saya sampai menunda-nunda ke dokter, itu karena pertimbangan agenda kerja yang demikian padat. Soalnya, saya begitu yakin bahwa begitu menghadap dokter, akan ada vonis yang mengharuskan saya meninggalkan tugas.
Benar saja, ketika saya memeriksakan diri pada 11 April 2009, ginekolog yang selama hampir satu dekade menangani saya, DR. Dr. Soegiharto Soebiyanto memberikan diagnosis baru: adenomiosis uteri! Dan untuk penyakit terakhir ini, saya harus mengalami tindakan histerektomi alias pengangkatan rahim!
Kaget? Mestinya nggak. Karena setahun lalu, saat melakukan pemeriksaaan USG di Rumah Sakit MMC Jakarta Selatan, dokter di sana sudah menyarankan agar rahim saya di angkat saja. Tapi waktu itu, diagnosisnya berbeda: saya mengidap mioma uteri. Lalu, ketika hasil pemeriksaan dari rumah sakit MMC saya bawa ke rs YPK, dokter Soegih bilang, diusahakan dulu untuk tidak mengangkat rahim saya. “Siapa tahu, ibu masih bisa hamil sekali lagi!” katanya. Tapi, ternyata saya gak hamil-hamil. Dan sekarang, saya malah didiagnosis mengidap penyakit lain.
Tak urung, saya nelangsa juga. Saya gak bisa menahan air mata agar gak tumpah. Saya ingat, sembari menunggu suami menyelesaikan administrasi rumah sakit, saya sesunggukan di mobil sambil memeluk anak semata wayang saya. Ah, ternyata Sakti ditakdirkan jadi anak tunggal….
Dalam dua hari berikutnya, saya sibuk meñata hati. Perasaan saya campur-aduk. Kok saya operasi lagi sih? Padahal baru setahun lalu…
Untung saya memiliki suami yang sabar, tulus, dan pengertian sekali. Rasanya gak ada detik terlewatkan tanpa dia di sisi saya. Dia bilang, “Kemaren-kemaren tegar. Sekarang kok nangis?” Dia tersenyum sambil memeluk saya. Saya ikut tersenyum. Dalam enam kali operasi sebelumnya, tak pernah sekalipun saya menitikkan air mata – bahkan ketika pertama kali divonis menderita tumor, tahun 1988 silam. Mungkin karena kali ini saya harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang perempuan: rahim!
Saya akhinya berpikir, saya nangis sebagai bagian dari mekanisme pertahanan mental. Karena, sesudah itu, perasaan saya lega. Tapi tentu gak boleh lama-lama. Nanti saya jadi cengeng beneran. Akhirnya, Rabu 15 April 2009, saya kembali menghadap dokter Soegih, kali ini dengan perasaan yang jauh lebih ringan. “Saya siap operasi, dok!” kata saya, tersenyum.
Dan akhirnya, 18 April 2009, beberapa menit selewat jam 12.00, saya kembali ke meja bedah dan memasrahkan diri di depan Illahi: bismillahirrahmanirrahim, saya adalah milik-Mu, semua yang terjadi adalah atas kehendak-Mu!
Sebelumnya, di pintu ruang operasi, saya menyapa dokter Bambang Siswitono – dokter anastesi YPK yang membius saya untuk ke-4 kalinya. “Jangan bosen ya, dok!” kata saya.
Dokter Bambang dan semua petugas medis di ruangan itu tertawa…. (bersambung).***


Hai..Ana, ternyata kemarin itu operasi histerektomi ya…semoga sekarang sudah sehat2 lagi ya.
hmm..ternyata penyakit kita sama ya, bedanya saya baru 2x operasi (’96 & ‘06).
Saya di vonis dokter mengidap Adenomyosis Uteri sejak July 2006, juga disarankan hrs histerektomi, tapi krn kebelet ingin punya anak, hingga saat ini saya masih mencoba bertahan. Resikonya saya harus merelakan tubuh saya merasa tidak nyaman ketika siklus haid tiba yg bisa sampai 14 hari lamanya, dan saya paham banget dengan rasa sakit yg kamu rasakan persis banget dengan yg saya rasa.
Juga bisa merasakan penderitaanmu ketika sakit itu datang pada saat jam kantor, saya pikir keputusan untuk histerektomi sudah tepat buatmu secara jenis penyakit ini sudah sering muncul dirahim-mu & sangat jelas sekali penyakit ini tidak ada obatnya, dan penyakit ini biar sudah dibersihkan berpotensi untuk tumbuh terus selama kita belum menopause, lagipula kamu sudah punya Sakti yg pinter & lucu,*mikir…seandainya aku punya spt sakti-mu juga..aahh* yah apaboleh buat, walaupun ingin punya atau nambah anak, tapi Allah swt punya jalan yg lain buat kita.
Ana, tetap semangat ya, seperti akupun tetap semangat menghadapi penyakit ini, kapan2 sharing informasi lagi ya gimana rasanya setelah histerektomi, pengaruhnya di tubuh bagaimana, dsb. karena suatu saat Aku pun mungkin kearah situ nantinya kalau perkembangan penyakitnya makin parah. *semoga tidak Ya Allah, cukuplah yg Aku rasakan saat ini saja..amien*.
oh ya..aku juga menceritakan pengalaman penyakitku ini di blog-ku “madame niek hatibie” silakan dikunjungi (eh tp blog ku msh jelek, maklum pemula & saya gak bakat nulis, tapi tukang ngobrol iya..hehe..jadi dituangkan dalam bentuk tulisan saja, saya terinspirasi bikin blog sendiri ketika habis baca blog-mu pertama kali *ingat ‘gak?..yg tulisan ttg Asisten RT mu..tuh..thx a lot ya..to be my inspired*.., jadi blog-ku juga semata2 cuma untuk sharing informasi dengan teman2 wanita yang punya masalah yang sama. okeh..deh..sorry puaanjaanngg na comment na…nda papa jie toh….maklum tukang carita iniee..hehehehe
@dear niniek:
saya udah baca blog niniek. jadi ya, rupanya kondisi kita sama. cuman, kalo ditimbang-timbang, emang lebih berat saya (bukan hanya hitungan operasinya, tapi juga jenis penyakitnya).
endometriosis misalnya, saya bukan mengidap kistanya, tapi memang menderita “endometriosis sejati” stadium 4. khusus penyakit ini saya mengikuti terapi dokter (termasuk suntik dan obat) selama 5 tahun tanpa terputus.
tapi niek, suami saya pernah bilang, apa pun teori dokter, semua bisa gugur jika Yang Di Atas menghendaki. dan salah satu ‘keajaiban’ itu adalah saya dititipi amanah seorang putra melalui proses kehamilan normal (sebelumnya dokter sudah bolak-balik menyarankan inseminasi atau bayi tabung).
jadi, saya berharap niniek gak pernah berhenti berdoa, berharap, dan berusaha.
kapan saja niniek ingin sharing, silakan kontak atau nulis ke saya. pengalaman ini juga saya sharing ke facebook. saya pikir, saatnya berbagi pengalaman untuk saling menguatkan.
wassalam.
Dear Ana,
met pagi, wah baca responsmu saya jadi lebih bersemangat lagi untuk tidak menyerah, ternyata keajaiban itu bener2 ada, saya takjub Ana bisa hamil padahal menderita Endometriosis dah stadium 4. Allah Maha Besar, kalau sudah kehendakNYA maka jadilah.
Ana, rasa2nya saya pengin ketemu langsung d biar bisa puas sharing tentang ni penyakit, selama ini ‘gak punya teman buat sharing cuma bisa surfing di internet saja. tapi itu tentunya sulit ya mengingat kesibukan Ana.
Okd..selamat bekerja..eh lagi cuti ya..salam sayang buat sakti, and thanks untuk semua informasinya.
Wassalam, Niek.
subhanallah….
aku berkaca2 bacanya mba…
ga menyangka dibalik keceriaan dan ketangguhan mba ana (karna demikian kesan pertama yg nampak ketika bertemu mba ana di seminar pak nukman di Ritz Carlton 19 maret lalu)
membaca kisah mba ana membuat sy berpikir ini lbh dramatis dr sinetron dan film manapun yg pernah saya tonton.
salut buat ketegaran mba ana, suami dan keluarga.
semoga Allah memberikan ketegaran2 lain pada kita semua dalam menghadapi semua bentuk ujian-Nya.
sukses selalu buat mba ana&kluarga
oya mba, aku minta ijin ngeshare pengalaman mba ana ini buat tmn2ku yah..
@ kristin:
Makasih doanya, mbak kristin. Silakan di-share kalau itu dianggap bermanfaat bagi yang lain. Wassalam.
waw… subhanallah
sama seperti kristin, aku jg ampir berkaca2 membaca tulisan mba ini. hiks..
smoga mba te2p tegar, semangat, pantang menyerah dalam menghadapi segala ujian dan cobaan. Allah tidak akan ngasih cobaan yang kita tidak sanggup untuk mengatasinya
@ niniek: sesibuk-sibuknya pasti ada waktu untuk ngobrol. tinggal niniek sekarang, kapan siap, kontak saya …
@ phie2t: makasih doanya ya. semoga pipit dan keluarga juga senantiasa diberi kesehatan oleh-Nya… salam.
“endometriosis sejati” apa maksudnya mba ? kok dokterku gak pernah bilang yg beginian…emang ada yg gak sejati ya ? apa bedanya ? wah banyak tanya ya….ma kasih sebelumnya. oya saya mau cari mba di facebook kok ketemu ya ?
@dayanti: perbedaan endometriosis sejati dan yang bukan, bisa dilihat pada lanjutan tulisan ini, “ternyata bukan yang terakhir” bagian ke-2 (ada di blog ini dan ada di facebook).
alamat fb saya bisa dilihat di http://www.facebook.com/ana.mustamin/
good luck.
hi mba ryana, lam kenal ya. saya dewi, saya merasa senasib nih sama mba, bedanya saya belum punya keturunan satupun, sediiih bgt. saya jg mengidap endometriosis kanan kiri dan mioma uteri, rasanya dunia saya mati, dokter menyarankan untuk angkat rahim, tp walaupun sedih bgt, saya tetep coba pertahanin dan coba pengobatan alternatif, semoga aja Allah memberi saya kesembuhan. saling mendoakan ya mba.
Dear mba Anna, Mba saya jg pengidap adenomiosis,dokter jg menyarankan utk pengangkatan rahim.Maaf mba,bagaimana keadaan mba ana stlh rahim diangkat? bagaimanahub.suami istri stlh rahim diangkat? Kt dokter klo rahim diangkat kita hrs minum pil hormon ya mba agar tdk cepat tua?
Mbak2. Coba minum propolis diamond.insyaAllah mengecil dan hilang
@dee: saya pasti mendoakan. dan percayalah Allah tidak akan memberikan kita beban di luar dari apa yang bisa kita tanggung. terus berusaha untuk sembuh. dan yg terpenting, harus tetap semangat!
@lenisuniar: wah, saya baru mendengar bahwa pengangkatan rahim membuat kita cepat tua. hehe. secara umum hubungan suami-istri memang sedikit mengalami gangguan. gairah turun. tapi itu ‘kan bisa dipulihkan dengan kemauan dan pikiran positif. ok, tetap semangat!
@may: terima kasih sarannya. propolis diamond itu sejenis obat? bisa diperoleh di mana? dan seberapa besar tingkat keberhasilannya?