Sihir Kata

breakfast meeting (3)

March 6th, 2009


dia yang bertungkai ramping masih menyambutku di pintu ruang rapat
dengan leretan senyum dan secangkir cappuccino
(bukankah kita selalu memulai pagi dengan memintanya menyeduh?)
tapi dia menambah kudapan berbeda hari ini: dua keping bara
dan tumpukan dokumen transaksi derivatif yang gagal
(ah, terkutuklah mereka yang menyebabkan krisis global!)

pertemuan pagi dibuka dengan presentasi yang pucat
(dari balik vertical blind lantai 19 yang tersingkap,
aku menyaksikan hari menua seperti kastil kesepian)
tanpa sanggup kucegah, jiwaku tercengkam, lungkrah berderak
tapi aku berusaha mengarca tegak di sampingmu
agar bisa jelas menyaksikan ujung penamu meliuk

aku memergoki waktu berhenti di ujung meja, di detik jarum jam
mengekalkan beku di ujung sendi, di lampu kristal, di lantai marmer,
di kedua tungkai kakiku - dan jejarinya yang (juga) ramping
(kulihat, ia bahkan tidak sanggup menulis sepotong huruf di notebook-nya
untuk notulen yang biasanya utuh saat pertemuan belum lagi dimulai)

dan diam-diam, aku menyaksikan pagi yang terbakar
(pemantik penamu mengobarkan dua keping bara)
aku menyaksikan api menyulut dengan rakus seluruh rencana
menggeretak-hanguskan dinding dan pilar-pilar
menyelinap di elevator, merambah lobby
(dalam bilangan detik, kurasa ia akan tiba di langit-langit dapurku)

dia yang bertungkai ramping masih melepasku di pintu ruang rapat
dengan leretan senyum dan ruap cappuccino tetes terakhir
(mungkin aku merindukan kembali dia menyeduh untukku - untuk kita, suatu ketika)
tapi saat ini aku ingin menjelma dia, bertungkai ramping
menenteng notebook (yang juga ramping)
yang hanya dengan sekelebatan lenguh
sanggup memadamkan api
dan mengubah arah ujung penamu
jakarta, 06032009

Discussion

No comments for “breakfast meeting (3)”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]