dia yang bertungkai ramping masih menyambutku di pintu ruang rapat
dengan leretan senyum dan secangkir cappuccino
(bukankah kita selalu memulai pagi dengan memintanya menyeduh?)
tapi dia menambah kudapan berbeda hari ini: dua keping bara
dan tumpukan dokumen transaksi derivatif yang gagal
(ah, terkutuklah mereka yang menyebabkan krisis global!)
pertemuan pagi dibuka dengan presentasi yang pucat
(dari balik vertical blind lantai 19 yang tersingkap,
aku menyaksikan hari menua seperti kastil kesepian)
tanpa sanggup kucegah, jiwaku tercengkam, lungkrah berderak
tapi aku berusaha mengarca tegak di sampingmu
agar bisa jelas menyaksikan ujung penamu meliuk
aku memergoki waktu berhenti di ujung meja, di detik jarum jam
mengekalkan beku di ujung sendi, di lampu kristal, di lantai marmer,
di kedua tungkai kakiku - dan jejarinya yang (juga) ramping
(kulihat, ia bahkan tidak sanggup menulis sepotong huruf di notebook-nya
untuk notulen yang biasanya utuh saat pertemuan belum lagi dimulai)
dan diam-diam, aku menyaksikan pagi yang terbakar
(pemantik penamu mengobarkan dua keping bara)
aku menyaksikan api menyulut dengan rakus seluruh rencana
menggeretak-hanguskan dinding dan pilar-pilar
menyelinap di elevator, merambah lobby
(dalam bilangan detik, kurasa ia akan tiba di langit-langit dapurku)
dia yang bertungkai ramping masih melepasku di pintu ruang rapat
dengan leretan senyum dan ruap cappuccino tetes terakhir
(mungkin aku merindukan kembali dia menyeduh untukku - untuk kita, suatu ketika)
tapi saat ini aku ingin menjelma dia, bertungkai ramping
menenteng notebook (yang juga ramping)
yang hanya dengan sekelebatan lenguh
sanggup memadamkan api
dan mengubah arah ujung penamu
jakarta, 06032009


Discussion
No comments for “breakfast meeting (3)”
Post a comment