INI bulan-bulan menyenangkan sebetulnya, meski cukup melelahkan. Terbang dari satu kota ke kota yang lain, dan bertemu dengan banyak orang. Banyak hal menarik yang bisa ditulis. Sayangnya, saya bukan seseorang yang memiliki time management yang baik - saya selalu gagal mencuri waktu untuk menulis. Walhasil, pengalaman-pengalaman menyenangkan itu tertimbun di labirin waktu.
Tulisan ini sekadar catatan peristiwa, barangkali suatu saat ada gunanya. Seperti ketika Mbak Nita Kenzo berseru setengah guyon, “Ayo foto, ayo foto! Satu abad lagi foto ini bersejarah!”
Oya, saya memulai kisah dari Mbak Nita - nama lengkapnya Mayasari Sekarlaranti (gak ada hubungannya dengan nama panggilan, ya? Hehe). Mbak Nita ini cucu dari Pak Sulaeman, salah seorang deklarator Boedi Oetomo. Melalui perbincangan yang hangat tentang organisasi pergerakan itu, Mbak Nita mengundang saya ke Yogya. Di sana akan ada sejumlah kegiatan yang terkait dengan peringatan 100 tahun Kongres I Boedi Oetomo. Dan Mbak Nita meminta saya menjadi salah seorang narasumber. Kebetulan, saya memang banyak mengubek-ngubek sejarah menjelang Seabad Kebangkitan Nasional Mei lalu, secara Pak Dwidjosewojo - pendiri perusahaan tempat saya bekerja, adalah Sekretaris I Pengurus Besar Boedi Oetomo (baca tulisan saya yang lain di kanal Nine to Six, “Boedi Oetomo, Boemi Poetra, dan Rekam-Jejak Dwidjosewojo”).
Singkat kata, saya memang akhirnya didatangi ketua pengarah kegiatan itu, Pak Satrio Budi Pramono. Mas Yoyok - begitu sapaan akrabnya, mantan aktivis mahasiswa tahun 70-an di Yogya, yang begitu energik, berhasil mengusik-ngusik keingintahuan saya lebih jauh tentang anak-cucu keturunan aktivis Boedi Oetomo. Saya manut ke Yogya - termasuk menerima tawaran untuk tidur di sekretariat panitia yang merangkap hotel (harusnya saya tulis: hotel yang digunakan sebagai kantor sekretariat): Mustokoweni The Heritage Hotel, di Jl. AM Sangaji 72 Yogyakarta. Padahal, saya bisa saja memilih hotel lain - secara saya jalan dinas dari kantor.
Dalam hajatan ini, sebetulnya ada 3 kegiatan: Pameran Jejak Perjuangan Boedi Oetomo pada 5-30 Oktober 2008; Renungan dan Orasi Kebangsaan pada Minggu 5 Oktober 2008, dan Sarasehan Menuju Indonesia Mulia pada 22 Oktober 2008. Saya bicara di event ke-3 ini, berbarengan dengan Ir. Bambang Eryudhawan - penulis buku Boedi Oetomo, Drs, Adi Ekopriyono, MSi, dan Anies BAswedan, Ph.D, - rektor Universitas Paramadina. Pada sesi sebelumnya, sejarahwan Dr. Anhar Gonggong juga tampil sebagai pembicara - meski amat singkat. Tapi saya sempat berbincang lama dengan Pak Anhar tentang pelbagai fenomena bangsa ini, karena kebetulan kami duduk bersebelahan di pesawat dalam perjalanan Jakarta-Yogya.
Yogya, bagi saya, selalu menarik untuk segala hal. Selain karena ini tanah tumpah darah suami saya, setiap jengkal tanah di Yogya seolah menyimpan aroma sejarah. Seperti sarasehan itu. Kegiatan dilaksankan di aula SMA Negeri 11 Yogyakarta - aula yang satu abad lalu digunakan sebagai tempat Kongres I Boedi Oetomo. Menurut salah seorang kakak Mbak Nita, tempat ini nyaris tidak mengalami perubahan berarti sejak moment bersejarah itu ditoreh di sini. Bukan main.
Lalu, Mustokoweni. Hm, hotel milik Ibu Larasati Suliantoro Sulaeman ini benar-benar merepresentasikan Yogya masa silam. Dari bentuk bangunan yang khas peninggalan Belanda, interior - termasuk meubelair dan ornamen dinding, hingga menu makan siang yang menyajikan gudeg. Pokoknya, kalau jalan dinas, pasti gak menemukan pengalaman batin seperti ini, karena teman-teman di cabang pasti memesankan hotel terbaik di kota mereka.
Dan, yang paling berkesan, tentu, adalah perlakuan para panitia yang umumnya berasal dari anak keturunan deklarator Boedi Oetomo dan dosen-dosen sejarah UGM. Mereka sangat hangat dan low-profile. Mas Yoyok bahkan super-duper perhatian - hingga kadang-kadang membuat gak enak hati. Ia organisatoris yang baik dan memahami bagaimana cara membuat sesuatu dan seseorang merasa bernilai.
Satu lagi yang mengesankan di Yogya - perhatian sahabat saya Andri Mankuntoro beserta keluarganya - Mbak Ning berikut Akid dan Raihan - 2 jagoannya. Kebaikan keluarga ini selalu meluluhkan hati. Saya menghabiskan setengah hari terakhir - sampai di ruang tunggu bandara - dengan mereka. Saya rasa, di benak saya, Yogya lebih identik dengan mereka. Bukan dengan teman-teman di Bumiputera, atau keluarga besar suami saya di sana. Makasih ya, Mas Andri dan Mbak Ning!
Berikutnya, catatan perjalanan akan saya teruskan ke kerajaan tetangga Yogya: Surakarta. Di tempat ini saya hadir sebagai pembicara di kuliah umum FE - Universitas 11 Maret Surakarta pada minggu berikutnya, dalam rangkaian “Insurance Goes to Campus”. Seperti apa ceritanya? Tunggu saja.***


menarik membaca perjalanan ini, jadi ingin tahu bagaimana mengontak mbak nita? hp or email
terimakasih