Spirit of Life

calo

December 15th, 2008


DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang menghadap meja persis di sebelah saya, meluruskan tungkai kaki sekenanya - menghalangi satu-satunya akses saya keluar dari tempat duduk. Setumpuk berkas juga seenaknya mereka letakkan di ujung meja saya, tanpa permisi. Mereka kemudian ngobrol, sesekali berdebat - sangat serius, seolah tidak ada orang lain di tempat itu. Suaranya berisik seperti kumpulan tawon. Dengan ekor mata, saya memperhatikan mereka. Yang ceking tengah membuka-buka setumpuk berkas. Sementara yang gempal sibuk menyulut rokok (meski di ruangan itu terpampang jelas tulisan “no smoking!”). Sesaat kemudian, dia mulai memencet telepon seluler. “Tolong, jangan diganggu dulu!” katanya setengah berteriak, berupaya meredam suara teman-temannya. “Saya tengah tersambung ke pak X!”

Saya dan suami berpandangan, tersenyum kecil. Seketika, kami eneg - kehilangan selera makan. Saya masih sempat mendengar suara mereka, sebelum memutuskan meninggalkan tempat itu, “Kalau mereka tidak mengikuti kesepakatan kita, pertemuan itu batal. Saya sudah meminta ijin ke Pak X,” kata si gempal menyebut salah seorang kandidat calon presiden. Saya menarik nafas.

Hampir sebulan setelahnya, saya kembali bertemu dengan seorang calo dari kubu yang lain. Udara masih bersih di atas Palembang, ketika suaranya mengoyak keheningan pagi. “Kamu harus bisa mengamankan semuanya! Ini pesan Bapak!” tandasnya di telepon. Suaranya yang nge-bass segera mencuri perhatian penghuni hotel yang tengah sarapan. Apalagi, tidak banyak kepala yang mengisi meja restoran. “Hanya yang mendukung Ibu Y yang akan dibantu!” Sambungnya, menyebut salah seorang calon presiden. “Tidak ada kompromi! Dan … hup! Telepon dimatikan dengan gerakan kasar. “Ada-ada saja …,” gumamnya sambil menyeka rambutnya yang cekak, mirip model perwira. Dituntaskannya suapan terakhir, dan ia kemudian menyeret langkah menuju lobby.

Seperti lampu petromaks, kandidat presiden dan wakil presiden di hari-hari terakhir ini ramai dirubung kunang-kunang. Sesuatu yang lumrah, kata suami saya. Kehadiran titik cahaya senantiasa mengundang, menawarkan harapan dan kesempatan, kehidupan yang lebih baik. Menurutnya, fenomena seperti ini tidak hanya terjadi menjelang pemilu, tapi di setiap kesempatan di mana ada peluang menjadi calo dimungkinkan. Saat ini banyak orang berupaya mendekat ke capres/cawapres, ke ‘sumber cahaya’, mencari jalan agar semakin dekat. Dan bagi mereka yang memiliki akses ke sumber cahaya, ini adalah kesempatan berharga. Mereka akan menawarkan akses itu, memanfaatkannya dengan menjual jasa mendekatkan pencari cahaya itu ke sumber cahaya. Bukankah fenomena ini juga terdapat di balik dinding-dinding kantor?

Saya ingat cerita teman saya. Di perusahaannya, katakanlah perusahaan XYZ, seorang sekretaris direktur utama kerap sekali bertindak sebagai calo. Dari sekadar menghubungkan sang bos dengan karyawan dari luar kantor pusat, hingga calo bagi karyawan-karyawati yang ingin mendapatkan promosi. “Eh, tapi bukankah salah satu tugas sekretaris memang menghubungkan bosnya dengan orang-orang di sekitarnya?” tukas saya. “Sepanjang tidak dengan imbalan apa-apa, tentu saja ya!” Sahut teman saya. Tapi tidak dengan sekretaris yang satu ini. Jangan berharap urusan akan lancar, jika tidak menyelipkan ‘upeti’ di bawah mejanya. Sebegitu saktinya sang sekretaris, konon, sampai-sampai ia bisa menentukan hitam-putihnya nasib karyawan - terus dipekerjakan atau diberhentikan. “Seperti siterklas atau algojo!” cerita teman saya, tertawa. Diam-diam saya berpikir, apakah perusahaannya mirip kerajaan yang nasib rakyatnya ditentukan secara penuh oleh orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan?

Tapi tidak semua calo itu buruk. Dalam hal-hal tertentu, kita bahkan sangat membutuhkan jasa calo. Terutama jika ingin terlibat dalam bidang-bidang yang sama sekali tidak kita pahami atau kuasai. Sebut saja jika ingin menjadi investor di pasar modal dan pasar uang. Atau akan menggunakan jasa asuransi yang bersifat kolektif. Kita butuh calo, atau pialang, atau dealer, atau broker, atau apalah namanya - yang bertindak sebagai konsultan. Mungkin, Anda sendiri juga pernah memanfaatkan jasa calo saat akan menjual rumah atau tanah. Semata-mata, karena tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencari dan bernegosiasi dengan calon pembeli. Ya, calo - dalam aturan main yang jelas - berkembang menjadi sebuah profesi tersendiri. Beberapa di antaranya bahkan sangat membanggakan dengan tuntutan kompetensi yang demikian tinggi.

Bagaimana jika hanya mengaku-aku sebagai calo? Dulu, kisah ibu saya, ketika kakek saya masih memegang sebuah jabatan tertentu, kami memiliki banyak sekali ‘sanak-famili’. Semua mengaku memiliki ‘akses tol’ ke kakek. Tidak mengherankan, udara di seputar rumah keluarga besar kami beraroma umbaran janji. Tamu-tamu sering sekali datang tanpa sepengetahuan kakek. Dan ibu - berikut saudara-saudaranya, terpaksa dengan sungkan menolak tamu dan menyatakan bahwa kakek sebenarnya tidak tahu-menahu dan tidak pernah menjanjikan apa-apa.

Menjadi key person, memang tidak selalu menyenangkan. Sebagai sumber cahaya, sinar yang dipancarkan tidak selalu menerangi gulita. Kerap malah menyilaukan, hingga menyesatkan orang-orang tertentu. Karena itu, jika suatu ketika Anda dipercaya untuk menerima amanah - menjadi presiden, direktur, manajer, atau apapun yang memungkinkan Anda menjadi ‘sumber cahaya’, Anda dituntut untuk memiliki kearifan tersendiri. Terutama ketika berhadapan dengan orang-orang yang mengaku berada di lingkar cahaya Anda. Ujian terberat justru hadir pada awal-awal ketika kita menerima amanah tersebut, karena begitu banyak orang yang tiba-tiba merasa menjadi bagian dari diri kita. Hanya dengan matahati yang terbuka, yang memungkinkan Anda untuk mundur sejenak, memasang jarak, mencermati secara sungguh-sungguh, untuk kemudian memilah siapa sejatinya orang-orang yang menopang kesuksesan Anda, yang membantu dengan tulus, yang menjadi teman suka dan duka; dan memilah siapa yang tengah bertindak sebagai calo, atau bahkan mencuri kesempatan dengan menjadi ‘calo-caloan’ …. ***

Discussion

2 comments for “calo”

  1. Hehehe. Tulisan ini insightful. Membuat senyum sekaligus kesal. Bravo Bu Anna. Keep writing!

    Posted by arya | December 19, 2008, 7:59 am
  2. terima kasih, mas arya. kok jadi kesal? hehehe …

    Posted by Ryana Mustamin | January 5, 2009, 4:06 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]