Jagad

sakti bobok di hari ulang tahun

November 21st, 2008


SATU November lalu, umur saya genap 3 tahun. Kata ibu, jagoan ibu udah gede. Ntar lagi bisa sekolah. Sekolah buat apa? “Biar bisa baca!” kata saya ke ibu. “Biar bisa nulis (selama ini ‘kan dibantuin ibu untuk nulis catatan di blog ini), biar bisa nyanyi, biar bisa gambar, dan … biar bisa nangis juga!”

Kalau buat nangis mah, kata ibu, gak perlu sekolah. “Mas Sakti sekarang aja udah cengeng!” tukas ibu. Saya cuma cengengesan. Entah benar, entah tidak. Tapi kata Eyang, waktu bayi, saya memang jarang nangis. Sampai-sampai tetangga suka gak percaya ada bayi di rumah ibu.

Oya, saya mau cerita tentang ulang tahun saya, meski udah lewat (habis, ibu sibuk bener, sampai gak sempat bantuin saya bikin catatan).

Seminggu sebelum ulang tahun, ibu sudah ngabari kalau saya sebentar lagi ulang tahun. “Sakti mau tiup lilin!” kata saya ke ibu, memohon. “Seperti Mas Janu!” Beberapa waktu lalu, sepupu saya memang ulang tahun.

Ibu, seperti biasanya, jarang menolak permintaan saya. Kebetulan, ulang tahun saya jatuh pada Sabtu - hari libur.

Karena itu, pagi-pagi, mbak dan tante Ayu udah keliatan sibuk di dapur. Ibu juga beres-beres rumah. Hari ini, keluarga besar kami pasti ngumpul: Eyang Kung, Eyang Ti, Pakde, Bude, Oom, Tante, Kakak-kakak sepupu dan adik-adik. Saya juga pagi-pagi udah rapi.

Agak siangan dikit, ada oom-oom datang naik motor. Ternyata bawa kue ulang tahun. Begitu dibuka, wawww… keren juga. Kue tart-nya bergambar Micky Mouse. Belakangan ini, saya memang gandrung nonton Mickey (akh, ibu tau aja kesukaan saya). Saya juga suka Bob the Builder, Little Einsteins, Tiger & Pooh, Handy Manny, dan Noody. Tapi udah agak bosan nonton Thomas.

“Ibu, lilinnya dinyalain!” Rengek saya ke ibu.

“Tunggu Yang-Kung dan Yang-Ti dulu!” tukas ibu.

Saya akhirnya main dinosaurus. Meski udah pengen banget niup lilin ulang tahun. Tapi Eyang kok lama banget sih datangnya?

Tengah asyik main, Eyang datang. Wah, senang banget. Berarti udah bisa niup lilin dong.

“Ibu, lilinnya dinyalain ya!” kata saya, antusias.

“Adek Lala dan Caca belum datang. Tunggu sebentar lagi ya!”

Waduh! Rasanya gondok banget. Ibu gimana sih? Saya kan capek nunggunya. Saya juga udah gak sabaran pengen tiup lilin.

Saya udah mulai gerah dan ngantuk. Juga gak habis ngerti kenapa harus menunggu semua datang. Saya perhatiin, Ibu dan Ayah sibuk ngobrol dengan Eyang, kayak gak ngerti perasaan saya (hiks!).

Menjelang jam duabelasan, Oom Valent baru datang. Saya udah gak semangat waktu ngeliat Adek Lala dan Caca turun dari mobil.

“Ayo, acaranya kita mulai!” kata ibu.

Lilin dinyalain ibu. Ayah memimpin acara. Eyang memimpin doa. Lalu semua pada nyanyi. “Ayo, lilinnya ditiup!” kata Eyang-Ti.

“Gak mau! Gak mau!” Saya teriak-teriak. Berontak dan nangis. Saya gak mau niup lilin, gak mau dengar semuanya nyanyi.

Ayah lalu menggendong saya.

“Ayo sayang, lilinnya ditiup!” bujuk ibu.

“Gak mau! Gak mau! Sakti mau bobok!!!” Saya teriak sekencang-kencangnya sambil nangis.

Anehnya, yang lain pada ketawa.

“Ayah, naik!” Saya ngajak Ayah ke kamar. “Naik! Sakti mau bobok!”

Ayah dan ibu akhirnya mengganti saya niup lilin. Meski saya meronta-ronta.

Di ujung tangga, saya masih denger Eyang, Oom dan Tante, pada ketawa.

Ih, kok pada gak ngerti sih perasaan saya?***

Discussion

One comment for “sakti bobok di hari ulang tahun”

  1. Hihihihi, Sakti lucu banget. Met bobok eh met ultah yaaa :D

    Posted by Hesti | November 24, 2008, 5:57 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]