Spirit of Life

hari ini

November 26th, 2008


SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut pelan, tampak seperti kawanan siput. Di pembatas jalan, dedaunan dan pejalan kaki masih bersitahan melawan cuaca, bergetar kuyup.

Saya termangu menyaksikan tempias air - serupa lelehan tangis - yang menempel di kaca jendela, dengan rasa gamang yang menggores tajam. Ini hari-hari terakhir menjelang tutup tahun. Di ruang kerja yang selantai dengan saya, sebagian teman-teman sudah mengambil cuti. Sebagian rekan yang masih bertahan, seperti sepakat untuk tidak terlalu mengumbar aktivitas. Dering telepon satu-satu. Suara tuts komputer tertangkap lirih. Percakapan pun dilakukan dengan suara rendah.

“Tanpa terasa, November sudah mau habis. Sebentar lagi Desember. Tutup tahun. Waktu cepat sekali, ya!” Seorang rekan kerja memecah udara. Saya mengedikkan bahu, seraya memandang langit di luar jendela. Seperti apa sih waktu itu? Kadang-kadang saya merasa, waktu seperti kura-kura yang merangkak pelan, mengusung jemu. Di waktu lain, ia seperti derap kaki pasukan kuda yang dilecut punggungnya. Membuat terengah dan panik.

Pada koran sore yang baru diantar loper, saya menemukan sejumlah tulisan yang mulai mengevaluasi kinerja ekonomi tahun ini. Lalu ada ulasan prospek perekonomian tahun depan di halaman lain. Iklan-iklan dagang pun ramai, menawarkan great sale akhir tahun - mengirimkan sihir bujukan seolah tidak ada lagi waktu di hari esok. Sejumlah perusahaan pun memaparkan rencana kerja dan anggaran tahun 2009. Tapi saya masih juga terusik: seperti apakah waktu itu? Mengapa pada akhir tahun serasa ada yang akan pergi? Mengapa kita seperti harus memilah-milah waktu?

Jangan-jangan waktu hanya ada dalam ilusi kita. Saat membuat rencana dan dikejar deadline, kita merasa waktu bergerak linier. Dari titik nol hingga sekian. Dari pagi hingga malam. Dari pukul 00.00 hingga 24.00. Dari Januari hingga Desember. Dari kelahiran hingga kematian. Seperti inikah kita menamai dan memaknai waktu?

Ataukah waktu bergerak berputar? Seperti trend mode yang kembali mengusung gaya busana ibu saya di usia belia? Seperti matahari yang tenggelam dan kemudian terbit kembali? Bukankah kita akan menyongsong Januari lagi? Bukankah ritual pesta tahun baru akan tiba kembali tahun depan? Bukankah kita membuat rencana, merealisirnya, dan merencanakan kembali? Tidakkah bumi dan galaksi yang suatu ketika hancur lebur akan mewujud kembali? Seperti kelahiran setelah kematian? Seperti kemunculan pucuk daun setelah layu dan membusuk? Tidakkah hitungan akan berulang? Dari nol ke nol lagi? Dari seribu kembali ke seribu?

Atau waktu justru sesuatu yang statis? Adakah sesuatu yang sungguh-sungguh berbeda dari hari lampau dibanding hari ini? Bukankah kita akan kembali menyusuri jalan-jalan yang sama, ruang yang sama, bahkan mungkin dengan pekerjaan dan rekan-rekan yang sama?

Di luar jendela, saya menyaksikan Jakarta yang masih diguyur hujan. Jika titik air itu tidak menjulur, sesaat lagi saya akan melihat matahari tergelincir di balik gedung jangkung di seberang jalan, mengatup siang (atau membuka malam?). Ah, alangkah rumitnya berpikir tentang waktu. Saya tiba-tiba teringat seorang anak jalanan yang pernah saya temui di sebuah rumah singgah - seseorang yang justru tidak pernah berpikir tentang waktu. Baginya, hidup adalah hari ini. Ia mengamen untuk makan hari ini. Ia tidak pernah berpikir apa yang terjadi hari kemarin dan apa yang akan menyongsongnya esok.

Mungkin akan lebih baik seperti itu. Lakukan yang terbaik hari ini, saat ini. Kita tidak perlu memikirkan dan menyesali yang lampau. Kita tidak pernah bisa mengubah apa yang sudah terjadi kemarin, tidak bisa meralat apa yang sudah kita lontarkan sebelumnya. Kesedihan dan kegembiraan yang terjadi kemarin, tidak mungkin dicecap kembali. Karena itu, mungkin sebaiknya kita relakan masa lalu melindap.

Seperti pengamen itu, kita juga tidak perlu mengkhawatirkan hari esok. Hingga fajar menyingsing esok hari, kita tidak pernah memahami apa yang akan terjadi. Kita tidak pernah tahu apa yang benar-benar akan kita lakukan esok.

Saya meninggalkan ruang kerja dengan mengatup pintu perlahan. Kali ini tidak dengan perasaan gamang. Pintu masa lalu telah tertutup. Pintu masa depan belum lagi terbuka. Mumpung hari belum benar-benar lewat, saya ingin mendedikasikan diri sepenuhnya hanya untuk hari ini. Sungguh-sungguh hari ini. Memberikan yang terbaik. ***

Discussion

4 comments for “hari ini”

  1. Wow! Tulisan mba Ryana bagus banget,saya jadi ragu untuk tidak setuju. Tapi yaah, setiap orang punya cara sendiri memahami dan bagaimana menjalani waktu-nya masingmasing :) Trims ya, mba.

    Posted by Hesti | November 27, 2008, 10:34 am
  2. hai mbak hesti, kalo ragu untuk tidak setuju, berarti ragu juga untuk setuju. hahaha …. yang pasti, hari ini adalah kemarin di hari esok. hari esok adalah resultante hari ini dan kemarin. setuju?

    Posted by Ryana Mustamin | December 2, 2008, 1:55 am
  3. All the info on your website was great, I like the nice clean layout of posts.

    Posted by Tim | December 4, 2008, 1:30 pm
  4. Sebuah renungan tentang waktu yang memikat Kak Ana. Thanks..

    Posted by amril | December 9, 2008, 8:26 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]