Jagad

t-rex malas sikat gigi

October 20th, 2008


TIYES (baca T-rex, ibu) malas sikat gigi. Itu kata ibu. “Coba mas liat nih,” tunjuk ibu ke gambar Tiyes di buku ensiklopedi. Emang sih, keliatan banget kalo salah satu giginya copot. “Kalo mas Sakti juga malas sikat gigi, giginya juga bakal seperti T-rex!” kata ibu lagi.

Saya tersipu-sipu. Selama ini saya memang malas sikat gigi. Abis, aneh sih, ada bulu-bulu masuk ke mulut saya. Lagipula, saya belum tahu cara meludah yang bener. Jadi gitu deh, bawaanya males. Ibu sampai sering kehabisan akal buat ngebujuk saya untuk sikat gigi.

Eh, tahu Tiyes ‘kan? Itu lho, salah satu jenis dinosaurus. Ibu bilang nama panjangnya Tyranosaurus Rex. Tapi,aduh, mbelibet banget sih nyebutnya.

Sekarang, saya lagi gandrung sama Tiyes. Sebenarnya sih, saya suka semua jenis dinosaurus. Sejak kecil saya akrab dengan binatang gede itu (kata ibu, itu binatang purba! Tapi saya gak ngerti apa itu purba). Ibu membelikan buku sejenis ensiklopedi “Aku Ingin Tahu” sejak saya masih belum berumur setahun (tuh, coba liat foto saya waktu belum setahun. Mainannya udah buku ‘kan?). Sejak itu pula, saya udah demen mengamati gambar-gambar yang ada di buku itu.

Ada 3 buku favorit saya yang saya hafal bener sampulnya. Tiga buku itu, masing-masing yang depannya bergambar pesawat (isinya mobil, kereta api, dan pesawat), gambar terowongan (isinya aneka jenis traktor), sama buku dino. Kalau 3 buku itu nyelip di antara ensiklopedi lainnya, saya pasti bisa langsung nemuin hanya dengan ngeliat punggung bukunya. Saking seringnya 3 buku itu saya buka, sebagian halamannya sobek. Untung Eyang berbaik hati menyambungnya kembali pake selotip.

Dari ensiklopedi, saya lantas makin tahu dino waktu Dino’s Alive datang di parkir Senayan pada Juli 2008 (baca juga catatan saya di blog ini, “Kata Ayah, Dinosaurus itu Boneka”). Kemudian, beberapa hari lalu, saat di toko mainan, saya nemu robot Tiyes. Tiyes ini oke banget deh. Bisa mengaum dan berjalan. Kalau mengaum, lidahnya nyala. Wah, pokoknya keren banget. Dua hari lalu, Ayah juga melengkapi koleksi dino saya. Ada Triceratop, ada juga Stego.

Sejak itu, saya makin sering meminta ibu membacakan buku-buku yang berkaitan dengan dino. Tapi, biasanya saya hanya minta dibacakan halaman yang ada gambar Tiyes yang giginya copot itu. Bisa berulang-ulang, dan di halaman itu-itu juga. Kalaupun ganti, paling saya minta dibacain yang ada di kotak mainan bungkus Tiyes, atau buku yang saya beli waktu Dino datang di Senayan.

Belakangan, saya juga suka begadang. Bisa sampai jam 11 malem lho. Nah, menjelang bobok ini, paling asyik dengerin ibu baca Tiyes.

“T-rex itu kepalanya paling gede,” begitu biasanya ibu memulai. “Mulutnya juga gede. Giginya banyak, runcing dan tajam….”

“Suaranya seperti apa, Ibu?” saya nyela.

“Hayo, gimana coba suaranya?” Ibu balik nanya.

“Auuuummmmm!” Saya mengaum kencang-kencang dan membuka mulut selebar-lebarnya.

Ibu tertawa.

“Kalau T-rex yang masih kecil, bunyinya seperti apa?” Tanya ibu lagi.

“Auummm!” Kali ini suara saya kecilin.

Suatu malam, ibu membaca cerita yang sama untuk ke-5 kalinya. Ibu juga membaca buku lain - tentu tentang Tiyes juga. Kali ini cerita tentang anak kecil bernama Sali yang mengkhayal jadi Tiyes.

“… Sali akhirnya mikir: ah, gak enak jadi T-rex! Lebih enak jadi anak ayah dan ibu! Sali lantas mengumpulkan dinonya, memasukkannya ke kotak mainan, dan menyimpannya di lemari.” Ibu mulai menguap.

“Ah, Sali ngantuk, ah!” ibu melanjutkan membaca. “Sekarang Sali pengen bobok!”

Ibu kemudian menutup buku, dan menatap saya. “Nah, Mas juga ngantuk ‘kan?”

“Nggak!” kata saya yakin. “Sakti gak ngantuk. Ibu bacain lagi, bacain lagi!” saya meronta-merengek.

Ibu mencium dan memencet hidung saya dengan gemes. Meski mata ibu udah merah dan ngantuk banget, ibu akhirnya membaca kembali cerita tentang Tiyes.

“T-rex sering disebut raja dinosaurus. Mulutnya gueedeee banget. Giginya banyak dan runcing. Tapi T-rex malas sikat gigi…”

Sampai di sini, cerita ibu gak berkembang. Waktu saya noleh, buku dinonya sudah terlepas dari tangan ibu. Ibu rupanya bobok. Aduh. “Ibu, bacain Tiyes lagi. Lagi, ibu! Bangun dong ….,” tangan ibu saya guncang sekerasnya. ***

Discussion

One comment for “t-rex malas sikat gigi”

  1. hihihi. . . Adek sakti lucu deh. . .

    Posted by Putri | October 26, 2008, 1:20 pm

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]