(Sekadar dokumentasi. Disunting dari Harian Kedaulatan Rakyat - Yogyakarta, edisi 23 Oktober 2008)
YOGYA (KR) - Terbatasnya pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan secara tidak langsung menyebabkan generasi muda kian jauh dari perjuangan founding fathers. Pengaruh budaya Barat telah merasuk dalam jiwa generasi muda. Hal tersebut tidak hanya membawa dampak positif seperti kemajuan dalam bidang teknologi, tapi juga nilai-nilai kapitalistik yang bisa mengikis kearifan lokal. Karena itu, sudah saatnya pendidikan terhadap anak didik mulai diarahkan pada penanaman nilai-nilai luhur dan kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Demikian antara lain yang mengemuka dalam acara sarasehan ‘Menuju Indonesia Mulia’ yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun kongres pertama Boedi Oetomo di Aula SMAN 11 Yogya, Rabu (22/10) tadi malam.
Seminar dihadiri para sejarawan, tokoh-tokoh masyarakat, pelajar dan mahasiswa. Sebagai narasumber Ir Bambang Eryudhawan IAI (penulis buku Jejak Tokoh dan Peristiwa Boedi Oetomo), Ana Mustamin (Kepala Dep Komunikasi Bumiputera 1912), Drs Adi Ekopriyono MSi (penulis buku) dan Anies Baswedan PhD (Rektor Universitas Paramadina Jakarta).
Anies Baswedan mengatakan, tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia di era globalisasi tidak jauh berbeda dengan ancaman 100 tahun lalu. Pasalnya, selain infiltrasi nilai-nilai budaya Barat, kemiskinan dan kebodohan sampai saat ini masih menjadi problem serius. Untuk itu generasi muda sebagai kader penerus harus bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Tentunya semua itu akan bisa terwujud jika dilandasi dengan kerja keras, keyakinan dan optimisme untuk menuju ke arah yang lebih baik.
Ana Mustamin menambahkan, 100 tahun kebangkitan nasional adalah momentum yang tepat bagi generasi mudah untuk berbenah diri dan memperjuangkan cita-cita para pendahulu. Sebab pesimisme dalam menyikapi krisis multidimensi tidak akan bisa menyelesaikan persoalan. Karena itu selain melestarikan kearifan lokal dan meneladani perjuangan para pendiri Boedi Oetomo, generasi muda juga perlu memperkaya sejarah.
Komentar serupa juga diungkapkan Bambang Eryudhawan. Menurutnya, adanya perbedaan persepsi tentang pendiri Boedi Oetomo tidak perlu disikapi secara berlebihan. Sebab saat ini yang terpenting dan perlu segera dilakukan adalah meneruskan cita-cita dan perjuangan mereka supaya bisa menjadi kenyataan.(R-5)


Discussion
No comments for “pemuda harus bawa perubahan: kemiskinan-kebodohan, problem serius”
Post a comment