Sihir Kata

dongeng buat anil

October 13th, 2008


Pengantar:

Ini salah satu cerpen yang saya buat ketika masih remaja. Dimuat di Majalah Anita Cemerlang (tahun 1988-1989?). Saya dedikasikan untuk ‘Anil Hukma’ - seorang sahabat saya yang juga penyair. Isi cerpen tentu saja tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi Anil - meski beberapa bagian cerpen ini inspirasinya dari Anil. Cerpen ini sekadar buah imajinasi, dan ditulis untuk mengabadikan persahabatan kami. Oya, apa kabar Anil sekarang?

PROLOG

Mengingat-ingat dongeng yang pernah dikisahkan nenek semasa kita bocah, mana yang paling berkesan? Si Kancil yang cerdik? Bawang Merah dan Bawang Putih? Atau Cinderella?

Apa pun jawabmu, tak soal. Yang jelas, kita pasti sepakat jika dongeng-dongeng itu mengajarkan hal yang sama: bahwa dalam hidup ini selalu ada Si Jahat dan Si Baik. Dan bahwa Si Jahat jika diperhadapkan dengan Si Baik, akan kalah, akan bernasib sial. Ya, apa nggak? Kalau nggak, dongeng nenekmu pasti ngawur deh. Ha-ha.

Eh, tapi sesungguhnya, adakah dongeng yang nggak ngawur? Adakah hidup akan seadil dan selugu kisah-kisah yang dituturkan orang-orang tua kita dulu? Sungguhkah bumi ini hanya dihuni dua jenis manusia: Si Hitam dan Si Putih - tanpa nuansa lain?

Dan yang terpenting, benarkah nasib baik akan selalu berpihak pada mereka yang selalu berikhtiar menyetiai kebaikan?

***
Sungguh! Pada mulanya aku berharap menerima surat dari fans. Secarik kertas berisi penuturan klise: ‘Mas jo, saya kagum lho ama cerpen-cerpen Mas. Nggak salah dong kalau kita ngefan berat. Boleh kenalan, kan?’

Sekali ini aku keliru. Karena sepucuk surat yang datang, menohokku dengan pertanyaan, “Mas, sesungguhnya, apa sih yang pantas diburu dan didamba dalam hidup ini?”

Dan aku tertegun sekian detik.


… Aku Anil, masih remaja, SMA. Dan sebagaimana laiknya usia demikian, pertanyaan demi pertanyaan bergaung silih berganti, menanyakan kenyataan-kenyataan yang tertemui dalam
perjalanan. Pertanyaan itu, kadang kabur dan terkubur sendiri, karena tak kunjung mendapatkan jawaban.

Nah, untuk pertanyaan Anil di atas, akhir-akhir ini semakin kerap menjenguk, menuntut jawaban segera. Memang, sekerat demi sekerat Anil mencoba mencari jawaban dengan pengertian-pengertian yang secuil pula. Namun ketidakpuasan segera kembali bersarang, menunggu pendapat dari ‘kacamata’ orang lain yang lebih mapan….

Sekarang aku percaya, khayalanku menemui wujudnya. Aku pernah mencipta sosok Violeta dalam salah satu cerberku. Sosok yang demikian menyetiai kesendiriannya: kecemasan, ketakutan, keraguan, impian, sekaligus ketegaran. Kendati ia menatap hidup dengan serba ungu - warna kemurungan.

Di tengah gegap-gempita dan hura-hura kehidupan remaja, tokoh rekaan tersebut pernah membuatku merasa demikian naif: tidakkah Violeta sungguh-sungguh seorang tokoh fiktif yang selamanya akan tetap fiktif? Dan aku… tetap sebagai si pendongeng sejati! Menyodorkan kisah-kisah sedih yang didramatisir sedemikian rupa, mengeksploitasi penderitaan untuk sebuah popularitas dan uang ….

… entahlah! Tapi Anil begitu terkesan akan sosok Violeta dalam “Kidung Ungu”nya Mas Jo. Padahal, cerber itu terpublikasi tahun 1987 silam. Suatu waktu yang cukup lama kukira, tapi
mengapa hingga kini sosok itu masih tertambat di hati?

Mas Jo, kadang aku merasa begitu sibuk sendiri. Kadang pula dijenguk oleh kesadaran, bahwa ia hanya semata fiksi. Tapi semuanya serasa hidup, lekat, dan akrab: ketika ia berdiri di koridor sekolah, berjalan sendiri, memandang hujan, berimajinasi. . . dan aku menemukan gambaran diriku di sana - di pikiran-pikirannya, sikapnya….

Aku masih mengenangnya dengan baik. Pada sebuah Februari yang basah, suratnya terhenti. Dan sebagai gantinnya ia berdiri di pintu. Ya, ‘Violeta’ itu menjelma nyata dalam kehidupanku.

“Mas Jo?” matanya mengerjap ragu.

Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Saya, Anil!” Suaranya terdengar lirih, malu-malu.

Kulitnya putih bersih. Dengan rambut lurus sebahu, berponi halus di dahi, ia nampak demikian imut-imut. Sepintas, orang akan lebih menebaknya sebagai pelajar SMP ketimbang seorang siswa SMA kelas dua.

Sejak pandangan pertama itu, aku mulai kewalahan membujuk perasaanku untuk tidak jatuh cinta padanya. Matanya yang bagai bintang kecil seperti menyimpan kedalaman misteri. Sesekali berpendar gemerlap. Namun di waktu lain berubah suram, seolah berlarik-larik mendung menyaputinya. Mata itu, sungguh, memancarkan daya magnetis luar biasa, mengaduk-aduk batinku yang memang gampang terusik.

Ia masih terlalu putih, Jo! hujat batinku senantiasa. Kehidupannya ibarat kubah lazuardi yang biru bening, tanpa awan-awan yang menodainya.

Dan aku tersenyum kecut mengenangnya. Hari-hariku yang lampau seolah terpeta jelas. J-o-h-a-n, don juan kampus, yang terbang dari gadis yang satu ke gadis yang lain tanpa pertimbangan berarti. Dan kini, betapapun besar keinginanku untuk belajar mencintai
seorang gadis dengan benar, aku tidak akan pernah ingin menjadikan Anil sebagai kelinci percobaan: Aku masih begitu kerap dilibat keraguan akan keyakinanku. Aku belum bisa mempercayai sepenuhnya bahwa aku akan mampu meranggaskan penyakit isengku sampai ke akar-akarnya.

Hari-hari berikutnya, pada akhirnya memang jadi hari yang menyiksaku. Aku terus berupaya menjaga dan memelihara perasaanku terhadap Anil. Seperti Mama yang menjaga demikian te-
laten menjaga guci-guci porselennya. Seolah ada kekhawatiran jika aku menyentuhnya, ada salah satu bagiannya retak, atau bahkan pecah.

Tidak enak memang. Aku tidak memungkiri jika hari-hari itu tak selamanya mulus. Ada di antara detik, saat menampak sosoknya, timbul keinginan untuk merengkuhnya, melindunginya, memilikinya, utuh penuh. Namun setiap kali perasaan itu tiba, hati kecilku melarang.

Mata Anil yang bulat bening, polos laksana bayi, adalah tirai yang senantiasa menghadirkan jarak. Dalam keadaan demikian, aku hanya mampu menghela napas. Sampai suatu ketika, sebentuk kesadaran lain menggodaku.

“Nil, kenapa tak mencoba menulis di media massa?”

“Jadi penulis?” Matanya melebar.

Aku mengangguk.

“Menyaingi Mas Jo?” Tawanya mengintip.

“Kenapa nggak?”

Di luar, angin bertiup kencang. Kudengar gadis itu tertawa berderai.

“Ada-ada saja. Mas Jo ngeledek!”

Aku mencengkeram lengannya. “Heh, kali ini Mas Jo serius.”

“Tapi Anil merasa nggak berbakat.”

“Kamu berbakat. Cuma nggak merasa aja!”

“Tapi. . . .”

Aku membungkam ‘tapi-tapi’annya dengan memperlihatkan setumpuk surat-suratnya.”Kertas-kertas ini yang berbicara. Kamu sesungguhnya penulis cerdas, Adik Manis!”

Tapi ia tetap tak percaya, tetap menganggapku ngeledek. Dan aku tidak putus asa. Entah kenapa, ada dorongan lain yang memaksaku, lebih dari sekadar perasaan cinta. Seolah aku begitu yakin, lewat tangannya akan lahir karya-karya monumental.

Pada salah satu suratnya, aku mencopot puisi yang konon diciptakannya khusus untukku. Dan ketika sebulan kemudian puisi itu hadir pada salah satu majalah remaja, ia tercengang….

“Mas Jo?” Matanya mengerjap ragu, seperti pada awal pertemuan kami dulu.

Dan kali ini pun aku menyambutnya dengan sebuah senyuman. “Sekarang Anil percaya, kan?”

Wajah yang biasanya sendu itu, kini dibauri rona cerah. “Makasih, Mas jo!” Bisiknya. “Sekarang Anil ingin lebih banyak belajar pada Mas Jo. . . .”

***
Berapa musim sudah aku tak berjumpa dengannya? Enam? Tujuh? Dua tahun di San Fransisco menghabiskan beasiswa, dengan hari-hari yang sarat dengan ceramah dan debat, kuliah tentang American Political Behaviour, American Foreign Policy dan sebangsanya; nyaris menyita habis waktuku. Sekalipun sekadar menikmati party, atau suasana hippies lainnya.

Kembali ke Tanah Air, dengan benak yang direcoki habis pemikiran-pemikiran Barat, membuatku harus rela kehilangan duniaku yang dulu. Diskusi-diskusi dan seminar makin menjeratku. Dan kegemaranku yang dulu - menulis cerpen, kian meremang di kesilaman.

Aku hampir melupakan obsesiku untuk menyaksikan seorang penulis cerdas menetas, ketika mataku menampak sebuah tulisan di harian daerah beberapa hari lalu:

MOMEN KEREN BUAT KAWULA MUDA. TATAP WAJAH PLUS NGERUMPI DENGAN CERPENIS IDOLA KAMU: ANIL. . . .

Segenap isi dadaku rasanya berpesta. Sengak oleh kegembiraan sekaligus kekangenan dalam yang membuncah. Secepat itu ia bisa meraih sukses?

Ruangan besar pada salah satu hotel berbintang itu demikian riuh. Remaja dari berbagai sudut kota numplek. Pada sebuah sudutnya, aku ikut berdiri berdesakan, memandang dari kejauhan. Saat start dari kampus tadi, kupikir kedatanganku paling awal. Ternyata masih ada yang lebih kesetanan untuk menjumpai Anil. Apa boleh buat, kekangenan itu kutelan bulat-bulat.

Nun, Anil nampak demikian ceria. Seolah paham betul jika hari itu miliknya, dan semua mata menyorotinya penuh kekaguman. Aku beringsut, lebih ke tengah. Hm, wajahnya kini lebih jelas. Ia sudah jadi gadis matang rupanya. Cantik, dan tidak malu-malu.

Dari jajaran kursi bagian depan, seorang gadis berseragam abu-abu mengacungkan tangannya.

“Kalau boleh tahu, Anil nulisnya sejak kapan?”

“Kelas dua es-em-a. Tapi sebetulnya tuh, Anil udah merasa bisa menulis sejak es-em-pe,” sahutnya tangkas.

“Oh ya, selama ini siapa yang mendorong Anil menulis?”

“Banyak. Teman-teman, saudara, dan terutama Papa-Mama!”

“Ada yanq membimbing, nggak?”

“Nggak, tuh. Anil cuma merasa belajar dari karya orang lain. Semacam otodidak.”

Dan, aku tersedak.

Cowok yang berdiri di sampingku kemudian ikut nanya. “Gimana tuh tentang
bakat? Katanya untuk jadi penulis harus punya bakat?”

Anil senyum ringan. “Menurut saya, ya, itu kan tergantung pribadi kita aja. Biar punya bakat, tapi nggak punya kemauan, ya sama aja bo’ong. Pokoknya, kalau punya kemauan, semuanya jadi mudah, deh.”

“Enak nggak jadi cerpenis?”

“Ya, enak dong. Populer sih. . .,” kali ini terdengar pongah.

“Bagi-bagi resep dong, Nil, gimana agar tulisan kita juga nembus di majalah!”

“Aduh, sebetulnya itu perkara gampang. . . .”

Aku surut perlahan, hampir tanpa cakap.

Sungguh! Aku meninggalkan ruangan itu bukan lantaran udara yang kian pengap dan riuh. Pun bukan lantaran secuil pun Anil tak mengingatku lagi. Aku hanya merasa terpencil di tengah keramaian itu. Aku merasa terasing di antara pemuja Anil. Aku sadar, aku telah kehilangan Anil-ku yang dulu: ‘Violeta’ku. Seperti aku sadar, bahwa obsesiku yang dulu tak selalu harus berakhir sama denqan harapanku.

Langkahku kian panjang, keriuhan kian sayup. Lamat-lamat, “Diamku Gemuruh”nya Anil - puisi pertamanya di media massa yang kukirim dulu, bergema kembali.

denting hati kusetiai sendiri
sebab pada akhirnya
suara menguap pergi
tak berbekas!

EPILOG

Ketika cerpen ini kumulai, terasa ada kebingungan menyergap. Bukan apa-apa. Kemarin, aku bertemu dengan Anil di toko buku. Ia menyapaku. sekadar basa-basi, tak lebih baik dari menghadapi fans-nya yang lain. Ia hanya bercakap-cakap beberapa detik. kemudian berlalu ketika seorang cowok gagah menggandengnya ke sebuah Mazda putih yang diparkir tepat depan toko itu. Pacarnya kukira.

Aku kecewa, pasti.

Semua bisa berubah, oleh keadaan dan waktu. Barangkali, yang kuyakini tidak berubah adalah perasaanku pada Anil: untuk pertama kali aku merasa yakin tengah mencintai seorang gadis
dengan benar.

Kalau kini, aku tetap termangu, disergap ragu, itu karena aku tidak tahu bagaimana harus mengakhiri cerpen ini. Aku teringat dongeng nenek dulu, yang selalu membela dengan gigih ‘tokoh putih’nya agar bernasib baik pada akhir dongengnya.

Tapi eh, ngomong-ngomong, aku ini ‘tokoh putih’, ya? Ha, pasti ge-er. Dan kamu, pasti menuduhku sengaja mendiskreditkan Anil agar kamu bersimpati padaku. Iya, kan?

Udah, deh. Cerpen ini kamu selesaikan aja sendiri. . . . ***

(kangen buat Anil: kamu percaya kalau ini dongeng?)

Discussion

4 comments for “dongeng buat anil”

  1. kalo ga salah, pernah liat namanya di box redaksi majalah expose makassar.

    Posted by Valent Mustamin | October 14, 2008, 2:32 am
  2. Hahahaha…jadi ingat saya pada Anil Hukma, pengganti saya sebagai redpel di penerbitan kampus identitas Unhas 1992-1993.

    Cerpennya bagus Kak Ana!

    Posted by amril | October 22, 2008, 8:19 am
  3. thanks, adinda.

    apakah anil masih menulis puisi? dia penyair berbakat. sayang kalau tidak berlanjut.

    Posted by Ryana Mustamin | October 27, 2008, 6:19 am
  4. Hai, aku Anil.masih nulis-nulis.tapi udah anonim alias kode aja di media yang kami terbitkan di Makasar. Saat membaca cerpen itu kembali membuat aku tertegun : itu separuh penggalan surat/puisi yang tertulis di usia SMA. Ternyata masa silam adalah endapan usia yang mengeras oleh waktu. Dan kurasa, ada magma yang perlahan mencuat, ingin mencari pematang…

    salam kangen juga buat kak Ana. Trims.

    Posted by anil | November 17, 2008, 8:52 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]