Tulisan ini saya buat beberapa tahun lalu, dan saya ikutkan lomba penulisan artikel (kalau gak salah bertema seputar perkawinan) pada HUT Majalah Femina (2003 atau 2004?) karena tertarik dengan iming-iming hadiah: seperangkat meubelair untuk kamar tidur. Artikel ini ternyata menjadi pemenang.
Saya posting ulang di sini untuk menandai HUT perkawinan saya, 7 September. Alhamdulillah, apa yang saya tulis di sini, masih tetap seperti sediakala. Kecuali satu hal: kini kami sudah dikaruniai seorang putra - buah terbaik segala kesabaran dan kepasrahan.
Pada jarig hari ini, saya ‘menapak-tilasi’ ijab-kabul kami dengan sholat duhur di Masjid At-Tin, TMII. Dalam do’a, saya hanya meminta satu hal: semoga kami (saya, suami, dan anak), serta Dia Sang Pemberi Rahmat, senantiasa berada dalam satu garis lurus.
SEMUA bermula dari pikiran. Kata orang bijak, bila kamu menyadari betapa hebatnya pikiranmu, kamu tidak akan pernah memikirkan sesuatu yang negatif. Dan saya membuktikannya!
Sesungguhnya, banyak peristiwa yang bisa menjebak untuk berpikir negatif. Berulang kali pacaran, dan kemudian bubar di tengah jalan, kerap menyisakan jejak traumatik. Di mana salahnya? Tapi saya tidak pernah membiarkan kesedihan mengurung terlalu lama. Saya menangis sepekan untuk menyatakan bahwa ini manusiawi. Setelah itu, saya kembali menyongsong matahari dengan tawa. Meskipun usia terus merambat mencapai kepala tiga. Dan dokter kemudian memvonis saya menderita endometriosis - penyakit yang dicemasi oleh sebagian besar perempuan, lantaran ia dapat mengurangi probabilitas untuk mendapatkan keturunan.
Saya tetap melakukan apa yang saya anggap dapat membuat kualitas hidup saya terus meningkat. Beribadah. Menjadi pekerja yang tekun - saya memiliki karir yang cukup baik. Belajar. Menyambangi sahabat-sahabat - membangun hubungan dan jejaring seluas-luasnya. Menekuni hobi: menulis, memburu buku, menonton konser musik, ke kafe, mengunjungi pameran lukisan ….
Pameran lukisan? Ya, saya memiliki 2 alasan untuk rajin datang diam-diam di event ini. Pertama, saya pernah ingin menjadi pelukis, dan gagal, lantaran saya lebih memihaki hobi saya yang lain: menulis. Kedua, sejak SMP saya menyimpan keinginan terpendam untuk kelak menikah dengan seorang perupa! Saya berburu jodoh di pameran? Hahaha … naif juga. Pacar saya sebelumnya berstatus karyawan. Sangat jauh dari atmosfir seniman.
Saya memang akhirnya berkenalan dengan beberapa pelukis. Nyaris tanpa kesan. Hampir semua pelukis kaku. Mereka hanya luwes jika berhadapan dengan palet cat dan kanvas, atau berkumpul dengan komunitasnya. Lebih celaka lagi, umumnya mereka sudah berkeluarga. Tidak heran saat seseorang di antaranya menelpon, mengirimi sms dan email; saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang khusus.
Tadi malam, saya nonton pameran pelukis ‘besar’ wanita bernama Lucia Hartini di Bentara Budaya, yang di-tema-i ‘Spirit of Life’. Sebenarnya saya enggan untuk mengujungi pamerannya, tapi berhubung ada seorang kawan yang lagi butuh spirit untuk kembali berkesenian, dengan senang hati pun saya akhirnya berangkat juga, karena saya pun lagi krisis spirit … (sorry, saya potong karena kepanjangan!). Yang pasti, pagi ini saya menemukan tempat dimana seharusnya saya menemukan spirit yang saya cari, tapi tak punya cara dan barangkali juga daya untuk mendapatkannya. Bisa bantu?
Email itu tidak saya hapus di inbox, bukan karena isinya. Saya tidak terlalu peka saat itu, karena celah hari saya banyak diisi oleh telepon seseorang yang tengah berusaha mengenal saya lebih dekat. Saya menyimpannya, karena saya memerlukan alamat email pelukis itu. Siapa tahu suatu ketika saya bisa berguru.
Di waktu lain, saat sendirian mengantri di ruang tunggu dokter, pelukis itu kembali menelpon, “Di mana?” tanyanya. Dan saya jawab, “Di dokter. Mau terapi!” Ia tidak menunggu terlalu lama untuk mengetahui lebih banyak tentang penyakit saya. Ketika bertemu, saya bercerita. Saya pikir tidak ada yang harus saya sembunyikan. Saya tidak sedang jatuh cinta padanya, dan tidak perlu cemas akan kemungkinan ia meninggalkan saya. Tapi ia bilang, “Don’t worry, I’m here!” (Kelak saya paham, itu judul salah satu lukisannya yang tergantung di ruangan itu). Dan ia mengantar saya pulang, melingkarkan lengannya di bahu, membagi ketentraman. Menyisakan setumpuk pertanyaan di benak saya.
Sahabatnya menuduh saya tidak punya perasaan - kami berdiskusi via sms hingga jam 03.00 dini hari untuk meyakinkan bahwa saya memang ‘buta’ selama ini. Bagi saya, bahasa pelukis itu sungguh abstrak, seperti halnya lukisannya. Tapi, ketika matahari terbit esoknya, saya memergoki diri saya melamun: menatap hari yang berlintasan, mengenang moment-moment pertemuan dengan dia yang nyaris saya abaikan. Dan ketika saya akhirnya mengangguk mantap di depan matanya, saya merasa semuanya bergulir begitu cepat. Berkenalan dengan orangtua masing-masing, dilamar, mempersiapkan undangan dan pernik-pernik pernikahan. Dan tiba-tiba saja, saya telah menyandang status sebagai istri seorang pelukis! Ajaib nggak sih?
Ya, ajaib. Rasanya seperti dalam cerita fiksi yang biasa saya tulis. Bayangkan, ketika saya bertanya mengapa ia bisa jatuh cinta pada saya, suami saya dengan suara bergetar menyatakan bahwa Allah telah mengirimkan saya khusus untuknya. Ia tengah melukis pada sebuah dini hari, ketika kami ‘berkenalan’ melalui kelebat sosok di kanvasnya saat membuat lukisan yang nantinya diberi judul Dekaplah Bunga Dariku di Dadamu. Ia sempat tertegun pada pertemuan awal kami karena bayangan dalam kanvas yang semula dipikirnya ilusi, tiba-tiba menjelma di depan matanya.
Meski masa pacaran kami singkat - kurang dari tiga bulan (karena enam bulan berikutnya kami gunakan untuk persiapan pernikahan), saya tidak pernah merasa khawatir dengan nasib perkawinan kami ke depan. Bukan karena kami menikah di usia matang - usia suami terpaut 10 tahun di atas saya. Tapi lebih pada pencapaian pikiran tentang keinginan bersama untuk menjaga keajaiban-Nya sebagai ungkapan rasa syukur. Caranya, adalah dengan terus-menerus berpikir positif. Berpikir positif tentang perkawinan kami, dan berpikir positif tentang pasangan masing-masing. Kami menyadari, perkawinan bukan sekadar komitmen tentang sebuah kebersamaan, tapi juga keberbedaan. Kami memiliki visi bersama, cita-cita bersama. Tapi sekaligus kami berbeda sebagai pribadi. Ini yang menjelaskan mengapa kami terus berusaha mengembangkan hubungan komplementer, dan bukan substitusi.
Pikiran positif juga kami pelihara ketika kami berdiskusi tentang karunia-Nya yang lain: tentang penyakit saya, tentang saya yang belum juga hamil. Dua hal yang tidak cukup menjadi alasan untuk membuat kami tidak bahagia. Kami percaya, perkawinan dan memiliki anak adalah dua hal yang berbeda, meski memiliki hubungan kausalitas. Kami menikah, karena Tuhan mempertemukan kami: karena kami saling mencintai dan ingin membangun keluarga. Tanpa anak, keluarga sungguh tidak lengkap. Tapi tidak berarti bahwa tanpa anak kami gagal membangun keluarga. Ini kami garisbawahi, karena ia menjadi landasan berpikir yang kokoh untuk sebuah kerberlangsungan perkawinan - dengan atau tanpa anak! Yang penting, menurut suami saya, kami tetap berdoa dan berusaha, menanti keajaiban-Nya yang berikut.
Menatapi rupa suami saya di pagi buta - ketika ia masih terlelap, kerap membuat saya berpikir: membangun keluarga adalah salah satu bentuk pencapaian tertinggi dalam kehidupan sosial kita. Dengan adanya keluarga: kita memiliki tempat untuk ‘pulang’ dari segenap pengembaraan, dari letih, luka, dan dahaga. Tidak ada ketenteraman lain yang lebih tenteram, kecuali berada dan berbagi di tengah keluarga. Tidakkah demikian juga dengan Anda? ***


Selamat HUT Pernikahan
bahagia dan rukun sampai kakek ninen
Selamat HUT Pernikahan :D
Tulisan mba AJAIB! Saya terharu sekali dan berulangkali menganggukan kepala ..
Selamat Hut Pernikahan.
Tulis ana sangat bagus. Itulah kunci kesabaran akhirnya menuai hasil
salam sukses
satria
Halo na! Pa kabar? wah dah punya baby ya.. lutjunaa.. selamat ya atas ulang tahun perkawinannya… moga jadi keluarga sakinah mawardah… amien…
cheers,
Bams
@ pakde yo: thanks ya. GBU.
@ mbak hesti: ajaib? hehe … senang kalau itu bisa menggugah.
@ satria: jadi orang sabar itu ternyata gak susah lho…
@ bams: hai bambang, kemana aja baru nongol? skrg kerja di mana? thanks ya udah mampir.
Kls IPA2 Macanank, mungkin msh t’ingat dibenak seorang SURYANA MUSTAMIN. Slmt & sukses ya… salam buat Suami tercinta.
@ Riady Djasmin,
tentu saja ingat. andai waktu bisa dilipat ke belakang, saya ingin kembali ke kelas IPA2. hehehe…, apa kabar?
Selamat, Semoga Tuhan YME selalu memberikan rachmat dan Hidayahnya serta keajaiban lainnya kepada Kita semua,
Amin
Dear Mbak Ana,
Apa Kabar nya?
Kita pernah mengobrol akrab di sebuah seminar PR di sebuah hotel di area Jakarta Barat, mungkin Mbak Ana masih ingat kah?:)Saya masih menyimpan bisnis card Mbak Ana yang saya dapatkan hari itu lho!!:)Saat itu saya bertugas sebagai PRO sebuah Universitas berbasis komputer di area yang sama.
Senang menemukan seseorang yang berkecimpung di industri yang sama, PR, dengan hobi yang sama pula: MENULIS.
Hope, this comment will be a begin for our next and forever friendship. I like the above writing…Wish u all d best, jadi keluarga sakinah, mawardah dan warohmah..
Salam,
Oryza Devi Sinatra,S.Sos
Marketing Communications Specialist
slamat hari jumat, mbak ana, apa kabar dengan pekerjaan yang paling aanda cintai
oke, selamat berkarya
salam
sumbo
http://sumbo.wordpress.com/
http://sumbotinarbuko.blogspot.com/
Asslm.
Tulisannya bagus banget mbak…saya juga ingin menjadi orang yang sabar dan ikhlas meski kadang sulit…beberapa tulisan mbak juga banyak membantu tugas kuliah saya…
Salam…
@ oryza,
mbak oryza, seneng bisa ketemu kembali di sini. meski saya agak lupa-lupa dengan wajah mbak oryza, namun saya ingat persis namanya, karena unik. mengingatkan nama padi.
terima kasih untuk semua doanya. semoga Allah senantiasa memberikan rahmat bagi semua umat-Nya.
oya, sekarang berkiprah di mana?
kapan-kapan kita ketemuan ya…