Spirit of Life

apa yang membedakan ramadhan dengan hari biasa?

September 11th, 2008


APA yang membedakan Ramadhan dengan hari biasa? Banyak. Inilah saatnya kita menyaksikan beduk, menara dan kubah masjid berpindah ke dalam mall. Diletakkan di tengah lantai marmer, menjulang tinggi menyentuh langit-langit, dihiasi kertas warna-warni, menjadi ornamen pelengkap butik dan gerai. Setiap menjelang jam istirahat kantor, para pekerja - terutama kaum ibu - mamatut wajah dan dompet, bergegas memencet tombol lift, adu cepat meninggalkan ruang kerja, dan kemudian berhamburan di sela menara dan kubah masjid imitasi ini. Ramadhan pertanda ambang Idul Fitri. Dan sebentar lagi kita - suami/istri, anak-anak, orangtua, mertua, saudara, supir, pembantu - membutuhkan baju baru, kerudung baru, celana baru, sajadah baru, sepatu baru, semua yang serba baru …

Apa yang membedakan Ramadhan dengan hari biasa? Banyak. Inilah bulan dimana malaikat tersenyum lembut. Saat dimana umat muslim menahan lapar, haus, amarah, nafsu, dan semua perilaku buruk lainnya. Saat dimana air wudhu semakin kerap menyentuh ubun-ubun, mendinginkan pikiran dan jiwa. Saat sajadah semakin sering dihampar di semua tempat - di sepanjang shaf di antara pilar masjid, di celah meja kerja, di sela gedung pencakar langit, di tengah taman kota, di bentang layar televisi, di lipatan koran dan majalah, di stasiun kereta, di balik teralis penjara, di bedeng penampungan tunasusila, di segenap penjuru kota.

Di saat-saat seperti ini, adzan yang menyeru tak lagi bertepuk sebelah tangan - seperti hari-hari lewat ketika petang melindap di Jakarta. Meskipun ruas-ruas jalan tetap macet, tugas-tugas di kantor tetap membelit, jam-jam meeting tetap diagendakan secara ketat, tapi antrian mobil memadat di halaman masjid. Teman-teman saya yang biasanya tak pernah absen nongkrong di cafe selepas jam kerja, kini sibuk mencari Tuhan. Seperti menemukan kegairahan baru, para eksekutif muda ini mengikuti diskusi dan pengkajian agama yang digelar di hotel berbintang, di pusat-pusat studi pendalaman Islam. Suara mereka kerap terdengar mengalun, mengumandangkan dzikir dengan lirih, menghitung tasbih lamat-lamat.

“Semakin sadarkah kita akan makna keimanan?” Seorang teman berbisik di dekat kuping saya - mencecar pertanyaan - di sela suara ustaz. “Inikah cara membasuh kaki yang kotor akibat langkah yang tak berkiblat? Inikah cara berlabuh bagi hati yang terasing di antara belantara gemerlap duniawi? Atau semata sebuah tren? Seperti mengenakan gamis di bulan puasa setelah sebelas bulan sebelumnya mengumbar pusar?”

Aduh. Saya tak berani menjawab. Tapi, dalam hati membatin, siapa yang bisa membaca pikiran orang lain? Dan apakah relevan menjawab mereka sungguh-sungguh melakukan ibadah atau sekadar ikut-ikutan? Lagipula, jika ini memang sebuah gairah baru, mengapa tidak kita biarkan tetap meletupkan nyala? Tidakkah Tuhan menyiapkan berjuta pintu untuk sampai ke halaman-Nya? Adakah bedanya bagi Tuhan ketika kita telah berniat menegakkan tiang-tiang ibadah kepada-Nya, akan dimulai dengan simbol dan ritual, atau langsung menyentuh substansi? Bagaimana membedakan keduanya?

Sayang, saya bukan ahli agama. Jadi, pertanyaan-pertanyaan itu saya biarkan saja. Tapi setidaknya, saya belajar untuk tidak menaruh syak-prasangka. Kerapkali, tanpa sadar, kita menilai berdasarkan parameter sendiri. Atau menilai hanya dari permukaan. Kita mungkin menganggap bahwa air bening lebih bersih ketimbang debu. Tapi ketika kondisi mengharuskan kita bersuci dengan cara tayamum, siapa mengira di balik debu yang menutup mata, kita justru menemukan kesucian sejati?

Apa yang membedakan Ramadhan dengan hari biasa? Banyak.***

 

Discussion

3 comments for “apa yang membedakan ramadhan dengan hari biasa?”

  1. Wah..Kak Ana, postingnya menggelitik sekaligus menyentuh hati..

    Thanks

    Posted by amril | September 12, 2008, 1:50 am
  2. Duh, tulisan dan judul - judul tulisanmu makin asyik aja. Serius. Menggoda. Juga tak gombyor.

    Posted by eddy ss | September 23, 2008, 5:23 pm
  3. @ amril,
    thanks, adinda. tulisan-tulisan di ‘daeng battala’ juga banyak yang menyentuh.

    @ pak eddy,
    eit, kemana aja? main dong ke tempatku.

    Posted by Ryana Mustamin | October 7, 2008, 2:47 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]