(Sekadar dokumentasi. Disunting dari suratkabar “Investor Daily” edisi Sabtu, 20 September 2008, dalam rubrik Perencanaan Keuangan).
MEMILIH instrumen investasi yang aman sudah pasti menjadi harapan semua orang. Hal tersebut juga diterapkan Ana Mustamin (40), Kepala Departemen Komunikasi AJB Bumiputera 1912. Wanita yang hobi menulis, membaca, dan mendengarkan musik ini sebelumnya tergolong risk taker dan gemar menginvestasikan sebagian dananya pada instrumen saham.
Akan tetapi, sejak berkeluarga, kecenderungan risk taker dalam investasi menurun. Dia mengaku belum tertarik untuk berinvestasi lagi ke pasar modal karena kondisi saham saat ini kurang bagus.
“Dulu, sebelum menikah saya bermain saham. Tapi setelah menikah, saya cenderung memilih instrumen yang lebih aman. Kini saya termasuk insurance minded. Mungkin gara-gara menu saya setiap hari adalah asuransi karena bekerja di perusahaan asuransi jiwa,” kata dia kepada Investor Daily pekan ini.
Saking insurance minded-nya, Ana mengaku memiliki berbagai macam jenis asuransi. Sedangkan untuk tabungan, lebih berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
“Saya sedikit impulsif dalam hal keuangan. Jadi, bank tidak terlalu cocok. Sebab kalau ditabung bisa saja dana itu saya tarik setiap saat. Kecuali deposito, tentu,” terang wanita lulusan S2 Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia ini.
Dalam mengelola keuangan, Ana tidak menerapkan sistem yang ketat namun sangat fleksibel. Pasalnya, ia dan keluarga juga ingin menikmati setiap tahapan kehidupan. “Ibaratnya kami tidak terlalu berhemat hari ini, untuk kepentingan investasi hari esok. Tapi kami juga tidak mengabaikan kebutuhan investasi untuk menopang hari tua kami nanti,” ujar dia.
Jadi, ada saat-saat tertentu dana yang diinvestasikan berjumlah besar. Tetapi di saat lain dia dan suami mengalokasikan kebutuhan konsumsi yang jauh lebih besar. Tergantung analisis kebutuhan saat itu.
Yang penting, sebagian dana yang ada harus disisihkan untuk kebutuhan investasi. Sesuai kesepakatan dengan suami, penghasilan yang diperolehnya untuk membiayai konsumsi. Sedangkan penghasilan suami untuk kebutuhan tabungan dan investasi. “Sebagai istri, saya yang mengendalikan msalah finansial keluarga. Suami hanya memberi pertimbangan. Termasuk mengelola penghasilan suami,” papar dia.
Ana menilai, media massa cukup banyak memberikan wawasan mengenai investasi dan perencanaan keuangan. Dia juga mendapat banyak ilmu tentang investasi dan perencanaan keuangan melalui perusahaan tempat dia bekerja. Sebab, selain wajib memantau pemberitaan media, dia juga harus tahu pemberitaan yang berhubungan dengan investasi.
Dia menambahkan, dalam mengelola keuangan perlu menyisihkan dana sebagai tabungan. “Berapa pun jumlah suatu penghasilan, sebaiknya ada yang disisihkan untuk disimpan. Kalau menuruti pengeluaran, berapa pun jumlah penghasilan itu, tidak akan pernah tercukupi,” tandas dia. (teh)


apa aman menurut anda,inves di bumiputra..sementara,dari berita yg saya dapat,pergolakan posisi di bumuputra,cenderung kenuansa kehancuran,dan posisi skrng dipegang orang2 politik bukan pakar asuransi,,,pailit utk bumiputra itu yg terdengar…ini bukan partai demokrat,atau golkar..ini bukan SBY,..insuren ingat itu…kalau mau berpolitik pakai dana sendiri..buat pemegang polis,hati2 ..saran cari asuransi yg aman.
tuhan memberi kita 2 pilihan: berpikir positif atau negatif. berpikir positif, akan membuat hidup ini lbh lempeng. berpikir negatif, apalagi bertendensi fitnah, akan membuat hidup ini susah.
saran saya, kalau tidak memahami persoalan yang sebenarnya, jauh lebih baik menahan diri untuk tidak berkomentar. karena, salah-salah, anda akan dicurigai berada pada barisan sakit hati …