(”Customer Satisfaction ala Tukang Sayur” bagian ke-2)
PADA libur 30 Juli lalu, untuk pertama kali saya ke Fresh Market Kota Wisata sejak soft launching 27 Juli 2008 lalu. Bukan untuk belanja sebetulnya. Semata untuk menjawab rasa penasaran. Saya, dan terutama ibu, ingin tahu kabar terkini tukang sayur langganan kami. Sejak aturan untuk tidak lagi berjualan keliling diterapkan manajemen Kota Wisata - karena pedagang direlokasi ke Fresh Market, praktis 10 hari sudah keluarga kami absen jadi pelanggan tukang sayur keliling.
Fresh Market siang itu belum segempita iklannya. Toko-toko di bagian luar sebagian besar masih kosong. Demikian juga kios-kiosnya. Tapi lapak-lapak memang sudah ramai. Kurasa, lebih dari setengah lapak yang tersedia sudah terisi. Hanya, sebagaimana toko dan kios yang masih sepi, pengunjung pasar juga masih dalam hitungan jari.
Lapak pertama yang kami cari, tentu saja, tukang sayur langganan kami. Namanya Agus. Di kartu nama, tertera alamat: FML2 nomor 19. Tapi, alangkah kecewanya, ketika saya dan ibu menemui lapak itu kosong. “Gak jualan!” kata pedagang di sebelahnya. “Sudah beberapa hari!” sambungnya. Setahuku, para pedagang resmi menempati pasar itu sejak 18 Juli lalu.
Entah kenapa, mendadak ada kekhawatiran menyergap - khawatir bahwa ‘orang kecil’ ini akan terkalahkan oleh kepentingan kapitalis, sebagaimana yang pernah saya pikirkan. Apalagi setelah mendengar cerita pedagang selanjutnya. “Udah banyak yang gak sanggup jualan, bu! Gulung tikar!” suara Durasi - pedagang di sebelahnya, terdengar pasrah.
Dari obrolan kami, saya akhirnya tahu bahwa sejak menempati Fresh Market, rata-rata omset pedagang turun hingga sepertiga dibanding saat mereka menjadi pedagang keliling dari culster ke cluster. “Itu juga sudah bagus banget!” sambung Durasi.
Masa transisi! Sesuatu yang mungkin luput dipikirkan oleh manajemen Kota Wisata. Atau, bahkan memang tidak mau dan tidak pernah dipikirkan. Padahal, bagi pedagang kecil, perputaran modal sangat penting. Mereka biasanya tidak memetik keuntungan banyak. Yang utama, usahanya likuid, berkesinambungan.
Apalagi, sistem usaha yang mereka jalankan berubah 180 derajat. Kalau dulu, mereka proaktif - pedagang yang mendatangi pembeli. Dan rata-rata, konsumen mereka sudah jadi pelanggan, loyalis. Sekarang, pedagang pasif, menunggu. Ada yang membeli, syukur. Jika tidak, maka alamat barang dagangan membusuk. Karena rata-rata berjualan barang konsumsi yang tidak bertahan lama.
Belum lagi jenis dagangan yang kini sangat dibatasi. Jika dulu - ketika masih keluar-masuk cluster menggunakan mobil, pedagang sayur seperti menawarkan ‘one stop shopping’: aneka sayuran, lauk-pauk, buah-buahan, dan beragam bumbu dan rempah. Kini, di Fresh Market, ada pengkategorian. Ada barisan lapak yang khusus menawarkan sayur-mayur, ada lapak khusus bumbu, ada spesialis daging dan ikan, dan ada gang khusus untuk buah-buahan. “Kemaren, saya jualan pisang kepok. Tapi disita satpam!” cerita Durasi - yang kebetulan ada di barisan lapak sayur-mayur. Ia juga tak lagi boleh jualan bumbu! Padahal, tahu gak, margin mereka justru dari jual silang seperti itu. “Kalau di sayuran untungnya dikit, mungkin bisa ditutup oleh buah, misalnya!” sambung Durasi.
Tak hanya perbedaan sistem. Tapi juga kebiasaan. Duduk pasif menunggu pembeli, ternyata mengundang kegiatan lain yang menguras kocek pedagang. “Jadi pengen ngerokok. Jadi pengen minum es teh manis!” Padahal, kisah Durasi, dulu gak tuh. Waktu jualan keliling, waktu bahkan gak kerasa. “Tahu-tahu udah siang. Tahu-tahu, dagangan udah habis.”
Keluar dari Fresh Market dengan membawa belanja ala kadarnya, matahari sudah tepat di ubun-ubun. Tapi bukan hanya kerongkongan saya yang rasanya tercekat Juga perasaan.
Diam-diam, saya memikirkan tukang sayur langganan kami yang kini absen berdagang. Diam-diam saya berempati ke pedagang yang dulu setia keluar masuk Montreal, berhenti di depan rumah saya - dan sering saya pergoki bercanda dengan ibu saya.
Bagaimana nasibnya kini? Apakah ia berhenti jualan untuk sementara? Atau seterusnya?***


Discussion
No comments for “tukang sayur itu kini tidak jualan”
Post a comment