(Surat untuk Kurnia Effendi)
APA kabar, Mas? Lama kita gak saling menyapa. Meski demikian, kurasa, kita gak pernah sungguh-sungguh menjauh. Buktinya, menjelang 30 Juli lalu, aku tetap ingat bahwa ada sebuah hari yang pernah kita beri tanda - yang rasanya akan tetap kukenang jejaknya sampai kapanpun. Sebuah ‘monumen’ yang menandai hubungan kita: persahabatan yang indah, tulus, dan barangkali tak ada duanya.
Menjelang tanggal bersejarah itu, aku dikabari Mas Yo (Johannes Soegianto - kepala suku Komunitas Sastra Reboan), bahwa “Pasar Malam” akan digelar di Warung Apresiasi - Bulungan, pada pekan terakhir Juli. Tepatnya di 30 Juli 2008! Dan, aku terlonjak. Hai, bukankah itu tepat 12 tahun “Seribu Puisi”?
Sontak, aku kabari Mas Yo tentang peristiwa itu. Dan di luar dugaan, ia menawari aku untuk tampil membaca puisi di ajang itu. Kebetulan, tema Sastra Reboan kali ini bertajuk “Kenangan”. Astaga, kok bisa kebetulan begitu? Aku ‘panik’ sekaligus gembira. Panik, karena aku sudah sangat jarang tampil di panggung-panggung sastra. Tapi juga gembira, karena ternyata aku masih diberi kesempatan untuk mengenang peristiwa itu.
Orang lain mungkin bingung, apa sih yang istimewa pada tanggal itu? Dan mengapa kita tampak begitu kompak dalam urusan sastra? Aduh. Aku juga suka bingung menjelaskan. Bagaimana mengurai peristiwa dalam rentang waktu hampir seperempat abad? Bahkan, kurasa, orang-orang terdekat kita pun masing-masing, bisanya hanya mahfum. Mereka pasti paham bahwa cinta kita pada mereka tidak akan berkurang sekarat pun karena ‘hubungan unik’ ini. Bahkan sebaliknya, akan terus menjelma menjadi energi positif yang juga akan mengaliri orang-orang terkasih kita. Bukankah kita adalah dua batu, yang jika saling digosokkan satu sama lain akan memercikkan api: api kreavifitas. Bukankah muara dari semuanya adalah karya-karya yang indah (dan bahkan monumental untuk kita)?
Tigapuluh Juli, 12 tahun lalu, rasanya tetap hangat di benak aku. Ketika kita duduk mencangkung di tanggul pantai Losari Makassar (saat itu masih bernama Ujungpandang) menjelang paruh malam. Berdua saja. Hanya ditemani kesiur angin. Dan lampu mercusuar di kejauhan. Kita berbincang tak henti-henti. Membuka kenangan berlipat-lipat. Saat itu, kuingat, ada penyesalan menyesak, lantaran kita tahu bahwa kita dipertemukan pada tahun yang - menurutmu - salah. Bukankah kita sudah merancang pertemuan ini jauh-jauh hari di Bandung? Bahkan 10 tahun sebelumnya!
“Seharusnya sudah banyak karya yang kita lahirkan!” katamu, sungguh-sungguh.
“Lebih banyak dari yang sekarang!” aku menimpali.
“Dan seharusnya Na tidak mandek seperti ini!”
Aku terdiam. Aku tahu bahwa saat itu kamu memergoki aku dalam kondisi yang tidak terlalu baik.
“Bagaimana menebusnya?”
Menebus! Aku suka sekali pilihan kata itu. Seperti ‘pintu’ yang terkuak sedikit, menyisakan celah bagiku untuk keluar dari kesedihan, kemandekan. Begitu banyak waktu terbuang. Begitu banyak peristiwa urung hadir hanya lantaran kita menciderai janji pertemuan.
“Mas benar-benar ingin menebus?” aku sangsi.
“Ya.”
“Tulislah 1000 puisi!”
Ahai. Matamu berbinar. Aku tahu, kamu sudah menyimpan lama obsesi itu. Tapi tidak ada yang memantik. Tidak ada ‘alasan’ untuk memulai. Tidak ada sesuatu yang membuatmu merasa ‘bersalah’ hingga harus menebusnya.
Dan akhirnya, di malam berikutnya, di rumah orangtuaku yang seluruh dindingnya berwarna putih, kamu mengukuhkan kesungguhan itu, “Akan kutulis 1000 puisi hingga akhir tahun nanti!” Dan diam-diam, aku ikut berjanji untuk menjaga dengan telaten agar tungku kreativitasmu terus menyala, berkobar. Setidaknya, sampai ‘proyek 1000 puisi’ rampung.
Aku bukan sekadar seorang ‘penantang’ kan? Setiap minggu suratmu melayang dengan sebundel puisi. “Mas harus menulis minimal 7 puisi dalam sehari!” kataku selalu mengingatkan. Di kemudian hari, kadang-kadang kubayangkan, betapa ajaibnya itu bisa berlangsung.
Padahal, kalau kita percaya dengan kesungguhan, dengan kekuatan sebuah hubungan, rasanya itu memang keniscayaan. Aku tidak sekadar berdiam diri, pasif menunggu paket kiriman puisi diantar pak pos (hiksss … waktu itu belum ada email!). Aku merawat lembaran-lembaran karya itu, menyimpannya dengan hati-hati, mengapresiasinya, dan mendistribusikannya ke berbagai media - agar orang lain ikut membacanya. Setiap malam, puisi itu kubaca ulang, berulang-ulang, hingga beberapa di antaranya aku hapal di luar kepala. Kurasa, itu seperti merapal ‘mantra’. Agar jiwaku terbang, menguntitmu, membayangi, ikut merasuk ke jiwamu, membuatmu selalu ingat akan sebuah komitmen. Kelak, di tanganmu, aku bahkan menjelma menjadi puisi itu sendiri.
Seperti janjiku pada persahabatan kita
Paragraf-paragraf yang kucairkan ke dalam
tabula rasa, kukirim padamu - entah untuk apa
Terperas seluruh darah pada luka memar
perjalanan seni - ini saat terindah untuk
mengakui ketakberdayaan
Haruskah kuakhiri tatih langkah ini?
Sedang engkau membakar tungku kalbuku,
Agar terus menyala
(Endiu, 1996)
Kurasa, itu periode persahabatan kita dengan kualitas terbaik. Karena melalui 1000 puisi, aku ikut melihat apa yang kau lihat, mendengar apa yang engkau dengar, dan merasakan apa yang kamu rasakan. Setiap detik, setiap hari, sepanjang waktu dalam 5 bulan tanpa jeda. Aku bahkan mendengar suara hatimu, tarikan nafasmu, kegelisahanmu, ketukan sepatumu, hingga detak jantungmu.
Belakangan aku tersadar, bahwa aku ternyata menjadi saksi sebuah proses kreatif - yang kurasa gak ada bandingannya. Engkau seperti pelari marathon di mana aku menjadi bayang-bayang di bawah matahari. Mungkin tidak akan pernah lagi kejadian serupa berulang. Bahkan ketika kita punya gagasan baru untuk membuat ‘monumen’ baru, dengan persiapan dan energi yang lebih ruah dan matang. Tidak akan pernah terjadi 2 kali!
Karena itu, malam ini, 30 Juli, 12 tahun kemudian, aku mengajakmu untuk mengenangnya. Aku memintamu untuk datang ke “Pasar Malam” - Paguyuban Sastra Rabu Malam. Aku ingin membaca ulang sesuatu yang pernah kita gurat di sepanjang Losari.
Mungkin aku bukan pembaca puisi yang baik. Tapi, setidaknya, aku pernah membuktikan bahwa aku pernah ada , dan menjadi sahabat sejati.
Di Pantai Losari (1)
Terkadang sunyi itu bukan milik siapa-siapa
Di pantai Losari, malam itu, tak ada ombak
Tak ada angin keras yang biasa datang sehabis
senja. Dari lampu yang tumpah ke laut,
kita membaca kisah-kisah lama
Bintang di lambung tahun yang kering
Menanti pelabuhan ini terjaga
Malam ini, tak ada ombak di pantai Losari
Ketika lembaran-lembaran agenda itu dibuka
Kita bertambah yakin: ternyata sunyi itu
bukan milik siapa-siapa
Di Pantai Losari (2)
Semakin dekat aku pada perpisahan itu
Terasa bagai kapal yang hendak melaut
Jangkar-jangkar amat berat ditarik
Dan langit yang kelam, mempersempit
keinginan pergi
Beribu-ribu bercak sinar terdiam di tempatnya
Tapi waktu tidak berhenti. Ada saja
upaya mempersiapkan matahari untuk
terbit lebih pagi
Semakin dekat aku pada perpisahan itu
Tiba-tiba aku lupa cara mengucapkan salam
Di tengah laut lepas, sebentar lagi,
bayangmu menjauh
***


indah…cerita pertemanan ini. jadi iri. tulisan ini juga mengingatkan kelenturan kata-kata seorang ana yang memang cerpenis.
cerpenis yang satu tipe dengan Mas Kef lalu beda subtipe. kusenang sekali membaca tulisanmu Mbak…
12 tahun yang lalu aku bikin janji sama sapa yaah…
@Yo,
gak perlu iri, oom yo. teman dan sahabat ada di mana-mana. tinggal ulurkan tangan…
@Yonathan,
thanks, pakde yo. tapi aq lebih senang melihatmu membaca puisi…
@Pakcik,
kurasa lebih dari seorang…hahaha…
Tulisan yang hangat, dalam, dan menyentuh. Salam kenal, Mbak Ana.
Salam kenal kembali, mbak Inez. Selamat atas peluncuran antologi bersama “Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan”. Aq pesan satu, ya.:-)
Nana, merebak airmataku membaca penuturanmu. Terus terang banyak caramu membuat aku terus menulis, termasuk yang terakhir kautawarkan. Tetapi, seperti kataku di atas panggung waktu itu, kesempatan memang tak datang dua kali, walaupun ada juga kesempatan yang datang berulang kali. Kini, mungkin aku harus “membalas budi” agar giliranmu menulis membara kembali. Aku tahu, Nana masih menulis, meskipun mungkin bukan semata sastra, sebab ada bidang profesi yang lebih memungkinkan untuk mengalirnya gagasan dalam berbagi pendapat dan wawasan.
Terima kasih untuk sebuah kenangan yang tak akan tergusur oleh sapuan anak badai sekalipun. Walau semua tapak kaki kita, di Pantai Losari tak mungkin ditemukan lagi, mengingat restoran terpanjang yang menyajikan pisang epek itu telah pindah ke sebuah anjungan buatan. Mungkin masih ada saksi luruhan embun yang turun ketika kita berjalan menuju Benteng Fort Rotterdam. Kita berjalan beriring bahkan tak saling menggenggam tangan, padahal banyak alasan untuk melakukannya, ketika udara menyusutkan suhu di bawah lazuardi yang membentang penuh bintang. Malam itu gerbang benteng telah tutup. Katamu ada semacam markas sastrawan di dalamnya, namun malam itu tak ada kegiatan untuk membuatnya terjaga. Lalu kita menyusuri Jalan Somba Opu dengan taksi yang perlahan. Sebuah jalan yang kupaparkan dalam cerpen Sepanjang Braga, delapan tahun sebelum kukunjungi kotamu. Kugambarkan ia mirip Malioboro, namun ternyata lebih sunyi dan hampir semua tokonya tutup lebih awal.
Terima kasih telah mengingatkan itu semua: energi yang tersimpan untuk sesekali meletup menjadi kekuatan menulis. Mungkin harapan itu pula yang membuat aku menulisi mobilku dengan “sepanjang braga”, sebagai utang novel yang tak kunjung selesai. Dalam cerpen 5 versi, sudah tentu banyak terjadi anakronisme. Tapi bukan itu yang hendak dipersoalkan benar, karena ada kerinduan yang selalu dibangkitkan kembali melalui cerita-cerita kehilangan.
Baiklah, Nana, sebelum airmataku merebak, kuakhiri saja surat balasan ini. Seperti ketika kusembunyikan rasa haru menjelang perpisahan di airport Ujungpandang, dalam sebuah ruang telepon. Bilah-bilah waktu, saat itu, seperti pisau yang berkewajiban merajang pertemuan menjadi perpisahan. Dengan demikian, mungkin, persahabatan menampakkan wujud yang sebenarnya.
Salam sayang,
Didi
heran..komentar seorang kef kok jadi menghanyutkan begini ya. heran.. kok bisa seorang kef bisa menulis begitu indah dan bikin iri diriku yang masih belajar menulis.
Nana-Didi……..kisah yang terpendam………
bagi kami
dan kini kami rasakan munculnya persahabatan sejati
Nana-Didi…..
semacam nur yang meng-ainikan diriku
agar mampu melihat
Cahaya
Saya baru tengok blog Ana, beruntunglah orang yang suka menulis. Meski tidak kaya harta, tetapi tidak pernah miskin kreatif. Saya ingin seperti itu, dan enjoy for long life or forever..