Sihir Kata

kereta telah tiba dan kini ke mana hendak pergi (lagi)?

August 7th, 2008


(disunting dari Milis “Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com”, 6 Agustus 2008, posting Sigit Susanto - Moderator)

*Menulis adalah kemalasan yang menyibukan (Goethe).

*Setelah melewati bukit yang terjal serta menunggu dan menunggu kepastian yang tiada tentu, kapan kereta api benar-benar akan tiba di tujuan? Kini terjawab sudah kegamangan itu. Ketiga gerbong: puisi, esai dan cerpen, meskipun waktu keberangkatannya sama, tapi datangnya di stasiun ternyata tidak bersamaan. Untung semua penumpang selamat, termasuk para kondektur dan para penjaga peron. Sampai di sini, hajatan tema Kereta Api kami anggap tuntas.

*Pertanyaan yang menggoda: akan dikemanakan naskah-naskah itu selanjutnya? Akankah tetap teronggok di stasiun? Upaya kami mungkin sebatas memejengkan naskah-naskah tersebut di blog APSAS.

*Atau barangkali ada yang punya gagasan indah, bagaimana jika dibuat buku antologi? Bagaimana tindak lanjutnya, jika itu yang dikehendaki? Naskah-naskah kembali menjadi milik kawan-kawan lagi dan kawan-kawanlah yang paling punya hak untuk menentukan. Kami moderator dan para juri hanya mendorong dan mengikuti gejolak yang akan berkembang sekiranya akan diwujudkan menjadi buku.

*Dengan tuntasnya hajatan tema: Kereta Api, akankah kawan-kawan masih punya semangat membuat apresiasi baru yang lebih menggiurkan bagi kita semua? Silakan dilempar gagasan-gagasan cemerlang.

*ONE MORE terima kasih dan minta maaf, buat kawan-kawan yang terus-menerus memperhatikan hajatan yang jalannya sempat terseok-seok ini, baik yang dipendam di dalam hati maupun yang telah melayangkan pertanyaan ke milis atau ke forum moderator.

Salam:
Para Moderator dan Para Juri

10 PEMENANG GERBONG PUISI:

1. Inez Dikara-Yang Tertinggal di Kursi Kereta
2. Setiyo Bardono-Melata Kereta
3. Dedy Tri Riyadi-Bersandar
4. Zuraidah Abd Aziz-Kereta Api Senandung Malam
5. Cyprianus Bitin Berek-Fragmen Buat Yo
6. Y. Wibisono-Kereta Terakhir
7. Sahlul Fuad-Kereta Dalam Jiwa
8. T.S. Pinang-Kereta Malam & Dangdut
9. Mega Vristian-Laju Kereta Api
10. Aan Mansyur-Kereta Api: dari catatan harian

*Juri: Kang Hasan Aspahani

8 PEMENANG GERBONG ESAI:

1. Akmal Basral Nasery, Gerbong Sastra & Lokomotif
2. Sony Debono, Bordes
3. Sigit Susanto, Dari Blora Ke Roma
4. St. F. Ragilf, Resistansi Lokal Dan Gerbong Sastra Internasional
5. Fransisca Ria Susanti, Kereta Duka Penyair Lhasa
6. Pemulung Cerita, Dengan Harapan Memandang Kereta
7. T. S.Pinang, Membaca Puisi Di Gerbong Kereta Api
8. Djodi, Terpanjang, Tercepat dan Termurah, Tapi?

*Juri: Kang J.J. Kusni

10 PEMENANG GERBONG CERPEN:


1.Opera Stasiun di Musim Salju, Djodi B. Sambodo
2. Lokomotif Buya, Rendi Fadillah
3. Napak Tilas, Ryana Mustamin
4. Kereta yang Membawaku Kembali, Lutfi Fadila
5. Seharusnya Aku Ketinggalan Kereta, Rita Achdris
6. Bunga Pengganti yang Aku Miliki, Elang Vega Ananta
7. Kerbau!, Mindo Hutagaol
8. Mata Kosong, Nazla Luthfiah
9. Ada Kereta Api dalam Tubuhku, Fenty Febriyanti
10. Cerita Gerbong Pendek, M. Badri

*Juri: Kang Kurnia Effendi.

 

Discussion

No comments for “kereta telah tiba dan kini ke mana hendak pergi (lagi)?”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]