BEBERAPA hari menjelang peringatan 17 Agustus, Mas Yo (Yonathan Rahardjo) - penulis novel “Lanang”, mengabari saya via YM! kalau akan ada pembacaan puisi dalam rangka peringatan 17 Agustus. Dia nanya saya ikut apa nggak. Saya jawab, saya udah ditanggap untuk baca puisi.
“Di mana?”
“Coba tebak!” kata saya.
“Di TIM!”
“Salah.”
“Di Pasar Malam!” (Paguyuban Sastra Rabu Malam).
“Bukan.”
“Di TV.”
“Bukan.”
“Di salah satu kementrian.”
“Salah.”
“Di depan para direksi asuransi!”
“Hahaha. Salah semua.”
Iya, karena saya bakal baca puisi di komplek perumahan saya, cluster Montreal - Kota Wisata. Ini pengalaman baru sekaligus berkesan buat saya. Karena, seingatku, terakhir kali manggung di acara tujuhbelasan di kawasan perumahan, saat saya masih duduk di bangku SD.
Tapi kali ini saya gak bisa nolak - gak punya alasan buat nolak. Apalagi yang meminta langsung ketua paguyuban di komplek perumahan saya Montreal, Pak Rudy Sugiarto. Hitung-hitung, mungkin ini cara saya menebus semua ‘dosa-dosa’ saya di komplek.
Ya, saya punya setumpuk ‘dosa’ di komplek perumahan. Dosa pertama, saya alergi banget dengan yang namanya arisan ibu-ibu. Pertama kali diadakan, saya masih sempat ikut - berkat wejangan ibu saya di rumah. Katanya, tetangga adalah saudara terdekat. Jadi, saya harus bergaul akrab dengan tetangga. Untuk alasan terakhir ini, saya setuju. Bukan soal gaul-gak gaul sebetulnya. Tapi bentuk kegiatan bernama arisan itu. Sudah jamak kita dengar, arisan selalu menjadi ajang ngerumpi ibu-ibu.
Akhirnya, meski setengah hati, saya berkompromi: ikut arisan. Setahun dilalui dengan selamat, meski gak aman-sentosa. Karena ada aja masalah di antara ibu-ibu. Putaran ke-2 di tahun ke-2, saya angkat tangan. Percuma, kata saya ke ibu. Waktu saya tidak cukup banyak untuk setiap saat ada di tengah-tengah ibu-ibu komplek yang sebagian besar ibu rumah tangga.
‘Dosa’ kedua, beberapa kali pengurus paguyuban mengundang hadir dalam rapat warga. Sejumlah masalah di perumahan meminta warga untuk ikut memberikan perhatian, sumbang saran. Entah kenapa, rapat selalu saja bentrok dengan kegiatan lain di luar rumah. Alhasil, saya dan suami selalu absen.
‘Dosa’ ketiga, ketika akan terjadi penggantian pengurus. Suami saya sempat ‘dilamar’ untuk menjadi salah seorang pengurus (yang artinya, istri juga harus aktif). Tapi, lagi-lagi kami menolak. Saya khawatir, di tangan kami, layanan publik malah terbengkalai. Saya sering dinas ke luar Jakarta. Dan suami saya, meski mengelola perusahaan sendiri, ia biasanya menyesuaikan dengan jadwal dan ritme kerja saya. Biasanya, ia akan menemani saya dinas ke luar Jakarta dengan biaya sendiri.
‘Dosa’ keempat, berkaitan dengan hajatan yang biasanya digelar di lingkungan perumahan terkait dengan perayaan hari besar. Ya, 17 Agustus di antaranya. Tahun ini, salah satu kegiatan yang digelar untuk ibu-ibu adalah lomba membuat tumpeng. Alamak! Saya di nomor buncit untuk urusan dapur, jadi nggak mungkinlah saya berpartisipasi. Saya penikmat berbagai makanan, tapi nol besar dalam urusan meracik bumbu dan sejenisnya. Ibu saya sampai sering geleng-geleng kepala. “Gimana kalo Mamie sudah gak ada?” Itu antara lain gugatannya. (Yah Mamie, yang belum terjadi, gak usah dipikirin dulu).
Dengan setumpuk ‘dosa-dosa’ itu, gimana saya mau menolak ‘pinangan’ untuk baca puisi di malam puncak perayaan 17 agustusan di komplek?
Beberapa hari menjelang hari-H, Pak Yudo Purnomo, ketua panitia sudah mengirim rundown acara. Saya bakal baca puisi setelah acara makan malam, sekitar jam delapanan. Timing yang tidak terlalu buruk, pikir saya.
Acara malam puncak sendiri dihadiri banyak warga. Cukup ramai untuk ukuran pesta rakyat di Jakarta (bukankah warga Jakarta biasanya cuek bebek?). Acara juga berjalan smooth. Mula-mula dibuka dengan lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, disusul laporan ketua panitia, sambutan ketua paguyuban, dan pembacaan doa. Setelah itu, acara makan malam. Peserta diminta mencicipi tumpengan hasil kompetisi ibu-ibu. Sambil makan, warga dihibur dengan musik dimana vokalisnya konon jebolan Mama Mia.
Ketika lagu baru berjalan beberapa menit, saya disamperin MC dan Pak Yudo. Katanya, saya baca puisi setelah acara ini. Saya mengiyakan. Pikiran saya, pasti setelah makan malam usai.
Ternyata, salah besar. Begitu lagu pertama usai, MC sudah mengundang saya ke panggung. Waduh, siapa yang bakal menyimak puisi saya? Para bapak-bapak masih mengisi piring makannya, dan ibu-ibu sibuk meladeni. Saya segera menyadari, kalo saya tuh baca puisi bukan di depan publik sastra. Bukan di peristiwa budaya. Bukan di event peluncuran antologi puisi dimana penontonnya sengaja hadir untuk mendengar pembacaan puisi. Saya manggung di depan warga umum, di mana puisi diperlakukan sebagai bagian dari budaya pop. Bisa didengar sambil lalu. Seperti mendengar lagu pop atau dangdut.
Sambil tertawa di hati, saya naik panggung. Secepat itu pula saya mengeset otak saya untuk tetap berupaya memberikan yang terbaik yang saya bisa. Saya perhatikan dari jauh, sejumlah bapak-bapak memilih kembali duduk di tempat. Tapi ibu-ibunya tetap sibuk dengan tumpengan.
Malam itu, saya menuntaskan 3 puisi. Di antaranya milik Wiji Thukul - penyair yang hingga kini gak ketahuan rimbanya (Ah, bagaimana nasibnya kini?). Turun melalui anak tangga di kiri panggung, saya disambut jabat tangan oleh sejumlah bapak-bapak.
“Saya sangat menikmati puisinya!” kata seorang bapak.
“Penggemar Wiji Thukul juga rupanya!” celutuk bapak yang lain.
“Saya merasakan apa yang ditulis di puisi itu. Tapi dulu, saya kerja rodi, bukan menanam kapas. Tapi pohon jarak!” komentar seorang bapak yang mengaku sudah berusia 78 tahun.
Olala, di luar dugaan ternyata puisi saya disimak juga. Saya senang. Karena ternyata gak ‘gagal-gagal amat’.
Suami saya juga mengapresiasi dengan baik. Meski besoknya ia meledek saya di depan mertua, “Baca puisi kok di depan orang makan!”
Daripada makan di depan orang baca puisi? Hahaha …. ***


bukan baca puisinya yang gue perhatiin, tapi backdrop acaranya … hahaha. pasti tulisannya “Dengan Semangat Kemerdekaan, Kita … “. ternyata, ga di Montreal, ga di Gandul, ga di Pondok Indah, orang2 kalo bikin tema ga ada yang ga klise … :p
Selamat Mbak…………… sukses acaranya………..
puisi Wiji Tukul………
Aku Ingin Jadi Peluru
Bunga dan Tembok…
atau yang mana?…
Peringatan, yang ‘Lawan’?
Puisi Mbak yang judulnya apa?…
2 kata yang paling pas buat Bu Ana: LUAR BIASA.
Benar-benar luar biasa, karena telah menyumbangkan segenap potensinya di lingkungan sendiri meskipun telah diminta tampil di tempat lain yang lebih bergengsi.
Benar-benar luar biasa, di luar pakem acara malam puncak yang biasanya diisi oleh hiburan-hiburan biasa seperti kata sambutan, tarian, nyanyian dan pembagian hadiah perlombaan.
Luar biasa…..karena kamipun nggak pernah bermimpi ada yang membacakan sajak-sajak yang sarat berisi “pesan” perjuangan, penderitaan nan menyayat serta sangat berbobot, di acara Peringatan HUT RI ke 63.
Terima kasih banyak Bu Ana. Kami sangat menghargainya.
@ mas yonathan,
baca puisinya lebih ke misi gugahan: apa sih yang kita capai di 63 tahun merdeka. sekaligus, gugahan untuk menggalang solidaritas sosial.
karena itu, puisi wiji yang saya pilih, berjudul “reportase dari puskesmas” - dari antologi “aku ingin jadi peluru” (pengantar ditulis almarhum munir).
oya, “bunga dan tembok” pernah difilmkan, diputar di pusat perfilman usmar ismail beberapa tahun lalu. nonton?
bunga dan tembok aku gaknontondi ppui.tapikelihatannya diputar dicipta 3 tim tahun lalu, saat aku diminta juga baca puisinya olehpanitia,namun abis itu pulang. ketemu sama anak dan istrinya, sementara banyak aktivis di situ. pembacaan puisi wt saat itu kelihatannya ada di kesustraan.co.cc atau bacapuisi.co.cc
bunga tembok kukolaborasi dengan puisiku
pak rudy yth,
aduh, saya sampai gak enak hati nih, pak. saya malah sempat deg-degan, kalau-kalau mengecewakan warga montreal.
tapi, salut banget, warga kita kompak. cluster tetangga, mana ada yang bikin acara agustusan?
terima kasih kembali untuk pak rudy dan segenap pengurus/panitia. saya merasa tersanjung.
oooh, di montreal jg ada 17 an? bukannya itu luar wilayah Indonesia.
Puisinya mana jeng biar kita bisa mengapresiasi dan juga bacakan ditempat kami thanks.
he..he…he…apapun itu tentu saja Puisi bisa menghaluskan jiwa…dan..menjadikan hati menjadi lapang…! saluut untuk senantiasa berpuisi ditengah..Negeri yg sesekali sudah.. ndak karu karuan di TV