What's On

weekend special untuk si buah hati

July 5th, 2008


(Dikutip dari Harian INDO POS edisi 4 Juli 2008, halaman 24 - rubrik “Wanita Jakarta”)

KEHIDUPAN Ana Mustamin semakin penuh warna. Terutama ketika Jagad Shasika Pradnasakti, anak semata wayangnya yang kini berusia 2.5 tahun, lahir. Karir yang selama ini menjadi fokus kehidupannya tak lagi nomor satu. Bagi wanita kelahiran Bone (Sulawesi Selatan), 4 Juli 1968, anak dan keluarga adalah segalanya.

Sebagai wanita karir, Kepala Departemen Komunikasi Bumiputera 1912 itu memang dihadapkan pada jadwal yang sangat padat. Dalam seminggu, dia hanya memiliki waktu bersama keluarga pada Sabtu dan Minggu. Jika weekend tetap ada kegiatan kantor, mau tak mau dia harus membawa si buah hati. “Agar anak tidak kehilangan sosok ibu,” kata lulusan program magister Komunikasi Universitas Indonesia itu.

Istri dari Bambang Prasadhi Kusumawardhana itu mengakui, kemacetan Jakarta memang membuatnya mengatur ritme kerja. Agar tidak terjebak riwetnya lalu lintas ibu kota, mantan penyiar radio ini selalu on time saat berangkat kerja.
Dari rumahnya, dia berangkat kerja pukul 06.00. Dia baru kembali ke rumah pukul 19.30. “Makanya, sesempat mungkin saya bercanda dengan Jagad sebelum berangkat kerja dan sebelum tidur.”

Sabtu dan Minggu ditetapkan wanita berambut pendek ini sebagai “Hari Besar Jagad”. Sang anak sepertinya sudah faham betul kebiasaan ibunya. Jika Ana hendak berangkat kerja, usai mandi Jagad langsung pakai pakaian bermain di rumah. Di akhir pekan, usai mandi Jagad langsung mengenakan pakaian untuk jalan-jalan.

“Dia sudah tahu kalau Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan,” lanjut Ana.

Sang Suami, Bambang Prasadhi juga komitmen untuk libur di akhir pekan. Pekerjaannya sebagai desainer interior dan pelukis lebih memberikan waktu fleksibel bagi Jagad. Tempat favoritnya berlibur yakni luar kota atau rekreasi di Jakarta. “Sekarang makin banyak liburan alternatif bagi anak yang edukatif,” kata Ana.

Tetapi, bagi keluarga kecil tersebut tempat paling favorit yang murah meriah adalah di kamar tidur Jagad. “Kami bisa bercanda dan bermain di sana,” tuturnya.

Kebersamaan Jagad adalah yang paling utama bagi Ana dan suami. Bocah laki-laki itu amat berarti bagi keduanya karena Ana mengaku menempuh jalan sulit untuk dapat hamil. “Saya pernah sakit dan empat tahun baru dikaruniai Jagad,” kenang Ana.

Dia juga tidak mau anak semata wayangnya itu kehilangan sosok ayah dan ibu gara-gara keduanya terlalu sibuk. “Saya mau menghilangkan predikat anak saya jadi anak pembantu,” katanya kemudian tersenyum.

Selain nonton film dan bermain bersama sang buah hati, Ana mengaku senang membaca. “Saya tergabung dalam komunitas sastra,” katanya.

Hobinya juga menulis blog soal karir, keluarga, segala sesuatu yang terkait dengan rumah, spirit of life, dan soal sastra. “Saya pasti menyempatkan diri untuk menulis blog,” ujar Ana.

Baginya, menulis adalah bakat yang sayang untuk dilupakan. “Tulisan adalah kenangan bagi kita ketika kita sudah meninggal,” tuturnya.

Dalam hidup, Ana mengaku tak mau ngoyo. Yang terpenting baginya perencanaan matang dan realistis. Dia tidak mau menghayal sampai lima atau sepuluh tahun ke depan jika rencana itu tidak realistis. Jika tiap hari kita berprinsip sama tentu segala sesuatu yang baik-baik akan terakumulasi dengan sendirinya.

“Jangan sampai sesuatu yang berguna di depan mata terlewatkan hanya karena kita banyak mengkhayal ke depan,” tutupnya. (vit)

Insert:
Beda Dunia, Sama Rasa

PERJALANAN karir Ana Mustamin tak jauh dari dunia komunikasi. Lulus dari Jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin, dia memulai karir sebagai penyiar di Radio Rosa Makassar pada 1987. Selama tiga tahun, wanita pehobi menulis ini menikmatiprofesinya sebagai ‘tukang cuap-cuap’.

Sempat pindah radio di Sonata FM pada 1991 dan 1992 menjadi jurnalis lepas, Ana kemudian mencicipi dunia berbeda dengan rasa yang sama. Ya, ibu satu anak itu mulai berkarir di Bumiputera Mutual Life Insurance Jakarta. Di perusahaan inilah, Ana tetap setia berkarir hingga saat ini.

Disebut dunia berbeda, karena wanita penikmat sastra ini pindah dari perusahaan komunikasi ke perusahaan asuransi. Selanjutnya, disebut rasa yang sama, karena kiprahnya selama ini tetap menyatu dengan dunia komunikasi.

Soal asuransi, Ana memiliki pandangan khusus. Baginya, ada dua alasan untuk mengikutsertakan dirinya, suami, dan anaknya di asuransi. Pertama, kemungkinan hidup manusia terlalu lama, dan kemungkinan manusia meninggal terlalu cepat.

Maksudnya, hidup terlalu lama artinya usia semakin tua dan kekuatan tubuh makin menurun. “Jadi sering sakit-sakitan padahal kemampuan produktivitas semakin menurun,” tutur Ana. Sedangkan meninggal terlalu cepat berdampak kesusahan bagi keluarga yang ditinggal. “Misalnya, orangtua tidak sempat menyekolahkan anaknya, di sinilah peran asuransi dapat dirasakan,” jelasnya.

Ana juga menerapkan pola pikirnya soal asuransi kepada anak, dan suaminya. Dia mengikutsertakan anak dan suami dalam asuransi jiwa dan general (umum).

Kebetulan anaknya Jagad Shasika Pradnasakti, baru berusia 2.5 tahun sehingga belum merasakan langsung manfaat asuransi. “Tapi dia terjamin pendidikannya sampai perguruan tinggi,” kata ana kemudian tersenyum. (vit)

Catatan Ana:

Thanks, Mbak Vita atas hasil interview-nya. Sedikit ada yang saya koreksi. Saya bekerja sebagai penyiar radio, bukan selepas lulus kuliah (program S1). Saya menjadi penyiar radio berbarengan saat kuliah di S1. Jadi, ceritanya, kuliah sambil kerja.

Discussion

2 comments for “weekend special untuk si buah hati”

  1. Adinda, gak nyangka yah, nyambi siaran dulu itu ternyata memberi warna yg sangat berarti dalam hidup kita. Gak semua orang diberi kesempatan untuk menorehkan warna itu dalam perjalanan hidupnya….Baru sekarang saya sadar, bahwa terkadang kecilnya nilai uang yg kita hasilkan, ternyata mampu menciptakan dampak besar buat perjalanan hidup kita.BTW, masih ingat honor kita saat menyiar…? hiiikkksss….

    Posted by ida mulyani said | July 31, 2009, 1:56 pm
  2. honor? hahaha… kuecilll bangettzz. tapi memang waktu itu kan niatnya nyari pengalaman, mbak. jadi honor bukan nomor satu. tapi ya…seperti yang mbak ani liat, kadang-kadang hikmah suatu peristiwa baru kita pahami setelah berpuluh tahun lewat…

    Posted by Ryana Mustamin | August 2, 2009, 1:26 pm

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]