oleh : Noerma Komalasari
(Dikutip dari Bisnis Indonesia Minggu, 6 Juli 2008)
http://web.bisnis.com/sosok/2id1338.html
Kita tidak pernah berencana mengekalkan kenangan
Dengan menjadi kancil dan buaya dalam dongeng si upik
Karena kancil kini tak lagi cerdik
Buaya-buaya memangsanya di mall, di kafe, di hotel, di mana saja
Pada suatu hari, ada seekor kancil….
Di sampingnya engkau melata, menjilati telinganya
Dengan bibir yang liar, sepanas nafas
demonstran
Sementara jemarimu menari di antara irama salsa, wangi bvlgari,
Piala anggur, dan sepotong brownis
Penggalan puisi itu merupakan satu dari sederet karya yang sempat dipublikasikan Ana Mustamin. Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Asuransi Bumiputera ini sedari kecil piawai menulis, tidak hanya puisi tapi juga cerita pendek dan bentuk sastra lain.
Perempuan ini mengedepankan totalitas dalam berkarya. Balada Kancil yang biasa ditemui dalam wujud monoton, disulapnya menjadi puisi getir kontemplatif. “Sastra ibaratnya vitamin jiwa,” ungkapnya.
Lewat sastra, dia bertualang kemana saja. Sastra merupakan tempat ngaso setelah lelah berlari dalam rutinitas kantor yang dinilainya penuh persaingan. Bagi Ana, larut dalam komunitas dan karya sastra merupakan obat mujarab bagi penyakit yang disebabkan hiruk pikuk dunia.
Siapa sangka, hobinya berpuisi sangat membantu dalam kiprah profesionalnya sehari-hari. Perempuan berkaca mata ini tidak mengalami kesulitan dalam mentransfer gagasan perusahaan ke dalam rilis untuk disiarkan ke media. Dia pun tidak sulit mengomunikasikan hal-hal penting kepada seluruh cabang Bumiputera di seluruh Indonesia.
Kiprah Ana di Bumiputera ternyata berawal dari media. Seusai merampungkan S1 jurusan Jurnalistik dari Universitas Hasanuddin Makassar 18 tahun lalu, dia sempat mencicipi beberapa pekerjaan di bidang komunikasi.
Ana pernah menjadi penyiar radio Rosa, kemudian di radio Sonata. Dia pun sempat bekerja di suatu agensi untuk menulis beberapa rilis, dan kemudian Ana bekerja di suatu media di Makassar. Pekerjaan kali inilah yang mengantarkannya ke Bumiputera.
Di media tersebut Ana bertugas membuat artikel ringan atau profil tokoh. Dalam satu kesempatan dia mewawancarai kepala regional Bumiputera Makassar. Karena terkesan dengan pembawaan Ana, pejabat itu pun menawari pekerjaan sekretaris.
Ana pun menerima tawaran itu. Dia lantas bekerja di Asuransi Bumiputera Makassar. Kariernya terus menanjak dan Ana pun ditarik ke kantor pusat Bumiputera di Jakarta. Keuletan dan totalitas bekerja setiap hari mengantarkannya ke posisi sekarang. Semua dijalankannya tanpa beban.
Sejak awal tahun ini, Ana resmi didaulat menjadi Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan. Salah satu tugasnya adalah harus mengatur semua informasi yang keluar dari Bumiputera melalui satu pintu.
Tantangan
Bagi dia, menyamakan sesuatu bukan perkara gampang, apalagi Bumiputera sendiri memiliki sekitar 500 cabang tersebar di seluruh daerah. Semua itu dianggapnya sebagai tantangan, bukan hambatan.
“Bekerja di Bumiputera menarik dan unik, bagaimana kekurangan harus saya balik menjadi keunikan dan kekuatan,” ujarnya.
Pandangan orang yang menganggap Bumiputera hanya sebuah perusahaan tua, dianggapnya sebagai tantangan menuju hal yang lebih besar. Dengan label perusahaan asuransi yang hampir seabad berdiri di Indonesia, Bumiputera menyimpan segudang kekuatan.
Salah satu tugasnya sekarang adalah bagaimana menyadarkan orang Indonesia bahwa produk dalam negeri lebih dapat diandalkan dibandingkan dengan produk asing. Gunanya, agar Bumiputera terus memenangkan persaingan dalam kompetisi yang kian ketat.
“Saya selalu mencari cara bagaimana mempertahankan merek Bumiputera agar tetap seksi.”
Konstelasi bisnis asuransi dalam negeri sangat menarik mata Ana, semenarik sastra yang telah dikenalnya sejak masa kanak-kanak.
Kendati hidup baginya mengalir apa adanya, dia memiliki obsesi. Salah satu obsesinya adalah menyatukan karya satra yang pernah dibuat dan dipublikasikan ke dalam sebuah buku.
Namun, dia mengakui sejauh ini obsesinya masih terkendala masalah waktu dan kesibukan pekerjaan. Padahal komitmen dari satu penerbit untuk membukukan dan mempublikasikan bukumya sudah ada dalam genggaman.
Obsesi selanjutnya adalah menulis buku tentang kiprah Bumiputera selama ini. Bumiputera layak untuk dikisahkan karena mampu bertahan hampir seabad melewati berbagai zaman dan rintangan.
Dalam bekerja dia tidak muluk-muluk, setiap hari dijalani dengan langkah terbaik. Ana percaya apa yang dituai pada masa mendatang merupakan hasil hari ini.
Istri pelukis Bambang Prasadhi Kusumawardhana ini percaya alam memiliki keseimbangan dan merefleksikan apa yang dia miliki dan inginkan. Maka, dia pun cukup menjalani hidup dengan apa adanya untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Dunia komunikasi sangat membekas pada diri Ana. Komunikasi tidak hanya enak dipandang dari sisi keilmuan, tetapi juga nyaman dipijak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.(redaksi@bisnis.co.id)


Discussion
No comments for “pertahankan merek tetap seksi”
Post a comment