What's On

empat juli, bagian ketiga

July 9th, 2008


ADA yang istimewa juga pada ulang tahun saya kali ini. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengan kawan-kawan lama, Lily Yulianti - sahabat yang kini berkiprah di radio NHK Jepang, tiba-tiba melempar gagasan di milis: ingin reuni dengan keluarga Identitas di ulang tahun saya (Identitas adalah Koran kampus Universitas Hasanuddin). Gagasan yang tentu saja saya sambut dengan sukacita.

Jadilah pada 4 Juli malam saya meluncur ke bilangan Menteng, tepatnya di Jl. Wahid Hasyim.Kawasan ini memang kesohor sebagai tempat mangkal warga Makassar. Di situ ada 2 resto, Phoenam dan Pelangi, yang selain menyajikan makanan khas Sulsel, juga konon pemiliknya berasal dari wilayah yang sama. Ini yang memudahkan atmosfir Makassar terbentuk di sini.

Mula-mula saya bertemu dengan Arif dan Tri. Keduanya menyapa saya di tepi jalan saat akan masuk ke resto Pelangi. Arif dan Tri, kalau gak salah angkatan tahun 2000-an di Identitas. Kami belum pernah ketemu. Tapi karena mereka sempat melihat foto saya di Koran Bisnis Indonesia, jadi lebih gampang mengidentifikasi. Sesaat kemudian, Lily mengontak saya. Ternyata dia, Farid, Hasymi dan sejumlah temannya sudah menclok duluan di Pelangi. Hanya kami beda bilik. Gak berapa lama, menyusul Kak Baso Amir. Disusul Jimmy - rekan se angkatan Arif dan Tri. Berikutnya Tomi Lebang. Kak Aidir Amin Daud - yang konon kini sangat sibuk sejak menjadi salah seorang pejabat di Departemen Hukum dan HAM, ternyata memenuhi komitmen untuk hadir. Ia masuk dengan senyum lebar. Sosok terakhir yang datang adalah Judy Rahardjo, Taslim - suami Yaya, dan beberapa orang kawan dekat Lily.


Cilaka 13

Bagaimana rasanya bertemu setelah berpisah puluhan tahun? Apalagi kalau bukan mengenang-ngenang masa lalu. Terutama kejadian-kejadian yang dulu terasa ‘megah’ tapi kini tampak demikian ‘lucu, jadul dan katro’. Soal kekaguman akan tokoh, misalnya. Saya sempat meledek Hasymi yang dulu sangat gandrung pada GM - dedengkot Majalah Tempo dan Komunitas Utan Kayu. Asal tahu saja, dulu tulisan-tulisan kolom yang lahir dari tangan Hasymi sedikit banyak dipengaruhi warna GM. Kebetulan Tri kini bekerja di lingkungan mereka. Tomi juga mantan wartawan Tempo. Hasymi bilang, wajar kalau dulu ia mengagumi GM. Kalau sekarang masih kagum juga, nah itu baru keterlaluan. Tapi Hasymi kemudian balik meledek, “Siapa bedeng yang bawa-bawa buku Caping I sampai V, ditawar-tawarkan untuk dipinjam!” Hahaha … sesungguhnya, kami berdua pernah sama-sama jadi pengagum GM. Tapi itu ‘kan dulu. Saat masih terjebak romantisme anak kampus.

Kak Aidir gak banyak berubah. Satu yang khas yang selalu saya ingat, kemana-mana Kak Aidir selalu bawa-bawa amplop besar - juga malam itu. Segala sesuatu dimasukkannya ke amplop. Kak Baso berbisik ke saya, suatu ketika, semua naskah yang dibawa Aidir hilang, 1 amplop. Entah ketinggalan di mana, cilaka tigabelas. Saya tidak tahu persis, itu kejadian yang pernah atau mungkin akan berlangsung. Kalau itu kejadian masa lalu, maka naskah itu pasti naska Identitas atau Harian Fajar. Tapi jika itu masih kejadian di masa depan, barangkali bukan sekadar cilaka 13. Tapi membuat dunia gonjang-ganjing. Karena itu pasti dokumen negara, atau timbunan lembaran rupiah yang disodorkan para ‘pencari keadilan’. Hahaha …

Tapi Kak Aidir meninggalkan pesan khusus ke semua yang hadir (dan membuat mata Hasymi Dg Nyonri berbinar-binar), “Masuklah ke partai. Agar ada yang mengelola dan memperbaiki negeri ini!” Sekian lama di Departemen Hukum dan HAM, Kak Aidir tampaknya prihatin betul dengan kelakukan politisi negeri ini. Ia mungkin berpikir bahwa jika keluarga Identitas terjun ke politik dijamin berhati mulia. Hahaha …

Farid tidak berubah banyak. Suaranya masih hemat. Tapi, kini tampak sekali jauh lebih matang, Dulu, ketika masih jadi adik tingkat saya di Komunikasi, saya pikir dia pemalu. Sangat kontras dengan Hasymi. Tapi saat mengikuti pendidikan jurnalistik, saya baru memahami, tampaknya Farid lebih bernas dibanding saudaranya yang lain. Hahaha … (maaf ya, Mi!).

Perbincangan Hasymi dan Tomi masih sesegar yang saya bayangkan. Meski tidak pernah bertemu, perkembangan keduanya masih terpantau melalui perbincangan di sejumlah milis berlabel Makassar. Yang pasti, keduanya kini semakin makmur. Lily agak berubah volume suaranya. Kini lebih lantang. Mungkin karena ia kini terbiasa bercuap-cuap di udara. Sementara Judy, secara fisik masih seperti dulu. Saya lupa, kapan terakhir kami gak ketemu. Kalau saya meninggalkan Unhas tahun 1991, dan di tahun itu kami sempat ketemu, maka ini pertemuan pertama saya dengan Judy sejak 17 tahun silam.

Tiga orang generasi di belakang kami, Arif, Tri, dan Jimmy, lebih banyak menjadi pendengar. Entah kagum, entah bingung, entah sungkan, entah yang lain-lainnya. Tapi, kayaknya bukan kemungkinan yang pertama deh… Hahaha …


Batas Jauh dan Dekat

Dalam reuni yang mempertemukan generasi dalam rentang perbedaan waktu 20 tahun ini, sebetulnya tak ada obrolan khusus. Ngalor-ngidul. Sambar-menyambar. Tapi ngalor-ngidulnya itu yang ngangenin. Apalagi kental sekali dengan percakapan ala anak Makassar. Kami juga menyantap Ifu Mie - yang di Makassar sangat khas dengan sebutan Mi Titi. Saya yang puluhan tahun tidak pernah terlibat dengan komunitas ini dan bertahun-tahun pula tidak menginjak Makassar, serasa terlempar ke kota yang jaraknya sebetulnya hanya 2 jam dari Jakarta. Batas dekat dan jauh di bumi kita yang bundar ini memang semakin gak jelas. Saya semakin sulit menengok kampung halaman. Tapi saya bisa berkali-kali dalam setahun menginjak kampung orang lain. Yang terakhir ini, gak perlu ditanyakan dan dilogikakan. Tinggal di Jakarta memang lebih banyak ngawurnya.

Sayang, waktu sulit diajak kompromi. Bening - putri kesayangan Kak Baso sudah mengontak ayahnya berkali-kali. Telepon saya juga sudah mulai rewel. Saya dan Kak Baso akhirnya cabut duluan.

Tapi ada sesuatu yang ribut di kepala saya sekeluar dari resto Pelangi. Minta dimuntahkan. Tapi jangan sekarang. Biar saya peram dulu sampai matang. Kelak, jika sudah meledak, akan saya kirim ke alamat masing-masing. Tapada’ salama’!***

Discussion

No comments for “empat juli, bagian ketiga”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]