Sihir Kata

anak-anaklah yang mengajari kita

July 1st, 2008


(menyambut hari anak nasional, 23 juli)


aku tidak berani mengukur jarak antara kita
sejak kulihat engkau menelan matahari
jiwa yang menggetas dalam gulita
memisahkan cuaca dari lingkaran musim

anginlah yang memporandakan beranda, katamu
padahal engkau yang menumpahkan minyak
dan membiarkan nyala berkejaran ke wuwungan
hingga terbakar semua pigura

 

andai kau kobarkan seluruh jagad raya
dan membenamkannya dalam jelaga
tak sanggup kau tahan terabas cahaya
karena anak-anak tetap menggambar pelangi
meski dalam mimpi mereka yang mengkerut

lihatlah, mereka mencelup matahari dalam embun
2001

Discussion

No comments for “anak-anaklah yang mengajari kita”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]