Sihir Kata

Dongeng Kancil dan Buaya

June 20th, 2008


kita tidak berencana mengekalkan kenangan
dengan menjadi kancil dan buaya dalam dongeng si upik
karena kancil kini tak lagi cerdik
buaya-buaya memangsanya di mall, di kafe, di hotel, di mana saja

“pada suatu hari, ada seekor kancil …”
di sampingnya engkau melata, menjilati tengkuk dan telinganya
dengan bibir yang liar, sepanas nafas demonstran
sementara jemarimu menari di antara irama salsa, wangi bvlgari,
piala anggur, dan sepotong brownis

“kita ciptakan mahkluk baru, berbasis kancil dan buaya …”
janjimu mengusung semangat orasi di depan jelata
seperti semilir AC yang memelihara mimpi agar tetap jaga
di sudut ruang, sepasang boneka barbie gemerisik tawanya

kita tidak berencana mengekalkan kenangan
bukankah si upik lebih mengabadikan donald duck?
“buaya tidak ingin kehilangan kancil …, ” katamu berulang-ulang
juga ketika mencumbu kancil-kancil lain yang tak lagi cerdik
karena selamanya engkau tidak akan pernah bermetamorfosis
bahkan ketika mengenakan topeng kancil pejantan

 

2000

 

 

Discussion

3 comments for “Dongeng Kancil dan Buaya”

  1. keren banged mba kata-katanya…
    kena dihati…
    hehhehe…
    jaman sekarang memang banyak buaya-buaya yang berkeliaran dimana-mana…

    Posted by yulia | July 16, 2008, 10:35 am
  2. buaya darat atau buaya sungai? hehehe … yang banyak sih buaya pake dasi. hikkss…

    Posted by Ryana Mustamin | July 17, 2008, 2:36 am
  3. bagus. menurut saya kenapa kancil harus berkeliaran mau dimakan buaya. coba kancil di rumah (dikandang)jadi aman. oke. hanya canda jangan serius yach

    Posted by tri | October 31, 2008, 12:08 pm

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]