What's On

Provokasi Prass (1)

May 12th, 2008


Pikiran seperti rumah. Ia ditata sendiri oleh pemiliknya. Jika hidup seseorang dingin dan hampa, ia tidak bisa menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri (Louis L’Amour)

 

 

 

Kalimat itu ada di halaman depan blog Prass (http://wisevoice.blogspot.com). Karena itu, sang pemilik yang bernama lengkap Prasetya Maytrea Brata lantas menegaskan: gangguan pikiran akibat membaca blog-nya, bukan menjadi tanggung jawabnya.

 

Tapi, saya, terus-terang ’keganggu’. Jauh sebelum Prass bikin blog. Bahkan ketika ia baru ’belajar’ menulis macam tulisan di blog-nya itu. Dulu, kami se ruangan kerja. Berkarib erat. Meja saya berseberangan dengan mejanya. Disadari atau tidak, kami sering saling ’memprovokasi’. Saya terprovokasi, atau dia terprovokasi. Dan, sebaliknya.

 

Tapi, kali ini, Prass memprovokasi saya dengan ’telak’. Dengan menerbitkan buku di bawah label Gramedia Pustaka Utama. Nyaris tanpa gembar-gembor. Judulnya gak jauh-jauh: ”Provokasi”.

 

Mengapa telak? Karena menerbitkan buku merupakan obsesi saya yang gak sampai-sampai. Ratusan tulisan saya di media massa, dan tidak satu pun mewujud menjadi sebuah buku. Kesempatan demi kesempatan terbuang percuma. Sejak masih di bangku kuliah, hingga hari ini. Bahkan terakhir, Februari tahun ini, seharusnya saya menerbitkan buku tentang kiprah perusahaan saya di bawah label Elexmedia Komputindo. Tapi saya gagal memenuhi target.

 

Jauh sebelum Prass, sahabat yang saya anggap kakak sendiri, Kurnia Effendi, sudah sangat sering ’memprovokasi’ saya untuk menulis buku. Nggak mempan-mempan. Jika Mas Didi – begitu nama akrabnya – menerbitkan bukunya yang ke sekian, saya hanya berujar,” Mas Didi memang penulis hebat. Sejak dulu dia langganan juara!” Jadi saya punya ’alasan’ untuk tidak menyamai pencapaiannya.

 

Tapi, bagaimana dengan ’provokasi’ Prass? Prass belum punya jam terbang yang tinggi dalam menulis. Ia belum meninggalkan ’jejak’ di dunia kepenulisan (jika media massa menjadi parameternya). Jadi, kalau Prass sampai berhasil menerbitkan buku, di bawah bendera Gramedia pula, bukankah itu berarti bahwa ada hal yang luar biasa dalam diri Prass?

 

Karena itu, wajar kalau saya terprovokasi. Saya jamin, Anda juga. Tidak percaya? Coba baca blog Prass. Atau, baca bukunya sekalian – sudah dipajang di toko buku Gramedia kok. Atau, kalau masih belum percaya juga, datanglah ke Cafe Omah Sendok di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 16 Mei besok. Di sana, Prass akan me-launching buku perdananya itu. Anda akan melihat seberapa banyak kepala yang terprovokasi oleh Prass dan kemudian ngebela-belain datang.

 

Jika sudah demikian, apakah Prass masih akan lepas ’tanggung jawab’?

 

Tapi ngomong-ngomong, siapa sih Prass? Baca tulisan saya yang berikutnya, ya!***

 

Discussion

No comments for “Provokasi Prass (1)”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]