Pikiran seperti rumah. Ia ditata sendiri oleh pemiliknya. Jika hidup seseorang dingin dan hampa, ia tidak bisa menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri (Louis L’Amour)
Kalimat itu ada di halaman depan blog Prass (http://wisevoice.blogspot.com). Karena itu, sang pemilik yang bernama lengkap Prasetya Maytrea Brata lantas menegaskan: gangguan pikiran akibat membaca blog-nya, bukan menjadi tanggung jawabnya.
Tapi, saya, terus-terang ’keganggu’. Jauh sebelum Prass bikin blog. Bahkan ketika ia baru ’belajar’ menulis macam tulisan di blog-nya itu. Dulu, kami se ruangan kerja. Berkarib erat. Meja saya berseberangan dengan mejanya. Disadari atau tidak, kami sering saling ’memprovokasi’. Saya terprovokasi, atau dia terprovokasi. Dan, sebaliknya.

Tapi, kali ini, Prass memprovokasi saya dengan ’telak’. Dengan menerbitkan buku di bawah label Gramedia Pustaka Utama. Nyaris tanpa gembar-gembor. Judulnya gak jauh-jauh: ”Provokasi”.
Mengapa telak? Karena menerbitkan buku merupakan obsesi saya yang gak sampai-sampai. Ratusan tulisan saya di media massa, dan tidak satu pun mewujud menjadi sebuah buku. Kesempatan demi kesempatan terbuang percuma. Sejak masih di bangku kuliah, hingga hari ini. Bahkan terakhir, Februari tahun ini, seharusnya saya menerbitkan buku tentang kiprah perusahaan saya di bawah label Elexmedia Komputindo. Tapi saya gagal memenuhi target.
Jauh sebelum Prass, sahabat yang saya anggap kakak sendiri, Kurnia Effendi, sudah sangat sering ’memprovokasi’ saya untuk menulis buku. Nggak mempan-mempan. Jika Mas Didi – begitu nama akrabnya – menerbitkan bukunya yang ke sekian, saya hanya berujar,” Mas Didi memang penulis hebat. Sejak dulu dia langganan juara!” Jadi saya punya ’alasan’ untuk tidak menyamai pencapaiannya.
Tapi, bagaimana dengan ’provokasi’ Prass? Prass belum punya jam terbang yang tinggi dalam menulis. Ia belum meninggalkan ’jejak’ di dunia kepenulisan (jika media massa menjadi parameternya). Jadi, kalau Prass sampai berhasil menerbitkan buku, di bawah bendera Gramedia pula, bukankah itu berarti bahwa ada hal yang luar biasa dalam diri Prass?
Karena itu, wajar kalau saya terprovokasi. Saya jamin, Anda juga. Tidak percaya? Coba baca blog Prass. Atau, baca bukunya sekalian – sudah dipajang di toko buku Gramedia kok. Atau, kalau masih belum percaya juga, datanglah ke Cafe Omah Sendok di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 16 Mei besok. Di sana, Prass akan me-launching buku perdananya itu. Anda akan melihat seberapa banyak kepala yang terprovokasi oleh Prass dan kemudian ngebela-belain datang.
Jika sudah demikian, apakah Prass masih akan lepas ’tanggung jawab’?
Tapi ngomong-ngomong, siapa sih Prass? Baca tulisan saya yang berikutnya, ya!***


Discussion
No comments for “Provokasi Prass (1)”
Post a comment