Jendela

Menyusuri Hong Kong: Dari Sub-Urban ke Metropolis (3)

May 29th, 2008


SATU lagi tempat yang kayaknya gak bisa Anda lewatkan ketika berkunjung ke Hong Kong. Terutama kalau membawa anak kecil. Apa lagi kalau bukan Hong Kong Disneyland Resort. Taman hiburan yang dilengkapi dengan fasilitas hotel ini dibangun di atas areal yang merupakan hasil reklamasi pantai - tepatnya di Teluk Penny, Pulau Lantau. Disneyland secara resmi dioperasikan pada 12 September 2005, dan dibuat atas hasil kerjasama antara pemilik sejatinya dari Amrik sana - Walt Disney Company, dengan pemerintah Hong Kong.

Meski Disney berasal dari Amrik, konon, dalam pembangunannya tetap dikonsultasikan dengan ahli feng shui. Ballroom yang ada di sana, misalnya, luasnya dibuat 888 m2, karena angka 8 dipercaya sebagai angka hoki bagi orang Tinghoa. Demikian juga dengan hotel, tidak ada lantai 4, karena kabarnya ini angka buruk. Hanya, menurut saya, tetap aja ada yang salah di sana: lapangan parkir yang super luas namun hanya diisi segelintir kendaraan. Karena, meskipun dikunjungi puluhan ribu orang per hari, tidak seperti di negara asalnya, pecinta Disney di Hong Kong lebih suka bepergian dengan kendaraan umum.

Tanggal 23 Maret 2008 lalu, saya juga menyambangi Disneyland. Dan seperti sebelumnya, saya hanya kuat bertahan sebatas menyaksikan parade karakter Disney, dan keluar-masuk Disney Store di Main Street USA. Bukan apa-apa. Suasana di sana justru membuat saya homesick. Jadi terkenang-kenang Sakti, jagoan saya. Sampai nangis diam-diam (Sakti sayang, pokoknya sedikit lebih gede lagi, insya Allah, ibu akan ngajak Sakti main ke tempat ini! Ok?).

Oya, untuk mencapai Disney, sekali lagi, transportasi umum yang paling enak menurut saya, ya… tetap aja kereta api. Dari arah mana pun, tempat ini mudah dijangkau. Anda tinggal menumpang MTR Tung Chung Line, lalu interchange di stasiun Sunny Bay (antara stasiun Tsing Yi dan Tung Chung). Terus nyambung dengan kereta Disneyland Resort Line. Jalur kereta Disney hanya sekitar 3,5 kilometer. Begitu keluar stasiun, di sisi kiri Anda langsung ketemu jalan menuju gerbang Disneyland Resort.

Belanja dan Belanja

Bagaimana dengan urusan belanja? Nah, ini dia. Orang Indonesia kalau bepergian, bisa sakit perut kalau gak belanja. Apalagi di Hong Kong - surga belanja nomor wahid di Asia.

Kalau begitu, mari kita mulai aja dari tempat murah-meriah: Ladies’ Market. Ini adalah pasar malam yang menjual segala macam keperluan (bukan hanya) kaum hawa. Dari pakaian dalam hingga luar. Dari aksesoris hingga jam tangan. Dari kosmetik, tas hingga sepatu. Starting point Ladies’ Market berada di Tung Choi Street (masuk dari Mong Kok Road) - tempat ini hanya beberapa langkah MTR Mong Kok station, Kowloon Peninsula. Jika Anda sering menemukan t-shirt bertuliskan “I’m lost in Hong Kong”, nah, biasanya merupakan hasil perburuan dari pasar ini. Ladies’ Market mulai buka jam 12.00-an, dan tutup pada jam 23.30.

Masih di sekitar Mong Kok Road, ada Fa Yuen Street di mana terdapat gerai yang juga menjual pakaian, terutama busana-busana kasual. Atau jika Anda mencari busana tradisional khas Cina, Anda tinggal berjalan sedikit ke arah selatan setelah Ladies’ Market. Dari Tung Choi, Anda berbelok ke kanan ke jalan Dundas, dan kemudian ke kiri. Nah, di Shanghai Street, Anda bakal menemukan apa yang Anda cari.

Tapi ke Hong Kong bukankah biasanya justru berburu barang-barang branded? Setuju. Di Ladies’ Market saya hanya berburu t-shirt. Kok sayang banget mengisi travel bag dengan barang-barang yang di Jakarta juga banyak. Jangan lupa, meski label-label internasional bertaburan di Jakarta, tapi jika Anda cukup cerdas berbelanja di Hong Kong, Anda bisa mendapatkan barang separuh harga. Terutama, karena butik-butik di Hong Kong sangat ‘sadar musim’. Begitu musim berganti, maka harga-harga di butik langsung anjlok.

Untuk mendapatkan barang-barang berlabel internasional, Hong Kong menawarkan banyak tempat. Di kawasan Hong Kong Island misalnya, tepatnya di kawasan Central, ada Prince’s Building, Alexandra House, atau The Landmark.

Tapi, tak ada salahnya berlagak sebagai sosialita - meski gak punya duit kayak saya (haha). Sekadar agar gak ketinggalan berita. Masuk butik gak harus belanja ‘kan? Kebetulan beberapa hari lalu butik Louis Vuitton (LV) di 5 Canton Road Maison, Tsim Sha Tsui, baru saja diresmikan. Konon, ini dimaksudkan untuk mengangkat nama Canton Road biar sejajar dengan Champs Elysees di Paris atau 5th Avenue di New York.

Butik ini terdiri atas empat lantai. Saya hanya melihat-lihat lantai satu. Bag bar-nya panjang banget, menyajikan koleksi tak ikonik LV. Lalu, ada koleksi luggage cowok dan sepatu cewek. Di pojok, tersedia juga koleksi aksesoris khas LV. Tapi di lantai dua, konon ada toko buku dan galeri seni serta ruang VIP - the room of wonders. Saya menahan diri untuk bertanya-tanya ada apa di lantai 3 dan 4. Yang menarik tampilan depan gedung, ada program animasi yang pada malam hari menampilkan pecahan cahaya dengan lelehan serupa emas. Pokoknya, kesannya mewah banget deh! Lebih mewah dibandingkan dengan butik LV yang di Central.

Puas di LV, saya akhirnya masuk Sogo. Label-label kelas tengah sebagian sudah memasuki program sale. Saya akhirnya mencomot sebuah tas Braun Buffel. Balik ke Jakarta, barang yang sama sudah teronggok di Seibu, Sogo dan Metro - new arrival! Harganya? Hampir tiga kali lipat dengan harga yang dibandrol di Hong Kong. Hm, benar-benar yummy!

So, jadi kapan kita ke Hong Kong lagi?*** (Habis)

 

 

 

Discussion

No comments for “Menyusuri Hong Kong: Dari Sub-Urban ke Metropolis (3)”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

calo

December 15th, 2008

DI MUSIM-musim menjelang pemilu, calo-calo gentayangan. Mereka hadir dengan aneka wajah. Dari yang ramah hingga yang sangar. Dari yang berwajah manis, hingga berwajah sadis. Mula-mula, kami - saya dan suami - bertemu mereka di sebuah restoran fast food di kawasan Blok M, Jakarta. Mereka bertujuh. Tanpa ba bi bu, langsung menghenyakkan pantat di kursi yang […]

hari ini

November 26th, 2008

SUDAH lama saya tidak menyaksikan Jakarta dalam suasana ngungun, seperti hari ini. Sepanjang pagi hingga sore, hujan turun. Gedung-gedung jangkung yang biasanya tampak angkuh, kini menggigil. Langit yang biasanya keperakan, berubah pucat kelabu. Sepanjang Sudirman, jalanan memang macet. Tapi dari ketinggian lantai 19 Wisma Bumiputera, saya hanya menangkap senyap - kendaraan di bawah sana beringsut […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]