Jendela

Menyusuri Hong Kong: Dari Sub-Urban ke Metropolis (2)

May 19th, 2008


KELUAR dari wilayah Sha Tin hanya selang beberapa menit sebelum pukul 20.00 malam, bakal menikmati apa? Saya mungkin tidak akan jauh-jauh.

“Tapi, malam-malam begini sih paling enak ke The Peak. Melihat Hong Kong dari tempat tertinggi dengan view 360 derajat!” ujar seorang teman di ujung telepon. “Dari Sha Tin, menuju Tsim Sha Tsui, ganti kereta, langsung menuju ke Central. Nanti exit di pintu J2.”

Saya serta-merta membentangkan peta di atas ranjang. Dari Sha Tin ke Central, berarti harus menyebrang dari New Territories ke Pulau Hong Kong. Ada sekitar 8 stasiun yang harus dilewati dengan sekali interchange. “Wuih, lumayan jauh,” batin saya, setengah panik.

“Tapi naik kereta api di Hong Kong aman kok. Bahkan sampai kereta terakhir, jam setengah duabelas!” Seolah membaca kekhawatiran saya, teman saya meyakinkan.

Saya akhirnya manut.

Dengan KCR dan MTR, memang akhirnya nggak ada tempat jauh di Hong Kong. Semua bisa dijangkau hanya dalam bilangan menit. Keluar dari pintu J2 stasiun Central, saya hanya butuh sedikit jalan kaki untuk mencapai Lower Peak Tram Station. Lalu, tanpa perlu mengantri terlalu lama untuk membeli tiket, saya tahu-tahu sudah ada di dalam tram yang akan membawa penumpang mendaki The Peak. Rasanya sensasional banget: kereta tua – terbuat dari kayu, merayap mendaki gunung dengan kemiringan 45 derajat. Menoleh ke samping kanan, gedung-gedung jangkung di Hong Kong tampak berlari oleng ke belakang.

Di puncak Peak Tower, sejumlah turis sudah asyik dengan teleskop. Sebagian lainnya memilih melihat pemandangan dengan mata telanjang. Sekilas, tampaknya kebanyakan berasal dari Eropa dan Amerika.

Di pucuk Peak Tower, kabut sebetulnya cukup tebal. Angin bertiup kencang sekali. Gigil menyusup hingga ke sumsum. Tapi itu tidak menghalangi Anda untuk melihat pemandangan eksotis yang terbentang di depan mata – sebuah konfigurasi yang unik: kota yang cantik – dengan ratusan gedung jangkung yang ‘tumbuh’ dari tekstur tanah yang berbukit acak, gemerlap oleh lampu (perihal penataan lampu ini, besok saya sudah menjadwalkan untuk menyaksikan Symphony of Lights yang terkenal itu). Lalu bentangan pelabuhan – lengkap dengan kapal-kapal yang tengah berlabuh dan bongkar-muat, dengan latar pegunungan berwarna lumut di kejauhan. Perpaduan yang sungguh tidak lazim.

Selain pemandangan eksotis, The Peak juga menawarkan objek menarik untuk dikunjungi. Di sini, Anda bisa menemukan lebih dari seratus patung lilin para pesohor Hong Kong – dari artis, politisi, kaum jetset, hingga atlet – yang tergabung di The Madame Tussauds. Lalu, jika sebagai Indonesia, naluri belanja Anda tidak bisa dikendalikan, tempat ini menyediakan The Peak Galleria yang menawarkan label-label internasional. Sejumlah gerai juga menyediakan souvenir khas setempat – seperti kaos bergambar kereta atau jajanan cokelat dengan kemasan bertulis The Peak.

Sayang, malam keburu beranjak larut. Kembali ke tram station di lantai dasar Peak Tower, jam saya sudah menunjuk pukul 10.00 lewat. Tergesa, saya kembali menyusuri Garden Road menuju Central. Kereta terakhir harus saya kejar untuk kembali ke Sha Tin.



Menyusuri Jejak Selebritis

Sepuluh bulan setelah menjejak The Peak, tidak cukup untuk meredam keinginan saya berkunjung lagi ke tempat ini. Kamis, 20 Maret 2008, untuk kedua kali, saya mendaki The Peak. Kali ini menumpang bus. Sayang, karena agenda yang padat, perjalanan hanya berakhir di pojok Hatton Road dan Harlech Road – di sini ada semacam tempat istirahat bagi turis yang menggunakan bus untuk melihat pemandangan Hong Kong di bawah. Soal sensasi? Hmmm … saya sarankan Anda untuk berkunjung pada malam hari.

Dari kawasan The Peak di Pulau Hong Kong, ada baiknya kembali menyeberang ke Kowloon – kembali ke daratan New Territories. Di kawasan Tsim Sha Tsui, cobalah melongok The Avenue of Stars (jika menumpang MRT, Anda keluar melalui pintu L3 di stasiun Tsim Sha Tsui). Di tempat yang persis berada di depan Victoria Harbour ini, ada jalan yang mengabadikan jejak telapak tangan para selebritis Hong Kong. Jika Anda pecinta film mandarin, Anda tentu tidak asing dengan nama-nama Bruce Lee, Jet Li, hingga Andy Lau.

Avenue of Stars yang dibuat dengan mengacu pada Hollywood Walk of Fame, dibangun oleh penggiat pariwisata Hong Kong sebagai penghargaan atas selebritis mereka, di samping – tentu saja – untuk menggenjot pendapatan di sektor perpelancongan. Selain jalan yang mencetak telapak tangan para pesohor itu, kawasan ini juga dilengkapi dengan Museum of Art, Cultural Centre dan Clock Tower.

Puas jalan-jalan hari ini? Eits, sebelum pulang, jangan lewatkan menyaksikan A Symphony of Lights di sepanjang Avenue of Stars. Ini adalah pertunjukan multimedia – sinar lampu beraneka warna, memancar dari sekitar 30 gedung perkantoran di sepanjang Victoria Harbour, meliuk menari, diiringi dentaman musik. Pertunjukan yang spektakuler, berlangsung setiap malam, pada pukul 20.00. A Symphony of Lights pernah tercatat di Guinness World Records sebagai “the world’s largest permanent light and sound show”. Karena itu, jangan sampai terlewatkan. Fantastik!

Tapi perjalanan saya menyusuri Hong Kong belum berakhir neh. Jadi? Tunggu catatan saya selanjutnya. *** (Bersambung)

Discussion

One comment for “Menyusuri Hong Kong: Dari Sub-Urban ke Metropolis (2)”

  1. aq jg pernah kesana!!
    keren bangettt… cb di indonesia ada tempat sekeren itu..wkt malen ada pertunjukkan sinar laser plus lewat kapal mewah gila,, penuh lampu..uuch romantis bgt..

    Posted by intan | January 19, 2009, 11:36 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]