Jendela

Menyusuri Hong Kong: Dari Sub-Urban ke Metropolis (1)

May 8th, 2008


INI kali ke-2 saya mengunjungi Hong Kong dalam satu tahun terakhir. Bagi saya, Hong Kong merupakan tempat yang menyenangkan untuk jalan-jalan, bahkan ketika sedang sendirian. Menyusuri tempat demi tempat di Hong Kong dengan menumpang MTR (Mass Transit Railway) atau KCR (Kowloon-Canton Railway) adalah kesenangan yang tidak bisa saya beli di tanah air (kecuali 1 kali naik kereta api eksekutif dari Bogor, seumur-umur saya belum pernah naik kereta api ekonomi di Jakarta – melihatnya saja ngeri!). Kendati demikian, saya tidak pernah berpikir untuk menetap atau tinggal dalam waktu relatif lama di Hong Kong. Bermimpi juga tidak.

 

Sebagai kota metropolis, Hong Kong unik dan – terutama – sangat dinamis. Unik, karena meski Inggris telah mengembalikan Hong Kong ke pemerintah RRC, bukan berarti Hong Kong sepenuhnya tunduk pada Beijing. Di bawah kebijakan Satu Negara Dua Sistem ciptaan Deng Xiaoping, wilayah yang sebelum 1 Juli 1997 merupakan koloni Britania Raya ini, tetap menikmati otonomi khusus untuk memiliki sistem hukum, mata uang, bea cukai, dan imigrasi sendiri serta peraturan jalan yang tetap mempertahankan lajur kiri. Beijing hanya melakukan intervensi dalam hal pertahanan nasional dan hubungan diplomatik. Otonomi ini, kabarnya, berlaku minimal untuk 50 tahun mendatang, terhitung sejak dikembalikannya Hong Kong ke Cina.

 

 

Karena bekas koloni, wajah Hong Kong seperti buah perkawinan Timur dan Barat. Dari infrastruktur, terlihat sekali gurat jejak Inggris. Tengoklah Tsing Ma Bridge – jembatan sepanjang 22 ribu meter di atas laut, yang menggabungkan konstruksi baja dan railway. Saat musim hujan, apalagi jika angin bertiup kencang, jembatan ini tidak boleh dilewati kendaraan, terutama bus. Karena, dikhawatirkan kendaraan oleng. Jadi, harus lewat di bawah jembatan, dipinggir laut.

 

 

Atau Cross Harbour Tunnel. Jembatan sepanjang 2 km yang dibangun di bawah laut. Pembangunannya terbilang rumit. Laut dibendung, airnya dikeringkan, kemudian dibangun. Jadilah terowongan. Saat melintas di Tsing Ma Bridge, Cross Harbour Tunnel terlihat seperti gundukan beton di permukaan laut.

 

 

Di luar infrastruktur, Inggris juga mewariskan sistem penanganan kota yang baik. Meski merupakan kota padat penduduk, segala sesuatu serba teratur. Keamanan, kedisiplinan dan kebersihan kota menjadi perhatian pemerintah. Karena itu, Anda tidak perlu khawatir jika harus jalan sendirian di kota ini. Petunjuk jalan dan peta sangat mudah ditemukan. Hingga pukul 24.00 malam, Anda masih bisa bepergian, tanpa perlu was-was. Terutama, jika Anda menumpang kereta api.

 

 

Kendati demikian, sebagai orang Indonesia yang gemar leyeh-leyeh, Anda mungkin agak kerepotan mengikuti ritme orang Hong Kong. Di sini, semua serba gegas. Tidak ada waktu bersantai-santai. Kondisi ini sangat terasa jika Anda berada di stasiun kereta api. Orang Hong Kong akan ngomel panjang-lebar jika mendapati Anda berdiri diam di tengah-tengah eskalator yang tengah berjalan. Orang Hong Kong selalau tampak seperti dikejar setan. Nggak ada tuh ceritanya ketemu teman di jalan, lantas berhenti sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Di Hong Kong berlaku time is money. Mungkin karena biaya hidup di tempat ini super-super mahal.

 

 

Mengitari Sha Tin

 

 

Secara geografis, Hong Kong terdiri atas 236 pulau yang terkelompok dalam 3 pulau besar, yakni: Hong Kong, Kowloon, dan New Territories. Pulau Lantau merupakan pulau terbesar, meski Ap Lei Chau menjadi pulau dengan populasi terpadat. Dengar-dengar, pulau Ap Lei Chau bukan sekadar terpadat di Hong Kong, tapi juga di dunia.

 

 

Ketika berkunjung ke Hong Kong pada Mei 2007 lalu, saya kebetulan menginap di kawasan Sha Tin, tidak jauh dari sungai Shing Mun. Ini adalah daerah sub-urban di New Territories. Dulu, Sha Tin merupakan daerah pertanian – penduduk setempat menyebutnya “Lek Yuen”. Tahun 1970, pemerintah setempat mulai mengembangkannya menjadi kota satelit. Kini, Anda bisa menyaksikan Sha Tin tidak ubahnya kawasan maju lainnya di Hong Kong.

 

 

Jika Anda berada di Sha Tin, ada beberapa tempat yang jangan sampai Anda lewatkan. Terutama jika Anda pecinta benda-benda seni. Tidak jauh dari stasiun KCR Sha Tin, ada Hong Kong Heritage Museum. Museum ini, selain memiliki galeri permanen, juga sering diisi galeri temporer atawa pameran. Galeri permanen itu antara lain TT Tsui Gallery of Chinese, Chao Shao-an Gallery, the Hong Kong Gallery of Contemporary Art and Design, dan Hong Kong Community Art Gallery. Museum ini juga dilengkapi kafe dan toko souvenir yang beroperasi dari jam 10.00 pagi hingga jam 19.00 malam.

 

Sha Tin juga asyik buat liburan keluarga, terutama jika membawa anak kecil. Selain bisa bermain di Sha Tin Park, Anda bisa membawa putra-putri Anda ke Snoopy’s World. Tempat ini ada di lantai 3 New Town Plaza. Di sana juga ada ‘museum’ yang menyajikan berbagai karakter Peanut. Anak-anak Anda juga pasti suka ‘berlayar’ dengan aneka perahu Snoopy.

 

 

Bagi Early Inova, teman seperjalanan saya, ada satu tempat yang tidak bisa dia biarkan nganggur di Sha Tin. Beberapa ratus meter dari New Town Plaza, ada gerai Ikea yang terkenal dengan desainnya yang simpel namun moderen (di Indonesia, produk Ikea bisa ditemukan di beberapa tempat, tapi mahalnya minta ampun!). Sejak melongok dari jendela hotel saat pertama datang, ia tampak sudah tidak sabar untuk mengobok-obok perlengkapan rumah tangga di tempat ini.

 

 

Namun kalau Anda kebetulan pecinta buku, tak ada salahnya melongok Sha Tin Central Library. Selain buku-buku tentang kebudayaan, Anda mungkin beruntung bisa menyaksikan pertunjukan balet, orkestra, atau pameran yang seringkali digelar di town hall yang menjadi bagian dari perpusatakaan ini.

 

 

Tapi, kalau tetap belum puas juga, saatnya mungkin keluar dari Sha Tin. Anda tinggal turun ke basement New Town Plaza. Karena di sinilah Anda terhubung ke stasiun KCR yang siap membawa penumpang ke mana saja di seantero Hong Kong. *** (Bersambung)

 

 

Discussion

4 comments for “Menyusuri Hong Kong: Dari Sub-Urban ke Metropolis (1)”

  1. mbak ana, bagus deh info tentang hongkongnya. Keetulan saya juga lagi cari-cari tau tentang Hongkong buat bahan tulisan.. Thanks yaa…

    Posted by rina suci | May 14, 2008, 7:02 am
  2. thanks, mbak rina. tapi tulisannya belum selesai. belum sempat nulis lanjutannya.

    Posted by Ryana Mustamin | May 14, 2008, 7:22 am
  3. Sambungannya gimana mba???
    gimana dengan kehidupan TKI disana mba???

    Posted by Theyun | March 28, 2009, 4:23 pm
  4. Salam kenal, bagaimana tentang kebudayaan di hongkong, ok thanks,
    085233564998

    Posted by rochim | July 3, 2009, 4:36 pm

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]