Memperingati Seabad Kebangkitan Nasional, mungkin ia tidak banyak dikenang. Tapi pada setiap 12 Februari, karyawan AJB Bumiputera 1912 di seluruh Indonesia mengheningkan cipta mengenang jasanya.
INSPIRASI itu bermula dari sebuah verrslag (laporan tahunan) yang dikirim Direksi NILLMIJ (Nederlandsch Indische Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij). Waktu itu, tahun baru 1910 baru saja lewat. Lelaki yang menerimanya – seorang guru bahasa Jawa pada Kweekschool Yogyakarta, mempelajarinya dengan seksama. Hanya dalam tempo singkat, sebuah gagasan sudah membelit benaknya, membuatnya terobsesi. Ia ingin mendirikan suatu levensverzekering yang menyerupai NILLMIJ – suatu usaha bervisi mulia: memperbaiki nasib dan derajat guru-guru Hindia Belanda.
Keinginan itu lantas ia bawa ke lingkar teman-teman seperjuangannya, dibicarakan dalam algemeene vergadering Boedi Oetomo yang berlangsung di Yogyakarta pada akhir tahun 1910. Putusan vergadering secara aklamasi menyetujui. Sayang, gagasan itu tak kunjung mewujud. Dugaannya, karena Boedi Oetomo terdiri dari pelbagai unsur – yang secara sosial ekonomi tidak homogen. Sebagian pengurus hidup serba kecukupan dan sebagian lainnya dalam keadaan tidak begitu baik. Sejumlah pengurus besar yang datang dari kalangan priyayi dan pejabat pamong praja – yang secara ekonomi relatif mapan – dinilainya kurang peka terhadap apa yang berkecamuk di benaknya.

Tapi, lelaki sederhana itu tidak putus asa. Bersama-sama dengan dua rekannya sesama guru, Mas Karto Hadi Soebroto dan Mas Adimidjojo, ia lantas membentuk organisasi di kalangan guru, yakni Perserikatan Guru Hindia Belanda (PGHB). Kongres pertamanya digelar di Magelang, 12 Februari 1912. Di kongres pertama ini pula, ia kembali mencuatkan keinginannya untuk mendirikan levensverzekering, dan disetujui secara aklamasi oleh peserta kongres. Perasaan senasib kaum guru, yang konon tidak memperoleh perlakuan layak dari pemerintah Hindia Belanda, merupakan pemicu utama.
Guru sederhana yang teguh itu bernama Mas Ngabehi Dwidjosewodjo – Sekretaris I Pengurus Besar Boedi Oetomo, dan usaha yang menjadi obsesinya itu tidak lain adalah Onderlinge Levennsverzekering Maatschappij (O.L. Mij.) PGHB “Boemi Poetera”, atau yang kita kenal sekarang sebagai perusahaan asuransi jiwa nasional tertua di Indonesia: AJB Bumiputera 1912.
Memperjuangkan Parlemen
Siapa sesungguhnya Dwidjosewojo? Tidak banyak yang mencatat kiprahnya. Setiap menyebut Boedi Oetomo, maka hanya nama dr. Wahidin Soedirohusodo dan dr. Soetomo yang sering mengedepan. Cikal pergerakan Boedi Oetomo bermula dari pelajar STOVIA. Dan Dwidjosewojo bukan mahasiswa kedokteran, apalagi dokter. Dia hanya seorang guru. Tapi dalam buku “Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908-1918” yang diterbitkan Pustaka Utama Grafiti (1989 : 193) Akira Nagazumi yang juga menulis disertasinya tentang Boedi Oetomo menyatakan, “Pada hakikatnya tidaklah mungkin menilai peranan seorang tokoh, siapapun dia, sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan dalam politik itu. Namun demikian, secara pasti bisa dikemukakan, bahwa pengaruh Dwidjosewojo jauh lebih besar dibanding dengan tokoh-tokoh penting lain dalam Budi Utomo.”
Dwidjosewojo memulai kiprahnya di organisasi pelopor kebangkitan nasional itu dengan menjadi sekretaris panitia Kongres Pertama Boedi Oetomo yang digelar pada 3-5 Oktober 1908. Ia menjadi utusan dari cabang Boedi Oetomo yang bermarkas di Kweekschool, Yogyakarta II. Cabang ini diketuai M. Djoko Soeroso dan anggotanya mayoritas guru. Cabang Yogyakarta I sendiri didominasi alumni sekolah dokter, dan dipimpin langsung dr. Wahidin Soedirohusodo.
Dalam kongres pertama tersebut Pengurus Besar Boedi Oetomo akhirnya terpilih. Raden T.A. Tirtokoesoemo (Bupati Karanganyar) dan Dr. Wahidin Soedirohusodo, masing-masing didapuk sebagai ketua dan wakil ketua menggantikan R. Soetomo dan M. Soelaeman – ketua dan wakil ketua Boedi Oetomo saat terbentuk pertama kali pada 20 Mei 1908. Sementara Sekretaris I Pengurus Besar, dijabat Dwidjosewojo, menggantikan Soewarno. Kongres juga menetapkan Statuten Moefakat (Anggaran Dasar?) dan Huishoudellik Reglement (Anggaran Rumah Tangga) Boedi Oetomo yang ditandatangani antara lain oleh Dwidjosewojo.
Bertolak dari situ, kiprah pergerakan sang guru di organisasi pelopor ini bergulir. Dalam verrslag kongres Boedi Oetomo yang ke-2, 11-12 Oktober 1909, Dwidjosewojo menjadi satu dari tiga pembicara utama kongres – dua lainnya adalah Mohammad Tahir dan Sastrowidjono, meski saat itu tokoh-tokoh lainnya seperti Dr. Tjipto Mangoenkusoemo dan Soetomo hadir.
Dalam buku koleksi museum AJB Bumiputera 1912 yang memuat biografi Dwidjosewojo disebutkan bahwa pada tahun 1915, Dwidjosewojo juga sempat menghadiri ceramah Kapten Dinger (KNIL) yang mengilhami tentang perlunya angkatan milisi bagi kaum bumiputera. Gagasan ini menarik lantaran kita ketahui bahwa milisi kaum bumiputera ini akhirnya menjadi sikap politik resmi Boedi Oetomo. Buktinya, di tahun yang sama, organisasi ini mengutus Dwidjosewojo dan R. Sastrowidjono untuk berkeliling ke Jawa mengkampanyekan tentang pentingnya milisi guna menggalang dukungan dari daerah-daerah.
Tahun 1916, Dwidjosewojo kembali tercatat sebagai utusan resmi Boedi Oetomo untuk melawat ke Belanda sebagai anggota delegasi Deputatie Indie Weebaar (Pertahanan Hindia Belanda). Di Belanda, delegasi yang berjumlah 6 orang – antara lain dari unsur kerajaan Yogyakarta, Perhimpunan Bupati, dan Sarekat Islam – sempat menemui Menteri Jajahan Hindia Belanda untuk membahas masalah milisi bagi kaum bumiputera, perlunya pembentukan parlemen, dan peningkatan pendidikan bagi kaum bumiputera. Meski tidak semua usulan itu mendapatkan perhatian, namun diketahui bahwa Volksraad (Dewan Rakyat) pada akhirnya berhasil dibentuk pada tahun 1918. Di parlemen ini, Dwidjosewojo duduk dalam College van Gedelegeerden – semacam Komite Tetap hingga tahun 1931.
Dan meski Dwidjosewojo tidak pernah secara resmi menjadi ketua Boedi Oetomo, namun di halaman 16-18 Gedenkboek Boedi Oetomo, “Soembangsih” 20 Mei 1918, mencatat Dwidjosewojo pernah menjabat sementara Ketua PB Boedi Oetomo pada tahun 1916 menggantikan Soerjo Soeparto yang diangkat menjadi Mangkunegara VII.
Usaha Tanpa Modal
Lalu, bagaimana dengan obsesinya untuk mendirikan levensverzekering?
Menjadi aktivis Boedi Oetomo tidak membuat Dwidjosewojo berpaling dari komunitasnya: guru. Bahkan sebaliknya. Gagal membidani kelahiran usaha melalui Boedi Oetomo, ia berhasil mewujudkannya di kongres PGHB.
Yang menarik adalah bentuk usaha yang dipilihnya: asuransi jiwa. Di Majalah “Persatoean Goeroe” yang terbit di Jakarta pada 25 Februari 1933, S. Mohd. Ansar menulis, “Untuk memajukan dan menguatkan perekonomian anggota-anggota, juga untuk keselamatannya sekaum keluarganya di kemudian hari, maka oleh PGHB didirikan sebuah asuransi, yang semata-mata disajikan untuk kaum PGHB saja, bertempat di Magelang, dan mula-mula dikemudikan oleh t. K.H. Soebroto sebagai Direkturnya.” Selanjutnya, Ansar menjelaskan bahwa, “Bersamaan dengan asuransi PGHB itu mengadakan wederstanddkas (dana perjuangan), untuk menolong anggota-anggota yang jatuh menjadi korban karena membela perserikatan.” Rupanya, gagasan untuk menyediakan proteksi (asuransi) bagi kaum guru dan keluarganya jauh melampaui kepentingan ekonomi lainnya.
Sejatinya, di tengah keterbatasan guru saat itu, gagasan mendirikan perusahaan asuransi nyaris menjadi sesuatu yang muskil. Perusahaan butuh modal. Tapi Dwidjosewojo tak kurang akal. “Modal tidak usah mengadakan … modal akan terjadi dari uang premi yang diterima dari semua verzekerde di dalam 3 tahun permulaan, guna mulai bekerja …” (risalah Rapat Anggota Bumiputera, 12-13 Februari 1941). Ia juga percaya pertemanan – jejaring – sebagai investasi. Ia tetap mengajak koleganya di Boedi Oetomo untuk ikut terlibat di perusahaan yang tengah ia rintis. Tercatat, selama periode 1915-1925, R. Sastrowidjono menjadi komisaris Bumiputera. Sementara Dr. Soetomo pernah menjadi agen pemasaran sekaligus dokter perusahaan Bumiputera.
Bentuk usaha tanpa modal, atau yang dirumuskannya sebagai “perusahaan mutual (onderlinge)” adalah warisan Dwidjosewojo yang tidak lekang ditelan zaman. Sepanjang hampir seabad, Bumiputera menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang menganut prinsip “mutual (usaha bersama)” – bukan koperasi, bukan Perseroan Terbatas. Bahkan ketika anggota Bumiputera tidak lagi terbatas kalangan guru. Bumiputera menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia di mana pemegang polisnya sekaligus pemilik perusahaan.
Gagasan Dwidjosewojo dan para guru yang tergabung di PGHB mungkin sesuatu yang sederhana. Tapi sekarang kita tahu bahwa gagasan itu melampaui zamannya. Bumiputera berhasil eksist sebagai entitas bisnis hingga usianya menjelang seabad, bertahun-tahun menjadi pemimpin pasar di kategori industrinya, dan kini mengelola aset triliunan rupiah. Dan yang menarik, seluruh pencapaian itu, tidak akan pernah menjadi milik pribadi per pribadi. Bahkan hingga anak-cucu Dwidjosewojo. Karena dengan bentuknya yang “mutual”, Bumiputera menjadi milik rakyat Indonesia – tanpa pandang bulu, asal mereka bergabung menjadi pemegang polis.
Dwidjosewojo, yang pernah menjadi Sekretaris Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1919, lahir di Gombong, Jawa Tengah pada 5 Juni 1867, dan wafat di Yogyakarta dalam usia 76 tahun. Memperingati Seabad Kebangkitan Nasional, mungkin ia tidak banyak dikenang. Tapi pada setiap 12 Februari – tanggal kelahiran Boemi Poetera, karyawan AJB Bumiputera 1912 di seluruh Indonesia mengheningkan cipta mengenang jasanya. Ia bukan semata pejuang Boedi Oetomo. Ia juga peletak batu pertama industri asuransi nasional. *** Ana Mustamin
(Majalah TEMPO, Edisi Khusus Kebangkitan Nasional, 1908-2008, “Indonesia yang Kuimpikan”, 19-25 Mei 2008)


Mbak Anna yth,
Disaat saya mencari bahan untuk memulai masuk ke komunitas guru, dan disaat saya mulai mencari mata rantai yang terputus saya menemukan website mbak Anna. Sesuatu yang langka di Bumiputera ya?
Saya hampir 20 tahun bekerja di Bumiputera tapi baru sekarang saya mengetahui dengan jelas peran dan kiprah Dwijosewojo di Boedi Oetomo,PGHB dan Bumiputera. Saya minta ijin kalau diperbolehkan untuk memperbanyak (photocopy) untuk teman teman saya di KC PATI.
Memang ada sih buku tebal sejarah Bumiputera tapi penyakit orang dinas luar seperti saya umumnya malas baca.
Salam untuk keluarga
Hormat saya
Gonot Eko Irianto -PATI-
Mas Gonot,
Silakan diperbanyak. Tulisan ini memang saya maksudkan agar orang mengenal lebih dekat siapa Dwidjosewojo, dan apa keterkaitan Bumiputera dengan organisasi pelopor pergerakan tersebut.
Tulisan ini saya ulas kembali dalam sarasehan “Menuju Indonesia Mulia”, yang digelar di Yogyakarta pada 22 Oktober 2008 lalu, dalam rangka memperingati 100 tahun Kongres I Boedi Oetomo.
Salam untuk teman-teman di Pati.
Mbak Anna Yth,
Tidak banyak sejarah seperti tulisan tsb diatas yg saya pernah baca. Menarik ya perjuangan para pelopor tsb. BTW, apakah mereka dapat dianggap pahlawan nasional?
Dear, Ibu Anna…..
Maaf, saya numpang baca artikelnya, kebetulan saya KUASA HUKUM dari ahli waris Pendiri Bumiputera………, maaf kalau bisa bahan ini akan saya jadikan salah satu rujukan/bahan untuk Permohonan Gugatan AHLI WARIS PENDIRI BUMI PUTERA 1912.
Salam untuk teman-teman di Bumi Putera……………
@ pak hotma: terima kasih, pak. soal gelar pahlawan nasional, gak tahu deh. karena itu kan sekarang politis sekali.
@ pak romi: oktober 2008 lalu, saya berkumpul dengan keturunan kolega pak dwidjosewojo di yogya, waktu memperingati 100 tahun kongres I boedi oetomo. Kayaknya pak romi perlu lebih memperkaya lagi deh pengetahuan tentang sejarah bumiputera. terutama dengan bentuknya yang mutual itu. apa iya, mengenal istilah ‘ahli waris’?
salam.