PEKAN lalu saya berkonsultasi dengan dokter perusahaan. Saya curiga ada yang tidak beres dalam tubuh saya. Belakangan saya gampang terhuyung, lelah dan ngantuk. Lalu, yang sedikit mencemaskan, hari-hari ini saya makin sering merasakan nyeri di perut.
Oleh Dr. Firman Boerma, saya malah diminta untuk general check-up. Jadilah Senin lalu (10/3) saya ke laboratorium rumah sakit MMC. Hasilnya, secara umum baik. Alat-alat vital seperti jantung, paru-paru, ginjal, oke-oke aja. Demikian juga pemeriksaan hematologi, kimia darah, dan urinalisa. Yang sedikit bermasalah (dan di luar dugaan) justru kolesterol yang lumayan tinggi. Padahal, tekanan darah saya rendah (100/70). “Itu yang bikin pusing!” kata dokter Firman. Hm, biangnya pasti seafood. Rasanya, dalam sepekan, saya jarang tidak mengkonsumsi satu di antara menu favorit saya: kepiting, udang, atau cumi!
Yang mengganggu adalah hasil pemeriksaan USG. Entah kenapa, sejak awal saya begitu yakin ada ‘benda asing’ di perut saya. Dan benar. Ditemukan tumor berdiameter kurang lebih 50 mm dalam rahim saya. Dokter menyebutnya ‘myoma uteri’. “Harus diangkat, bu!” saran dokter kandungan saya di RSB YPK Menteng Jakarta, Dr. dr. Soegiharto Soebiyanto, SpOG.
Saya manut. Artinya, ini bakal jadi tindakan bedah ke-3 saya di RSB YPK. Dan menjadi operasi ke-6 dalam ‘curriculum vitae’ saya. Mungkin, kalau orang MURI mendengarnya, bisa tuh memecahkan rekor. Hehe.
Dan, entah kenapa juga, penyakit saya selalu gak jauh-jauh dari urusan spesies ‘benda asing’ di tubuh. Pertama kali mengenal kamar bedah saat masih berusia 9 tahun: operasi amandel. Ringan sih, kata dokter. Tapi, konon, cerita ibu, operasi itu nyaris merenggut nyawa saya, karena keterlambatan perawatan pasca bedah - kelalaian paramedis. Lalu, pada saat berusia 18 tahun, saya kembali masuk kamar operasi karena sebuah tumor bersarang di bagian atas dada sebelah kiri. Tahun 2000, saya divonis endometriosis stadium akut, dan kembali masuk kamar bedah menjalani laparaskopi pada Februari. Tiga tahun kemudian, 2003, sebuah tumor bersarang di pangkal paha, juga membutuhkan tindakan bedah. November 2005, anak semata wayang saya, Sakti, lahir melalui operasi caesar. Dan Insya Allah, 7 April mendatang, saya akan kembali menjalani tindakan untuk urusan myoma uteri itu. Wah.., gak main-main deh.
Ibu saya khawatir bukan main. Saya bisa membacanya, meski beliau tidak berkomentar banyak. Saya sendiri, alhamdulillah, selalu diberi kekuatan dari Yang Di Atas. Saya jarang cemas menghadapi kamar bedah. Karena saya begitu percaya, semua sudah diatur dari Allah. Saya malah bersyukur, karena hingga detik ini masih diberi kesempatan untuk hidup dan menikmati banyak hal.
Penyakit Orang Kota?
Dari sekian banyak jenis ‘benda aneh’ yang berdiam di tubuh saya, endometriosis adalah yang paling meninggalkan kesan. Mungkin karena saya membutuhkan waktu dan kesabaran yang panjang untuk menjalani terapi. Pertama kali mengetahui mengidap penyakit ini, Februari 2000. Saat itu juga langsung mendapatkan tindakan laparaskopi. Lima tahun kemudian - setelah melewati berbagai macam treatment, Februari 2005, saya dinyatakan positif hamil. Sebuah mujizat tak berbanding, karena dari sejumlah literatur dan informasi dokter, probabilitas saya untuk memiliki anak sebetulnya sangat kecil.
Endometriosis adalah penyakit yang hanya diderita perempuan. Gejalanya ditandai dengan nyeri hebat pada saat menstruasi. Menurut MedicaStore sebagaimana dikutip Pusat Data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (www.pdpersi.co.id), endometriosis adalah penyakit yang dipicu pertumbuhan jaringan endometrium di luar rongga rahim. Endometrium adalah jaringan yang membatasi bagian dalam rahim. Dalam siklus menstruasi, ketebalan endometrium akan bertambah sebagai persiapan terjadinya kehamilan. Bila kehamilan tidak terjadi, maka lapisan ini akan terlepas dan dikeluarkan sebagai menstruasi.
Penyebab endometriosis secara pasti belum diketahui, tapi ada beberapa teori yang diajukan selama ini, antara lain:
• Menstruasi retrograd, di mana sebagian aliran darah menstruasi dari rahim keluar ke rongga perut melalui tuba;
• Gangguan sistem kekebalan yang memungkinkan sel-sel endometrium melekat dan berkembang;
• Kelainan genetis ;
• Jaringan endometrium menyebar melalui sistem kelenjar getah bening dan aliran darah (dalam kasus saya, jaringan ini menyebar sampai ke usus segala);
• Faktor lingkungan, misalnya paparan terhadap dioxin.
Beberapa dokter yang pernah saya tanyai menyatakan bahwa penyakit ini jarang diderita oleh perempuan yang tinggal di pedusunan. Mungkin, karena lingkungan di desa relatif tidak terpapar dioxin. Dan konon pula, selain menimpa mereka yang berdiam di wilayah perkotaan, endometriosis demen bersarang di tubuh perempuan yang berasal dari keluarga berkecukupan - berkait erat dengan lifestyle. Wah …
Endometriosis, sejatinya, dapat terjadi kapan saja sepanjang usia reproduksi perempuan dan menjadi masalah besar karena bisa mengakibatkan terjadinya infertilitas.
Histerektomi atau Miomektomi?
Seharusnya saya menjalani operasi pengangkatan myoma uteri dalam pekan-pekan ini. Tapi karena alasan tugas (saya masih harus berdinas ke luar Jakarta), saya meminta penangguhan hingga 7 April mendatang.
Myoma uteri, penyakit apaan sih? Ini adalah tumor kandungan (uterus) yang terdiri atas otot polos dan jaringan ikat (myoma). Pada beberapa kepustakaan, myoma uteri juga sering disebut dengan Leiomioma, Fibromioma atau Fibroid. Penyakit ini dipicu oleh hormon estrogen yang mempengaruhi timbulnya myoma uteri. Pada jaringan myoma, jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya.
Gejala dan tanda klinis yang umum muncul pada pasien penderita myoma, menurut dokter, sangat terggantung dari lokasi myoma, ukuran serta perubahan perubahan yang terjadi pada organ sekitarnya. Keluhan yang sering diderita antara lain: rasa nyeri (kadang-kadang sampai tak tertahankan), perdarahan abnormal, dan kalau miomanya menekan kandung kemih akan terjadi gangguan kencing.
Seberapa ‘menyeramkan’? Hehe, moga-moga sih gak menyeramkan, karena masih tergolong dalam label penyakit ‘tumor jinak’. Tapi kendati jinak, tumor ini kerap bertumbuh keluar dari mulut rahim. Ia juga dapat tumbuh lebih dari satu di dalam rahim, teraba kenyal, bentuknya bulat dan berbenjol-benjol sesuai ukuran tumor. Ukuran dan beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram, namun dapat juga mencapai 3 kg atau lebih. Pada penderita yang sedang hamil, myoma uteri bisa menyebabkan keguguran spontan.
Nanganinya gimana dong? Apa selalu dengan tindakan bedah? Dari tulisan yang pernah saya baca di www.republika.co.id, jika tumor berukuran kecil dan tidak membesar, cukup dilakukan pemeriksaan rutin setiap 3-6 bulan sekali, pengecilan tumor dilakukan dengan obat-obatan GnRH analog. Myoma memiliki lapisan kapsul yang tegas, dapat dipisahkan/dikupas dari massa tumornya.
Operasi pembedahan dilakukan jika tumor berukuran besar. Dokter dari RS MMC yang melakukan USG menyarankan ke saya agar sekaligus dengan cara histerektomi (pengangkatan kandungan) jika tidak ada rencana hamil lagi. Tapi Dr. Soegi di RSB YPK bilang, masih bisa diusahakan dengan cara miomektomi (mengangkat miomnya saja). Karena itu jangan ditunda, karena jika massa tumor membesar atau luas, kerap tidak memungkinkan dilakukan pengangkatan massa tumor saja, hingga harus dilakukan histerektomi.
Waww, bikin saya rada sesak nafas nih. Tapi, ya sudahlah, bismillah aja. Tuhan selalu memberikan yang terbaik kok. Saya hanya berharap, cukup, ini yang terakhir. Karena itu, tolong dido’aian ya, semoga semuanya berlangsung baik-baik saja. Amin.***


Wah.Nice story.ternyata ibu wonder woman juga ya.ga nyangka sudah malang melintang di dunia operasi.jaga kesehatan ya bu..Harta yang paling berharga adalah kesehatan.
Take Care,
Ira
Hahaha … makasih, mbak ira.
Mbak Ryana, kondisi yang saya alami sekarang sama dengan yang Mbak Ryana alami. Saya keguguran dalam usia kandungan 4 bulan awal april 2008 lalu karena ada myoma uteri di dalam rahim. Dokter juga menyarankan untuk dilakukan laparaskopi. Saat ini saya sedang dalam tahap akan dilakukan pengecilan myoma, dengan penyuntikan tapros. Apabila tidak ada halangan, saya akan melakukan laparaskopi pada bulan september nanti. Mbak, mohon di-share ya pengalamannya waktu laparaskopi dan bagaimana kondisi sekarang. Makasih ya, Mbak.
Mbak Aryati, saya sudah 2 kali menjalani laparaskopi. Tindakan bedah ini relatif aman. Risikonya, menurut dokter, jauh lebih kecil dibandingkan dengan tindakan bedah biasa.
Pada kenyataannya, saya hanya menjalani rawat inap 1 malam. Operasi jam 3 sore selama kurang-lebih 1 jam, besoknya saya sudah bisa jalan-jalan.
So, don’t worry. Santai aja. Proses penyembuhan penyakit itu sangat tergantung pada kondisi psikis kita. Jika mental kita kuat, maka Insya Allah, segalanya menjadi ringan. Jangan lupa berdoa. Wassalam.
Makasih banyak ya, Mbak. Doakan agar segalanya lancar dan berhasil.
Wassalam,
Aryati
Insya Allah. Nanti kabarin ya.
Saya turut prihatin Bu Ryana, saya juga mempunyai endometriosis stadium 4 dan sudah laparoskopi bulan Februari 2008 tetapi kemarin saya mencoba mencari second opinion karena mengingat kecerobohan SpOG pertama saya yang tdk melakukan PA terhadap kista endometriosi sy yang telah diangkat sewaktu LO dan betapa terkejutnya saya setelah SpOG kedua saya ini mengatakan bahwa endometriosis saya berada dalam stadium 3. Apakah ini berarti saya harus Lo lagi? padahal kami sekeluarga sangat mengharapkan kehamilan terjadi pada saya. Dan dari cerita Bu Ryana baru hamil setelah 5 thn LO ya bu? Waduh bagaimana rasanya??? Penantian yang cukup panjang ya bu. LO sekali saja saya sudah kapok, begitu tegarnya Bu Ryana menghadapi semua kenyataan ini ya bu. Tetap semangat ya Bu…
halo mbak dian, logikanya memang sulit hamil sepanjang endometriosis itu masih ada. soal apakah perlu LO lagi atau tidak, sebaiknya dikonsultasikan ke SpOG-nya lagi. Gak ada salahnya mencari second opinion kembali.
soal menunggu anak, jangan terlalu menjadi beban. itu urusan yang di atas kok. semua teori dokter bisa gugur sepanjang Allah menghendaki. itu kata suami saya. yang penting, terus berusaha, berdoa, dan yang terutama, jangan pernah putus asa.
salam hangat.
Assalamualaikum, Mbak Ryana. Sudah lama saya ingin memberitahukan kondisi saya saat ini setelah keguguran april kemarin karena myoma tapi baru sempat sekarang.
Mbak, setelah mengambil second opinion ke dokter lain, ternyata myoma uteri saya ada di rongga rahim. Kebetulan saya mendapatkan dokter yang ahli dalam bidang tumor, dr. Andrijono. Menurut beliau, dari hasil USG, myoma uteri terletak di rongga rahim dengan posisi 1 cm di ujung rahim sehingga sangat riskan sekali apabila laparoskopi, dan beliau menyarankan untuk laparotomi alias caesar.
Alhamdulillah Mbak, saya sudah laparotomi akhir Juni kemarin dan 3 bulan ini s.d. Sepetember saya diberikan endrolin.
Sudah tidak ada bayangan cemas dan pikiran mengenai myoma, Mbak. Saya semakin semangat untuk memiliki anak kembali. Insya Allah, dokter sudah membolehkan hamil lagi bulan depan. Doakan ya Mbak, dimudahkan jalannya untuk medapatkan keturunan kembali, amin.
Wassalam
Mbak Aryati, waalaikum ’salam wr.wb.
Wah, senang banget denger kabar bahwa mbak aryati udah semangat kembali. saya pasti mendoakan agar cepat dikaruniai momongan. tapi jangan dijadikan beban ya. biarkan semuanya mengalir apa adanya. udah ada yang ngatur dari atas kok. yang penting, kita gak pernah menyerah. terus berusaha dan berdoa.
salam saya selalu untuk keluarga. wah, kalo kemarin dikabarin waktu masih di rumah sakit, insya allah pasti saya bezuk.
wassalam.
wah, benar benar perjuangan ya? Saya juga ada, tapi memang kecil. Tadinya mau dikuret, cuman setelah di kasdih obat, ternyata mengecil. Sempet disuntik jadi gak haid, alhasil memang mengecil. cuman saya nya jadi kayak menopause ..
Mudah mudah an lancar en cepat sehat kembali. Kita saling mendoakan ya bu ..
mbak ryana, gak tahu kenapa saya tersentuh baca tulisan mbak.
tulisan yang ada nada jenakanya dengan kata hehe-nya meski saya bayangkan tak semudah itu menjalani apa yang mbak alami
kok jadi ngingetin saya, kalo saya sering cemberut pada hal kecil sementara orang lain bisa tertawa dalam sakitnya.
Go ahead mbak, Barokallahu buat mbak.
salam
afin
mbak afin, makasih banyak lho ya…
konon, wajah dunia ini sangat tergantung bagaimana cara kita memandangnya.
kalo udah sakit, terus mikirnya berat juga, ya gak bakal sembuh-sembuh.
jadi, lebih baik berpikir positif. seperti yang saya bilang, Allah selalu memilihkan yang terbaik buat kita.
salam hangat,
dear mba ryana,salut untuk mba yang sudah melewati banyak operasi.tentu diperlukan fisik dan pastinya mental yang kuat menghadapinya.semoga ini memang yang terakhir ya mba dan semoga Allah limpahkan berkah sehat untuk mba dan keluarga.
Saya sedang mencari informasi seputar myoma dan ingin bertanya2 pada yang sudah berpengalaman. Kebetulan sekali saya membaca tulisan mba ini di blogfam magz.
Sahabat saya baru saja mengetahui kalau dalam rahimnya terdapat myoma sepanjang 7 cm sementara ia juga sedang hamil umur 4 minggu.
Saya ingin bertanya apakah mba ryana tahu infomasi atau seseorang yang berpengalaman dengan kehamilan tapi tdp myoma spt sahabat saya tsb?Apakah kehamilan dg myoma tsb berbahaya untuk ibu dan bayinya?
Terima kasih banyak,
hes
mbak hesti,
wah pertanyaannya sudah murni urusan medical. saya sarankan sebaiknya teman mbak hesti langsung berkonsultasi secara intens dan dokter ginekologi.
dokter saya di rs ypk, termasuk dokter yang banyak menangani ibu ‘bermasalah’. dicoba aja berkonsultasi ke sana.
salam buat teman mbak hesti ya. titip pesan agar selalu optimis, dan terus berusaha dan berdoa.
mbak ryana.., salam kenal dan smg mbak ttp sehat ya.. tulisan mbak memberi dorongan dan semangat pd sy utk tdk memelihara penyakit, krn sy jg menderita myoma tp krn sy tdk pernah merasakan keluhan apapun spt yg sll dikeluhkan penderita myoma pd umumnya, spt nyeri saat haid, nyeri panggul atau pinggul, haid yg berlebihan dll. kl sy meraba perut sy terasa dan terpegang ada benjolan yg cukup besar. skrg sy br mulai konsul ke SPOG sambil men-cari2 informasi dan stlh membaca kisah mbak ryana sy semakin bersemangat utk berobat. mhn doanya ya mbak..
syukurlah mbak endah, kalau tulisan saya bisa ikut memberikan semangat. ternyata banyak ya, yang menderita miom dan endo. saya doakan moga-moga upaya mbak endah berhasil. nanti sharing lagi ya, pengalamannya.
Nice post u have here :D Added to my RSS reader
sebenarnya sy jg mengalami penyakit yang sama, tp keberanian sy blm seberani ibu. wallahu ‘lam bishowaf
luar biasa ibu… sebenarnya sy jg punya penyakit yang sama tp sy bl seberani yang ibu jalani saat ini. wallahua’lam bi showaf
luar biasa mbak, kapan saya bisa setegar itu. saya sudah nikah 10 tahun belum mendapat keturunan dan salah satunya ada myom uteri dia 4.7cm. tanggal 5 maret 09 direncanakan operasi. mohon advice rumah sakit yang bagus.thanks.
Saya juga penderita myom, ada 3 buah didalam rahim saya, usia saya 48 thn, mens saya sudah bisa dikatakan tidak teratur, seperti bulan dec-2008 lalu saya tdk mens, dan bulan ini 9 hari mens, kemudian berhenti 5 hari, setelah itu mens lagi sampai sekarang. mohon advice dari para ibu, terimakasih.
Saya mempunyai anak perempuan yang sekarang berusia 8.5 thn. Cerita nya waktu anak saya usia 8 thn sudah mendapatkan mens pertama, yaitu tgl 12 Juli 2008. Karena saya merasa ada sesuatu yang tidak beres, maka saya membawa anak saya ke Dr. anak di kota saya, dan hasil nya ternyata anak saya mengalami pubertas dini, yaitu dari hasil born age dan mens yang belum waktu nya. Akhir nya karena di kota saya tidak lengkap alat nya untuk born age, maka saya dirujuk ke salah satu RS di Jakarta. Dimana di RS Jakarta ini anak saya mendapat suntik Tapros untuk 3 bulan sekali, yang hasil nya baik, yaitu hormon nya sudah berkurang dan tidak mens lagi. Saya mohon advice dari para moms, apakah side effect kedepan nya nanti terhadap anak saya. Terimakasih
@ nieck & DAR:
jika kita percaya bahwa hidup ini milik DIA, maka kita pasti memiliki kekuatan untuk menghadapi apa pun juga. karena kita percaya, DIA pasti memberikan yang terbaik buat kita.
@ Suwarni daim:
ibu, kalau saya boleh nyaranin sebaiknya terus berkonsultasi dengan dokter. karena mereka yang lebih ahli soal ini. tak ada salahnya mencari second opinion ke dokter lain, untuk meyakinkan ibu bahwa ini memang tindakan terbaik. salam dari saya.
kepada ibu ryana saya ingin berbagi kepada ibu bahwa kondisi ibu jauh lebih baik dari pada saya saya seorang gadis berusia 34 tahun saya sudah menjalani histerektomi pd bln januari 2009 dimana kodisi saya sangat baik pada saat ini walaupun masih ada sedikit keluhan tetapi saya tetap sabar dan terus berobat sampai saat ini untungnya saya mendapat safasilitas kesehatan gratis sampai saat ini, hingga saya tidak bingung untuk berobat permasalahan yang saya hadapi adalah karna status yang masih lajang sehingga kadang sulit untuk melakukan pemeriksaan pasca oprasi kepada para orang tua saya sarankan untuk memeriksakan kesehatan reproduksi anak anak remaja putri anda, mengingat mereka pun bisa mengalami miom di usia dini.menurut dokter saya sudah menderita mioma sejak saya berumur 10 thn salam dari saya
kepada ibu ryana ibu jauh lebih beruntung saya gadis sudah nenjalani oprasi histerektomi bulan januari 2009 kondisi saya jauh lebih parah stlh oprasipun masih terdapat keluhan tetapi karena status sya yang masih gadis untuk menjalani pemeriksaan saya menurut diagnosa dokter saya menderita miom sudah lebih dar 20 thn gejala yang di rasakan adalah mens yag banyak skl dan kencing yg terus &tdk bisa dithn tetapi menurut pemeriksaan dokter kandungan & usg pd thn 1985 saya baik2 saja dan bru 2009 saya di diagnosa mioma uteri dan hrs diangkat saya menjalani dgn pasrah dan mengisi hari hari saya dgn kegiatan yg positif untung ny a saya mndapat jaminan kesehatan gratis sehingga tidak terlalu pusing dgn biaya saya tetap berusaha mengatasi keluhan pascaoprasi sampai saat ini
ibu, ternyata ibu saingan berat saya. saya baru (skrg msh di RS) operasi (ke 5 dlm hdp)pengangkatan myoma dan rahim. saya jd lega ternyata ada juga yg seperti saya ,yaitu ibu ! . ok, salut buat ibu dan jgn menyerah !. salam hangat
@ariyani: sesungguhnya kita semua adalah orang yang beruntung dan disayang Allah. selama sakit, saya tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa menjadi orang yang kurang beruntung. karena di luar sana, banyak orang yang sebetulnya kondisinya jauh lebih buruk dari kita. mbak ariyani masih mending ‘kan, sakit tapi tidak harus berpikir tentang biaya pengobatan. bagaimana dengan orang-orang yang sudah sakit dan kemudian gak sanggup berobat? kondisinya lebih buruk ‘kan? ok, tetap semangat, dan terus melakukan kegiatan yang positif.
@irma: mbak irma, saya doakan semoga operasinya berjalan lancar. oya, tulisan saya ini masih ada lanjutannya lho… judulnya “ternyata bukan yang terakhir”. hehe. bisa dibaca di blog ini juga. salam semangat.