Sihir Kata

Bayang-bayang Oeken

March 1st, 2008


INI adalah cover Majalah “Ceria” – sebuah majalah sastra remaja (hanya berisi cerpen dan puisi). Saya temukan secara tidak sengaja dalam file-file lama saya (saya heran mengapa waktu itu kepikiran memotretnya).

 

Saya lupa kapan persisnya majalah ini terbit. Tapi saya perkirakan, sekitar awal tahun 1990-an. Redakturnya antara lain, presiden penyair Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri.

Sayang, saya tidak lagi menyimpan file tulisan saya yang dimuat di majalah ini. Padahal, dipilih sebagai cerita utama. Judulnya, “Bayang-bayang Oeken”. Ini adalah cerpen pesanan. Saya menuliskannya setelah menerima surat permintaan dari ‘calon’ redaksi. Saya sebut ‘calon’, karena ketika surat itu tiba di tangan saya (termasuk ketika menerima pemberitahuan bahwa cerpen “Bayang-bayang Oeken” akan dimuat di edisi 3), edisi perdana Majalah Ceria belum beredar.

 

Saya sudah tidak ingat persis alur cerita “Bayang-bayang Oeken”. Saya hanya ingat, bahwa nama “Oeken” saya pungut dari nama panggilan “January Christie” – salah seorang penyanyi jazz asal Bandung yang saya gandrungi dan kondang di akhir tahun 1980-an menjelang 90-an.

 

Saya ingin membaca ulang cerpen ini. Tapi rasanya gak mungkin. Era itu belum ada internet, jadi sulit dilacak. Mungkinkah ada seseorang yang menyimpan fisik majalahnya?***

 

Discussion

No comments for “Bayang-bayang Oeken”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]