Nine to Six

Mencuri Sepotong Hari

February 20th, 2008


WAKTU memiliki banyak wajah. Kadang-kadang saya merasa, waktu seperti kura-kura yang merangkak pelan, mengusung jemu. Di waktu lain, ia seperti derap kaki pasukan kuda yang dilecut punggungnya. Membuat terengah dan panik.  Atau menyulap kita jadi robot. Tanpa mampu berkelit.

 

Pekan lalu, saya merasakannya. Tiba di kantor pada Senin pagi (11/2), saya sudah ditunggu setumpuk surat yang harus ditandatangan. Setelah itu disibukkan dengan pernak-pernik persiapan menjelang ulang tahun perusahaan saya – Bumiputera. Kadang remeh-temeh: kantor cabang A belum terima naskah sambutan Direksi, kantor cabang B belum terima naskah press release, dan seterusnya. Sesuatu yang seharusnya ditangani staf, tapi nyasar juga ke meja saya. Maklum, kantor cabang Bumiputera hampir 500-an. Ada saja yang jaringan internetnya error.

 

Lalu, saya harus meladeni beberapa tamu yang sudah confirm sebelumnya. Lalu, tahu-tahu udah sore. Saya harus naik ke lantai 22 Wisma Bumiputera untuk mengikuti acara syukuran – masih dalam rangkaian ulang tahun. Tiba di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sakti – anak saya – sudah terlelap.

 

Selasa pagi (12/2), saya meninggalkan Cibubur pagi-pagi buta – Sakti masih tertidur. Karena jam 08.00 sudah dijadwalkan acara peletakan batu pertama Bumiputera Tower – biasanya saya membutuhkan waktu tempuh ke kantor paling cepat 2 jam. Bumiputera Tower rencananya akan dibangun 63 lantai, dan mungkin akan menjadi gedung tertinggi di Jakarta.  Dari ground breaking ini, saya meluncur ke Balai Kartini – tempat resepsi ulang tahun digelar. Beruntung tahun ini saya tidak menangani langsung acara resepsi. Padahal, bertahun-tahun sebelumnya saya selalu kebagian merancang hingga mengorganisir acara ini. Di Balai Kartini sempat menikmati euforia keluarga Bumiputera, sebelum akhirnya saya putuskan untuk kembali ke kantor sekitar jam 2-an.  Saat itu, Duo Ratu lagi beraksi. Dan suara Maia yang sumbang, tidak terlalu nyaman di kuping saya.

 

Di kantor, sempat mengecek email, web, dan beberapa surat biasa. Menjelang sore, kembali bersiap untuk menghadiri acara Top Brand Award 2008 yang digelar Frontier Consulting Group bekerjasama dengan Majalah Marketing. Hujan turun cukup deras. Dan saya beruntung mencapai Hotel JW Marriot sebelum macet memabukkan warga Jakarta.

 

Di ballroom Marriot, acara berjalan lambat. Namun, saya harus berdiam di sini – menemani Direktur Marketing saya – Pak Didiek Soegianto, karena betapapun ini kado istimewa buat perusahaan saya yang tengah berulang tahun. Untuk kedua kalinya, Bumiputera kembali memperoleh penghargaan sebagai Top Brand 2008 kategori asuransi. Acara belum benar-benar usai, ketika saya meninggalkan kawasan Lingkar Kuningan. Kembali ke rumah sekitar pukul 23.00, saya mendapati nafas Sakti yang teratur dalam tidur lelapnya. Mimpi apa, anakku?

 

Rabu pagi (13/2), kepala saya sulit diajak kompromi. Berat sekali. Tapi saya tetap harus ke kantor. Karena banyak hal yang harus dituntaskan. Pagi ini sedianya, bos saya, Dirut Bumiputera on-air di “CEO Wisdom” Radio Delta FM. Tapi karena beliau ternyata masih di Surabaya, akhirnya di-reschedule. Hari ini, saya juga dapat kabar dari Pak Eddy Berutu (Sekjen FAPI – Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia), kalau ibunda Lisa Linda (Presdir Relife) meninggal dunia. Tapi, kepala saya benar-benar sulit diajak kompromi. Berat dan pening. Jadi, setengah hari saya gunakan untuk istirahat, dan kemudian siangnya banyak meluangkan waktu untuk tamu-tamu yang sudah meminta jadwal bertemu jauh-jauh hari (Mbak Lisa, mohon maaf, saya turut berduka cita sedalam-dalamnya).

 

Pulang ke rumah, ternyata juga masih molor. Saya masih harus mampir ke supermarket karena beberapa kebutuhan Sakti sudah nyaris habis. Tapi saya beruntung, masih menemukan anak semata wayang saya itu masih asyik memelototi Baby TV. Saya memanfaatkan waktu berharga itu sebaik-baiknya, dan baru menyentuh meja makan sekitar jam 10 malam.

 

Kamis pagi (14/2) saya langsung mengarah ke daerah Kalibata. Ibu Mertua Mas Irsyad – rekan sejawat, meninggal dunia. Saya sempatkan melayat sebelum akhirnya meluncur ke Warung Buncit menghadiri peringatan ulang tahun Yayasan Dharma Bumiputera – unit yang mengorganisir diklat-diklat di Bumiputera. Pulang dari yayasan, saya langsung ikut meeting di Departemen SDM, sebelum akhirnya meluncur ke WTC Building Sudirman. Di Mercantile Atthletic Club di lantai 18, berkumpul sejumlah penggiat Public Relations yang bergabung sebagai pengurus besar Perhumas. Ini kepengurusan baru, periode 2008 – 2010. Meskipun tidak semua orang-orangnya baru. Namun, bertemu dengan banyak orang baru, menimbulkan kesan tersendiri. Di forum Perhumas, banyak gagasan segar yang terlontar untuk mengisi program tahun ini. Dan saya hanya berdoa, ini tidak terhenti pada gagasan. Karena, salah satu tantangan terbesar dalam beroganisasi di mana pengurusnya terdiri atas sejumlah komponen, adalah memelihara stamina. Kami terdiri atas orang-orang sibuk.

 

Dari kawasan Sudirman, saya (bersama suami) meluncur ke JCC. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam, ketika saya tiba di deretan tamu-tamu yang duduk persis di depan panggung utama. Di sana, saya menemukan banyak wajah yang sudah tidak asing di layar kaca: Wimar Witoelar, Andy F. Noya, dan banyak yang lain. Di sebelah suami saya, duduk Gusti Randa – ia datang sendiri. Sementara si belakang, sejumlah pemain sinetron yang masih imut-imut – yang saya tidak tahu namanya, ngobrol berisik. Malam ini, TV One resmi diluncurkan. Ini adalah hasil salin rupa Lativi setelah berganti pemilik dan manajemen. Sekarang TV One – yang mengusung misi “information, sports, dan entertainment” jadi ‘mainan’ baru Anindya Bakrie dan Erick Thohir.

 

Di Plenary Hall malam itu, Dewa menggebrak panggung. Saya kira, sosok jenius Ahmad Dhani di belakang seluruh Sri Panggung malam ini. Karena, kecuali Melly Guslow dan Ussy Sulistyowati, seluruh penampil malam itu besutan Republik Cinta: Dewa, The Rock, Mulan Jameela, dan Dewi-dewi. Menyaksikan aksi panggung mereka, saya ingat Ratu yang tampil 2 hari lalu di acara kantor saya. Agaknya, Maia memang harus mengakui potensi dan keunggulan Mulan di pentas musik.

 

Bisa ditebak, saya tiba di rumah setelah larut. Mimpi Sakti mungkin sudah berseri. Dengan perasaan bersalah, saya mengamati wajahnya yang damai dalam pulas. Seperti malaikat kecil.

 

Jumat pagi (15/2), alhamdullillah, saya masih sempat bercengkrama dengan Sakti. Meski singkat. Karena pagi ini, saya harus meeting dengan tim Desain Produk di Kebayoran. Sore ini sebetulnya saya masih punya jadwal bertemu dengan Pak Eddy Soepadmo, Direktur Beecom. Tapi karena yang bersangkutan masih di Bandung, akhirnya batal.

 

Berakhir sudah hari-hari sibuk sepanjang Senin-Jumat. Mungkinkah saya masih bisa mencuri sepotong hari untuk Si Kecilku – Sakti, pada week-end ini? Sementara pada Sabtu dan Minggu besok masih menunggu 2 undangan pernikahan, dan sebuah perayaan ulang tahun Komunitas Apresiasi Sastra yang akan digelar sepanjang Sabtu di Japan Foundation?***

Discussion

No comments for “Mencuri Sepotong Hari”

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]