BEKERJA untuk kepentingan sebuah perusahaan konsultan PR di Jakarta sebetulnya sudah saya lakukan sejak tahun 1991-1992. Tapi baru tahun 1997 saya putuskan untuk benar-benar menetap di Jakarta. Saya bekerja di bidang yang sangat bertolak belakang dengan pengalaman dan latar akademis saya: di Bumiputera - sebuah perusahaan asuransi.
Tadinya, saya pikir, status karyawan di Bumiputera hanya sekadar batu loncatan. Kompetensi saya di dunia komunikasi - sangat jauh korelasinya dengan asuransi. Saya masuk Bumiputera karena kebetulan. Saya membantu sebuah media lokal untuk mengasuh rubrik tokoh di edisi minggu. Di sebuah kesempatan, saya mewawancarai pemimpin cabang Bumiputera, dan saya ditawari masuk sebagai karyawan. Untuk menambah pengalaman, tak apalah. Saya tokh masih muda. Meski sebetulnya saya ingin berkarir di media. Mungkin di suratkabar, atau televisi, atau kembali ke radio? Saya menyimpan beberapa kartu nama petinggi media yang sudah mengiming-imingi saya pekerjaan ketika masih berstatus mahasiswa.
Di kantor pusat Bumiputera, ternyata saya langsung ditawari Direksi untuk melanjutkan pendidikan S2 di UI. Wah, hanya orang bodoh yang nolak. Tapi, konsekuensinya, saya harus menyepakati ikatan dinas.
Sejalan dengan melajunya waktu, saya jatuh cinta dengan perusahaan unik ini. Karir saya juga menanjak. Saya mulai terbelit dengan rutinitas kantor. Mimpi untuk berkarir kembali sebagai presenter, melamur hingga tak berbekas. Sekali dua kali, saya memang pernah bersinggungan dengan radio. Tapi sebagai narasumber. Itu pun wawancara jarak jauh, hanya melalui pesawat telepon. Dan hanya sekelebatan. Di luar itu, saya hanya seorang pendengar pasif - yang mendengar radio masih sering dengan perasaan asing. Bertukar peran memang kerap terasa aneh.
Hingga bencana tsunami melanda Aceh, Desember 2004. Saya menjadi sosok yang sering dimintai pendapat oleh wartawan tentang proses pencairan klaim korban tsunami. Awal Januari 2005, Radio Pas FM 92.4 mengundang saya untuk berbincang selama kurang lebih 1 jam di studio khusus untuk membicarakan penanganan klaim di Aceh. Dan itulah awal saya kembali menginjak bilik siar - kendati bukan sebagai penyiar.
Terasa asing? Ya. Saya masih saja merasa ‘bertukar peran’. Seharusnya saya mewawancarai, bukan diwawancarai. Di luar itu, betapa ‘sirik’nya saya dengan nasib baik penyiar radio sekarang. Kini, studio jauh lebih canggih. Semuanya sudah computerized. Semua acara sudah terprogram, termasuk lagu dan spot iklan yang akan diputar.
Sungguh beda dengan jaman saya. Dulu, saya mengoperasikan sendiri peralatan studio, tidak dibantu operator. Kecuali, untuk acara kontak pendengar melalui telepon. Di studio saya waktu itu, tersedia sebuah mixer dan 3 buah tapedeck yang berada dalam posisi standby. Lalu ada satu pemutar piringan hitam untuk album-album lawas - lagu yang popular di jaman ibu saya (acaranya disiarkan tengah malam). Untuk pelaporan, jadwal pemutaran lagu dan iklan dibuat manual (hanya ditulis jamnya, dan penyiar berkewajiban mengisi angka-angka menitnya). Lagu-lagu juga masih direkam dalam kaset. Demikian pula spot iklan. Akibatnya, saya harus datang lebih awal ke studio - paling tidak 30 menit sebelum on air - guna mempersiapkan seluruh lagu dan iklan. Yang sulit, tentu saja, jika lagu yang diminta berada di posisi tengah dari deretan lagu dalam album yang dipesan. Bahkan gigi lingkaran yang ada di bagian tengah kaset pun perlu diperhatikan posisinya agar ketika tombol ‘play’ ditekan, lagu benar-benar pas mulainya di ketukan pertama. Tak lebih, tak kurang. Aduh, pokoknya jadul abis deh.
Peruntungan lainnya, penyiar sekarang jauh lebih cerdas. Cerdas, dalam pengertian, mereka sangat mudah mengakses informasi. Jika ingin membahas sebuah topik, tinggal browsing ke internet. Latar peristiwa tersaji lengkap hanya dalam hitungan detik. Mereka juga jauh lebih interaktif dengan pendengar. Sekarang ada ponsel - ada SMS, ada email. Bisa berkomunikasi kapan saja, dan di mana saja. Jadi, gak ada cerintanya penyiar garing di udara. Di luar itu, penyiar bisa mengorganisir dan me-maintain sendiri pendengarnya - seperti Ida Arimurti (Delta FM) yang memiliki mailing list di yahoogroups.
Perbedaan lainnya? Mungkin dari bahasa dan suara. Sekarang, lebih cair. Lebih ceplas-ceplos. Dulu, saya juga ceplas-ceplos, ketawa-ketiwi. Tapi gak serame dan selepas sekarang. Suara penyiar sekarang juga gak dituntut bagus-bagus amat. Di sejumlah radio yang segmennya remaja, saya bahkan sering mendengar suara cempreng. Suara yang rada-rada ‘melambai’. Yang penting cerewet, rame, lucu. Kalau dulu, gak laku tuh. Apalagi cowok, timbre-nya biasanya harus rada berat.
Ya, begitulah. Waktu memang tidak pernah diam. Terus berputar.Masing-masing membawa semangat zamannya. Pertanyaannya, apakah saya masih menyimpan mimpi jadi penyiar radio kembali?
Hehe. Mungkin lebih baik saya bermimpi yang lain: suatu ketika jadi narasumber di segmen acaranya Farhan: “CEO Wisdom”. Siapa tahu? Yang penting, judulnya mengudara juga ‘kan? Hehehe ….***


HAHAHA……aku ingat super sibuknya kita kalo lagi siaran. Puter lagu, puter iklan, ngetik aktifitas dari detik ke detik iklan yang kita release….blom lagi nyari lagu yang pas ada di tengah2 kaset…harus tepat2 awal lagu pada saat on….
Wuuuiiiih repoootnya deh….Tapi, sumpeh…asyiiiiikkk tenan…
Kayaknya dulu suara penyiar emang harus yahud yah…..(muka sih no 2, hehehe). Btw, ingat kak Ryanto gak…? suaranya empuk banget…..nilai 10, tp coba deh kalo copy darat, bisa ngacir….huahuahua…. (ampuuuunn Kak Anto).