What's On

Kisah-kisah dari Radio (2)

February 27th, 2008


PERSINGGUNGAN dengan dunia radio memasuki babak baru ketika saya menginjak bangku kuliah. Saya menjadi penyiar radio beneran. Bermula dari tawaran Mbak Ani, penyiar Radio Rosa (55,8 AM) yang mengawal acara “Menawan (Menu Acara Wanita)” yang mengudara setiap pagi dari studio di Jl. Sungai Limboto, Ujungpandang (sekarang Makassar). Saat itu, saya baru saja dinobatkan sebagai pemenang pertama lomba pidato yang digelar antar jurusan di FISIP - Unhas, khusus untuk mahasiswa baru. Mbak Ani adalah senior saya di Komunikasi.
  

“Suara Ana bagus!” katanya mengomentari kemenangan saya. Saya tidak sepenuhnya percaya. Saya memang bisa berorasi, tapi saya gak bisa menyanyi - jadi saya pikir suara saya pasti gak ada bagus-bagusnya.

Saya lantas diajak ke kantornya. Kantor Rosa bagus - sebuah bangunan tua namun kokoh dan bersih, berlantai 2, peninggalan Belanda. Bilik siar atau studionya ada 3 - 2 di lantai 1, dan 1 di lantai 2. Antara ruang tamu dan bilik siar dipisahkan oleh dinding kaca - sehingga siapapun yang tengah on-air dapat dipantau dari ruang tamu.

Oleh Mbak Ani, saya lantas dikenalkan dengan pimpinan radio tersebut, Pak Anton R. Poniman. Saya di-test di studio 2, di lantai atas, dengan hanya diminta membaca 1 halaman penuh artikel majalah. Pak Anton memonitor dari lantai 1. Besoknya, saya langsung diminta tandem siaran dengan Mbak Ani, dan pekan berikutnya sudah dipercaya punya program sendiri.

Saya menghabiskan masa-masa belajar di perguruan tinggi dengan membagi waktu antara kuliah dan siaran. Sepanjang itu pula saya menikmati masa-masa kuliahan yang demikian produktif. Di kampus, saya ‘seleb’ kecil-kecilan (halah!). Nama “Ryana Mustamin’ melintas gaul dari 2 sampai 3 angkatan di atas dan di bawah saya. Bahkan nyebrang hingga ke fakultas lain. Saya menyandang sejumlah atribut: dari aktivis (saya duduk di lembaga kemahasiswaan sejak semester 2 di perguruan tinggi dan kebetulan menjadi redaktur koran kampus), cerpenis, hingga presenter. Di radio, ada fans club yang dibentuk khusus untuk saya dan dikelola sendiri para penggemar. Setiap tahun, ulang tahun saya dirayakan secara istimewa oleh mereka - kami bahkan pernah merayakannya dengan berpesta seafood di Pulau Samalona, salah satu pulau kecil di Selat Makassar. Saya juga punya pendengar militan yang membuat saya paranoid lantaran sering sekali dikuntit (kalau dia fotografer, dia mungkin akan senekad papparazi. Hehe…). Di kampus, pacar kedua saya adalah seseorang yang ‘menundukkan’ saya melalui ajang taruhan… haha…

Kalau diingat-ingat sebenarnya lucu juga. Karena saya tidak sepenuhnya sadar bahwa saya agak ‘berbeda’ dengan mahasiswa pada umumnya. Lagipula, waktu itu saya tergolong introvert. Sampai suatu ketika, tahun 1990, crew TVRI Ujungpandang (saat itu belum ada tv swasta), merasa perlu mengikuti aktivitas saya selama dua hari penuh (mulai dari saat bangun tidur hingga malam hari), hanya untuk ‘menangkap’ profil saya. Acaranya sendiri lantas disiarkan dalam program “Citra Wanita” (untuk siaran lokal) berdurasi 30 menit, dan dicuplik untuk “Temu Remaja” untuk segmen nasional.

Menjadi penyiar radio, seperti yang saya bilang sebelumnya, sangat nyenengin. Gak ada stress, gak ada jenuh. Saya tergolong bukan mahasiswa ‘baik-baik’ - dalam pengertian bukan mahasiswa yang rajin hadir di kampus. Sering sekali saya menomorduakan kuliah. Sering banget bolos. Tapi saya nyaris gak pernah bolos siaran - kecuali sakit, tentu saja. Hal menyenangkan lainnya, sejak menjadi penyiar radio saya banyak mendapat tawaran menjadi host di program-program off-air.

Satu-satunya peristiwa yang membuat saya nyaris trauma yang berhubungan dengan profesi itu adalah ketika saya diminta menjadi MC pada malam pergantian tahun di kompleks TNI Angkatan Laut. Saat itu, sepulang acara, saya diantar panitia menggunakan bus yang juga memuat para taruna yang masih menempuh pendidikan. Waktu menunjukkan pukul 2 (atau 3?) dinihari. Sepanjang perjalanan, saya memergoki para taruna itu dalam kondisi setengah mabuk, teler. Kebanyakan menenggak minuman keras. Saya benar-benar ketakutan, apalagi beberapa orang yang duduk tepat di belakang saya meracau gak jelas. Kalimatnya rada kurang ajar. Untung tidak terjadi insiden apa-apa hingga saya tiba di rumah. Tapi sejak itu, saya bersumpah untuk tidak lagi menerima job ngemsi di pesta “Old & New”.

Tahun 1990, dunia radio swasta di Makassar mengalami perkembangan berarti. Radio yang mengudara di jalur FM mulai merambah masuk. Sejumlah penyiar yang berjaya di gelombang AM mulai kasak-kusuk. Saya termasuk yang ditawari untuk pindah. Tapi, karena kebenaran saya lagi disibukkan dengan persiapan penyusunan skripsi, saya malah menyatakan niat untuk mundur dari dunia broadcaster.

Keputusan itu hanya bertahan beberapa bulan. Tiap ketemu fans, saya didesak untuk kembali mengudara. Dan kalo mau jujur, saya juga kangen. Empat tahun lebih keluar-masuk studio, bukan waktu singkat untuk dilupakan begitu saja. Apalagi jika tengah memonitor radio. Ada yang mengusik-ngusik di batin.

Tahun 1991, saya resmi kembali mengudara. Tapi, kali ini tidak lagi di Radio Rosa. Saya pindah ke jalur FM, Radio Sonata yang memancar dari perempatan Jl. Jend. Sudirman - Haji Bau, Makassar. Di radio baru ini, saya on-air di “Morning Sound” dengan mengusung nama “Mila” (di sini setiap penyiar menggunakan nama udara yang diambil dari 2 rangkaian nada lagu). Sayang, di tempat baru ini saya gak terlalu enjoy, karena harus bangun dan bersiap di studio pagi-pagi buta lantaran program yang saya asuh harus mengudara dari jam 06.00 pagi. Untuk masuk ke program lain, kelihatannya belum memungkinkan karena jumlah penyiar di tempat itu sebetulnya over.

Akhirnya, saya putuskan mundur. Secara kebetulan, saya juga dapat kerjaan lain yang hasilnya menggiurkan untuk ukuran fresh graduated waktu itu.

Tamatkah riwayat saya di radio? Sejujurnya, hingga detik ini saya tetap menyimpan kerinduan untuk - suatu ketika - kembali mengudara. *** (bersambung)

 

 

Discussion

One comment for “Kisah-kisah dari Radio (2)”

  1. Waowwww……spektakuler……saya sendiri dah lupa nama lengkap Pak Anton, hahahaha…..
    Duh…..pengen banget siaran……
    Rasanya filem jadul itu diputarkan kembali di dinding kamarku, judulnya “RADIO ROSA”
    Thanks yah, adindaku sudah menulis kisah ini, aku sangaaaattt terharu…..

    Posted by ida mulyani said | July 31, 2009, 2:17 pm

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]