RABU pekan lalu (20/2) saya mengawal direktur saya, Pak Soeseno Hario Saputro ke studio Radio Delta FM, di gedung Ratu Plaza Lt. 19, Jakarta Selatan. Dengan dipandu Farhan - presenter kondang itu, beliau on-air selama kurang lebih 1 jam (08.30-09.30) di segmen “CEO Wisdom”. 
Berada di bilik siar radio, menerbangkan ingatan saya ke puluhan tahun lampau. Studio, dengan segala pernak-perniknya pernah begitu akrab, lantaran saya pernah menjalani profesi sebagai penyiar radio.
Perkenalan dengan radio sebenarnya jauh lebih awal dibandingkan dengan terjunnya saya sebagai penyiar profesional. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP di Watampone - sebuah kota kabupaten berjarak 170 km arah timur Makassar. Nyaris setiap hari saya bolak-balik masuk ‘studio’ - sengaja saya beri tanda petik, karena studio yang saya maksud adalah sebuah rumah tua (jika tidak ingin menyebutnya ‘reruntuhan’) di tengah kebun pisang. Di salah-satu bilik, kakak sulung saya, Mas Karman, pernah mengudara menggunakan nama “Bung Tomtom”. Ia - bersama teman-teman satu geng-nya merakit sendiri perangkat radionya. Meski amatiran, daya jangkaunya lumayan luas. Seingat saya, bisa mencapai radius puluhan kilometer. Tak ayal, saya menjadi salah satu pendengar setia - setiap hari selalu mengirim lagu ke teman-teman sekolah atau orang-orang rumah.
Memasuki bangku SMA, saya kejangkitan ‘virus’ yang ditebar Mas Karman. Saya jadi bagian anak-anak remaja di kota saya yang gandrung merakit ‘radam’ (begitu biasanya kami menyebut radio amatiran ini). Tentu bukan sebagai ‘perakit’. Tapi sebagai orang yang memanfaatkan hasil rakitan itu - sebagi penyiar. Mula-mula, saya mengudara di Radio Elsact. Saya masih ingat, waktu itu saya menggunakan nama “Alaska North American” (namanya aneh, ya?) - kepanjangan dari Ana. Pendengarnya? Lumayan banyak. Karena saya selalu kewalahan menghabiskan membaca kartu-kartu (sebenarnya sih potongan-potongan kertas) berisi permintaan lagu dari pendengar. Yang lucu, meski tercatat sebagai penyiar Radio Elsact, saya masih sering ‘selingkuh’. Di saat tidak mengudara di Elsact, saya muncul dengan nama “Dewi Misterius” di radio lain, Monalisa. Atau, sesekali on-air di Radio Borjuis dengan nama “Olga Aurora”. Yang terakhir ini, sesuai namanya, dikelola anak-anak yang tergolong borju di kota kecil saya. Kok sampai segandrung itu? Ya, berada di bilik siar itu nyenengin. Pekerjaan yang gak ada susahnya. Bahkan, kalau dalam kondisi sedih pun, begitu masuk bilik siaran, malah jadi lupa. Soalnya, yang didenger lagu melulu. Belum lagi kalo ada pendengar misterius. Halah! Bikin ketagihan.
Tapi bukan lantaran itu hingga suara saya muncul di mana-mana. Dunia radam itu, dunia cowok. Di kota kecil saya, ada puluhan radam mengudara saat itu. Dan hampir semua gak ada ceweknya. Konon pula, suara saya cukup nyenengin di kuping. Selera dan pengetahuan musik saya juga asik. Jadi ya, saya suka ditawarin nyiar di berbagai tempat. Lagipula, kita siaran gak dibayar kok.
Dari sejumlah radio amatir di mana saya biasa main, semuanya memiliki kesamaan. Studionya biasanya menghuni salah-satu kamar pemrakarsanya. Koleksi lagu-lagunya dibawa dengan sukarela dari rumah masing-masing (dan diambil kembali sesuka pemiliknya). Jadi, kadang-kadang ada permintaan lagu yang gak bisa diputar - meski berhari-hari sebelumnya mengudara, lantaran kasetnya (jaman itu belum ada CD) sudah balik ke si empunya. Hehe… Mau tahu lagu-lagu yang digandrungi remaja di kota saya waktu itu? Di Elsact, lagu-lagu sejenis “Hello”-nya Lionel Richie paling sering diminta. Lalu, lagu-lagu semacam “Boulevard”, “Caravan”, “Forever Young”, “Knife”, “I Just Call to Say I Love You” dan seangkatannya. Di Monalisa, mulai dari lagu-lagu besutan Rinto Harahap, Obbie Messakh dan sejenisnya hingga balada yang diusung Ebiet G. Ade. Semua ada, dan full Indonesia. Nama-nama seperti Endang S. Taurina dan adiknya Ratih Purwasih, Chintami Atmanegara, Dian Piesesha, Lidya Natalia, Ria Angelina, Angel Paff, adalah penyanyi yang sangat populer di tempat itu. Saya sendiri, pernah begitu gandrung dengan lagu “Ingkar” yang dipopulerkan Jayanthi Mandasari (ke mana ya penyanyi ini sekarang?). Kalau saya mengudara, lagu ini pasti saya putar.
Di Borjuis, banyak memperdengarkan lagu-lagu rock, rock klasik, jazz, hingga apa yang saat itu digolongkan dalam genre pop kreatif. Dari album Freddy Mercury hingga koleksi album-album Fariz RM, Dian Pramana Putra, dkk, bisa ditemukan di rak studio. Lagu “Tarzan Boy” (Baltimore), nyaris tiap hari mengudara. Salah seorang penyiar Borjuis, MG Hutabarat, saya kenang memiliki suara yang dahsyat - gak kalah dengan suara Ralph Tampubolon yang saya sukai di Metro TV.
Saya baru mengurangi aktivitas di radio amatir ini ketika mulai ada tanda-tanda yang tidak sehat. Teman-teman cowok sudah semakin rajin nyamperin ke rumah. Sebenarnya sih gak soal, karena saat itu pada dasarnya saya memang lebih mudah akrab dengan teman-teman cowok ketimbang cewek. Dari kecil, teman saya cowok semua. Lagipula ibu saya sangat welcome - rumah saya seringkali jadi tempat kongkow (sambil gitaran pula!). Masalahnya, ada seseorang yang memberikan perhatian berlebih - sampai-sampai sholat subuh di masjid pun ditongkrongin. Saya juga mulai berubah, sudah mulai doyan mematut-matut diri di kaca (padahal saya tergolong tomboi dan introvert waktu ABG), mulai panas-dingin nerima surat cinta- padahal sebelumnya cuek aja.
Ibu saya akhirnya mulai pasang ‘rambu-rambu’. Anak SMA sebaiknya gak pacaran dulu! “Anak mamie masih pengen juara kelas ‘kan?” katanya, yang meskipun lembut tetap menohok. Duh, kaciannn deh…
Pada akhirnya, semua tiba-tiba menjadi gak nyaman. Romansa kami layu sebelum berkembang. Sampai batas waktu yang mengharuskan saya berkonsentrasi penuh mengikuti ujian akhir SMA …. *** (bersambung)


Barusan dapat lirik lagu ini:
TARZAN BOY By Baltimore
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Jungle life
I’m far away from nowhere
On my own like Tarzan Boy
Hide and seek
I play along while rushing cross the forest
Monkey business on a sunny afternoon
Jungle life
I’m living in the open
Native beat that carries on
Burning bright
A fire the blows the signal to the sky
I sit and wonder does the message get to you
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Night to night
Gimme the other, gimme the other
Chance tonight
Gimme the other, gimme the other
Night to night
Gimme the other, gimme the other world
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Jungle life
You’re far away from nothing
It’s all right
You won’t miss home
Take a chance
Leave everything behind you
Come and join me
Wont be sorry
It’s easy to survive
Jungle life
Were living in the open
All alone like Tarzan Boy
Hide and seek
We play along while rushing cross the forest
Monkey business on a sunny afternoon
Night to night
Gimme the other, gimme the other
Chance tonight, Oh Yeah
Night to night
Gimme the other, gimme the other
Night to night
You wont play
Night to night
Gimme the other, gimme the other
Chance tonight, Oh Yeah
Night to night
Night to night
Gimme the other, gimme the other
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh
Oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh, oh…
Mba Ryana.. saya hanya mau info mengenai Mba Jayanti.
selama ini dia berdomisili di Brunei Darussalam mengikuti suaminya. Dan Sekarang Mba Jayanti mau Come Back ke Jakarta untuk sementara karena ada project bikin Kaset / CD Lagi. Mudah2an yang baru ini lagunya juga mba Suka ya. Lagu lama yang dirilis ulang itu Kusadari. Terima Kasih Mba… Dewi
Halo Mbak Dewi,
thanks berat ya, informasinya. Wah, seneng tuh denger mbak Jayanti mau come back. Dulu, saya punya tuh lagu “kusadari”. Tapi, saya paling hafal lagu “Ingkar”. Lagu yang lain, gak terlalu familiar.
Ngomong-ngomong, mbak Dewi saudaranya Mbak Jayanti? Titip salam ya. :-)