What's On

Bali, Mas Yoyok dan Kenangan

February 25th, 2008


TAK terhitung seringnya saya mengunjungi Bali. Dalam beberapa tahun terakhir, saya bisa 2-3 kali hadir di Pulau Dewata itu dalam setahun. Entah karena kunjungan dinas atau berlibur bersama keluarga. Bali tidak banyak berubah. Tetap eksotis, tetap magis. Meski bom pernah meluluh-lantakkan sejumlah tempat.

Setiap kali ke Bali, setiap kali itu pula saya mengabadikannya dalam kamera. Objeknya tak habis-habis. Namun jika kali ini saya memajang beberapa gambar kunjungan ke Bali di sini, itu karena ada sesuatu yang (mendadak saya sadari) berbeda.

 

Foto ini diambil pada pertengahan November 2007 lalu. Saat itu, departemen yang membawahi unit kerja saya, Sekretariat Perusahaan (Corporate Secretary) Bumiputera, tengah berpiknik ke Bali. Kami mengunjungi sejumlah objek, di antaranya Pura Besakih, Ulu Watu, dan Danau Bratan di Bedugul.

 

Ini adalah pikinik terakhir saya dengan rekan-rekan di Sekretariat Perusahaan. Karena terhitung 1 Januari 2008, unit kerja yang saya pimpin berdiri sendiri – memisah dari Corporate Secretary. Namanya berubah dari Hubungan Masyarakat (Public Relations) menjadi Komunikasi Perusahaan (Corporate Communications). Level organisasinya pun naik menjadi setingkat departemen – setara dengan Sekretariat Perusahaan (sebelumnya Humas hanya unit kerja bagian dari Sekretariat Perusahaan).

 

Awal tahun ini juga menandai akhir kerjasama saya dengan Mas Yoyok (Musanto Yudoyoko) dalam satu unit kerja. Sebelumnya, Mas Yoyok adalah atasan saya yang menjabat Sekretaris Perusahaan. Kini beliau ditunjuk menjadi direktur salah satu anak perusahaan Bumiputera.

 

Saya mengenang Mas Yoyok sebagai atasan yang baik. Yang nggak jaim. Hubungan kami tidak seperti patron atasan-bawahan, tapi saya lebih memposisikannya sebagai kakak. Mas Yoyok pekerja keras. Pembawaannya cuek dan santai. Tapi jauh di dalam, dia orang yang sangat serius, concern, dan penuh tanggung jawab. Ia bisa begadang semalaman di kantor jika tugas menuntutnya demikian. Pada pemilihan direksi Bumiputera di akhir tahun 2007 lalu, Mas Yoyok menjadi salah seorang kandidat. Sayang, nasib baik belum berpihak ke dia.

 

Selamat bertugas di tempat yang baru, Mas. Terima kasih untuk semua bimbingan, arahan, pengertian dan perhatian selama ini. Saya tetap akan mengenang dengan baik setiap kerja keras dan perjuangan Mas Yoyok. ***

 

Discussion

3 comments for “Bali, Mas Yoyok dan Kenangan”

  1. tante. emang papa kayak gini ya?
    papa orangnya kayak gini. tante papa kalo dikantor baik ngak?

    Posted by intan aufa | October 11, 2009, 9:51 am
  2. tante. i loved your web, so much.
    especialy this posting.

    Posted by intan aufa | October 11, 2009, 9:57 am
  3. @intan: makasih, intan udah mampir ke sini. ya dong, papa baik kok. sangat baik, paling tidak dalam ukuran tante. gak tau bagi yang lain. salam ya buat papa, salam kangen juga buat mama…

    Posted by Ryana Mustamin | October 12, 2009, 3:42 am

Post a comment

" Tidak semua peristiwa di sini berbilang istimewa. Ada yang bahkan sangat biasa.
Tapi, kalau kemudian saya mengabadikannya, semata untuk mengguratkan jejak. So? Enjoy it! "



Ryana Mustamin
Tentang Saya
 

maaf lahir batin

September 18th, 2009

 
 
 
selamat idul fitri 1430 h
minal aidin wal faidzin
 
Ryana Mustamin & Keluarga
 
 
 
 
 

membaca pilpres dengan teori pasar

July 19th, 2009

TIDAK ada persaingan yang sempurna. Apalagi dalam urusan pemilihan presiden (pilpres). Seumpama pasar, persaingan sempurna hanya dapat terpenuhi jika kriteria berikut terpenuhi: berlangsung di satu pasar yang terpusat, produk yang homogen, biaya transaksi dan transportasi yang rendah, komunikasi yang seketika (instant), cukup banyak pelaku pasar yang bisa memastikan bahwa tidak seorang pun dapat mempengaruhi harga […]

saya nge-blog karena saya ada

October 27th, 2008

(Sebuah catatan menandai Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2008)

“SAYA menulis karena saya ada.”
Kalimat itu Anda pergoki begitu terhubung ke blog ini. Kalimat yang saya pinjam dan adaptasi dari seorang filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650), “saya berpikir karena saya ada”. Sederhana namun dalam.
Kendati tidak berpretensi menjadi filsuf, tapi seperti itulah dalih saya mengapa nge-blog. Karena saya […]