(Bagian 3 dari 3 Tulisan)
WAT ARUN atau Temple of the Dawn berlokasi di distrik Bangkok Yai. Candi ini didirikan Raja Thailand, Rama II, pada abad ke-18. Meski demikian, pembangunan candi yang materialnya didatangkan dari Cina ini baru selesai pada masa kekuasaan Rama III. Pemberian nama Wat Arun sendiri – lengkapnya Wat Arunratchawararam, dilakukan oleh Rama IV. Melengkapi Wat Arun, di pelataran candi yang menghadap ke Chao Phraya River itu dibangun 6 buah paviliun yang semuanya berarsitektur Cina.
Keluar dari Wat Arun, menyusuri sungai, ingatan terbang ke kampung halaman. Dua pertiga dari wilayah Indonesia berupa air. Sayangnya, tidak banyak wisata air yang ditawarkan. Bahkan di Jakarta, sungai-sungai dalam kota menyempit dan dangkal oleh sampah. Berbeda dengan di sini. Di sungai yang membelah kota Bangkok ini, orang-orang masih bisa dengan tenang berlayar dengan sampan, merasakan kecipak air, atau melihat kerumunan ikan patin berloncatan di tepi sungai. “Kalau di Jakarta, pasti sudah ditangkapi semua untuk dijual ke pasar,” celutuk Hanry AF Suwu, ketua rombongan, tergelak.
Tiba di dermaga, rombongan agen yang sebagian besar ibu-ibu tampak semakin tidak sabar. Di pelataran candi Wat Arun tadi, mereka sebetulnya sudah sempat berburu kaos dan cinderamata khas Bangkok. Sayangnya, waktunya terbatas. Karena itu, ketika rombongan masih memiliki agenda mengunjungi Wat Pho atawa Reclining Buddha, hanya sebagian yang masih antusias merekam dengan kamera patung raksasa Budha yang sedang tertidur itu – posisi terakhir sebelum Budha meninggal.
Dari Wat Pho, rombongan akhirnya bergerak ke Central World Plaza – sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Ratchaprasong - Rajdamri, persis di depan Four Faces Buddha. Dari Siam Paragon – mal megah di mana terdapat Siam Ocean World, Central World bisa dicapai dengan skywalk. Di pusat belanja ini, berbagai produk fashion dengan label premium hingga menengah bisa dijumpai – seperti ketika Anda berbelanja di Plaza Senayan, Jakarta. Iseng-iseng, saya mengecek harga. Sebuah produk kosmetik yang dijual di gerai Christian Dior Jakarta seharga Rp. 215.000,- , bisa diperoleh di sini dengan harga – setelah dikonversi dari bath ke rupiah, berkisar 200.000-an. Ya, gak jauh-jauh amat.
Tas Beranak-Pinak
Hari ke-4 di Thailand, rombongan dijadwalkan mengunjungi Wat Traimit atawa Golden Buddha – patung Budha setinggi 3 meter dengan berat 5,5 ton emas padat! Busyet. “Ada yang bawa kerikan ‘gak? Saya mau ngerik emas, nih!” Elly Yulia – agen Cabang Jakarta Kalimalang berseloroh. Yang mendengarnya, senyum-senyum masam. Jangankan di dalam ruangan, di gunung batu pun, patung Budha diukir rakyat Thailand dengan menggunakan emas. Rakyat Thailand memang penganut Budha yang taat – mereka mau mengorbankan apa saja untuk memuja junjungannya itu. Khusus di Bangkok, terdapat 92% penganut Budha. Selebihnya Muslim (6%), Kristen (1%), Hindu/Sikh (0,6%), dan agama lain.
Semakin siang, agen-agen Bumiputera semakin sumringah. Bagaimana tidak? Waktu tersisa yang masih panjang di Bangkok ini akan dihabiskan untuk belanja dan belanja. “Wah, travel bag-nya bakal beranak deh!” komentar Jimmy, salah satu tour leader. Ya, namanya juga orang Indonesia! Wisata tanpa belanja bak lagu dangdut tanpa goyang. Garing, bo!
Karena itu, tanpa membuang waktu, selepas makan siang, agen-agen langsung di-drop di Ma Boon Krong. Di tempat ini, mereka mengaduk-ngaduk segala macam produk fashion – pakaian, tas, sepatu, dan segala macam hal. Dari merek premium – seperti Louis Vitton, YSL, Prada, Tods, Miu-miu, Gucci – hingga label antah-berantah. Tapi yang premium, tentu saja palsu. “Jangan lupa tawar-menawar, ya!” pesan Jimmy.
Berdua dengan Mielitza – Kepala Cabang Jakarta Gambir, saya akhirnya mencoba mampir ke beberapa gerai tas dengan kualitas yang tampaknya cukup memadai. Ketika kami menanyakan harga dalam bahasa Inggris, pemilik toko dengan sigap menyodorkan kalkulator. O-o, karena kendala bahasa, rupanya lebih mudah tawar-menawar dengan medium ini. Jadilah Ita – panggilan akrab Mielitza, dan anggota rombongan lainnya tentu saja, terlibat tarik-ulur harga dengan sejumlah pedagang hingga menjelang petang. Benar kata Jimmy, sore ini travel bag peserta mulai beranak-pinak seperti marmut.
Dinner di Royal Dragon
Ini malam terakhir. Melengkapi kesan di Bangkok, agen-agen Bumiputera diajak menikmati makan malam di Royal Dragon. Restoran ini sangat terkenal di seantero Bangkok, karena pernah tercatat di Guinnes of the Record sebagai restoran terbesar di dunia. Di sini, para pelayan restoran meladeni pembeli dengan menggunakan sepatu roda. Ada juga atraksi semacam flying fox dimana pelayan mengantar makanan dengan melayang di udara melalui seutas tali.
Di restoran ini juga, agen-agen bertemu kembali dengan Direktur Pemasaran dan Direktur Kepatuhan Bumiputera, Soeseno Hario Saputra dan Ridwan Sadjadi. Rasanya seperti acara temu-kangen – seperti anak ayam yang dilepas dan kembali bertemu dengan induknya. Hmm … every body happy!
Kehabisan Bath
Hari ke-5 adalah hari di mana rombongan diminta berkemas untuk kembali ke tanah air. Sedih dong! Eits, ternyata tidak. Karena masih ada waktu setengah hari sebelum berangkat ke bandara. “Kita akan ke Chatuchak, belanja lagi!” teriak Jimmy. Agen-agen bertepuk tangan. Sepanjang jalan di bus, mereka bahkan bernyanyi bersama local guide kami.
Chatuchak sendiri adalah pasar terbesar di Bangkok yang hanya buka pada Sabtu dan Minggu, dari pukul 08.00 sampai 18.00 petang. Panjang dan lebarnya mencapai 1.130 m, dengan jumlah gerai tidak kurang dari 15.000 unit. Pasar ini, setiap hari, konon dikunjungi tidak kurang dari 20.000 hingga 30.000 pengunjung. Mungkin karena saat itu masih dalam suasana Hari Raya Songkran, pengunjung agak sepi. Sebagian gerai malah tutup.
Untuk sampai ke Chatuchak, selain mobil, Anda bisa memanfaatkan moda transportasi MRT (mass rapid transportation), turun di stasiun Kamphaeng Phet. Atau, bisa juga menggunakan skytrain. Dari stasiun skytrain Mo Chit, hanya dibutuhkan 5 menit berjalan kaki ke pasar ini.
Chatuchak menawarkan berbagai produk, mulai dari perlengkapan rumah tangga, pakaian, berbagai cinderamata khas Thai, artefak-artefak yang terkait dengan prosesi pemujaan Budha, jajanan khas Bangkok, hingga makanan hewan. Harganya murah-meriah, dengan catatan bisa memanfaatkan kalkulator dengan baik: tawar-menawar. Di sini, sebagian agen mulai kelihatan gemas bercampur putus asa. Bath semakin menipis di tangan, sementara barang-barang di depan mata demikian menggoda. “Waduh, masa’ harus ke money changer lagi?” keluh seorang agen.
Pada akhirnya, tidak ada sesuatu yang tak berlimit. Bukan hanya bath atau credit card. Tapi juga waktu. Pesawat udara tidak mungkin menunggu. Di Bandara International Suwarnabhumi, para agen berpamitan dengan local guide masing-masing. Besok tidak akan lagi terdengar salam ramah mereka, “Sawatdee krah!” atau “Sawatdee kha!”
Melintasi kaunter check-in, lambaian tangan dan ucapan terima kasih menghablur, “Kofkun, kofkun!” Semoga ada waktu untuk kembali ke Bangkok! Atau, ke kota-kota lain di berbagai belahan dunia dengan kesan yang sama mendalamnya. Sampai jumpa di tur berikutnya. *** (HABIS)


golf school business degree golf pro
Nice Site.
Maaf sebelumnya, kalau boleh saya koreksi stasiun MRT yang di Chatuchak adalah KAMPHAENG PHET, satu stasiun setelah CHATUCHAK PARK, dan satu stasiun sebelum BANG SUE, yaitu stasiun akhir. Bukan Chatuchak Park.
Semoga berguna bagi kita semua.
Terima kasih atas informasi yang sudah dishare disini.
Salam,
Antono Boy Nugroho
Member ITLA ( Indonesian Tour Leader Association ) 0901 2703
@antono: terima kasih mas antono untuk koreksinya. terima kasih juga sudah mampir di sini. salam.