BEIJING sangat ramah ketika saya menjejakkan kaki di ibukota Negara Tirai Bambu itu, pertengahan Mei lalu. Musim sebentar lagi beralih dari spring ke summer. Langit demikian menyala, benderang di seantero kota. Namun suhu udara bertahan di bawah 25 derajat celcius. Di kiri-kanan sepanjang jalan utama, pokok-pokok mawar memekar sempurna. Merekah merah. Di seberangnya, di taman kota, para lansia duduk tenang menghabiskan waktu dengan membaca, atau bercengkrama dengan binatang kesayangan mereka. Dibandingkan Jakarta yang hiruk-pikuk, saat itu waktu terasa melambat di Beijing. Mungkin karena siang lebih panjang – matahari bersinar hingga pukul 19.00 petang.
Seperti bukan berasal dari negeri tropis, pagi di hari pertama, saya sudah memilih mandi sinar matahari – sesuatu yang saya hindari di Jakarta. Agenda hari ini adalah menyusuri Tiananmen Square. “Jangan lupa ke sana!” pesan seorang kawan mengiang-ngiang ketika saya menyampaikan niat ke Beijing. Mungkin karena ia tahu, saya pecinta sejarah.
Lapangan Tiananmen, konon, merupakan lapangan terluas di dunia. Lapangan ini terletak di pusat kota Beijing. Dengan panjang 800 meter dari utara ke selatan serta lebar 500 meter dari barat ke timur, lapangan ini menghabiskan area tidak kurang dari 440.000 m2.
Tiananmen terletak di luar pintu selatan Imperial Palace atawa Istana Kaisar dari Dinasti Ming dan Qing. Karena itu, pintu selatan ini pun dinamai Tiananmen Wai. Di sebelah selatan lapangan ini pula, terdapat Mausoleum Ketua Mao, di mana di dalamnya terbaring jenazah Mao Zedong – proklamator RRC – yang diawetkan dalam kotak kaca. Berjalan ke utara, kita akan menjumpai tiang bendera di mana setiap harinya berlangsung upacara penaikan dan penurunan bendera oleh tentara kehormatan China.
Lapangan Tiananmen sangat bersih. Pemerintah Beijing melarang keras segala macam atribut promosi, seperti billboard atau penempelan poster. Bahkan kendaraan yang melintasi jalan di depan lapangan pun tidak diperbolehkan mengusung iklan di badan bus maupun bagian lainnya. Pemerintah Beijing seolah menjaga dengan sangat hati-hati kemurnian sejarah lapangan tersebut.
Bagi rakyat China, Tiananmen memang memiliki arti sangat penting. Revolusi Xianhai tahun 1911 berlangsung di lapangan ini. Demikian pula proklamasi berdirinya Republik Rakyat China tahun 1949. Disusul Insiden Tiananmen 1976. Dan terakhir, yang paling menghebohkan dunia, peristiwa berdarah 1989.
Insiden 1989 atau dikenal dengan nama Insiden 4 Juni merupakan sebuah rangkaian demonstrasi yang dipimpin mahasiswa. Demonstrasi ini berlangsung antara 15 April dan 4 Juni 1989. Saat itu, mahasiswa mengajukan protes atas ketidakstabilan ekonomi dan korupsi yang kemudian merembet menjadi demonstrasi prodemokrasi – sesuatu yang sangat tidak lazim bagi China yang saat itu menganut paham otoriter. Dari peristiwa itu, lebih dari 3.000 orang meninggal dunia akibat tindakan militer. Peristiwa itu kemudian dikenang dunia sebagai Pembantaian Lapangan Tiananmen.
Tersesat di Istana
Puas menghikmati setiap inci lapangan bersejarah itu, saya akhirnya menyeberang ke Imperial Palace. Akses ke situs yang lebih kesohor dengan nama Forbidden City ini mudah dijangkau melalui terowongan bawah tanah. Dan meski terik matahari serasa tertinggal di ubun-ubun, namun angin bertiup sangat kencang, mengirim hawa sejuk. Bersama ribuan turis lainnya, saya menerobos kota terlarang yang tak lagi terlarang itu.
Kata orang, setiap jengkal tanah di China menyimpan legenda sejarah. Itu sebabnya, banyak yang kebingungan menentukan objek wisata apa saja yang akan dikunjungi saat mereka berada di salah satu destinasi yang paling banyak diminati pelancong dunia ini. China memang super luas dan kaya akan situs sejarah. Tapi Anda akan merasa ada sesuatu yang kurang tanpa mengunjungi Forbidden City.The Forbidden City atau dalam bahasa China disebut Zijin Cheng, pertama kali saya kenal melalui film kolosal “The Last Emperor” yang dirilis tahun 1987. Kemegahan dan kesan magis yang muncul dari film itu meninggalkan jejak mimpi – suatu ketika saya akan menginjak tempat itu. Tak dinyana, 20 tahun kemudian, mimpi itu mewujud. Situs yang dicatat UNESCO pada tahun 1987 sebagai salah satu warisan sejarah dunia ini berdiri megah di areal seluas 720.000 m2, terdiri atas 980 bangunan, dengan 8707 kamar – yang konon dulunya merupakan tempat tinggal para selir kaisar. Kompleks istana ini dibangun tahun 1406 dan baru selesai pada tahun 1420.
Tersesat di Forbidden City, selain terlempar ke masa lalu, mata Anda akan terpuaskan oleh keindahan bangunan tradisionil China – sebuah bentuk arsitektur yang sangat kuat mempengaruhi tidak hanya kebudayaan masyarakat Asia Timur. Pengamat arsitektur dunia memergoki bukan hanya Istana Kaisar Gia Long di Vietnam yang meng-copy secara persis bentuk Forbidden City, tapi juga bangunan The 5th Avenue Theatre di Seattle, Washington. Dari ceiling, panel pintu dan jendela, hingga kaca auditorium itu, tak pelak lagi, semua terinsipirasi Forbidden City. Satu-satunya kekayaan yang mungkin tidak akan pernah berhasil dijiplak adalah peninggalan benda seni dan artefak-artefak sejarah yang tersimpan di Forbidden City yang kini juga dikenal sebagai Palace Museum. Menurut catatan pengelola, koleksinya mencapai 1,17 juta item. Meskipun sebagian koleksi ini juga disimpan di National Palace Museum, Taipei.
Memanjat Tembok
Seolah tidak jera dengan terik matahari yang memanggang, hari kedua di Beijing saya habiskan dengan memanjat Great Wall. “Jangan pernah mengaku ke Cina, jika tidak menginjak Tembok Cina!” demikian kata pemandu wisata. Dan, saya sepakat.
Tembok Raksasa China adalah bangunan terpanjang dalam sejarah yang pernah dibuat manusia. Konon, inilah bangunan satu-satunya di dunia yang bisa dilihat dari bulan. Tembok ini melintasi 5 propinsi di China, dengan panjang mencapai 6.400 kilometer – membentang dari kawasan Shanhai Pass di timur hingga Lop Nur di barat. Tinggi temboknya 8 meter, dengan lebar yang sama di bagian bawah dan 5 meter di bagian atas. Dalam jarak setiap 180-270 meter terdapat semacam menara pengintai yang tingginya mencapai 11-12 meter.
Tembok China dulunya dibangun dengan maksud untuk mencegah serbuan bangsa Mongol dari utara. Pembangunannya memakan waktu ratusan tahun di zaman sejumlah kaisar, dan menelan korban jiwa yang tidak berbilang. Bangunan ini awalnya diduga dimulai dibangun Qin Shi-huang. Namun penelitian sejarah selanjutnya menyebut Tembok China telah berdiri sebelum dinasti Qin. Kaisar Qin diduga hanya meneruskan dan mengokohkan bangunan temboknya.
Sepeninggal Qin, pembangunan Tembok China sempat terhenti. Namun, saat Dinasti Ming berkuasa, tembok dengan material berisi tanah bercampur bata dan bebatuan ini dilanjutkan pembangunannya. Di atas tembok ini kemudian dijadikan jalan utama untuk pasukan berkuda China. Bangunan inilah yang dikenal sekarang – diserbu para turis, dan sempat membuat kepala saya migren ketika baru melintasi jarak antara tiga menara pengintai.
Sayang, waktu saya sangat terbatas. Usai berpose gagah dalam balutan busana panglima perang China, saya harus segera meninggalkan tembok terkenal itu dan kembali ke pusat kota Beijing untuk menyelesaikan beberapa urusan. Besok pagi, saya sudah harus terbang ke Hong Kong. Kendati demikian, saya janji untuk suatu ketika kembali mengais jengkal sejarah di negeri oriental ini. Tentu saja, jika Tuhan mengijinkan. Karena serupa menyesap oase di gurun, rasanya masih saja kehausan. Saya yakin, Anda juga akan merasakan hal yang sama jika berkunjung sesingkat itu. Tak percaya?***


wah asyik bgt.
emh…..ak boleh ikutan tante g.
hehe
wah,,klo boleh ikutan call ak y tante di aland_militia@yahoo.com
hehe … boleh, kalo ada rejeki ke cina lagi.
keren buangettttt…..
mau donk ikutan ke sana, sumpah gw seneng bgt semua yang berhubungan ama historynya china.
kok bisa ya jaman dulu bikin istana sekeren n sekuat itu,huebattttttt buanget dech
hai lia, china emang keren, ya. legenda sejarah bertaburan di sana. gw juga mo balik lagi ke sana kalo ada yg bayarin … hehe…
Waduch~.~
Lumayan bwt tugas mandarin dr guru Q, mksih y tante^,..,^